
Aku dan Sekar duduk di ruang tamu rumah kami, merencanakan kunjungan kami ke pondok pesantren Kyai Damar. Aku sudah memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa, dan sebagai seorang santri, aku merasa penting untuk mendapatkan izin dan restu dari Kyai Damar sebagai guruku.
‘Waasimhum fil amri, faidza 'azamta, fatawakkal 'alallah. Innallah yuhibbu al-mutawakkilin.’ (Q.S. Ali Imran: 159)
Dimana kalimat itu berarti ‘Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (yang kamu hadapi). Jika kamu telah memutuskan sesuatu, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal (kepada-Nya).’
Ayat ini mengingatkan aku untuk senantiasa bermusyawarah dengan Kyai Damar selaku guru dalam kehidupan ku saat ini, karena beliau adalah orang alim yang berilmu dan sanad keilmuan beliau pun begitu jelas hingga sampai ke Rasulullah. Bagi ku dalam menghadapi keputusan penting, seperti saat ini niat ku ingin mencalonkan diri menjadi kepala desa. Setelah memutuskan, Istri ku sendiri sudah mengingatkan aku untuk bertawakkal kepada Allah, yaitu meletakkan kepercayaan dan harapan penuh kepada-Nya. Ayat ini juga menyiratkan bahwa Allah menyukai orang-orang yang memiliki tawakkal yang kuat dalam menjalani kehidupan. Namun aku dan Sekar tetap membutuhkan bimbingan dari guru.
“Mas berharap apapun keputusannya dan jika memang mas maju sebagai calon kepala desa maka hal itu didasarkan pada musyawarah, nasihat dari para guru, serta kepercayaan dan harapan kepada Allah. Begitu juga dengan kamu Dik, kamu adalah partner yang pastinya akan kembali bertambah beban dan tanggungjawab mu.” Ucap ku saat Sekar sudah siap dengan Ziyah berada dalam gendongannya, Sekar selalu menggunakan kain gendong tradisional untuk menggendong Ziyah daripada yang seperti sekarang tampil lebih modern, alasan biar bisa menutupi Ziyah sampai kaki. Aku hanya melihat bagaimana telatennya istriku itu merawat Ziyah, walau putri mungil nan cantik itu tak lahir dari rahimnya, namun Sekar betul-betul gemati merawat putri cantik kami.
“Aamin, insyaallah aku akan siap berada di samping mas sekarang, besok dan kapanpun. Yang penting mas ridho pada ku… hanya itu tiket ku mas untuk menuju surga…” ucap Sekar yang membuat hati ku selalu bersemi karena cintanya pada ku.
Sekar mempersiapkan Ziyah, anak kami yang berusia 7 bulan, untuk ikut pergi ke pondok pesantren. Dia memastikan bahwa Ziyah nyaman dalam gendongan dan membawanya dengan hati-hati. Setelah semuanya siap, kami berangkat menuju pondok pesantren.
Sesampainya di pondok pesantren, kami disambut oleh suasana yang tenang dan khidmat. Aku melihat Umi Ayu, istri Kyai Damar, sedang duduk di teras rumah mereka seraya Umi Ayu menidurkan anak bungsunya di kaki menggunakan bantal seraya menggoyangkannya dengan lembut. Dan satu tangan lainya sibuk membaca sebuah buku, sungguh sosok pasangan yang selalu haus akan ilmu. Aku tersenyum melihat pemandangan tersebut, mengingatkan aku pada kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga kami sendiri.
Kemudian, aku mendekati Kyai Damar yang sedang duduk di tak jauh dari Kyai Damar. Dengan penuh hormat, aku menyampaikan niatku untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. Aku menjelaskan bahwa sebagai seorang santri, aku merasa penting untuk mendapatkan izin dan restu dari Kyai Damar sebagai seorang guru.
