The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 53 Ziyah, Cahaya ku



Aku dan mas Guntur saling pandang. Sedikit gugup aku menjawab karena ulah Yadi, semua administrasi dari rumah sakit tempat Ziyah di lahirkan. Si Nduk diberikan nama oleh Umi Ayu saat aku menghubungi beliau melalui ponsel. Mau tidak mau aku harus menghubungi Umi Ayu, walau kurang beretika sebenarnya saat aku yang seorang murid meminta bantuan atau doa dari guru. Akan tetapi nama putri kecil kami harus segera di cantumkan di KK dan akte. Maka sebuah nama yang cantik juga menjadi doa untuknya diberikan oleh Umi Ayu. Asheeqa Fauziah aku tak banyak bertanya pada Umi Ayu kenapa, bagi ku sang guru lebih tahu arti dan doa untuk putri kami. Aku meminta mas Guntur mengizinkan memanggilnya dengan panggilan Ziyah yang berarti cahaya.


Ziyah memang cahaya kehidupan bagi aku yang belum merasakan menjadi seorang ibu, dan cahaya kehidupan bagi Vira yang kini berjanji untuk fokus pada kehidupan lebih baik lagi dan tak akan menjalin hubungan dengan lelaki lain khawatir kembali terjerumus ke jurang yang sama. Aku memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dokter Emi dengan sejujurnya.


"Sebenarnya memang masih 3 hari usianya Dok." Ucap ku pelan.


"Astaghfirullah... jadi ini di palsukan? Aduh.. aduh.. ini, ini yang saya tidak suka... Nekat sekali bapak ibu. Bapak ibu tahu nanti kalau terjadi apa-apa. Ini bayi tidak boleh di bawa naik pesawat. Usianya masih rentan... " Tampak dokter Emi menggeleng-gelengkan kepala dan mengetuk-ngetuk jari telunjuk nya.


"Maaf dokter... Kami mohon.. Khawatir keluarga dari bayi ini kembali berubah pikiran."Pinta ku pada sang dokter.


Dokter Emi menatap ku serius. Entah kenapa wajah dokter Emi tampak berubah seketika. Kemudian tampak ia menggaruk dahi nya. Ia sepertinya sedang berpikir.


"Jadi ini bukan putri kandung ibu?" Tanya dokter Emi cukup kaget. Aku terlalu polos, tak bisa berbohong karena memang itu salah satu alasan kami agar cepat pulang. Khawatir kalau Nenek Vira berubah lagi. Aku menoleh ke arah mas Guntur. Hingga akhirnya mau tidak mau kami cerita jika itu anak angkat kami dari hubungan di luar nikah tanpa kami cerita detail masalahnya.


"Jauh sekali... Kenapa harus jauh-jauh kemari. Apakah di Sumatera tidak ada yang bisa diadopsi?" Tanya dokter Emi lagi.


"Dok, ceritanya cukup panjang dan khawatir justru menceritakan aib seseorang. Kami sudah 8 tahun lebih belum memiliki anak." jawab ku cepat.


"O... buat pancingan." Ucap Dokter Emi seraya manggut-manggut.


"Tidak dok, bukan. Tapi memang niat menyelamatkan bayi ini. Kami tak pernah berniat mengadopsi anak agar kelak kami di beri keturunan." Ucap ku pelan.


Dokter Emi tampak membuka kembali map yang ada di tangan nya.


"Asheeqa Fauziah, panggilannya apa?" Tanya Dokter Emi.


Dari nada bicaranya ada penurunan ego yang tadi sempat menaruh rasa tak suka begitu tahu umur Ziyah di tuakan agar bisa naik pesawat.


"Ziyah dok." Lagi aku menjawab dan menatap dokter Emi yang tampaknya ia hanya mengalihkan perhatian nya ke dalam berkas-berkas dari rumah sakit Ziyah dan juga akte kelahiran Ziyah.


"Ziyah... artinya?" Tanya dokter Emi yang mengangkat wajahnya, menatap ku.


"Saya kurang paham soalnya yang memberi nama ada guru kami. Tetapi untuk Ziyah sendiri adalah cahaya." Jawab ku. Ku lihat sudut bibir dokter Emi melengkung.


