
“Siapa mas?” Tanya ku pada Mas Guntur.
Dari suaranya, itu bukan suara ibu. Mas Guntur membuka sedikit gorden kamar. Tampak Mas Guntur mendongakkan kepalanya.
“Ibu nya Arum….” Ucap Mas Guntur.
“Ibunya Arum…” Beo ku.
Mas Guntur bergegas menuju keluar rumah lewat pintu depan. Aku pun mengikuti langkah kaki mas Guntur. Entah kenapa hati ku tak enak, ada perasaan khawatir. Dari nada teriakan Ibu Arum pasti ada yang tidak beres.
‘Cobaan apalagi ini… Kuatkan hati hamba dan Mas Guntur ya Allah….’ Batin ku dalam hati.
Saat mas Guntur membuka pintu. Sosok Bu Rini, ibu Arum. Ia sudah berdiri tepat di depan pintu rumah.
“Mana istri mu?!” Bentak Bu Rini pada mas Guntur.
Alih-alih mengucapkan salam, Bu Rini justru membentak dan menatap tajam mas Guntur.
“Maaf Bu Lek, ada apa ini? Masuk dulu, kita bicarakan di dalam.” Ucap mas Guntur sopan.
Tampaknya emosi Bu Rini sedang berada di puncak. Aku yang berada di belakang mas Guntur langsung menerima luapan emosi perempuan paruh baya itu, tangannya tampak akan mencakar wajah ku.
“Rene… Rene kowe…! Ra usah sok alim….. kurang ajar kowe yo! Rene karo ako nek wani, adap-adapan… ojo wani lewat klenik kowe!” Teriak Bu Rini pada ku.
{Sini…sini kamu.. ga usah sok alim… Kurang ajar kamu ya! Sini kamu, sama aku kalau berani, satu lawan satu…. Jangan lewat guna-guna!}
Beruntung mas Guntur menghalangi Bu Rini untuk mencapai ku. Mas Guntur berdiri tepat di depan pintu, dua tangannya tampak menahan pada kusen pintu. NAmun Bu Rini masih mencoba untuk masuk kedalam rumah.
“Ada apa ini Bu Lek… sabar… sabar…. Eling Bu Lek. Malu di lihat orang.”Ingat Mas Guntur.
“Halah! Kalau kamu ndak mau Guntur nikah sama Arum, ndak harus kamu santet dia kan?!” Teriak bu Rini dengan wajah merah padam serta tangan yang berada di pinggang dengan tangan yang lainnya menunjuk ke arah wajah ku. Mas Guntur masih berdiri di posisi nya untuk menghalangi Bu Rini masuk.
“Astaghfirullah… ada apa Bu….?” Tanya ku penasaran. Baru juga aku menginjakan kaki di kampung ini, tapi aku sudah mendapatkan tuduhan keji.
Tampak kepala Neneng yang menyembul dari jendela dan Mbak Ani yang setengah berlari seraya memegang sutil.
“Ono opo toh Tur?” Tanya Mbak Ani yang berjalan dengan satu tangan memegang sutil, satu tangan lainnya menarik dasternya ke arah atas agar tak terseret ketika berjalan.
“Ndak tahu mbak… kami baru sampai.” Jawab mas Guntur. Suasana masih pagi, sehingga banyak warga yang tak dirumah. Maka beruntung hanya ada Mbak Ani dan Neneng yang berada di rumah, lantas mereka pun mau tidak mau datang ke rumah ku. Karena suara Bu Rini begitu nyaring.
“Halah! Ga usah pura-pura ndak tahu, kamu ke Jawa itu karena nyantet anak ku kan!” Tuduh Bu Rini pada ku.
“Astaghfirullah… Fitnah itu Bu…” Ucap ku pelan.
“Astaghfirullah…. Bu Lek, jangan sembarangan kalau menuduh!” Bentak mas Guntur. Aku cepat mengusap punggung suami ku. Mas Guntur tampaknya terpancing emosinya, mungkin rasa lelah dari perjalanan belum hilang namun sudah mendapatkan tuduhan keji itu, maka wajar emosinya ikut naik.
