The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 55 Pasangan Aneh atau Pasangan Spesial



“Sreeng…” Suara sayur kangkung yang ku masukan ke dalam wajan. Aroma bawang dan cabai rawit yang matang begitu khas memasuki rongga hidung.


Perkiraan ku benar, mas Guntur sudah pulang dari ladang. Karena suara motornya sudah terdengar, ku lihat dari arah pintu mas Guntur sedang mencuci tangannya di belakang. Segera aku menuju ke arah mas Guntur seraya membawa handuk kecil. Ku ambil sepatu boot yang ia baru saja kenakan lalu ku berikan satu baju kaos setelah mas Guntur mengelap keringat yang membasahi tubuhnya. Baju dari ladang bahkan ku peras cukup banyak air yang menetes, ia tampak tersenyum saat melihat lirikan mataku yang sempat setengah menggelengkan kepala saat ku lihat air dari perasan bajunya.


“Sudah kayak baru mandi hujan ya dik…” Ujarnya.


“Alhamdulilah berarti sehat mas.. pantas kemarin di cek kok semua stabil.” Komentar ku, karena minggu lalu ada pemeriksaan gratis di polindes di dekat rumah. Mas Guntur yang mengantar bapak untuk posyandu lansia ikut memeriksakan diri untuk mengecek kadar gula, kolesterol dan asam urat menggunakan satu alat yang semuanya hanya bayar 30 ribu.


“Lah gimana ga sehat lahir batin terawat… siapa dulu istrinya…” Ucap mas Guntur yang sudah menyeruput kopinya.


Aku sudah tahu jadwal suami ku pulang, maka akan ada kopi hangat, nasi hangat dan sayur yang masih hangat juga. Hari ini aku hanya menggoreng tempe dan menumis kangkung juga sambal terasi. Semua cukup sederhana, tapi nikmat kalau kata mas Guntur. Karena aku ketika masak masih menyenandungkan shalawat, saat mencuci beras pun aku masih menyenandungkan shalawat dan al fatihah.


“Ziyah masih tidur?” tanya mas Guntur.


“Iya, biasanya tidurnya cukup lama.” Ucap ku.


Mas Guntur bergegas mandi, aku menyiapkan makan siang. Kami menyantapnya bersama. Sesekali aku menoleh ke arah kamar. Aku tak memasang kelambu di kamar, khawatir Ziyah kepanasan. Maka sesekali ku lihat khawatir ada lalat atau nyamuk yang hinggap di wajahnya. Ziyah baru berusia satu bulan lebih. Namun ia masih suka tidur 3 kali untuk siang. Mungkin karena tubuhnya bertambah gembul maka ia begitu suka tidur di pagi menjelang siang. Saat selesai makan kami masih berbincang dengan menghadap ke arah kamar.


“Dik, pondok kan rencana akan di bangun untuk santri putri. Persiapan dua minggu lagi akan ada penambahan santri. Semalam mas diberikan uang oleh Abah uang buat bangun gedung tersebut, dan setelah mas bersama beberapa jamaah membuat rap anggarannya, dana nya masih minim. Maunya Abah tidak usah pakai pondasi batu, pakai batu bata saja tapi mas cukup khawatir karena lokasi di pinggir jalan.” Ucap mas Guntur. Aku masih menyimak apa yang suami ku sampaikan.


“Lalu?” Tanya ku.


“Batu pondasi di depan kita serahkan buat pembangunan pondok bagaimana?” tanya mas Guntur.


Kami memang memiliki rencana akan membangun untuk bagian depan sehingga ruang tamu sekarang bisa kami pakai untuk ruang keluarga, mas Guntur juga berencana menambah satu kamar. Maka kami mulai mencicil membeli beberapa material. Aku tersenyum saat mas Guntur meminta izin ku untuk memberikan batu pondasi tersebut untuk pondok Umi Ayu dan Kyai Damar.


“Jika untuk tabungan ke akhirat, mas ndak perlu minta izin aku.” Ucap ku mantap.


Aku adalah salah seorang santri yang mengaggumi sosok kyai besar KH. Maimun Zubair yang terkenal bukan dengan ilmu beliau tapi juga kesederhanaannya. Bahkan di rumah beliau tidak terdapat barang atau perabot mewah. Ah, aku jadi ingat dulu aku pernah mbatin, besok kalau punya rumah aku mau seperti kyai Maimun ndak usah besar yang penting bisa buat ngaji. Tapi hari ini aku tanpa sadar tersenyum.


“Senyum kenapa?” Tanya mas Guntur melihat bibir ku sedikit tertarik.


“Dulu cita-cita nya punya rumah biar bisa buat ibadah dan pengen sederhana saja. Sekarang Allah kabulkan.” Ucap ku.


Semenjak ada Ziyah aku dan mas Guntur akan mengajar ngaji malam hari ba’da maghrib di samping rumah. Mas Guntur membuat satu tempat teras untuk anak-anak kecil. Hal itu kami sudah meminta izin karena banyaknya para tetangga yang meminta agar tetap aku yang mengajar di siang hari, tetapi aku tak punya waktu karena sekarang ada Ziyah. Disamping itu ada kehadiran satu orang santri dari Jawa yang mengajar untuk membantu Umi Ayu dan Kyai Damar. Maka sekarang rumah yang kecil ini di pakai untuk mengaji, harapan aku dan mas Guntur agar kelak anak keturunan kami bisa suka mengaji karena terbiasa di rumah dipakai untuk mengaji.




