
Kali Bening adalah sebuah pesantren yang cukup banyak mencetak generasi ulama yang santun dan beberapa alumni nya bahkan tidak hanya menjadi ustad atau memiliki pesantren tetapi ada yang menjadi politikus, polisi, bidan. Aku bisa tahu itu, kala terkahir aku melihat di halaman medsos Ning Ayra dan ke empat anak Kyai Rohim. Di laman itu tampak banyak para alumni Kali Bening menjadi inspirasi bagi para pencari ilmu di Kali Bening. Termasuk aku, aku yang hanya ibu rumah tangga. Jika aku tidak bisa menjadi apa-apa di masyarakat. Paling tidak aku akan menjadi istri yang baik, anak dan menantu yang baik serta warga negara indonesia yang baik.
Itu yang di tanamkan oleh Umi Laila dan para pengasuh pondok pesantren Kali Bening, untuk menjadi pribadi yang menebar manfaat dimana pun kami berada, bukan menjadi apa kami. Tapi apa manfaat yang bisa kami berikan untuk orang-orang disekitar kami atau masyarakat. Termasuk diriku, saat ini mungkin aku hanya ibu rumah tangga. Tapi aku punya banyak rahasia para ibu-ibu tetangga yang mungkin butuh tong sampah. Aku mungkin bukan kyai, tapi aku membutkikan pada diri ku sendiri bahwa ilmu yang selama ini diberikan guru ku bermanfaat untuk masa depan ku, dalam berumah tangga, bermasyarakat. Salah satu pesan Umi Siti kala aku akan boyong sesaat sebelum ijab qobul dengan mas Guntur.
“Nduk, kamu harus tetap ngaji yang walau nanti tidak mondok, dan harus mengajarkan ilmu yang telah didapat kepada lingkungan kita sekitar. Dengan cara yang santun, selalu jaga hati dari niat yang mengotori niat itu sendiri.” Kenang Ku saat kami sedang menunggu Umi Laila.
Aku dan mas Guntur dudu di ruangan dimana di gunakan untuk menyambut tamu di ndalem Umi Laila. Ah, aku bahkan deg deg kan saat ini. Karena aku jarang duduk dekat apalagi mengobrol dengan Nyai Laila atau biasa kami panggil Umi Laila. Saat sosok yang meminta aku dan mas Guntur untuk singgah ke ndalem nya, aku tak berani menatap wajah Umi Laila.
“Wah wonten dhayoh tebih rupinipun , pangapunten Umi kala-wau kedah ngater besan umi.” Ucap Umi Laila pada kami. Aku mengangguk pelan.
{Wah ada tamu jauh rupanya, maaf umi tadi harus mengantar besan Umi.}
“Nggih, mboten punapa-punapa Mi.” Jawab ku.
{Ya, tidak apa-apa Mi.}
Umi Laila menurunkan satu cangkir the dan kopi dari nampan yang di bawa santrinya, ah aku jadi ingat kisah ku dulu saat pertama menjadi abdi ndalem. Mulai dari cangkir di nampan yang akan berbunyi saat aku bawa. Belum lagi saat akan menyerahkan ke tamu, tangan ku bergetar. Sarung yang terpijak saat aku berjalan mundur. Ah kenangan lucu bersama sahabat ku Zhafirah kala itu, kini aku rindu saat-saat dimana dulu merasa begitu lelah karena mengaji dan mengabdi. Tapi nyatanya kini aku merasakan semua itu menjadi senjata andalan ku di Sumatera. Karena semua keahlian ku untuk menjadi perempuan yang cak cek, perempuan yang tegar, perempuan yang harus kuat hatinya kini betul-betul di minta untuk dibuktikan kala menjadi istri mas Guntur.
“Kados puniki Sekar, Umi pireng njenengan manggen wonten Sumatera wonten tlatah sisi kidulipun . punapa caket kalih pesantren Safna? pengasuhipun Gus Damar lan Umi Ayu.” Tanya Umi Laila pada ku.
{Begini Sekar, Umi dengar kamu tinggal di Sumatera di wilayah bagian selatannya. Apakah dekat dengan pesantren Safna? Pengasuhnya Gus Damar dan Umi Ayu,}
Aku mengangguk cepat, “Nggih Umi. Caket. Sawentawis 500 meter saking griyo.” Jawab ku Cepat.