“Aku baru saja ngundang orang pinter, katanya Arum di guna-guna. Dari jawa kirimannya. Lah, Sekar kan lama di Jawa… Kok hari ini Arum manggil-manggil nama Sekar terus… Wes ndak usah ngelak kamu! Tak santet balik kamu Kar! Mbok Pikir aku ga bisa buat begitu juga! Cepat minta dukun mu untuk cabut santetnya untuk Arum!” Ancam Bu Rini pada ku.
Aku hanya mampu beristighfar, bagaimana bisa aku di tuduh melakukan santet pada Arum, apakah ibunya tidak tahu jika Arum sakit keras?
“Bu, saya benar-benar tidak tahu apa-apa… Kalau memang Arum memanggil saya, saya mau menemui Arum… mungkin ada yang ingin ia sampaikan pada ku.” Jelas ku.
Kembali bu Rini emosi, ia mencoba untuk masuk dan ingin memukul atau menarik wajah ku. Kali ini Mbak Ani ikut berdiri di hadapan Mas Guntur.
“Oala… sampeyan ini.. ndak nduwe adab! Namu kok kelakuannya kayak begitu! Wes di bilang, Sekar ndak tahu apa-apa! Wong tuo kok ngeyelan!” Teriak Mbak Ani yang tak terima aku diperlakukan semena-mena, bahkan jilbab ku hampir terbuka karena sempat tertarik oleh Bu Rini. Neneng justru menarik Bu Rini dari arah belakang seraya menggendong anaknya yang bungsu.
“Bu.. malu bu.. di lihat orang…” Ingat Neneng pada Bu Rini.
Dengan napas tersengal-sengal Bu Rini kembali mengancam aku.
“Hhhhh….Hhhhhh… Awas kamu! Sampai terjadi apa-apa dengan anak ku! Aku akan membalas setiap perbuatan mu!” Ancam Bu Rini pada ku.
“Astaghfirullah… Istighfar bu Lek… Istighfar… .”ingat Mas Guntur pada Bu Rini yang tampaknya masih belum puas karena tak mampu meraih tubuh ku. Ia pun mendengus kesal dan pergi meninggalkan kediaman ku. Namun saat motor matic Bu Rini tak bisa di starter, ia pun menarik motornya sehingga menggunakan tunjang dua, namun saat di engkol berkali-kali tak juga menyala. Kami hanya menatap dari depan pintu. Mas Guntur pun mendekat ke arah Bu Rini.
“Mau apa! Ndak usah sok baik kamu, nanti aku juga kamu santet!” Ucap Bu Rini masih dengan penuh emosi.
Namun suami ku di dorong, ia pun kembali engkol motor tersebut namun tak juga menyala. Tampak lelah, mas Guntur pun berjalan ke arah motor matic berwarna merah itu. Ia pijak engkol motor itu, satu kali engkol motor itu pun menyala.
Bukan mengucap terima kasih, Bu Lek Rini masih mengancam aku seraya naik ke atas motor.
“Cabut santet mu, atau aku akan membalas santet mu itu!” Ancam Bu Rini kembali pada ku.
Belum hilang Bu Rini dari pandangan kami, Mbak Ani yang paling mudah tersulut emosinya ikut berteriak.
“Huuuuh! Wes tue, mambu tanah.. ga sadar, sadar.. Lah mau nyantet, ngidupin motor wae masih butuh orang… oala mbah… mbah… ndang waras…mesakno anak putu mu… untung ga tak tutuk nggawa sutil iki… .” Ucap Mbak Ani seraya tertawa dengan mengangkat sutil yang sedari tadi ada ditangannya.
“Mbak Ani…!” Ingat ku pada Mbak Ani.
“Lah wong kayak gitu itu ga bisa pakai cangkem apik Kar, kudu sekali sekali pakai cangkem elek, sama kayak ibu mertua mu itu, sekali sekali mbok di la-“ Ucapan Mbak Ani terhenti ketika Mas Guntur menatap Mbak Ani. Ia pun menurunkan sutil yang dari tadi bak seorang mahasiswa sedang orasi.