Selang beberapa hari beberapa jamaah termasuk mas Guntur datang mengambil batu di depan rumah, namun sebuah masalah justru tanpa di duga datang dari Ibu yang tampaknya marah besar.



Ibu datang dan mas Guntur bahkan sampai merah wajahnya.



Mas Guntur akhirnya masuk dan membiarkan beberapa teman dan jamaah mengangkut batu ke arah pondok. Aku sudah mulai khawatir, perkara apa kali ini ibu akan marah. Dari raut wajah ibu sudah bisa ditebak, ibu sepertinya ingin melampiaskan isi hatinya yang sedang panas.



“Duduk!” Pinta ibu seraya menunjuk ke arah tempat duduk. Aku dan mas Guntur bak anak kecil duduk dengan patuh di hadapan ibu.



“Kalian ini ya! Dulu mau adopsi Ziyah, ibu diam saja. Sudah ngerti biaya tidak sedikit! Sekarang sudah mengerti mau bangun rumah biar terlihat maju! Kok malah itu disumbang-sumbangkan! Sudah merasa kaya kalian! Kalau nanti kalian kenapa-kenapa apa Kyai Damar itu akan bantu! Hah! Ndak usah sok semugih! Hidup yang normal-normal saja!” Ucap ibu dengan mata melotot suara juga sudah bisa kupastikan sampai kerumah Mbak Ani juga Neneng karena Ziyah sampai terbangun.



Mas Guntur melirik ke arah ku saat aku akan masuk ke kamar untuk mengambil Ziyah. Tampaknya mas Guntur tak membela diri. Akhirnya ibu pun pulang setelah hampir satu jam memberikan ceramahnya kepada kami yang dianggap menghambur-hamburkan uang. Saat malam tiba aku seraya melipat pakaian yang belum sempat aku lipat di siang hari mencoba menenangkan hati mas Guntur.



“Ibu itu apa ga mikir selama ini aku kalau ndak mikir adik-adik juga ibu mungkin sudah kaya…” Ucap mas Guntur seraya memandangi wajah Ziyah yang sengaja ia peluk karena dari tadi hujan di sertai kilat.



“Mas… “ Ingat ku pada mas Guntur yang tampak kecewa dan cara berpikir ibu.



Aku sebenarnya paham dengan niat mas Guntur. Bagi kami berdua dunia ini bukan sesuatu yang terlalu harus di perjuangkan, jika ada uang yang datang ke kami dan harus keluar karena membantu keluarga, orang atau untuk kemanfaatan para pencari ilmu, itu lebih baik daripada kami simpan. Memang sudah ada Ziyah diantara kami, tapi kami memang dibilang pasangan yang aneh oleh ibu. Karena jika orang tua lain sibuk berlomba-lomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk ditinggalkan kepada anaknya setelah mereka meninggal, aku dan mas Guntur lebih memilih akan meninggalkan ilmu dan mendidik Ziyah menjadi pribadi yang kuat dan sholehah. Bukan kami tidak memikirkan masa depan Ziyah tapi Allah tak akan membiarkan hambanya mati kelaparan selagi hambanya berjuang mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya. Nyatanya Ijem saja yang di dalam kandang setiap hari ada rezekinya apalagi manusia yang diberikan akal juga nafsu, bagi aku dan mas Guntur kami lebih sibuk menginvestasikan harta kami, umur kami, waktu kami selama masih bisa bernafas untuk jalan dakwah Allah, salah satunya kami membantu kelancaran proses belajar dan mengajar di Pondok Pesantren Kyai Damar, bahkan mas Guntur sekarang katanya di gosipkan di beberapa jamaah ada maunya karena begitu patuh pada Kyai Damar. Maklum, dikalangan masyarakat awam cara kami menghormati Kyai Damar dan Umi Ayu dianggap berlebihan, padahal dalam Kitab Ta’lim Muta’allim bahwa menghormati Guru adalah salah satu cara menghormati ilmu.



“Semoga suatu saat nanti ibu akan paham kenapa kita begini mas, bairin dibilang aneh sama manusia termasuk ibu. Yang penting bagi Allah kita pasangan yang spesial.” Ucap ku membuat mas Guntur tersenyum ke arah ku.



‘Pasangan spesial’, adalah dua kata yang disematkan oleh Umi Ayu kala aku dan mas Guntur berpamitan untuk menjemput Ziyah kala itu.



“Zaman sekarang banyak pasangan sempurna, pasangan romantis. Tapi kalau saya lebih suka menyematkan kalian berdua dengan pasangan Spesial.” Ucap Umi Ayu yang menganggap kami bisa begitu seiya sekata dan seiring sejalan.



Aku hanya berpikir mungkin ridho guru dan orang tua ku dulu, sehingga awal pernikahan yang terasa tak sreg karena tak cinta kini justru menumbuhkan cinta yang sesungguhnya. Kami sibuk mencari cinta Allah melalui setiap langkah, setiap ucapan dan setiap sikap kami.