
Setiap sore mas Guntur selalu memberikan minum Ijem dengan air rebusan kedelai yang ia minta dengan pembuat tempe di dekat rumah. Aku akan menghidupkan bakaran dari sisa-sisa makan Ijem. Karena agar tubuh Ijem tidak kedinginan.
Aku melihat Pak Le Gio muncul dengan motor gerandong nya. Ia parkirkan motor miliknya di bawah pohon pelem. Kemungkinan tak ada nya standar motornya.
Mas Guntur bergegas mencuci tangan. Aku pun begitu. Namun saat akan diajak masuk ke dalam rumah, Pak Lek Gio justru lebih nyaman duduk di cakruk yang berada di belakang rumah.
"Disini saja lah Tu, Pak Lek cuma sebentar. Ada yang mau Pak Lek bicarakan." Ucap Pak Lek.
Hati ku sudah khawatir kalau-kalau Pak Le membahas masalah Ibu lagi. Kemarin ibu sudah setuju dengan konsep acara yang mas Guny sampaikan untuk acara ngunduh mantu.
"Masalah apa Pak Lek?" Tanya Mas Guntur.
Aku masuk mengambil air putih dan kerupuk nasi yang baru ku goreng tadi. Ada sisa nasi beberapa hari, sayang jika dibuang. Maka ku buat kerupuk nasi. Aku biasa membuat kerupuk seperti itu daripada membuat kerupuk Gendar, karena katanya bahan yang berwarna kuning tak baik untuk kesehatan. Kadang jika ada nasi bersisa aku pagi-pagi membuat empek-empek yang biasa orang sini bilang lempeng. Karena bentuknya yang tipis dan lebar seperti lempengan. Tentu dengan irisan daun bawang dan campuran nasi.
"Wah masih rajin buat kerupuk kamu Kar... " Ucap Pak Lek melihat isi toples plastik yang ku bawa.
"Ada nasi sisa kemarin Pak Lek." Ucap ku.
"Loh... Kayaknya ada me ji kom kamu, kok bisa ada nasi sisa... " Ucap Pak Lek seraya membuka toples tersebut.
"Kasihan mas Guntur kalau makan nasi kemarin buat makan hari ini.., khawatir ndak sehat juga pak Lek... " Ucap ku.
Pak Lek tertawa dan kembali merogoh isi toples. Ia menyeruput air kopi yang ku buat dan membersihkan tangannya yang berminyak.
"Kalian ini botol ketemu tutup betul, Pak Lek senang sekali kalau lihat keponakan, anak berumah tangga seperti kalian ini. Saling membahagiakan... Tapi kok Ya Mbak Yu itu masih saja kurang kalian dimata nya... " Keluh Pak Lek.
"Ya namanya juga cobaan hidup orang Pak Lek, tidak sama pasangan, sama orang tua, ga itu sama ipar, ga juga sama ekonomi... Semua harus ada masalah. Kan dulu Pak Lek bilang kalau menikah itu adalah sumber masalah yang harus di hadapi, ditanggulangi, di selesaikan bersama-sama dengan cara terbaik untuk semua." Jelas Mas Guntur. Suami ku itu selalu bijaksana dalam menghadapi banyak hal, tak heran jika Pak Ahmad meminta nya menjadi petugas yang membantu dirinya di kantor KUA, karena beliau tidak paham perkara iddah, perceraian, dan sah tidaknya pernikahan.
"Jadi begini Tur, Pak Lek ingin kamu ikut Pak Lek ke Jawa Timur." Ucap Pak Lek.
Kami sebenarnya sudah mendengar rencana Pak Lek akan memondok kan anaknya di Jawa. Anak Pak Lek ingin kuliah sambil mondok di salah satu pondok yang memiliki ribuan santri.
"Jadi Lilis rencana mau mondoknya di mana Pak Lek?" Tanya ku.
"Rencana mau ke Jombang, di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak beras. Jadi sekalian kuliah dan mondok. Pak Lek kemarin kurang setuju kalau dia mau nge kost. Lah wong disini mondok di Kyai Damar saja kalau pulang itu ga bisa di cegah mau jalan-jalan. Apalagi nanti di Jawa... " Ucap Pak Lek.
Aku tahu pondok pesantren itu, salah satu pondok pesantren terbesar di Jawat Timur. Bahkan pondok pesantren tersebut berdiri sejak tahun 1966. Mas Guntur tampak Manggut-manggut. Kami bersyukur karena akhirnya Lilis memutuskan memilih pondok pesantren dengan prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Karena beberapa hari lalu, putri Pak Lek Gio kerumah. Ia ingin masuk satu tempat kuliah yang berada di provinsi lain karena tergiur kemewahan fasilitas, aku sampak menyentil hidung keponakan mas Guntur itu hanya karena celotehan nya.
