The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 7 Yadi dan Keinginannya



Aku begitu bahagia, karena Mas Guntur mengatakan jika salah satu anak Ijem akan dijual. Harga sapi Jantan lumayan mahal. Setidaknya cukup untuk Ibu, bapak dan kami mudik ke tanah Jawa untuk menghadiri acara wisuda Yadi. Sisanya bisa dipakai untuk mudik dan membayar orang untuk merawat kebun juga memberi makan Ijem dan kedua anaknya.


Sebentar lagi puasa. Tinggal menghitung hari, akan memasuki bulan mulia, Ramadhan. Aku dan mas Guntur seperti tahun-tahun sebelumnya. Kami membersihan pekarangan, rumah seperti hendak menyambut tamu. Atau seperti hendak menyambut hari raya idul fitri. Aku pun di minta oleh mas Guntur untuk membantunya membersihkan rumah Ibu dan Bapak.


Kulihat mas Guntur pagi itu tampak sibuk membenarkan mesin tebasnya. Ia akan menggunakan mesin tersebut dari pada harus menggunakan tanki semprot. Suamiku itu, terbiasa melakukan hal-hal yang dianggap orang aneh. Saat ia menebas rumput liar. Ia akan menebas sepanjang lorong yang mengarah ke jalan aspal. Bahkan Ibu akan mengomel pasca mas Guntur menebas rumput. Pasalnya, Ibu merasa jengkel karena hampir bisa di pastikan saat akan hari raya atau Ramadhan. Tetangganya tak ada yang mau menebas atau menyemprotkan rumput liar yang berada di sepanjang lorong rumah ibu.


Saat Mas Guntur sudah bersiap memikul alat tebas itu di pundaknya, aku mencegahnya.


“Mas, kopinya belum di minum, nanti keburu dingin.” Ucap ku.


Mas Guntur pun melepas selempang mesin tebas tersebut. Ia duduk kembali ke kurai bambu yang menyerupai tempat tidur.


“Jadi lupa sama kopi.” Ucap Mas Guntur seraya membuka tutup cangkir Stainless.


“Hem... Kopinya baru?” Tanya mas Guntur yang memang pencinta Kopi.


“Baru, kemarin di kasih oleh-oleh sama Bu Mega. Anaknya baru pulang dari Sulawesi. Kopi toraja.” Jelas Ku pada Mas Guntur seraya mengambil seiris pisang goreng yang berada di sisi cangkir kopi mas Guntur.


“Pantas rasanya khas sekali.” Ucapnya.


Tiba-tiba dari arah belakang muncul Yadi, ia baru tiga hari pulang karena telah libur kuliah, disamping itu. Ia sudah ujian thesis dan perbaikan. Hanya tinggal wisuda dua bulan lagi.


“Assalamualaikum.” Ucap Yadi yang berada di pintu dapur.


Bapak, ibu dan keluarga kami biasa ke rumah ku melalui pintu dapur. Karena rumah ku menghadap ke pinggir jalan besar. Sedangkan rumah Ibu berada di lorong yang berada di belakang rumah ku. Maka masuk lewat pintu belakang sudah menjadi suatu kebiasaan.


“Walaikumsalam. Masuk Di.” Ucap Mas Guntur.


Yadi pun duduk di sisi Mas Guntur. Ia tampak mengenakan kacamata sekarang. Karena sering berjam-jam menghadap layar laptop membuat dirinya tak mampu jelas melihat wajah orang dari jarak 3 meter saja.


Baru aku mau beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi. Namun Yadi seolah paham niat ku ketika berdiri. Ia mencegah diriku ke dapur.


“Ndak usah buat kopi Mbak. Saya baru ngopi  di rumah.” Ucap Yadi.


Yadi yang melihat ada mesin tebas di bibir pintu dapur, membuka obrolan yang membuat aku justru curiga. Yadi sebenarnya adalah anak yang baik, ia hampir mirip dengan Mas Guntur. Akan tetapi, karena terbiasa dari masa SMA, semua kebutuhan dipenuhi oleh Mas Guntur. Maka pola asuh atau pendidikan mental nya berbeda. Seperti saat ini, kembali adik ipar ku itu meminta sesuatu yang tak mampu membuat Mas Guntur yang begitu sayang pada adik-adiknya, tak mampu berkata ‘tidak'.


“Biar saya saja mas yang menebas di lorong. Mumpung lagi libur.” Ucapnya.


“Sudah... Ndak usah merayu... Nanti kamu malah encok atau sakit punggung. Repot, mas. Ada apa?” Todong mas Guntur langsung.


Mas Guntur sudah paham dan hapal masing-masing adiknya. Yadi paling bisa mengambil. Hati mas Guntur. Terlihat adik ipar ku itu mengusap-usap tengkuknya dan sesekali ia membenarkan posisi kacamatanya.


