
Aku dan Mas Guntur duduk di teras rumah mereka, menghadapi tantangan besar yang sedang menghampiri. Hoaks yang menyebutkan bahwa Mas Guntur memakan bantuan dari pemerintah daerah untuk warga miskin telah menyebar di desa kami, menjelang pemilihan kepala desa (pildes). Isu ini tidak hanya mencoreng nama baik Mas Guntur, tetapi juga mengancam beberapa pendukung mas Guntur yang percaya berita bohong tersebut.
Aku merasa khawatir dan gelisah. Aku tahu betapa jujur dan peduli Mas Guntur terhadap warga desa, tetapi hoaks ini bisa merusak reputasinya. Di sisi lain, Mas Guntur merasakan tekanan yang sama. Dia tidak ingin hoaks ini menghancurkan semua usaha yang telah kami lakukan bersama untuk membangun desa. Selama ini mas Guntur menolong orang tanpa pamrih, dari warga yang sakit dan butuh rekomendasi dari desa atau surat dari puskesmas, mas Guntur akan dengan sukarela mengurus jika diminta tolong oleh warga atau tetangga yang tidak mampu dan tidak paham urusan ini, terlebih lagi jika ada yang malam-malam orang meninggal, mas Guntur sebagai mudin di desa kami juga pasti akan sibuk membantu di tempat duka. Dari mempersiapkan urusan tenda, tempat mandi dan sampai mengkafankan jenazah jika yang meninggal lelaki. Sungguh suami ku itu memang mengkhidmahkan umurnya dan waktunya untuk kepentingan masyarakat. Belum lagi jika ada anak yang harus merid by accident, maka harus di bawa ke pengadilan agama untuk menjalani sidang. Jika di tempat lain mungkin hal seperti ini bisa menjadi bisnis, tapi bagi mas Guntur tidak.
Bahkan pernah satu waktu ia meminta uang ku untuk menyewa uang karena anak yang akan di bawa sidang ke kota merupakan orang tidak punya. Aku tak keberatan karena aku paham suami ku berbuat begitu karena mau melapangkan kesusahan orang yang ekonominya lemah. Walau kami belum kaya, namun alhamdulilah Allah selalu mencukupkan kebutuhan kami disaat kami butuh. Itu berkali-kali aku rasakan dalam hidup ku berumah tangga dengan mas Guntur, dan kadang hal ini akan memancing perdebatan ibu karena menganggap kami buang-buang uang karena orang yang dibantu tak mungkin mengembalikan uang kami, namun ibu tak paham jika aku dan mas Guntur memiliki paradigma bahwa rezeki yang saat ini Allah berikan lewat kami ada rezeki orang lain termasuk tetangga yang mengalami kesusahan, sehingga kami kadang harus diam-diam jika membantu orang, berharap ibu tidak tahu, guna meredam keributan dengan ibu yang akan mengomel dengan nada bicara yang begitu tinggi.
Dalam momen yang penuh kekhawatiran, Aku memandang Mas Guntur dengan penuh keyakinan.
"Mas, kita harus saling meyakinkan bahwa kita akan menghadapi hoaks ini dengan kejujuran dan kepercayaan. Kita harus tetap fokus pada visi dan misi kita untuk memajukan desa ini, walaupun perjalanan menuju pemilihan kepala desa tidak akan mudah. Pak Marhen yang penuh ambisi akan menjadi lawan politik yang tangguh, tetapi kita tidak boleh menyerah."Ucap ku seraya memasukan ujung benang ke dalam mulut ku. Aku sedang menjahit baju mas Guntur yang robek bagian ketiaknya. Baju ini biasa di pakai mas Guntur kalau sedang ke kota untuk urusan administrasi. Mas Guntur justru tertawa mendengar ucapan ku barusan. Ia yang melihat aku dari tadi tak berhasil memasukan benang ke dalam jarum segera merebut dua benda itu dari tangan ku
“Sini mas bantu, urusan masuk-memasukan itu urusan mas… kamu urusannya mengusap saja…” Ucap mas Guntur, loading otak ku sedikit lemot karena dari tadi pagi baru sekarang bisa duduk santai, itu pun aku sudah cepat mencari pekerjaan apa yang bisa aku kerjakan seraya Ziyah tidur siang seraya menemani mas Guntur minum kopi sebelum pergi ke ladang mencari rumput untuk Ijem. Seketika ku cubit perut mas Guntur yang sedikit buncit karena lemak.
“Aduh… aduh…. “ rintih mas Guntur karena kaget mendapatkan serangan dari ku. Aku baru mudeng apa yang dia maksud.
“Siiang-siang ngobrolnya sudah ke sana saja…” Gerutu ku seraya mendelik dan menerima jarum yang kini sudah dimasukan benang oleh mas Guntur. Aku fokus menjahit baju mas Guntur. Mas Guntur merespon apa yang aku sampaikan barusan.