"Kampusnya lengkap dan keren juga asrama pondoknya. Berasa ga di pondok deh mbak Sekar..." Ucap Lilis dengan wajah berbinar.
Alhamdulillah, Lilis menerima wejangan ku tentang kenapa mondok itu bukan di lihat dari bangunannya. Tetapi lebih ke siapa pemilik, pengasuh dan prinsip pengasuh tersebut. Karena sekarang banyak sekali aliran-aliran yang tampaknya menggunakan nama-nama Ahlussunnah Wal-Jama’ah tapi justru apa yang diajarkan tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Aku pun mengatakan pada Lilis bahwa perempuan harus belajar saat masih gadis bukan hanya ilmu tapi juga urusan dunia salah satunya urusan dapur. Bayangkan saja jika dulu aku tidak jadi abdi ndalem. Aku hanya mondok dan tidak pernah memasak di dapur, tidak pernah lelah tubuh karena membantu bersih-bersih. Mungkin sudah lama aku menyerah hidup disini dengan kondisi ekonomi kami di awal-awal menikah tidak stabil. Bahkan mas Guntur bisa mengatakan jika tempe yang ku goreng pun rasanya berbeda dari yang orang lain buat. Semua butuh ilmu untuk mengolah menu biasa menjadi mewah, tidak harus mahal.
"Dan itu perempuan dapatin bukan mengkhayal, tapi latihan berkali-kali. Ya di dapur, capek? Ya capek, rekosoh tapi alhamdulillah sekarang mbak justru menganggapnya ilmu yang berguna bagi mbak." Ucap ku pada Lilis kala itu.
Lilis tertawa saat sudah akan bergunjing tentang Neneng yang merupakan teman ku saat ini. Neneng adalah teman satu SMA Lilis.
"Iya, Neneng itu samai nangis terus awal-awal nikah. Katanya capek, stress terus bosan... Tapi aku ya lihat mbak Sekar yang sudah hampir sepuluh tahun menikah ga pernah ngeluh... Padahal nih Mas Guntur itu terkenal keras loh mbak di keluarga sama orang luar." Ucap Lilis kala itu.
Semua karena ilmu dan memahami makna pernikahan adalah sesuatu yang bukan sembarangan. Pak Lek pun menghabiskan kopinya dan terlihat toples kerupuk tinggal 1/4 lagi.
"Memangnya kenapa harus ditemani Pak Lek. Kan ada Mas Yono..." Ucap Mas Guntur.
"Ya Allah... itu nanti Pak Lek mau ngomong apa sama Kyai Damar... Kemarin kan Pak Lek minta saran pondok yang cocok untuk Lilis. Di kasih lah Di Tambak Beras. Nah Pak Lek sampai rumah, Lilisnya nggerundel. Katanya 'masa anak mondok cuma dititip mobil berangkat sendiri, sudah kayak ayam aja lepas dari kandang cari makan sendiri. Di sowani gitu loh pak, kata Mbak Sekar biar berkah ilmunya.' Lah aku ya ga berani sendiri ketemu kyai disana, ya ajak Kyai Damar. Lah nanti ngobrolnya gimana selama di mobil. Kamu kan dekat dengan Kyai Damar. Jadi kamu yang antar Lilis bagaimana?" Tanya Pak Lek.
"Tapi Pak Lek ikut kan?" Tanya mas Guntur yang tampaknya tak fokus diajak bicara.
"Ya ikut, tapi kamu juga ikut. Ya, nanti sapi mu tak suruh Dirman yang ngarit selama kamu ikut Pak Lek." Ucap Pak Lek.
"Ya sudah, saya ikut." Ucap Mas Guntur.
Selepas kepulangan Pak Lek Mas Guntur bertanya perihal Yadi.
"Apa sekalian seserahan sama keluarga Tika ya Dik? " Tanya Mas Guntur.
"Tanya ibu dan Bapak dulu, nanti kesalahan." Ucap Ku seraya menutup jendela kamar.
"Oya dik, tadi ada SMS dari Umi Ayu katanya ponsel mj ndak aktif, nanti malam katanya kamu ada waktu ndak?" Tanya Mas Guntur.
"Paketnya habis mas, ah kayak istrinya mas ini pejabat saja, mas jawab apa?" Tanya mas Guntur.
"Mas jawab tidak ada. Coba buka hp mas, do tethering hpnya, siapa tahu penting. "Ucap Mas Guntur.
Aku meraih ponsel yang sedang di charger di meja. Kulihat pesan Umi Ayu.
