The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 41 Satu hal Mengagetkan



Semua persyaratan untuk meminjam bank di salah satu bank konvensional sudah di serahkan ke pihak bank. Karena di daerah kami belum ada bank Syariah. Bahkan mas Guntur beberapa hari lalu di survey oleh pegawai bank. Sebagai bukti bahwa kami memiliki usaha, mas Guntur berpose bersama dengan Ijem dan beberapa sapi yang kami rawat tapi bukan milik kami, 'gado' bahasa disini biasanya.


Hari ini pagi sekali aku sudah menyelesaikan pekerjaan rumah seperti biasa. Selesai mandi, aku kembali melihat map yang akan di bawa ke kota. Kemarin sore kami fi telpon pihak bank untuk datang ke kantor karena akan ada proses pencairan pinjaman. Kami meminjam 50 juta dengan dana KUR. Sangat kecil sekali bunganya. Semalam mas Guntur meminta pendapat ku.


"Mau ambil yang berapa tahun jangka nya dik?" Tanya mas Guntur.


"Sebentar, tak hitung-hitung dulu mas." Jawab ku seraya mengambil buku yang selalu menjadi catatan pemasukan dan pengeluaran keluarga kami.


Aku terbiasa melihat Umi Siti saat itu membiasakan mencatat uang untuk belanja dapur setiap bulan dan uang yang ada. Sehingga jelas sumber dana, dan jika kurang akan melihat apa yang akan dikurangi. Begitu pun ketika 8 tahun aku menjadi istri mas Guntur. Aku jadi pandai mengatur keuangan karena ada nya catatan uang masuk dan uang keluar setiap bulannya. Semua ada disana. Dari mulai pengeluaran rutin, pengeluaran tak terduga. Dan disana ku buat kebutuhan dan keinginan. Juga ada kolom khusus tabungan. Maka aku sebenarnya memaksa setiap ada uang masuk, ku usahakan untuk ditabung walau sedikit yang penting selalu ada yang disisihkan. Dan uang itulah yang selalu membantu saat Bapak drop atau Yadi butuh biaya dadakan.


Setelah ku coret-coret maka aku mengatakan mas Guntur. Jika satu bulan kami hanya mampu membayar tidak boleh lebih dari 2,4 juta.


"Ini biasanya anggaran untuk Yadi yang 2 juta mas. Jadi kalau mau yang 400 nanti bisa dikurangi biaya sayur bulanan." Ucap ku seraya menyerahkan buku yang sudah ku tulis perhitungan untuk beberapa bulan ke depan jika jadi meminjam bank. Toh jika sawit hasil panennya baik karena kami pupuk. Itu juga sama saja menjadi pemasukan semakin bertambah.


"Ya sudah berarti kita ambil yang 2 tahun saja ya, pinjamnya 50 saja. Jadi yang 20 kita pakai untuk beli pupuk. Mas semalam ngobrol dengan Pak Lek Gio. Pupuknya mas pakai pupuk kandang saja. Satu karung itu harganya cuma 50 ribu dik.. jadi lebih alami dan murah." Ucap mas Guntur.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi apa cukup mas untuk biaya dengan acara kemarin?" Tanya ku.


Mas Guntur membuka bajunya dan mengganti dengan kemeja yang baru saja aku gosok.


"Bismilah, nanti kita pikirkan bareng-bareng. Insyaallah ada jalan. Bantu doa ya, ibu juga sudah setuju dengan apa yang kita rencanakan. Yang penting sekarang kita berusaha untuk hasil mudah-mudahan Allah lebih tahu niat kita." Ucap Mas Guntur.


Aku mengangguk mantap. Kami pun pergi ke kota dengan naik travel. Saat tiba di bank kami di suruh tanda tangan banyak berkas. Dan inilah yang aku suka dari mas Guntur. Dia membaca dulu apa saja yang akan ia tanda tangani. Saat di lembar terakhir mas Guntur berhenti sejenak dan bertanya pada pegawai bank.


"Jadi ini tidak ada asuransi? Kalau saya meninggal dunia. Hutang saya tetap harus dilunasi? atau agunan menjadi milik bank?" Tanya mas Guntur penasaran.


"Betul bapak, kalau yang ada asuransi nya itu yang umum. Tapi kalau umum bunga nya tidak sekecil yang KUR. Bapak bisa pilih yang umum kalau mau ada asuransinya." Ucap perempuan yang terlihat mengenakan id card di lehernya.


Aku sebenarnya dari tadi memperhatikan cukup aneh karena mereka yang berada di lantai atas berpakaian biasa tidak seperti yang berada di lantai bawah mengenakan seragam. Lalu mas Guntur dengan memejamkan kedua matanya ia bubuhkan tanda tangannya.


Namun saat akan melakukan pencairan, seorang yang kemarin survey segera mendekati kami. Kami sedikit di tarik ke pojok.


"Memangnya ada apa?" Tanya mas Guntur penasaran.


Aku pun ikut penasaran maksud pembicaraan dari pegawai bank yang berada di jabatan survey.


"Jadi begini, kemarin saya chek BI Cheking istri bapak mengalami gagal bayar pada salah satu kredit home. Dulu bapak pernah ambil barang dan tidak di lunasi ketika di angsuran terakhir." Jelas Pak Yuda.


