
Aku menanti penjelasan mas Guntur, ia tampak menaikan sudut bibirnya.
“Dinding bertelinga dan memiliki mata saat ini, mas baru pulang bahkan istri mas sudah mendengar kabar yang mungkin angin yang menyampaikan nya pada istri mas ini?” Tanya mas Guntur.
Aku tersipu malu, namun ada ruang hangat yang membuat hati ku tersenyum.
“Lantas siapa perempuan itu? Kenapa harus di bawa pulang?” Tanya ku dengan dua pertanyaan langsung.
“Dia adalah korban dari Reno, dia harus aku sembunyikan Dik, dan tempatnya sementara disini untuk melakukan mediasi. Dia ingin bertemu kedua orang tua Reno. Tapi aku tak mungkin membawa ia menemui Reno dan orang tuanya. Malam nanti adalah ijab qobul. Mas bingung, satu keluarga Neneng, satunya keluarga mas Yono… maka mas rasa sore ini sebelum maghrib, mas akan undang dua keluarga tersebut kemari. Setidaknya masyarakat tidak tahu tentang aib ini.” Ucap mas Guntur.
Guratan pada dahi ku membuat mas Guntur cepat menjawab kebingungan ku.
“Mobilnya sudah tiba, temani dulu dia. Namanya Vira. Mas akan menemui keluarga mas Yono dan Neneng.” Ucap mas Guntur.
Aku bergegas ke arah depan. Ku lihat perempuan cantik turun dengan rambut panjang dan hitam. Kulit putinya menunjukkan kecantikan ala anak muda sekarang yang sering di bilang cute. Aku mempersilahkan dirinya masuk. Aku bisa melihat perempuan bernama Vira ini sedang berbadan dua. Tubuhnya cukup berisi. Aku berusaha menjaga pandangan ku, khawatir Vira merasa tersinggung. Aku buatkan teh hangat untuknya. Masih nampak sisa-sisa air mata di pipi perempuan ini. Aku berusaha ngobrol ringan. Tak ingin aku menyinggung perihal hubungan dirinya dengan Reno. Aku tak ingin mengorek informasi sesuatu yang tak ingin orang lain ceritakan. Jika aku menjadi Vira, aku pun tak mau siapapun tahu penderitaan ku. Tidak seperti Bulan kemarin, ia menceritakan kisahnya pada ku saat di mobil. Sesaat setelah adzan ashar, dua keluarga telah hadir. Aku membentang karpet karena tak cukup untuk semua anggota keluarga duduk. Dan saat semua di buka, tentang cerita Vira juga Bulan. Semua yang ada diruangan itu menangis. Reno bahkan hanya mampu tertunduk dengan muka pucat. Mas Yono sudah mau naik pitam jika tidak di tahan mas Guntur. Aku sebenarnya melarang mas Guntur untuk melibatkan pemerintah desa. Karena kalau bisa libatkan dulu keluarga dan secara kekeluargaan. Maka pertemuan ini tak di hadiri para tokoh agama atau pihak pemerintah.
“Jadi saya butuh kejelasannya, karena semakin hari perut saya ini semakin besar. Saya tidak mungkin kembali menggugurkan kandungan ini, saya tidak mau berdosa kembali… Hiks…” Ucap Vira penuh isak.
Aku ikut merasa miris dengan menjatuhkan air mata,jika kemarin aku miris dan prihatin dengan perjuangan Bulan dalam menghadapi apa yang menjadi buah yang ia tanam selama ini, dan tidak mudah. Kini aku justru menangis karena Vira sudah dua kali menggugurkan kandungannya. Sedangkan aku, aku begitu ingin mendapatkan kesempatan itu.
Mas Yono juga tidak terima jika pernikahan Bulan dan Reno di batalkan. Ia sudah terlanjur malu.
“Kami tidak akan kembali menerima jika Reno tidak menikahi adik kami, kami tidak mau malu untuk kedua kalinya, saya akan tuntut kamu jika berani membatalkan pernikahan ini!”Bentak Mas Yono.