{Assalamu'alaikum. Mbak Sekar nanti malam ada waktu ga ya? Saya mau main kerumahnya mbak Sekar. InsyaAllah Ba'da Isya.}
(Inggih Mi, Kulo wonten ing griyo mangke dalu}
(Ya Umi, saya ada di rumah nanti malam)
"Mas, aku mau beli camilan ya? Umi Ayu mau kemari nanti malam." Ucap ku.
"Waduh... ya sekalian rokoknya Kyai Damar dik... Ada apa ya dik... " Ucap Mas Guntur sudah meraih baju ganti.
"Tapi sepertinya ndak sama Kyai Damar kalau dari isi chat nya." Ucap ku.
"Ya beli saja, siapa tahu ikut. Tamu nya guru kita loh... orang biasa saja harus di layani dengan baik." Ucap mas Guntur.
"Inggih suamiku tercinta... Sami'na Wa ato'na..... " Ucap ku seraya mencubit mesra pinggangnya yang terbungkus handuk.
"Masyaallah.... bahagia nya nikah sama bidadari... bahagia luar dalam..." Ucap mas Guntur.
Ah aku selalu tersipu setiap kali mas Guntur menggoda ku. Dalam hati aku hanya bermonolog.
"Bidadari emang ada yang kulitnya hitam?" Tanya ku seraya megambil sarung untuk dipakai mas Guntur.
Namun saat aku akan menyerahkan sarung tersebut, mas Guntur justru menarik tanganku dan kami berada dalam jarak yang begitu dekat.
"Mas tidak pernah mempermasalahkan fisik mu dik... Tidak kah istri mas ini lupa seorang perempuan yang menurut mas kamu memiliki apa yang perempuan itu miliki. Kamu hidup, berjuang bukan untuk dirimu sendiri. Kamu bahkan rela berkorban untuk kehidupan ibu, bapak dan adik-adik ku.... Kamu disini tanpa sanak saudara... Wa Ja’alna min al-Ma’i Kulla.... " Ucap mas Guntur mendekatkan wajahnya.
"Syai-in Hayy.... Dan Kami jadikan dari air segala yang hidup.... " Ucap ku lirih. Sudut bibir ku terangkat.
Bagaimana aku tidak selalu merasa dihujani cinta oleh suami ku. Aku detik ini bahkan ia ucapkan memiliki sifat seperti perempuan yang kuat, ia salah seorang istri nabi. Ya nabi Ibrahim. Bagaimana tidak kuat, Hajar yang merasa cemas karena bayi mungil Ismail menangis dengan suara yang memilukan. Hajar berlari-lari kecil menuju bukit Shafa dan terus ke bukit Marwah pulang pergi. Ia mencari setitik airs seraya tak berhenti meminta pertolongan dari Allah dengan segenap hatinya. Itu beliau lakukan sebanyak 7 kali. Jeritan hati beliau tak di dengar. Air tersebut justru mengalir di sisi bayi mungil Ismail.
Air mata ini selalu jatuh bukan saat aku mengadukan pada Allah agar ibu dan bapak dilembutkan hatinya untuk menerima ku. Tapi air mata bahagia ini juga tak mampu ku bendung kala mas Guntur mampu menyirami nya dengan cinta seperti saat ini. Ia usap pipi ku.
"Lah kok malah nangis.... " Ucap Mas Guntur.
"Kalau seperti Istri Nabi Ibrahim, aku tak mau berpisah dengan mu, mas." Ucap ku.
Karena saat itu istri nabi Ibrahim hanya berdua dengan Nabi Ismail di tempat yang gersang dan sepi.
"Ya jangan fokus ke itu nya dong dik... Fokus ke kisah perjuangan Hajar nya yang penuh kasih sayang untuk Ismail rela berlari-lari demi mencari air, dan fokus pada Air yang kini bermanfaat bagi banyak orang. Bahkan mereka yang ke tanag suci berebut ingin meminum air itu. Kamu... kalau bukan kamu, apakah Yadi bisa selesai sampai S2? Kalau bukan kamu istri mas... Bidadari dalam hidup mas... Apakah setiap hari mas bisa setenang ini, karena istri mas akan mengadu tentang perihal sikap ibu padanya. Tapi kamu, kamu menciptakan kehidupan dalam ketenangan... buat aku... semoga Allah memberikan kamu kebahagiaan dunia akhirat.... " Ucap mas Guntur seraya memeluk tubuh ku.
Ah, aku tak mampu membalas ucapan nya. Dada ku sudah sesak, mas Guntur selalu seperti itu dari dulu. Ia hanya minta mulia di mata Allah dan kelak di akhirat. Rasanya sedikit sekali mas Guntur berdoa perihal dunia, itulah mungkin kenapa aku begitu di muliakan nya. Karena ia ingin agar ia di muliakan Allah. Bagaiamana seorang hamba akan dimuliakan jika tak bisa memuliakan makhluknya Allah di muka bumi ini.