“Dik…Dik , kan mas juga belum pasti maju di pildes besok. Kok udah jauh ngomongnya.” UCap mas Guntur seraya menimang-nimang pisang goreng yang masih mengeluarkan uap panas karena baru saja ku hidangkan sesaat setelah matang
“Tapi hoaksnya itu mas, Mbak Ani dan Neneng itu sering sekali berdebat dengan beberapa ibu-ibu.” Ucap ku setengah kesal karena hampir setiap hari ada saja yang aku dengar dari dua sahabat ku itu tentang gosip miring yang mengarah ke mas Guntur, apalagi yang baru-baru ini tentang jika mas Guntur memakan uang bantuan dari bupati terkait bantuan covid yang berubah sembako. Padahal saat itu memang ada dari bupati bantuan, namun yang benar bukan untuk warga miskin melainkan untuk guru ngaji yang tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat atau yang terkacover bantuan BLT dana desa. Neneng dan Mbak Ani yang mengenal aku dan mas Guntur tentu selalu membela mas Guntur, namun namanya hoaks tentu lebih laris dan dipercaya daripada klarifikasi.
Mas Guntur merespons dengan tekad yang sama. "Benar,hoaks menghancurkan reputasi seseorang dik, tapi jangan khawatir dik. Kita pakai jalur pusat…. “ucap mas Guntur seraya memasukan satu gigitan pisang goreng ke dalam mulutnya.
“Kalau mau bahagia, jangan sering-sering buka akun media sosial, tapi sering-sering buka akun surga!” Ucap suami ku itu dengan menirukan logat Gus Idham. Aku tertawa dan meletakkan jarum yang ku pegang karena merasa geli dengan tingkah suami ku itu. Mas Guntur memang sering mengamati aku, jika aku membuka IG atau facebook maka yang ku cari dalam satu bulan ini adalah video Gus Idham. Gaya dakwahnya mengingatkan aku pada almarhum KH Zainudin yang kocak dan mampu diterima disemua kalangan.
“Kita akan melawan hoaks ini dengan kebenaran dan bukti yang nyata. Biarkan waktu yang menjawab dik, toh belum tentu juga mas maju jadi calon kades, lah wong Kyai Damar belum memberikan kabar. Mas juga dari beberapa amalan yang diberikan Kyai Damar belum ada tanda-tanda.” Ucap Mas Guntur setelah menyeruput kopi kental pahit buatan ku.
Seketika aku jadi ingat perjuangan KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, dalam mempertahankan ajaran Islam yang moderat dan menentang ekstremisme. Dimana pada masa itu, Indonesia sedang menghadapi situasi yang sulit, terutama selama masa penjajahan Belanda. Beberapa kelompok Islam radikal berusaha mempengaruhi masyarakat dengan ajaran yang keras dan ekstrem, yang bertentangan dengan ajaran Islam yang moderat yang dianut oleh NU. KH Hasyim Asy'ari, sebagai pemimpin NU, merasa bertanggung jawab untuk melawan penyebaran ajaran yang radikal tersebut dan memperjuangkan Islam yang moderat, toleran, dan inklusif. Namun, ajarannya dan NU sering kali dihadapkan dengan fitnah dan tuduhan palsu dari kelompok-kelompok ekstrem tersebut.
Namun, KH Hasyim Asy'ari tidak goyah dalam menghadapi fitnah dan hoaks tersebut. Dia terus memperjuangkan ajaran Islam yang damai dan membela prinsip-prinsip keadilan, toleransi, dan persatuan. Melalui pendidikan, dialog, dan kerja kerasnya, KH Hasyim Asy'ari berhasil mengatasi fitnah dan menjaga reputasi NU sebagai organisasi yang berkomitmen pada Islam yang moderat.
“KH Hasyim Asy’ari saja tidak goyah selama berdakwah ya mas, saat hoaks dan fitnah datang, belum lagi kisah nabi Yusuf. Mas ingat pasti kisah dimana nabi Yusuf juga menghadapi hoaks.” Ingat ku pada mas Guntur karena ia mungkin melihat raut wajah ku yang beberapa hari ini khawatir dengan nama baik suami ku perlahan mulai ingin di hancurkan hanya karena ada misi dan ambisi untuk mendapatkan sebuah jabatan.
“Tentang beliau di fitnah karena tuduhan palsu? Lalu berakhir di penjara?” Jawab Mas Guntur mengangguk.
Ya kisah Nabi Yusuf dipenjara meskipun beliau tidak bersalah. Namun, Nabi Yusuf tetap teguh dalam keimanan dan kejujurannya. Beliau tidak membiarkan fitnah tersebut menghancurkan keyakinannya dan reputasinya. Nabi Yusuf menjaga integritasnya dengan baik dan mempercayakan segala urusan kepada Allah sampai Allah menunjukkan kemuliaan nabi Yusuf disaat beliau bersabar akan setiap takdir yang harus di lalui beliau.
Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara dan kejujurannya terbukti. Beliau diangkat menjadi penasihat pemerintah Mesir dan berhasil menyelamatkan bangsa dari kelaparan. Kisah Nabi Yusuf memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga integritas dan kejujuran dalam menghadapi fitnah dan cobaan, begitu juga mungkin saat ini suami ku harus menerima fitnah dan hoaks untuk sebuah kemuliaan, entah kemuliaan apa aku pun tak berani menerka-nerka.
‘Semoga semua ini bisa kami lalui dengan kesabaran ya Allah’ munajat ku sebagai istri yang mungkin tak pernah menerima jika suami ku dihujat, di fitnah namun titah suami untuk diam tak usah membela diri selagi tak menjurus ke hukum. Jika bukan suami ku yang meminta hal itu aku mungkin sudah akan berusaha untuk membela suami ku saat ada orang yang mengatakan jika mas Guntur suka ambil hak orang tidak mampu.