Jadi di sistem di Perbankan akan melihat daftar riwayat calon peminjam atau nasabah melalui BI Checking. Atau bahasa resminya BI Checking adalah pengecekan riwayat kredit di Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia yang dilakukan oleh debitur.


Dan ternyata di daftar tersebut aku memiliki tunggakan terakhir yang tak dilunasi di salah satu Home Kredit.


"Apakah ibu pernah kredit barang di salah satu home kredit? Dan tidak melunasi nya?" Tanya pegawai yang bernama Yuda tersebut.


Mas Guntur menatap ku. Aku kembali mengingat apakah pernah aku mengambil barang sistem bayar kredit. Tiba-tiba aku ingat kejadian 5 tahun lalu. Yani pernah mengambil sebuah ponsel di salah satu home kredit. Alasannya untuk mencari pekerjaan lebih gampang dengan hp android yang memiliki ram lebih besar. Saat itu Yani KTP nya hilang. Aku pun meminjam kan data KTP ku, pernah waktu itu datang seorang penagih karena Yani terlambat bayar. Namun aku mengatakan tidak tahu apa-apa. Setelah itu tak ada lagi yang menagih. Ku Pikir sudah dilunasi Yani.


" Jadi solusinya?" Tanya mas Guntur pada Yuda.


"Begini saja, pulang dari sini. Bapak langsung ke tempat yang saya bilang tadi. Bapak lunasi agar tidak menjadi masalah ke depannya." Ucap Pegawai bank tadi. Akhirnya kami pun menarik uang senilai 5 juta rupiah. Yang 2 juta untuk membayar tunggakan terakhir Yani yang entah dulu megambil barang apa pada home kredit. Saat itu Yani masih di desa dan memakai nama ku juga Biodata ku dengan alasan KTP nya hilang.


Hari ini kami belajar sesuatu yang mungkin kita berniat baik, tetapi niat baik kita kadang tidak dimanfaatkan dengan baik. Aku hanya bersyukur pada Allah, jika pegawai bank tadi mengatakan aku dan mas Guntur mujur, maka tidak. Bukan beruntung, tapia ada campur tangan Allah.


Kami sebelum memasukkan berkas, 7 hari kami sama-sama istikharah. Jika bagi para jomblo mendengar istikharah pasti sudah tertuju pada dua pilihan pasangan. Padahal bagi kami istikharah itu adalah ketika kita akan melakukan segala sesuatu dan memasrahkan kepada Allah untuk apakah baik tidaknya keputusan tersebut untuk kita. Bukan karena terdapat pilihan.


Tetapi lebih ke ridho tidaknya Allah ketika kami mengambil satu tindakan. Salah satunya perkara yang sampai saat ini masih diperdebatkan oleh ulama tentang bunga bank. Karena ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Disini kami tidak langsung saja memgambil keputusan. Tapi karena khawatir jika nanti ibu menjual kebun, sedangkan kondisi bapak sering drop, belum lagi ibu tak kuat bekerja, selama ini haya dari hasil kebun yang tinggal dua hektar. Itupun di dapat hanya satu juta lebih sedikit setiap bulannya. Ingin membantu kami tak punya banyak uang. Belum lagi hasil panen yang mulai berkurang menandakan bahwa kebun butuh di pupuk agar buahnya kembali bagus dan melimpah.


Hari ini juga kami paham bahwa data diri begitu penting, ah untung hanya 1,5 tunggakan dan beberapa bunga keterlambatan selama Yani tak mengangsur. Bahkan Pak Yuda juga berpesan kepada kami untuk tidak lagi meminjam kan nama kami atau biodata kami untuk urusan Perbankan. Kabarnya sekarang marak pinjaman Online yang tak berada di bawah pengawasan OJK dan yang meminjam menggunakan data KTP orang lain. Aku jadi sedikit was-was saat mas Guntur juga mengaktifkan M Bangking. Mas Guntur yang tak terlalu pandai menggunakan android sehingga aku yang diminta mempelajari sistem transfer dan masalah email. Aku jadi semakin penasaran dengan hal-hal seperti ini. Sehingga kadang jika waktu luang, selain mendengar ceramah. Aku kadang menonton beberapa cara mengamankan sandi, m banking dan cara orang menipu dengan era digital saat ini.


"Mau tidak mau zaman berubah ya dik... Dulu di pondok kita ndak pernah punya benda secanggih ini, sekarang, dirumah saja kita bisa melakukan kejahatan hanya modal kepintaran di bidang." Ucap Mas Guntur mengomentari beberapa pelaku kejahatan yang membobol akun seseorang hanya dengan bermodal satu laptop di dalam kamarnya.


"Sekarang ini Allah kasih kita umatnya Pilihan, mau jadi baik bisa mudah mengakses apapun, begitu pun mau maksiat tanpa orang lain tahu pun kita bisa." Ucap ku karena banyak sekali cobaan semenjak punya ponsel canggih. Tidak seperti dulu saat di pondok. Kami bahkan tidak tahu gosip apapun di televisi, atau di masyarakat.