“Mas, kita duduk disini mencari solusi, bukan mengedepankan emosi.” Ucap mas Guntur.
Mas Guntur bertanya pada Vira tentang apakah orang tuanya tahu soal ini, ternyata yang tahu baru kakek dari pihak ayahnya. Bulan bahkan menangis pilu, ia juga bingung. Kedua orang tua Reno juga Bulan sama-sama menangis, tak ada yang berani berbicara. Waktu semakin mendekati maghrib, sedangkan acara ijab ba’da Maghrib. Mas Guntur justru bertanya pada Reno dan Bulan.
“Sekarang begini saja, Bulan dan Reno… kalian mau meneruskan pernikahan ini atau tidak?” Tanya Guntur.
Anggukan dari dua orang itu membuat hati ku sakit, aku merasakan jika lagi perempuan menjadi korban dalam kondisi hubungan bebas anak muda. Jika dulu Bulan menjadi korban cinta Reno, kini Vira menjadi korban bahkan dua calon bayi yang pernah di gugurkan oleh Vira. Mas Guntur menoleh ke arah Vira.
“Vira.. kamu bagaimana… Saya tahu kamu korban, tapi disini pernikahan tinggal menghitung menit. Reno dan Bulan juga ingin bersama… Bagaimana…” Ucap mas Guntur lirih.
Bahu Vira berguncang, aku yang tak tega ku peluk perempuan berambut panjang itu. Ku usap punggungnya.
“Hiks… hiks… saya harus bagaimana… saya harus bagaimana… ayah saya sedang mengidap jantung koroner. Saya tidak berani jujur dengan kondisi ini, saya juga tidak mungkin menggugurkan janin ini…” Tangis Vira pilu.
Tak ada yang tak menangis di ruangan itu, mas Guntur bahkan aku lihat menekan pangkal hidungnya mendengar suara tangis Vira. Suara manja khas perempuan. Sebuah musyawarah dari kedua keluarga dan Vira yang menuntut keadilan. Tak ada titik temu, pertemuan di akhir waktu ashar itu memutuskan Reno akan tetap menikah dengan Bulan.
“Sini kakinya saya plurutin pakai minyak zaitun mbak,” ucap ku.
“Tidak usah Kak, saya Cuma merasa pegal saja…” Ucapnya.
Vira masih bersandar dengan satu bantal yang ia sandarkan di dinding. Aku mengambil posisi duduk di sisinya.
Aku menatap wajah cantik Vira, dia cukup punya unggah ungguh pada ku sebagai tuan rumah dari pertama datang. Malam itu kami bercerita hampir larut malam, bahkan saat ku tawari untuk makan kenduri dari rumah mas Yono, ia menolaknya. Aku masih menemani Vira untuk beristirahat, sampai ia sesenggukan kembali.
“Yang ikhlas mbak, sabar…. Banyakin shalawat.” Ucap ku.
“Saya malu, bingung… bagaimana jika bapak dan ibu saya tahu… “Ucap Vira masih diiringi isak tangis.
“Bulan pun pernah mengalami ini mbak, dan tak adil rasanya jika dia menikahi mbak saat ini sedangkan semua administrasi dan mereka memutuskan untuk bersama…” Ucap ku.
“Lalu bagaimana dengan anak ini, apa saya harus kembali menggugurkan nya. Kemarin Reno berjanji untuk tidak mengugurkan kandungan ini karena dia ingin tanggungjawab, tapi sekarang… “ Ucapnya.
Serba repot, Reno dan keluarga nya tadi berjanji akan menikahi Vira hanya secara agama. Tetapi Vira tidak mau, ia ingin status jelas bagi anaknya. Percuma jika hanya menikah secara agama, karena nanti anaknya juga akan susah secara administrasi.
“Jangan sekalipun berpikiran kembali untuk menggugurkan janin mu mbak… khilaf itu satu kali bukan dua atau tiga kali…” Ingat ku.
