The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 10 Amarah ku



“Nanti saja ya Mbak, kita buka puasa dulu.” Ucapnya seraya melirik ke arah jam dinding yang begitu besar dengan ukiran khas Jawa.


Aku pun mengangguk. Aku pun mengikuti langkahnya ke arah dapur. Tampak sebuah dapur yang cukup mewah untuk rumah yang berada di desa. Semua lantai yang telah di lapisi keramik, belum lagi tempat masak yang menyatu dengan tempat mencuci piring, belum lagi kulkas dua pintu yang menambah kesan mewah di dapur itu. Meja makan yang berbentuk bundar pun menarik perhatian ku, bukan karena mewah nya tetapi hampir di setiap benda yang ada dalam ruangan ini sangat kental dengan adat Jawa.


Dulu, kupikir jika di Sumatera Selatan hanya ada orang dengan bahasa ‘apo’, ‘ngapo’. Atau dikenal bahasa palembang. Namun nyatanya di daerah ini, banyak penduduk yang orang jawa, mereka berbahasa Jawa dan masih memegang teguh budaya Jawa. Walau mereka keturunan orang jawa. Maklum, rata-rata mereka anak dan cucu nya para transmigran di zaman dahulu. Seperti mas Guntur. Jika di telusuri, Ayah dari ibunya adalah seorang veteran. Yang dulu transmigran yang dari Kalimantan lalu di kirim ke pulau Sumatera Selatan karena dianggap gagal ketika berada di Kalimantan, lahan untuk bertani yang susah air.


Aku menikmati teh hangat untuk pertama kali mengakhiri puasa ku. Saat Arum akan membubuhi nasi ke dalam piring ku, aku pun menahan tangannya.


“Jangan Mbak, saya mau shalat dulu. Maaf, saya tidak terbiasa makan nasi saat setelah berbuka,” Ucap ku.


Aku memang tidak terbiasa makan nasi saat buka puasa. Itu karena, aku tak mampu menahan rasa kenyang pada perut saat rukuk atau sujud, ketika shalat Maghrib.


“Namun jika Mbak Arum mau makan, monggo. Saya akan menemani Mbak Arum.” Ucap ku.


Aku menikmati buah pepaya yang ada di dekat piring ku, Ia pun membubuhkan satu centong nasi ke dalam piringnya. Kulihat ia tak menikmati makannya. Aku bisa melihat jelas wajah sahabat masa kecil suami ku. Tiba-tiba ponselku berdering, tanda pesan masuk. Ku buka ponsel tersebut. PEsan yang ku kirimkan kepada mas Guntur baru saja di baca dan di balas. Saat aku kembali memyimpan ponsel ku kedalam tas yang biasa ku bawa untuk mengaji, Arum mengomentari mimik wajah ku.


“Dari mas Guntur ya Mbak?” Tanyanya pelan.


Aku menoleh ke arah nya, tampak piring yang ada dihadapannya telah kosong. Ada perasaaan canggung diantara kami. Aku hanya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Arum. Selesai makan, aku pun mengikuti dirinya ke arah kamar mandi. Setelah wudhu, aku mengikuti langkah kaki Arum ke sebuah ruangan. Di dalam sebuah kamar yang tak terlalu besar, namun bisa digunakan untuk shalat. Saat selesai shalat, aku tetap membaca dzikir atau wirid yang biasa aku amalkan. Sesuai dawuhnya Umi Ayu saat aku bertanya tentang amalan yang biasa dikerjakan apakah dikerjakan saaat menumpang shalat di tempat orang lain atau di tempat umum, Umi Ayu mengatakan jika termasuk riya’ disaaat kita menunda wirid kita karena merasa malu jika dilihat orang lain di tempat umum.


Saat selesai dengan shalat mahgrib tak lupa dengan 2 rakaat shalat Sunnah Qabliyah dan dua rakaat setelah maghrib atau Sunnah Ba’diyah. Aku pun melihat Arum duduk di sisi tempat tidurnya. Kulihat ia baru saja meminum beberapa pil. Aku melirik bungkus dari obat yang cukup banyak di nakas Arum.


“Kamu sakit?” Tanya ku penasaran.


Ia pun menyungingkan senyumnya, tanpa ia sadari gigi gingsulnya membuat senyumnya menambah kecantikan paras wajahnya yang memang sudah cantik.


“Kamu sakit apa?” Tanya ku kian penasaran.


“Apakah Mbak Sekar mengizinkan aku memiliki mas Guntur sebelum ajal menjemput ku?” Tanyanya.


Seolah bumi dan langit ikut kaget akan pertanyaan tiba-tiba dari bibir mungil Arum.


“Jgeeerrr!”


Cahaya kilat dari balik jendela kamar Arum membuat dirinya sedikit membuang muka dari arah jendela, ia menatapku. Kami saling menatap dalam keadaan sibuk dengan hati masing-masing. Aku memang tak terlalu kaget. Tapi caranya yang langsung menodong ku dengan pertanyaan tadi, membuat aku merasa ia perempuan yang berwajah cantik namun berakhlak buruk. Bagaiamana ia bisa meminta aku sebagai istri sah Mas Guntur untuk mengizinkan dirinya menikah dengan Mas Guntur.


“Berikan satu alasan kenapa kamu ingin menikah dengan mas Guntur? Tidak adakah orang lain selain suamiku? Dan apa maksud mu dengan permintaan mu, Maut adalah urusan Allah. Bagaimana kamu bisa mengatakan jika kamu akan berjumpa malaikat maut sedang itu hak pregoratif Allah.” Cecar ku nanar pada Arum.


“Aku mencintai Mas Guntur…. Izinkan sawah ku di basahi benih lelaki yang baik akhlaknya seperti mas Guntur M-“


“Cukup! Arum!” Bentak ku pada perempuan yang katanya berpendidikan tinggi itu.


Aku berdiri dan meletakkan mukenah yang berada dipangkuanku pada hanger yang terletak di balik pintu.


“Hiks… hiks… Aku mohon pada mu Mbak… Aku mohon… dengarkan alasan ku…” Ucap Arum diiringi isak tangis.


Satu tangannya menahan lengan ku. Aku menoleh ke arahnya.


(Kalem ya Mak… jangan berasap ubun-ubun. Jangan ngambek kaya’ di pesona the twins… Yakin ma aku, No Poligami disini. Oke. Ditunggu wae khayalan e mak Debu ini… tak nyari hanger dulu ya…)