"Baik, siang ini saya siap mendampingi Ziyah terbang." Ucap dokter Emi yang tanpa ragu-ragu menandatangani surat-surat yang akan diperlukan nanti ketika di bandara. Aku melihat dokter Emi meneriksa dokumen yang akan di serahkan ke pihak penerbangan.


"Nanti siapkan materai 45 lembar pak. Keluar dari sini langsung beli. Agar di bandara Bapak dan Ibu tidak harus beli." Ucap Dokter Emi yang menghubungi perawat melalui telepon yang ada di atas mejanya.


Entah kenapa aku melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Sepertinya dokter Emi menyembunyikan sesuatu.


Aku menjelaskan secara yuridis diantara mas Guntur dan Ziyah, tetap memiliki hubungan keperdataan seperti waris dan perwalian.


"Tiba di Sumatera mas Guntur akan menguruskarena administrasi kependudukan yang lengkap seperti kartu keluarga (KK), akta kelahiran" Jawab ku. Dokter Emi meletakkan tubuh mungil Ziyah dalam. box bayi yang terdapat di ruangan itu.


"Lalu nanti bagaimana jika nanti dia dewasa? Wali nikahnya?" Tanya dokter Emi.


"Secara hukum Islam,tidak memiliki hubungan keperdataan namun untuk wali nikah tetap akan wali hakim nantinya. Semoga Ziyah bisa paham nanti kedepannya jika memang dia bukan anak kandung kami. Kami akan berusaha mendidiknya dengan kasih sayang tulus. Jika semua itu dilakukan maka akan mudah insyallah memberikan pengertian itu kelak, ada Allah yang akan mempermudah setiap niat baik kita." Jawab ku.


Dokter Emi membuka kaca mata hitamnya. Ia menatap lurus ke depan. Ia tatap box yang terdapat tubuh mungil Ziyah.


"Mbak Sekar tahu, saya sudah 3 kali ikut program bayi tabung. Biaya nya tidak sedikit, dari yang 400 juta, 800 juta hingga saat ini saya ikut yang di Singapura. Yang nominal nya tidak perlu saya sebutkan. Dan beberapa waktu lalu saya menerima kabar jika kami gagal lagi. Bukan tentang nominal yang hilang. Tapi tentang usia yang mulai tua. Saya jadi khawatir, buat apa karir, harta kecantikan dan ketampanan suami jika kami hanya berdua. Tapi hari ini saya belajar sesuatu dari mbak Sekar dan Mas Guntur. Cara berpikir saya terbuka... " Ucap dokter Emi.


Memang sepanjang perjalanan tadi dokter Emi banyak bertanya pada kami apa pekerjaan mas Guntur, dan beberapa hal yang tampaknya ia ingin membaca seperti apa kami berdua ini. Aku tak mengerti dengan kalimat terakhir dokter Emi. Karena mas Guntur datang dan mengatakan jika semua telah selesai kami bisa terbang bersama Ziyah. Ternyata betul yang di katakan dokter Emi. Ziyah di dalam pesawat di sediakan tempat khusus, ia diberikan penutup telinga dan berada dalam box. Dokter Emi duduk tak jauh dari box Ziyah selama perjalanan beberapa menit sekali dokter Emi mengecek Ziyah. Aku baru mengerti kenapa jangan sampai memanipulasi data, jika tadi kami bersikeras bahwa Ziyah berusia minggu, maka pasti akan ada dampak pada perjalanan ini pada tubuhnya. Dokter Emi begitu gemati mengamati Ziyah.


Dan saat tiba di Sultan Mahmud Badaruddin 2, Kami baru akan mengucapkan perpisahan dan terima kasih pada dokter Emi. Namun kami di minta untuk menunggu oleh dokter Emi.


"Tunggu dulu disini sebentar." Pinta dokter Emi.


Kami menunggu dokter Emi yang entah pergi kemana, aku menggendong tubuh mungil Ziyah. Ia tampak tidur lelap. Tak sabar rasanya ingin segera memberikan nya ASI. Hampir 20 menit aku dan mas Guntur menunggu. Tak lama dokter Emi muncul dengan satu paper bag dan ia serahkan kepada kami. Lalu ia keluarkan satu amplop coklat.


