
Aku akhirnya berinisiatif akan membawa ban itu ke bengkel terdekat. Karena melihat nenek dan cucu nya tampak yang paling sabar diantara penumpang lain. Karena hanya aku dan nenek beserta cucu nya yang masih setia dengan sopir dan kernek di tengah hutan.
“Ya sudah bang, sini ban nya. Saya yang bawa ke bengkel.” Tawarku pada sopir dan kernet yang tampaknya tak selalu akur.
“Beneran?” Tanya sang sopir. Aku mengangguk pasti. Ia lalu menyerahkan ban yang bocor tadi. Aku berdiri di tepi jalan seraya menunggu mobil lewat, namun saat ada satu bis berhenti. Sopir tadi pun meminta bantuan agar aku menumpang. Dan si nenek tadi pun mendekat ke arah kami dan bertanya pada sang sopir.
“Bang, kalau saya ikut ke Medan. Berapa ongkosnya?” Tanya si nenek. Aku sudah memasukan ban besar tadi di bagian paling belakang bis. Tampak bis tersebut kosong di bagian bangku belakang.
Ku dengar obrolan nenek tadi dengan kernet juga sopir bis yang aku tumpangi.
“Orang berapa?” Tanya sopir.
“Orang dua, satunya duduk di pangkuan saya tidak apa-apa.” Ucap si nenek.
“Bah, tahan kau memangku anak ini sampai Medan, Nek?” Ucap si sopir dengan logat bataknya.
“Tidak apa-apa, saya tidak cukup bekal kalau harus menambah ongkos perjalanan.” Ucap nenek tadi.
Aku tahu, ia pasti memikirkan biaya makan selama di perjalanan untuk sampai di Medan. Aku bahkan melihat mereka membeli nasi tanpa lauk, bahkan sebungkus berdua.
“400 saja lah,” Ucap sopir itu seraya mengelap keringatnya.
Tiba-tiba sopir yang mobilnya rusak tadi mendekati sang sopir Medan.
“Bang, turunlah sedikit. Kasihan nenek ini. 200 lah, tinggal separuh perjalanan juga toh bang.” Ucap sopir itu.
Sopir yang berkepala botak pun mendekat ke arah sopir yang mobilnya rusak. Ia merangkul sopir tersebut. Entah apa yang mereka bicarakan. Ia melirik ke arah kernet. Lalu kembali si kernet ngomel tidak karuan dengan bahasa Minang. Lalu sang sopir tadi mendekati aku.
“Bang, kamu bisa bongkar pasang motor?” Tanya sang sopir itu.
Aku masih mencerna kalimat sopir tersebut.
“Maksud ku, kamu bisa bongkar ban motor dan pasang lagi?” Tanya nya pada ku lagi seraya memperjelas kalimat nya.
“Kalau Cuma body nya bisa bang, asal kuncinya lengkap.” Ucap ku.
“Kau sudah menambal ban ini nanti ikut aku mau? Biar kernet ku ikut mobil ini. Kau bantu aku ambil paket motor. Lalu bantu aku sampai tempat loket terakhir yaitu di Musi. Makan mu, ku tanggung selama perjalanan. Dan nenek itu juga si cucu cukup bayar 200 ribu.” Ucap sopir itu.
Aku pun harus memutuskan cepat, aku pertimbangan permintaan sopir. Ku lihat wajah kelelahan dan putus asa sang nenek. Entah kenapa aku selalu tak tega melihat orang lain merasa susah, aku selalu ingin meringankan beban mereka jika bisa. Ku tatap sopir yang bau badannya sudah sangat menyengat karena ia tampaknya tak mengganti pakaiannya dari kemarin.
“Tapi barangnya bukan curian kan?” tanya ku khawatir. Aku tidak ingin ceroboh, sekalipun aku membantu orang, aku tak ingin melukai diri ku sendiri. Apalagi sampai terlibat kasus kejahatan.
“Bah, tega kali kau tuduh aku bang. Kau pikir aku ini penjahat. Aku sudah terlanjur janji pada sepupu ku. Tapi apalah daya penumpang ku hari ini penuh. Di loket depan sudah menanti 15 penumpang. Dan jika di tambah si nenek ini dan cucunya, maka semua bangku ku penuh sampai Medan. Aku tak harus berhenti lagi. Aku harus cepat sampai, istri ku mau melahirkan.” Ucap sopir yang berlogat batak.
Inilah kehidupan, kadang kita menolong satu orang tapi tanpa disadari ada banyak jaringan dari yang kita tolong. Aku pun akhirnya mengangguk untuk menyanggupi membantu sopir yang berbahasa Minang.
“Baik bang. Saya bantu.” Ucapnya. Namun kembali si nenek membuat hati ku gelisah untuk tidak membantunya.
“Tapi, saya Cuma punya 110 ribu.... “ Ucapnya pada sang sopir.
“Bah, aku harus bayar ke loket satu kepala 100 nek. Siapa mau tombok satu kepala?” Ucap sang sopir keberatan.
‘Ya Allah, Gusti.... Wes kulo pasrah. Niat nulung hamba mu yang kesusahan.’ Batin ku.
Aku tak ragu kali ini, uang yang tinggal 90 ribu tadi ku serahkan kepada si nenek. Aku memutuskan itu karena toh aku akan diantar sampai di dekat desa ku. Kalau memang ada upahnya nanti aku bisa untuk naik mobil bis ke arah desa ku. Masalah makan aku juga akan ikut dia makan di rumah makan.
