The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 40 Ketenangan dari Sekar (POV Guntur)



Napas ku masih terasa berat, beruntung Sekar hadir diantara kami. Ibu pun pulang dengan marah. Sekar menyapu dan membersihak semua bekas serpihan abu surat tanah yang tadi ku bakar. Ku lihat Sekar tak bertanya apapun. Aku sampai masuk waktu maghrib, aku mengatakan nanti akan kuceritakan apa yang terjadi. Seperti itulah Sekar, ia tak akan bertanya sebelum aku sendiri menceritakan keluh kesah ku jika sedang kalut. Ia betul-betul sosok istri yang mengingatkan aku pada Sayyidah Khadijah, kala Rasulullah pulang dari gua hira. Dimana saat itu Rasulullah bertemu malaikat jibril. Rasulullah sangat ketakutan dan sampai terjatuh-jatuh selama berlari menuju pulang. Tiba dirumah, Baginda Nabi langsung meminta diselimuti oleh Sayyidah Khadijah.


Ya, Sayyidah Khadijah adalah sosok istri yang tangguh atau kuat. Bukan kuat secara fisik. Atau kuat urusan seperti diartikan istri masa kini, dimana istri yang kuat adalah istri yang bisa angkat galon sendiri, istri yang bisa pikul beras sendiri, istri yang bisa ganti bohlam lampu sendiri. Bagi ku istri yang kuat adalah yang memiliki hati yang kuat seperti Sayyidah Khadijah. Bagaimana tidak kuat, disaaat suami beliau sedang ketakutan dan panik. Beliau justru dengan tenang memenuhi keinginan suaminya, ia selimuti sang suami. Ditunggu sampai suaminya tenang dan menceritakan sendiri tentang perihal membuat Baginda Rasul merasa ketakutan. Hanya istri yang memiliki hati kuat untuk tidak ikut panik, tidak langsung kepo akan suatau isi hati suami disaat suami itu sendiri sedang berperang dengan hatinya sendiri.


Inilah yang membuat mungkin banyak para lelaki cari yaitu rasa nyaman, bahkan beberapa artis yang tampan dan juga kaya atau istrinya yang cantik dengan dalih tidak ada kenyamanan hingga harus berpisah. Ah,aku bersyukur. Sekar, selalu memberikan aku kenyamanan. Saat dalam perjalanan ke rumah Pak Le Gio aku sengaja berhenti di sebuah warung sate, ku pilih tempat di sudut warung sehingga bisa leluasa berbicara.


Kami duduk lesehan, Sekar sepertinya mengerti aku sedang ingin berbicara seraya menikmati indahnya sinar rembulan. Saat satu porsi satu sudah ku habiskan, aku masih menunggu Sekar menghabiskan porsinya. Tampaknya ia kesulitan menghabiskan lontongnya.


“Ndak habis?” Tanya ku.


“Mas ndak bilang mau mampir tadi, masih terasa kenyang. Tapi kok ya mubazir kalau dibuang.” Ucapnya.


Akhirnya aku mengambil sendok di piringnya, ku lahap beberapa iris lontong tersebut. Sekar tampak tersenyum. Usapan lembut jarinya pada sudut bibir ku karena ada sisa bumbu sate yang menempel.


“Sudah kayak orang pacaran saja kita dik…” Bisik ku.


Sekar tersipu malu, ia pun menikmati teh hangat yang kami pesan. Sekar nyaris tidak pernah minum es. Sehingga jangan heran dirumah kami tidak ada air es atau es balok di freezer. Aku pun tak terlalu suka Es. Aku akhirnya menceritakan isi hati ku pada Sekar.


“Dik, apa ya solusi biar ibu tidak jual kebunnya. Tadi sore itu ibu minta surat tanah buat dijual.” Ucap ku seraya menikmati the hangat.


“Buat apa uangnya mas?” Tanya Sekar seraya memegang cangkir the miliknya.


“Buat acara nikah yadi dan buat ngunduh mantu, menurut kamu gimana… mas bingung…” Ucap ku pelan.


“Mas pasti sangat emosi tadi sampai membakar surat tersebut.” Ujar Sekar.