“Yai, kulo badhe ngaturaken niat kulo kagem nyalonaken dhiri dados sirah dhusun. Dados setunggaling tiyang santri, kula rumaos wigatos kagem keparingan izin lan restu saking panjenengan dados setunggaling tiyang guru.” Ucap ku sopan, sulit bagiku kadang untuk tidak menggunakan bahasa halus apalagi sedang ada hajat atau niat seperti ini.
{Kyai Damar. Saya ingin menyampaikan niat saya untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. Sebagai seorang santri, saya merasa penting untuk mendapatkan izin dan restu dari Kyai sebagai seorang guru}
Kyai Damar menyambut baik niat ku yang akan mencalonkan diri dalam ajang pemilihan kepala desa sebentar lagi.
{niat yang baik kang, insyaallah saya akan bilang ke kyai Rohim. Kebetulan beliau minggu besok ada pengajian di provinsi sebelah, rencana saya akan kesana sama istri.}
Kyai Damar menjelaskan bahwa sebagai seorang kyai, tugasnya adalah untuk memberikan nasihat dan petunjuk berdasarkan prinsip-prinsip agama Islam. Kyai Damar mengatakan bahwa sebelum memberikan izin, dia akan melakukan istikharah dan meminta petunjuk Allah. Aku memahami bahwa meminta petunjuk Allah adalah langkah yang penting dalam mengambil keputusan yang besar seperti ini. Kami berterima kasih kepada Kyai Damar atas kesempatan ini dan berjanji untuk tetap menjalankan ajaran agama dalam setiap langkah kami.Setelah berbincang sejenak, kami mengucapkan salam perpisahan kepada Kyai Damar dan Umi Ayu. Kami meninggalkan pondok pesantren dengan hati yang penuh harap dan keyakinan bahwa segala sesuatunya akan berjalan sesuai dengan kehendak Allah.
Dalam perjalanan pulang, kami merenungkan betapa pentingnya mendapatkan izin dan restu dari orang yang bijak dan berpengaruh dalam kehidupan kami. Kami berkomitmen untuk terus mengikuti ajaran agama dan berusaha menjadikan niat kami sebagai kepala desa sebagai sarana untuk berbuat kebaikan dan mensejahterakan masyarakat. Restu ayah dan ibu sudah aku kantongi kemarin malam saat aku matur ke ayah dan ibu perihal untuk maju menjadi salah satu calon kades, alhamdulilah kedua orang tua ku setuju, walau ibu memerestui dengan niat agar orang yang menganggap aku tak layak menjadi kades bisa terdiam, aku masih ingat ucapan ibu saat memberikan semangat untuk ku, ku rasa hampir 9 tahun aku bersama Sekar, baru kali ini ibu memberikan dukungan yang tulus dan penuh semangat walau niat kami berbeda.
“Ibu doakan kamu menang, biar lambe nya orang-orang yang bilang kamu itu ga pantes jadi kades nanti bisa diam. Biar bisa ibu kilani itu muka-muka orang yang suka nyindir kamu di depan ibu. Ibu sudah lama mau nanya sama kamu, sebenarnya kamu jadi nyalon atau tidak,” Ucap ibu kemarin malam. Saat di perjalanan Sekar melingkarkan tangannya di pinggangku.
“Mas, bagaimana jika dari istikharahnya nanti tidak sesuai harapan. Bagaimana dengan ibu ya mas, aku takut ibu kembali kecewa pada mas, karena nanti kita akan dilema jika hasil istikharah Kyai Damar dan Kyai Rohim berbeda dengan harapan ibu.” Ucap Sekar. Aku rasakan kepalanya yang bersandar di pundak ku.
“Bismillah Dik, mas akan berusaha bagaimana caranya memberikan penjelasan kepada ibu jika hasil istikharah Kyai Damar nanti lebih condong kepada untuk mas tidak maju pilihan kades besok.” Ucap ku seraya menggengam tangan Sekar. Aku mengecup ujung jarinya seraya mengenang masa-masa sebelum ada Ziyah bersama kami atau masa saat kami baru beberapa tahun menikah.