“Mbak…. Tapi anak ku akan jadi anak haram nanti.” Ucapnya masih dengan isak tangis.
“Astaghfirullah.. bukan anak haram mbak… anak itu akan lahir dalam keadan suci bersih tanpa dosa. Dia tidak bersalah. Jika Bulan kemarin mampu bertahan karena tak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, saya yakin mbak Vira juga bisa. Berjanjilah jika mbak tidak akan pernah menggugurkan kembali janin yang ada di kandungan mbak…” Ucap ku lirih. Air mata membasahi pipi ku. Tenggorokan ku tercekat, aku ingin sekali mengatakan jika Vira lebih beruntung. Karena aku sudah hampir 8 tahun ingin sekali hamil tapi Allah belum kasih kesempatan itu.
Hampir larut malam Vira berbagi beban di hatinya, ia tak bisa jika tak menggugurkan kandungannya, ia masih kuliah. Jika orang tuanya tahu, maka ia tidak akan mendapatkan kiriman uang.
“Aku pasti di usir mbak, itu yang dikatakan mbah ku, sementara ini hanya mbah ku yang mengerti apa yang aku alami. Itu kenapa aku sampai kemari, aku mendengar kabar Reno akan menikah. SEdangkan alasannya saat akan pulang kemarin untuk menemui orang tuanya agar bisa menikahi aku…” Ucap Vira.
Kini aku baru mengerti, inilah salah satu alasan kenapa jangan sampai menjalin hubungan apalagi dekat dengan yang bukan mahram karena yang ke tiga adalah setan. Seperti hubungan Vira dan Reno. Mereka awalnya hanya teman dekat, sering jalan bareng, makan bareng, mengerjakan tugas bareng tanpa ada pihak ketiga. Maka kejadian yang bermula-mula tidak di sengaja menjadi candu bagi dua orang tersebut. Aku jadi ingat pesan Umi Ayu bahwa Allah itu ketika kita melakukan khilaf atau dosa masih satu kali. Masih ada rahmat untuk menutupi aib kita, tetapi jika satu kesalahan atau perbuatan dosa dilakukan berulang kali maka tinggal tunggu waktu tabir itu terbuka. Hal itu diibaratkan beliau saat orang maling, satu kali mencuri tidak tertangkap. Maka akan kembali mencuri tapi suatu saat pasti tertangkap. Ku lihat di masalah ini Vira diberikan kebebesan oleh orang tua kuliah jauh dari orang tau dengan teman dan lingkungan kos yang menganggap biasa perempuan dan laki-laki berteman akrab. Tak ada pegawasan dari orang tua membuat Vira tiga kali jatuh ke jurang yang sama. Belum lagi mungkin rayuan maut sang kekasih juga karena cinta sesaat membuat Vira lupa bahwa akan ada saat seperti ini dimana anak yang masih berupa janin menjadi korbannya.
Dinginnya angin yang masuk lewat ventilasi udara kamar ku, tak membuat aku meninggalkan sesuatu yang menjadi kebiasaan ku. Justru malam ini aku meminta sesuatu yang aku harap menjadi keputusan terbaik bagi ku. Saat shubuh akan tiba, mas Guntur sudah kembali dengan sebuah mobil, aku dan mas Guntur juga mas Yono akan mengantar Vira ke kota. Khawatir ada yang tahu keberadaan Vira, sehingga menjadi konsumsi publik. Saat tiba di bandara, mas Gunturd dan aku sudah membuat keputusan tepat dini hari sebelum kami berangkat. Di bandara itu aku mengingatkan Vira akan janjinya.
“Berjanjilah Kamu tidak akan menggugurkan kandungan mu lagi, jika itu terjadi lagi. Aku akan menuntut mu di akhirat nanti.” UCap ku tegas dan lembut. Aku peluk dirinya, aku sempat menitikkan air mata.
Flashback On…. (Ditunggu ya)
Bersambung......