“Ini nek. Buat nambahin.” Ucap ku seraya menyerahkan satu lembar uang 50 beserta 4 lembar pecahan sepuluh ribu rupiah. Tiba-tiba satu ibu tadi memeluk tubuhku ku reflek.
“Ya Allah..... Terimakasih nak.... Terimakasih.... Semoga segala urusan mu di permudah, bahagia dunia akhirat.” Ucap si nenek sudah berlinang air mata.
“Untung masih kecil, kalau kamu sudah dewasa, bisa cemburu Sekar. Ada perempuan kasih ❤ ke aku... Hehehe... “ gumam ku.
Selama menunggu ban tersebut di tambal, aku pun hanya mampu bershalawat agar hati ku tenang dan istriku di rumah juga tenang, dan bodohnya aku selama ini. Aku tak hafal nomor ponsel Sekar.
‘setelah ini aku akan menghafal nomor mu, dik.’ Batin ku.
Saat aku kembali ke bis yang rusak dengan ban yang telah bagus, aku membantu sang sopir tadi memasang ban mobilnya. Seraya sibuk dengan dongkraknya, ia bertanya pada ku yang duduk di sisinya.
“Kenapa kamu membantu orang, kurasa kamu mau membantu ku juga karena ingin membantu sopir tadi agar bisa menunggui istrinya melahirkan. Aku jarang bertemu penumpang seperti mu.” Kata sopir itu penasaran.
“Ada kepuasan sendiri bang, saat kita bisa membantu orang lain. Dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Cuma bisa dirasakan.” Ucap ku.
“Memangnya apa salah satu manfaat sedekah. Ku lihat kemarin kamu sudah bersedekah dengan nenek itu. Hari ini tampaknya kamu kembali bersedekah.” Ucap sang sopir.
“Ada satu kisah bang, ini cocok buat kita yang berada di jalanan yang rawan bala' atau bahaya. Ini kisah kecil, burung merpati dan petani.” Ucap ku.
Pak sopir pun duduk di sisi ku. Ia mengelap keringat nya dengan handuk kecil.
“Menarik, apa ceritanya?” Tanya sang sopir seraya meluruskan kakinya ke arah jalan. Ia tampak kelelahan sekali setelah selesai mengganti ban mobilnya.
Aku pun menceritakan kisah satu kisah burung merpati yang mengadu pada Nabi Sulaiman karena anaknya di goreng oleh petani. Dimana yang memiliki pohon tempat ia bertelur dan bersarang. Dimana merpati itu mengadu kepada Nabi Sulaiman karena anaknya di goreng petani tadi. Padahal petani tadi terpaksa menggoreng anak merpati karena anaknya petani ingin makan merpati goreng. Mau tidak mau, nabi Sulaiman memberi peringatan pada petani sebanyak dua kali karena petani tersebut kembali melanggar janjinya.
“ Bahkan di kali kedua nabi Sulaiman tegas akan mengutus iblis dari ujung barat dan ujung timur untuk mencelakai si petani jika kembali menggoreng anak merpati itu.” Ucap ku.
“Terus di goreng lagi?” tanya nya.
“Nah pas lagi mau naik pohon ada pengemis datang Bang, minta makan. Dikasih sepiring nasi sama petani. Abang tahu dia sudah itu naik pohon ambil anak merpati dan do goreng lagi bang.” Ucap ku.
“Lah iblis tadi kan sudah di tugaskan sama nabi Sulaiman?” Tanya Pak sopir.
“Iya setelah itu merpati mengadu lagi ke Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman akhirnya memanggil iblis yang diutus. Abang tahu jawaban nya iblis?” Tanya ku.
“Ya mana aku tahu, kamu yang punya cerita." Ucap sopir itu memukul ku menggunakan handuk bekas ia mengelap keringatnya.
"Iblis menjawab, 'Ya nabi kami tidak melanggar perintah mu untuk mencelakai petani itu, tapi ketika ia akan mengambil anak burung tadi ia sedekah sepiring makanan ke pengemis. Saat kami akan mencelakai dia, malaikat datang dan mengurung kami.'" Ucap Ku pada pak Sopir.
Sang sopir tampak termenung ia pun memutuskan lamunannya dengan meminta aku bersiap.
"Ayo bantu aku beres-beres. Kita lanjutkan perjalanan. Syukur-syukur ada penumpang buat tambahan kita." Ucapnya.
Entah apa yang ia rasakan. Aku berpikir ulang apakah ada kalimat ku yang menyinggung si sopir. Tapi aku rasa tak ada kata yang salah. Aku pun bergegas membereskan semua alat-alat yang baru saja di pakai untuk mengganti ban.
Tiba-tiba aku teringat ponsel.
"Astaghfirullah.... hp ku masih di bengkel tadi.... ya Allah... semoga tidak hilang.... " gumam ku.Ponsel itu dibelikan Sekar sebagai hadiah di hari ulang tahun ku saat tahun kedua kami menikah.
"Bang, nanti mampir di bengkel tempat saya nambal ban tadi ya?" Pinta ku pada sopir.
"Kenapa?" Tanya nya heran.
"Hp lu tertinggal. Saya numpang charger tadi." Ucap ku. Sopir pun mengangguk. Ia memutar sebuah lagu dengan bahasa salah satu daerah Sumatera selatan. Sayup-sayup ku dengar kalimat lagu itu.
"Umak.... umak.... ayam ku luput. Ayam ku luput. Umak... umak... ati ku kusut, ati ku kusut.... Ku linjang suhang... "
{Ibu, ibu ayam ku lepas. Ayam ku lepas. Ibu, ibu hati ku berantakan. hati ku berantakan. Cinta ku bertepuk sebelah tangan}