“Ingat ga Dik, waktu dulu kamu motornya rusak dijalan. Mas pulang ngarit, kamu duduk di belakang.” Ucap ku menahan tawa ingat kala itu aku berdebat untuk menurunkan rumput yang baru ku arit dan ku letakkan di ancak* belakang. Namun Sekar justru ngotot naik ke atas karung yang di dalamnya ada rumput. Karena hari hampir maghrib dan kami dalam keadaan puasa. Saat pulang Mbak Ani bahkan tertawa terbahak-bahak melihat Sekar ku bonceng dengan posisi lebih tinggi dari ku karena ia duduk di atas rumput. Namun jawaban Sekar saat ku tanya membuat aku merasakan jatuh cinta berkali-kali pada sekar. Aku bertanya apakah dia malu apa tidak karena dilihat orang ku bonceng dengan posisi seperti itu (picture lihat di IG author), karena itu moment pertamanya ku bonceng seperti itu dengan motor butut.
“Aku hanya malu itu kalau kita pulang terlambat dan mas terlambat buka puasa hanya karena harus mondar mandir mengantar aku dan mengambil rumput ini lagi. Bagi ku yang penting adalah kita bisa bersama dan menikmati setiap momen ini bersama-sama mas." Ucapnya saat memegang motor ku karena aku mau menurunkan rumput yang ada di motor.
Aku sangat beruntung memiliki Sekar sebagai pasangan hidupku. Bagiku, tidak ada yang lebih berharga daripada kebersamaan kami dan cinta yang kami miliki. Aku berjanji, bahwa Aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Sekar dan Ziyah, baik dalam hal materi maupun emosi. Aku tidak peduli dengan kendaraan yang kita miliki,harta yang aku miliki bahkan omongan orang tentang istriku yang tak kunjung hamil juga yang mungkin tak se glowing istri-istri orang lain, yang terpenting adalah kami saling mencintai dan menjaga kebahagiaan kami, terlebih aku selalu di hormati dan dihargai sebagai seorang lelaki, dimana aku merasakan hampir sedikit sekali sekarang lelaki yang hanya buruh seperti aku ini di perlakukan dengan baik dan gemati oleh istrinya.
Kami melanjutkan perjalanan kami dengan senyum di wajah, merasa kuat dan bahagia karena kami tahu bahwa yang terpenting adalah cinta dan kebersamaan yang kami miliki, bukan barang-barang atau penampilan kami. Dalam perjalanan menuju rumah aku menjadi ingat kisah Nabi Muhammad SAW dan Aisyah RA memiliki hubungan yang penuh cinta dan kasih sayang. Mereka sering melakukan perjalanan bersama, baik dalam keadaan yang sederhana maupun dalam kemewahan. Salah satu kisah yang menggambarkan keindahan hubungan mereka adalah saat mereka bermain balap lari.
Dalam suatu kesempatan, Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam dan Sayyidah Aisyah RA bermain balap lari di padang pasir. Mereka berlomba dengan gembira dan saling mendorong satu sama lain.SAyyidah Aisyah RA yang masih muda berhasil mengalahkan Nabi Muhammad SAW dalam perlombaan tersebut. Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam tersenyum bahagia melihat keceriaan dan keberhasilan Aisyah RA. Kisah ini menggambarkan kehangatan dan kebahagiaan dalam hubungan mereka. Meskipun Nabi Muhammad SAW adalah seorang pemimpin besar dan dihormati, dia tetap menunjukkan kasih sayang dan kebersamaan dengan istri beliau. Mereka menikmati waktu bersama, bahkan dalam hal-hal yang sederhana seperti bermain dan bersenang-senang. Sungguh RAsulullah mengajarkan kita bahwa hubungan yang bahagia tidak selalu bergantung pada materi atau status sosial. Yang terpenting adalah cinta, kebersamaan, dan saling mendukung dalam setiap momen kehidupan. Seperti rumah tangga ku saat ini, kami juga menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati terletak dalam kasih sayang dan kebersamaan yang tulus.