“Masyaallah….” Ucap Umi Laila seraya mengusap lengan ku. Aku bahkan merinding, hampir menangis. Apa yang membuat Umi Laila mendekat bahkan mengusap lengan ku. Seoarng Bu Nyai yang terkenal dengan kesabaran dalam mendidik dan membimbing para santrinya dari dahulu sampai sekarang Kali Bening memiliki banyak santri.
“Alhamdulilah… Nak Guntur, Sekar. Umi Ayu puniku sampun kita anggep kados lare piyambak. Piyambakipun rumiyin inggih punika santri pertami kita. Sampun tresna sanget Umi Laila puniki kalih Umi Ayu, nanging ketingalipun Ayu kepanggih dereng keturutan. Lan kala-wingi saged kontak ing w@ tembungipun ing sumatera. kepanggih kalih furqon ingkang sanjang wonten santri saking sumatera, umi kajeng sanget dugi mriko lan kajeng nyukani kejutan. Nanging nggih kita atur jadwal rumiyin,Nggih?” Jelas Kyai Rohim pada kami.
{Alhamdulilah… Nak Guntur, Sekar. Umi Ayu itu sudah kami anggap seperti anak sendiri. Dia dulu adalah santri pertama kami. Sudah rindu sekali Umi Laila ini dengan Ayu, namun tampaknya ingin bertemu belum keturutan. Dan kemarin bisa kontak di W@ katanya di Sumatera. Ketemu dengan Furqon yang bilang ada santri dari Sumatera, Umi ingin sekali berkunjung ke sana dan ingin memberikan kejutan. Tapi ya kita atur jadwal dulu.}
“Menawi Umii sanjang ajeng mriko , pesantrenipun enggal ajeng ngadeg. Kuwatos Ayu ajeng ribet amargi nyiapaken sedayanipun, Umi kajeng sanget kepanggih kalih Ayu. Rencana mangke wekdal wonten jadwal dhateng Sumatera, Umi nedha rencangan sampeyan kangge pethuk Umi, dados supados Ayu mboten ngertos Umi ajeng mriko.” UCap Umi Laila.
{Kalau Umi Bilang akan kesana, pesantrennya baru mau berdiri. Khawatir Ayu akan repot karena menyiapkan semuanya, Umi Ingin sekali bertemu dengan Ayu. Rencana nanti saat ada jadwal ke Sumatera, Umi minta bantuan kalian untuk jemput Umi, jadi agar Ayu tidak tahu Umi akan kesana.}
Aku menganggukan kepala, entahlah bibir ini susah sekali mengeluarkan kalimat. Aku betul-betul tak percaya ternyata Umi Ayu yang selama ini sering mengisi majelis dan mendirikan pesantren di desa kami ternyata santri pertama Kali Bening.
‘Pantas saja, aku merasakan sosok Umi Laila bahkan seperti ada pada Umi Ayu. Tapi beliau tidak pernah mengatakan jika alumni Kali Bening.’ Batin ku.
Aku pun memberikan nomor ponsel ku kepada Umi Laila. Bahkan saat akan berpamitan kami diberikan dua plastik putih. Beliau menitipkan satu untuk Umi Ayu, dan satu untuk diriku. Dan kami sedikit tertegun kala Kyai Rohim merangkul Mas Guntur saat berada di teras ndalemnya.
“Kang, titip Ayu dan Gus Damar, Nggih.” Ucap Kyai Rohim.
Aku melihat Umi Laila menoleh kearah Kyai Rohim. Ia pun melakukan hal yang sama. Saat aku mencium punggung tangan Umi Laila untuk pamit. Satu kalimat yang sama membuat aku heran.
“Umi titip Ayu, Nggeh. Bantu dakwah Umi Ayu teng mriko….” Ucap Umi Laila menahan tangan ku dan menepuk punggung tangan ku. Sedikit terbata-bata aku menjawab permintaan Umi Laila.
“Ing-Nggih Umi. In-Syaallah….” Jawab ku masih menunduk dan terbata-bata.