“Begini mas, Saya sebenarnya kemarin waktu kuliah dekat dengan gadis. Dan jujur selama ngurus tesis, saya sering mondar mandir pakai motor ayahnya. Nah kemarin pas mau pulang, Ayahnya minta kalau bisa besok pas sebelum atau sesudah acara wisuda. Saya diminta melamar putrinya.” Ujar Yadi seraya menundukkan kepala.


Ia tak berani menatap Mas Guntur. Mas Guntur meraih rokoknya. Ia menghisap dalam rokok tersebut. Entah apakah ia sengaja. Tetapi, aku diminta mas Guntur membeli rokok yang kebetulan tinggal sebatang.


“Dik, tolong belikan mas rokok lagi. Ini nanti mas sekalian mau menebas rumput di depan dan pinggir masjid.” Ucap Mas Guntur.


Aku pun mengangguk dan masuk ke kamar. Aku mengambil uang sebelum ke warung. Mas Guntur yang kemana-mana tak pernah membawa dompet. Mengingatkan aku akan sosok Almarhum KH. Abdurahman Wahid, beliau juga sosok lelaki atau ulama yang tak membawa dompet kemana-mana.


Aku pun keluar lewat pintu depan. Seketika aku merasa khawatir, mas Guntur marah pada adiknya. Aku bisa melihat dari raut wajahnya. Hampir 8 tahun hidup bersama,  aku hapal raut wajah dan nada suara suami ku ketika ia kesal atau tak suka akan satu hal.


‘Berikan kesabaran kepada suami ku dan aku ya Allah...  Apapun yang akan terjadi. Maka itu pasti karena kehendak Mu, Rabb.’ Batin ku seraya berjalan menyusuri aspal yang cukup panas.


Saat aku kembali, ku lihat wajah Yadi telah berubah menjadi pucat. Mas Guntur tampak menghabiskan isi cangkirnya. Aku duduk di sisi Mas Guntur.


"Semoga kalau kamu menikah, istri mu bisa lebih baik dari Mbak Sekar. Coba kamu lihat untuk kehidupan mas. Mbak Sekar ini yang pandai mengatur keuangan Mas. Karena jika tidak, mana bisa mas dalam waktu bersamaan mencukupi kebutuhan kamu, yani, ibu dan bapak dan istri Mas. Jadi mas harap kamu cobalah untuk berpikir lebih dewasa lagi. Kamu laki-laki, kamu pemimpin keluarga mu nanti." Nasihat mas Guntur pada Yadi bisa ku artikan jika baru saja suami ku memberikan penekanan jika tahun ini ia akan mudik ke kampung halaman ku.


Yadi hanya diam. Ia anak, adik yang patuh. Hanya saja ia kadang butuh diarahkan. Tidak seperti mas Guntur, ia terbiasa menjadi pelopor. Baik di keluarga, maupun di masyarakat.


Malam hari setelah ia cukup lelah karena tidak berhenti bergelut dengan kegiatan mencari nafkah dan membersihkan area sekitar rumah dan masjid. Ia duduk di belakang rumah. Jika dilihat dari luar rumah, tempat tinggal kami bisa di bilang seperti bukan rumah. Karena hanya dibangun dengan batu bata merah dan hanya di plester. Dari pertama di buat hingga kini hampir delapan tahun, belum sekalipun rumah kami ini tersentuh cat. Ia masih setia dengan semen plamir yang berwarna putih dan kini berubah warna sedikit kusam.


Suamiku ketika hari raya, lebih memastikan jajan di rumah kami dan orang tuanya tercukupi kebutuhannya.Dan adik-adiknya ada biaya untuk kuliah, juga mengeluarkan fidyah buat Bapak yang tak kuat menjalani puasa karena penyakit komplikasi yang di idapnya.


"Mas bilang apa tadi pada Yadi?" Tanya ku pada mas Guntur saat malam hari.


"Mas bilang kalau tahun ini mas mau Mudik ke Jawa. Mas ga punya biaya kalau mau melamar teman perempuan nya." Ucap Mas Guntur pada ku.


Seketika hati ku khawatir, ibu mertua ku kembali menyalahkan aku.


'Semoga yadi tidak cerita pada Ibu.' Batin ku penuh rada khawatir.


Aku begitu tidak nyaman jika ibu sudah marah atau jengkel padaku. Karena sudah dipastikan mas Guntur akan ikut bimbang bersikap dan selalu salah tingkah untuk membahagiakan aku disaat aku berusaha menutupi rasa sedih ku. Mas Guntur yang dulu tak terlalu aku sukai karena tak setampan Dude Harlino, tapi nyatanya ia mampu membuat ku merasa bahagia berada di perantauan di setiap cobaan rumah tangga kami. Akhlaknya yang membuat aku jatuh sedalam-dalamnya untuk menjadi bidadari dunianya, hingga till jannah.