“Wes toh.. Wes ndak usah di bahas. Ndak usah di ceritakan kemana-mana kejadian ini yo Mbak, Neng…” Pinta ku pada dua tetangga sekaligus sahabat ku.
“Lah kalau ada yang tanya ya dijawab yang sebenarnya toh Kar… “ Ucap Mbak Ani.
Mas Guntur pun masuk ke dalam rumah, Mbak Ani dan Neneng pun memeluk aku reflek. Aku sampai kaget.
“Oala Kar.. kita belum melepas rindu ini….” Ucap Mbak Ani seraya memelukku.
Aku terharu dengan perlakuan dua sahabat ku ini. Yang satu suka meledak-ledak tapi baik hati, yang satu kelewat polos dan lugu karena usianya juga baru 19 tahun.
“Mana oleh-olehnya…” Todong Mbak Ani seraya membuka tangan kanannya dan ia arahkan ke aku.
“Mbak Ani.. lah wong mbak Sekar ini baru sampai loh mbak.. kok wes ditanya oleh-oleh…” Ucap Neneng yang keberatan.
“Galu… sini sama Mbokde…” Ucap ku seraya menggendong tubuh mungil Galu, anak laki-laki berusia 6 bulan.
Aku menggendong dan mencium balita itu. Galu sering di titipkan pada ku saat Neneng belum selesai pekerjaan rumah, ia memilik tiga anak yang jaraknya masing-masing satu tahun.
“Tunggu mbak, Neng.. tak ambil…. “ Ucap ku.
Dua sahabat ku itu pun menunggu. Aku menggendong Galu ke arah dalam. Mas Guntur yang melihat Galu, ia cepat mengambil balita itu dan menidurkannya di kasur baru kami. Aku membuka kardus untuk memberikan oleh-oleh dari ibu yang sudah aku siapkan untuk tetangga dan mertua juga beberapa kerabat mas Guntur. Saat aku memberikan oleh-oleh kepada Neneng dan Mbak Ani. Aku pun meminta Galu agar ditinggal saja dulu.
“Galu di tinggal saja dulu Neng. Mbak juga kangen sama dia…” Pinta ku pada Neneng.
“Ga capek mbak?” Tanya Neneng.
“Kamu belum rampung kan?” Tanya ku balik.
“Iya, ya wes, tak ambil celana nya takut ngompol.” Ucap nya.
“Ndak usah… kayaknya masih ada di lemari ku." Seingatku, beberapa baju dan celana Galu ada dirumah. Karena bocah itu sering di rumah jika aku tak ada kegiatan atau ditinggal mas Guntur.
Saat aku kembali ke dalam kamar, aku tak melihat Mas Guntur. Hanya Galu yang berada di tempat tidur dengan di kelilingi bantal dan guling.
Namun saat melangkah masuk kamar. Mas Guntur tiba-tiba muncul dari balik pintu. Ia memeluk ku dari belakang.
"Astaghfirullah.... " Ucap ku kaget.
"Ssssttt.... Galu tidur... " Ucapnya seraya memeluk ku dan merebahkan dagunya di pundak ku.
"Lah bocah cepet banget tidur... " Ucap ku.
"Kan di kelonin.... Mas juga cepat tidur kalau ada yang ngelonin... " bisiknya.
Aku sedikit menyikut perutnya lalu mencubit pipi nya. Ia mengalungkan tangannya di leherku. Kami berjalan ke arah Galu yang sedang tertidur layaknya anak TK yang sedang bermain kereta api.
'Hah.... aku tahu kamu sedang mencoba menghibur ku mas... 'kadang momen seperti ini kenapa aku tak terlalu stress, atau kalut saat cobaan datang silih berganti atau datang bersamaan. Kami saling menguatkan disaat badai datang. Saling menghibur disaat salah satu merasa sedih. Sehingga masalah dalam rumah tangga kami kadang hanya seperti iklan yang datang sebentar lalu berganti dengan yang lainnya.
Karena belum selesai masalah dengan Bu Rini, malam harinya aku kembali harus berhadapan dengan Ibu yang tampaknya sedari siang memendam rasa kesal pada ku.