“Ibu itu kalau sudah seperti itu baru mau mengalah, tapi mas jadi kayak anak durhaka… walau sebenarnya mas ndak benar-benar begitu sama ibu…” Ucap ku pelan.


“Maksudnya?” Tanya Sekar penasaran


Aku pun menceritakan jika 4 bulan lalu ada program pembuatan surat tanah gratis dari pemerintah atau prona. Dan aku mendaftarkan tanah ibu, karena melihat Yani ingin meminjam bank dan sering macet, aku pun membuat surat tanah itu atas namaku, maka sebenarnya surat tanah yang berupa Sertifikat sudah ada aku simpan.


“Jadi yang di bakar itu?” Tanya Sekar penasaran.


“Fotokopi nya, suratnya sekarang sudah jadi bentuk sertifikat. Oya, apa kita pinjam bank saja ya, ambil yang KUR. Kemarin kan berkas waktu Yani ambil bank belum mas ambil. Jadi kita bisa lanjut ambil kur, kabarnya suku bunganya sangat kecil sekarang dik.” Ucap ku pada Sekar.


“Aku ragu mas kaalau mau ambil bank, kalau kemarin aku tidak keberatan karena Yani dan suaminya yang menggunakan. Tapi ini mas yang akan menggunakan.” Ingat Sekar.


Sekar pun mengamini apa yang aku ucapkan. Kami hanya sebentar di kediaman Pak Gio. Kami berkunjung ke pondok. Jam 10 malam adalah waktu yang tepat untuk berkunjung ke pondok, karena saat inilah biasanya Umi Ayu dan Kyai Damar duduk di serambi. Mereka akan menikmati waktu luang mereka atau menerima tamu yang memiliki keperluan. Kami masuk dan disambut Umi Ayu. Ada tiga orang lelaki dan satu orang perempuan. Aku duduk di pojok, dekat Kyai Rohim dan ketiga lelaki yang tampaknya sudah dari tadi. Sekar duduk di dekat Umi Ayu. Tak berapa lama ke empat orang tersebut pamit, undur diri. Kyai Damar membuka kopiahnya. Umi Ayu tampak mengajak Sekar untuk mendekat ke arah kami. Entah kenapa aku melihat Sepasang suami istri yang di hormati orang di desa kami ini begitu senang saat kami datang.


“Dari mana kang?” Tanya Kyai Damar seraya membuka toples kacang goreng di hadapannya. Tampak di ambil segenggam oleh Kyai Damar dan beliau menikmatinya.


“Dari rumah Pak Le, Yai.” Jawab ku.


“Bi, lusa biar sama Mbak Sekar saja gimana?” Tanya Umi Ayu seraya menatap suaminya.


“Lah, ditanya dulu. Mbak Sekar repot apa ga?” Tanya Kyai Damar.


“Mboten bi, kulo dan Sekar,mboten sibuk... Enten nopo Yai?” Ucap Ku cepat, aku sangat menyetujui jika aku atau Sekar di minta bantu oleh Umi Siti. BAgaimana tidak senang, dengan keterbatasan ilmu masih bisa nderek Kyai dan Bu Nyai. Saat ini aku dan Sekar hanya ingin memanfaatkan umur kami untuk hal-hal yang membuat Allah ridho pada kami, salah satunya mencintai kekasihnya. Ya, Ulama adalah kekasih Allah. Bagi ku, Umi Ayu dan Kyai Damar adalah Ulama yang dicintai Allah. Sekar bahkan sering menceritakan jika ia melihat ada kesamaan antara Umi Ayu dengan Umi Laila. Sama-sama membawa islam itu tidak menakutkan bagi mereka yang masih belum bisa menjalankan syariatnya, namun pelan tapi pasti orang tersebut akan berubah karena kelembutan dari sepasang suami dan istri yang kini aku anggap guru.


“Lusa itu ada pengajian di Kecamatan Singasono. Yang datang putranya Mbah Yai Sodiq. Beberapa jamaah akan naik mobil, tapi istri saya harus nunggu dulu ada wali santri yang mau datang pagi besok, jadi tidak bisa berangkat bareng jamaah. Lah kalau tidak pergi, wong Umi nya yang ngajak.” Jelas Kyai Damar. Aku pun mengatakan jika bisa Sekar yang mengantar. Setelah berbincang sesaat akupun mengutarakan yang menjadi ganjalan ku. Tentang rencana meminjam bank untuk keperluan Yadi juga rencana seapruhnya akan ku gunakan untuk membeli pupuk untuk kebun sawit.