"Ini ada sedikit dari saya buat Ziyah. Titip Ziyah, Saya mohon rawat baik-baik Ziyah. Saya sudah sewa satu mobil, dia akan antar kalian langsung ke alamat kalian. Dan tidak boleh bawa penumpang lain. Khawatir Ziya terkena virus. Jadi aman buat Ziyah." Ucap dokter Emi.


Mas Guntur cepat menyerahkan kembali amplop tersebut.


"Dok... ini apa. kami justru harus berterima kasih." Ucap Mas Guntur tak enak hati. Aku justru merasa dag dig dug. Amplop yang diberikan dokter Emi cukup tebal. Dan ekspresi mas Guntur saat melihat isinya sudah ku pastikan nominalnya cukup besar.


"Tolong terima. Saya kemarin menyetujui untuk menjadi dokter pendamping Ziyah karena niat bantu Ziya selamat sampai tujuan. Dan ini salah satunya. Belikan vitamin buat ASI mbak Sekar, toh tadi mbak Sekar bicara soal ASI. Ini saya sudah pesankan vitamin khusus dan akan di kirim ke alamat mbak Sekar. Uangnya buat dik Ziyah. Ingin cium Ziyah, tapi khawatir nanti ada virus malah kasihan Ziyah." Ucap Dokter Emi seraya mengusap lengan ku.


Dokter itu berlalu dengan langkah cepat meninggalkan aku dan mas Guntur yang dijemput satu petugas bandara. Kami tampaknya keluar lewat jalur tidak biasanya. Mungkin semua dokter Emi yang urus. Tiba di dalam mobil yang di sewa dokter Emi, sopir mobil tersebut terlihat senang. Ternyata dokter Emi membayar lebih agar si sopir tak ambil penumpang lain selama perjalanan mengantarkan kami pulang. Saat berhenti sejenak di rumah makan Mas Guntur termenung saat aku baru kembali dari toilet.


"Allah kalau berkehendak ya dik... Allah ganti cash." Ucap Mas Guntur.


Ternyata uang yang diberikan Dokter Emi pada kami hampir 20 juta. Aku menitikkan air mata seraya memeluk erat tubuh Ziyah. Dokter Emi saja sudah menghabiskan banyak uang agar bisa punya anak. Aku dan mas Guntur bahkan belum ada apa-apa nya ternyata. Kini aku paham tatapan dokter Emi selama perjalanan. Ia mungkin mengerti bahwa tujuan hidup di dunia ini bukan harta, jabatan dan kebahagiaan. Tetapi apakah setiap yang kita lakukan di dunia ini Allah ridho. Seperti ucapan ku kala dokter Emi bertanya perihal bagaimana bisa baik-baik saja sedang kita dalam keadaan tidak baik-baik.


"Kita ini cuma hamba Allah dok, kecil sekali di hadapan Allah. Maka suka-suka Allah saja mau buat hidup kita ini seperti apa. Yang jelas kita diminta untuk selalu melihat Allah dimana pun kita berada dan meneladani Rasulullah sebagaimana beliau adalah pembawa risalah." Ucap ku.


Ya, zaman sekarang banyak sekali orang yang mengaku pandai, mengaku islam dan beriman tapi ketika paham syariat justru untuk menilai orang lain bukan digunakan untuk menilai diri sendiri. Aku lebih melihat Allah dimana aku berada. Saat dirumah bertemu ibu mas Guntur, aku yakin Allah ingin aku bersabar. Saat bertemu Vira, aku juga melihat Allah. Allah akan menutup aib seseorang di dunia dan akhirat karena ia menutupi aib seseorang, ini hadist riwayat Muslim. Sebenarnya hidup ini akan enteng dijalani jika kita selalu melihat bahwa Allah selalu ada dalam setiap tarikan napas, dalam setiap langkah. Maka hal itu akan membuat kita tidak berani bermaksiat pada Allah juga akan selalu bersabar jika sedang sengsara di dunia karena tujuan akhir adalah akhirat.