The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 20 Ujian Guntur (POV Guntur)



Suasana loket bis telah di penuhi penumpang, Kang Fuad pun menemani aku hingga bis akan berangkat. Seperti kemarin, ia akan sambil menggendong satu anaknya. Aku membeli beberapa susu dan snack hingga totalnya hampir 50 ribu. Ku berikan kresek hitam ke anak balita kang Fuad.


. "Apa kang, kok banyak sekali." Keluh Kang Fuad saat anaknya terlihat tersenyum lebar menerima plastik hitam tersebut.


"Lah cuma jajan, terimakasih ya Kang. Jadi merepotkan Kang Fuad dan istri." Ucap ku.


Kang Fuad merangkul ku.


"Kabari jika sudah tiba kang." Ucapnya. Aku pun mengangguk. Kami harus berpisah saat kernet mobil memanggil para penumpang untuk segera masuk ke dalam bis.


Bis yang aku tumpangi tempat duduknya 2-3. Dan aku berada di barisan yang 3 seat. Saat anak kecil kira-kira berusia SD, merengek ingin duduk di tempat ku. Tepat di sisi jendela.


"Mau duduk sana Nek. Mau lihat pemandangan." Ucapnya.


Tampak perempuan paruh baya tadi mendelik ke arah anak kecil tadi. Aku tak tega melihat anak kecil yang merengek. Aku berdiri dan mempersilahkan anak kecil itu untuk duduk di bangku ku. Sang nenek sepertinya merasa sungkan.


"Tidak apa-apa Bu, saya kebetulan tidak terlalu suka di dekat jendela" Ucap ku.


Akhirnya aku duduk di sisi lorong jalan. Aku pun memasang headset di telinga. Pagi ini aku sudah janjian dengan Sekar. Maka saat ku hubungi istri ku melalui sambungan telepon tak ada salam dari ku. Karena suara Sekar sedang nderes.


"Lanjutkan dik, mas sudah di bis mau berangkat." Ucap ku.


Sayup-sayup ku dengar suara merdu Sekar membaca ayat demi ayat yang jelas dari tajwid juga tartil yang benar. Aku mendengar suara Sekar, tampaknya ia telah selesai 4 lembar. Baru ia ucapkan tashdiq.


"Assalamu'alaikum." Ucapnya di seberang.


"Walaikumsalam." ucap ku.


"Semalam Aku tidur lebih dulu, ternyata baru satu malam saja begini rasa nya ya Mas." Ucap Sekar.


Aku hanya tersenyum.


"Mas, nanti kalau sudah di kapal video ya." Ucap Sekar.


"Iya, ya sudah baterainya tinggal separuh, semalam mas lupa charger." Ucap ku karena tak enak berbicara mesra di tempat umum. Aku sebenarnya ingin sekali menggoda Sekar. Tapi tempat ku saat ini tak memungkinkan.


Sekar menutup panggilan dari ku. Aku hanya menikmati mp3 di ponsel ku. Saat Siang hari bis ini berhenti di salah satu rumah makan. Para penumpang pun turun, aku bergegas ke kamar mandi dan mencari mushola. Aku telah memesan nasi bungkus. Jika tak punya banyak waktu, aku bisa memakan nasi ku di dalam bis nanti. Benar saja, saat pesanan ku jadi, sang kernet telah berteriak di depan pintu bis. Aku pun bergegas menuju bis. Bis pun kembali melanjutkan perjalanan. Hampir satu jam dari perjalanan tiba-tiba perempuan paruh baya di sisi ku berdiri dan berjalan menuju kernet. Ia tampak hampir menangis.


"Tolong pak, kembali ke rumah makan tadi. Dompet saya terjatuh di sana sepertinya." Ucap perempuan itu.


Aku melihat dari tempat ku. Namun sepertinya permintaan si nenek tak bisa di penuhi karena bis telah jauh meninggalkan rumah makan. Ia menangis tersedu-sedu bahkan saat kembali duduk, ia memeluk cucunya dan masih menangis.


Aku memberanikan diri bertanya.


"Bukankah besok pagi kita sampai ke Palembang?" Tanya ku.


"Kami berhenti di Medan." Jawab sang nenek dengan isak tangis.


Aku melongo tak percaya. Ku pikir bis ini hanya sampai Palembang. Tapi nyatanya ia sampai ke Medan. Nenek itu masih menangis. Aku pun ikut iba mendengar jika ia tak punya sepeser uang pun. Nomor ponselnya pun ia tak hapal. Tiba saat sore hari, mobil ini berhenti lagi di sebuah rumah makan, ku lihat nenek dan cucu itu tak ikut turun. Aku kembali ke Bis. Satu kalimat dari cucu nya membuat aku tak tega.


"Nek, aku lapar... " Bisik sang cucu.


"Nenek minta air hangat saja, dibawa tidur saja. Mudah-mudahan besok pagi ada rezeki." jawab sang nenek.


Langkah nenek itu tertahan saat melihat aku berdiri di pintu masuk mobil. Aku pun menarik dompet yang tinggal berisi uang 390 ribu. Saat jari-jari tangan sudah ingin menarik 300 ribu. Namun hati ku kembali mengingatkan aku.


'Kamu juga masih butuh untuk naik travel ke desa nanti Tur, ponselmu juga habis pulsanya.' batin ku.


Maka ku dorong satu lembar kertas berwarna merah menggunakan jari telunjuk. Dan kutarik dua lembar kertas dengan nol 5 digit.


"Nek, ini ada sedikit rezeki. Belilah makanan dan minuman untuk Nenek. Maaf tidak bisa bantu banyak." Ucap Ku.


Nenek itu tampak sungkan.


"Ambilah Nek..." Ucap ku.


"Ya Allah... Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan mu, murah rezeki, panjang umur, dipermudah kan urusan mu, kabul hajat mu." Ucap Nenek itu penuh isak tangis.


Aku pun hanya mengamini. Aku tak berharap timbal balik. Tapi hanya berharap semoga ia bisa kenyang dan selamat sampai tujuan. Bukan ingin balasan karena menolong nenek ini. Rasanya ada kebahagiaan sendiri saat bisa meringankan beban orang atau bisa membuat orang lain tersenyum. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun aku sedikit khawatir saat tiba-tiba bus kami mengalami kerusakan ketika berada di hutan. Uang di dompet hanya tinggal 90 ribu karena yang seratua ku belikan quota ponsel ku dan rokok.


"Saya tidak bisa ambil separuh uang saya bang?" tanya ku pada sang sopir yang frustasi karena Armada nya lagi-lagi rusak.


"Maaf bang, ga bisa." Jawabnya.


Aku terduduk di tepi aspal. Andai uang ku tadi tak ku beri si nenek. Mungkin aku bisa over bis lain yang lewat. Namun ini, aku tak bisa pindah ke bis lain. Sekar jelas cemas karena hampir satu malam aku tak ada kabar. Nenek tadi bahkan ikut aku menanti mobil bisa hidup kembali. Dan saat pagi hari mobil menyala, siang hari mobil itu pecah ban. Saat sudah hampir tiba di pelabuhan. Lagi-lagi beberapa penumpang beralih ke bis lain.


"Kapan sampainya bang.... " Ucap ku kesal. Karena ponsel ku mati total.


"Lah masalahnya ini mobil ga bisa jalan kalau bannya belum di tambal." Ucap nya santai seraya menikmati rokoknya.


Aku hanya khawatir Sekar. Ia pasti cemas karena biasanya malam atau pagi hari aku memberi kabar. Harusnya aku sudah tiba di Palembang.