“Jadi kira-kira kalau meminjam bank bagiamana Yai,” tanya ku risau.


Tampak Kyai Damar menikmati sebuah kue lapis yang berada di piring dekat dengan beliau.


“Dari dulu ini masih jadi perdebatan Kang, sementara memang tiga pendapat di negara kita untuk meminjam uang di bank ini yaitu ada yang berpendapat halal, haram dan syubhat (heti-hati). Karena hukum bunga bank masih ikhtilaf tinggal lagi tujuan dari meminjam bank tersebut. Untuk tujuan yang produktifkah atau untuk tujuan konsumtif. Nah yang konsumtif yang tidak di perbolehkan.Walau para ulama sepakat bahwa riba itu haram." Jelas Kyai Damar.


Ini yang aku suka duduk bersama orang berilmu, hanya ngobrol dan ngopi tapi mendapatkan ilmu. Bahkan tanpa kami sadari, Kyai Damar justru menceritakan jika Bank yang sekarang berbeda dengan bank dulu.


“Lah dulu itu orang pinjam uang bank karena bayar bunganya jadi ga bisa makan. Lah sekarang kan beda. Orang pinjam bank mesti punya harta yang di agunkan. Berarti secara logika orang pinjam bank itu orang mampu. Lah coba kamu ga punya surat tanah atau punya hal yang berharga atau ada nilai jualnya terus ke bank buat minjam… pasti ndak di kasih toh… Tapi kan sekarang banyak bank syariah. Tidak harus lewat yang konvensional." Jelas kyai damar.


“Begitu sulit kita hidup di akhir Zaman ini kang, karena kita harus dilibatkan dengan situasi dimana tidak terjadi di zaman Rasulullah. Sedangkan kita menjalaninya, tempat bertanya ya para ulama. Maka tak bisa menyalahkan para ulama yang berbeda pendapat, tinggal kita mau ikut ulama yang mana? Dan yang paling penting kita harus ikut ulama yang keilmuannya bersambung langsung ke Rasulullah.” Imbuh Umi Ayu.


“Iya, contohnya zaman Rasulullah hanya ada unta, belum ada pesawat ya Mi, terus sekarang kita naik haji ga bisa langsung kesana naik pesawat sendiri untuk berhaji, harus melalui jasa-jasa atau perantara yang dimana salah satunya bank.” Ucap Sekar menambahkan tentang bank.


Ah aku jadi punya angan-angan pergi haji bersama Sekar. Esok aku akan bertanya perihal tabungan haji sekaligus bertanya untuk pinjaman KUR. Karena aku memang butuh suntikan dana untuk kebun Sawit.


“Lah iya, zaman dulu itu orang kita kalau mau naik haji harus jual sapi sampai belasan ekor untuk bisa naik haji… sekarang di sini cukup jual 4-5 sapi sudah bisa naik haji, ini jadi inget batsul masail dulu di jawa. Perkara hukum bunga bank tadi… “ UCap Kyai Damar yang merupakan salah satu tokoh atau ulama yang di beri amanah menjadi salah satu ketua dari cabang sebuah organisasai keagaaman.


Malam ini aku akhirnya sudah punya solusi, setidaknya aku akan mengadakan acara ngunduh mantu tapi tidak dengan seperti yang diinginkan ibu, aku punya satu konsep acara yang aku harap bisa menjadi ladang dakwah ku, yang aku harap bisa menjadi pelopor. Sekar, dia yang menjadi pelopor konsep ini. Dia yang memberikan ide itu pada ku saat tadi di atas motor, seraya menuju pondok pesantren Kyai Damar.


‘Bismilah… niat syiar gusti… permudahkan ya Allah…’ Aku bermunajat semoga diberikan kemudahan untuk menyenangkan ibu, tanpa harus menjual tanah ibu, dan aku bisa syiar di desa ku juga mengenalkan kyai ku di desa ini.