The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 23 Besti Sekar (POV Guntur)



Hampir dua minggu aku sendiri dirumah tanpa Sekar. Uang yang saat itu aku dapatkan dari membantu sang sopir karena mendapatkan tambahan dari mengirim paket motor, masih ku simpan. Saat pulang dari ladang. Aku sedikit kesal, tubuh yang gemetar karena lapar. Aku baru mau makan. Namun saat ku buka periuk nasi, ada cicak di dalamnya. Rasa jijik ku untuk memakan nasi itu seketika hilang.


Aku pun akhirnya pergi kerumah Ibu. Saat masuk ke dalam rumah setelah ku ucap salam. Ibu tampak mencuci wajan di kamar mandi.


"Bu, kok ada orang salam tidak di jawab." Ucap ku seraya menarik kursi.


"Di jawab atau tidak apa ya bedanya. Kamu itu loh tur... mbok mikir. Tak pikir kamu ninggalin Sekar di Jawa karena kamu mau menikahi Arum. Lah ini kok malah dia enak-enak di sana. Kamu kerja, ngurus rumah sendiri. Mau mu itu apa? jangan sok jadi orang sugih kamu!" Todong ibu pada ku.


Perut yang terasa lapar kembali meminta untuk diisi. Aku membuka tudung saji di meja kayu yang dibungkus plastik berwarna hijau.


"Saya makan ya Bu." Ucap ku seraya menurunkan tudung saji.


"Lah kan. Kamu belum masak toh... Kalau bosan, ceraikan Sekar. Cari yang lebih baik, lebih cantik dari dia banyak. Kalau kamu memang tidak ingin dengan Arum." Ucap Ibu seraya menggantungkan wajan berwarna hitam ke tembok yang berada di dekat kompor. Aku pun mengurungkan niat ku untuk makan dirumah ibu. Ku tutup kembali menu yang ada di meja makan.


Saat aku berjalan meninggalkan ruangan dapur. Ibu kembali mengomel seperti biasa.


"Kan. Kebiasaan kamu itu. Kalau di jak ngomong pasti pergi, kabur!" Teriak ibu.


Aku hanya berusaha menahan emosi ku. Tubuh lelah, perut lapar. Ah, jika ada sekar. Pasti saat ini aku sudah merasa kenyang, dan kopi hangat yang menanti ku. Bahkan nasi makan siang pun pasti hangat. Aku tak tahu apakah ia memang memasaknya di waktu aku akan pulang. Sehingga nasi begitu empuk dan nikmat.


"Aku pulang dulu Bu." Ucap ku lalu mengucapkan salam. Dari laur rumah pun suara ibu masih terdengar mengomel.


Aku pun akhirnya mengendarai sepeda motor ke sebuah warung pecel. Aku makan disana. Seraya menikmati pecel. Aku tiba-tiba merenungkan apa yang telah istri ku kerjakan hampir 8 tahun hidup bersama ku. Ku pikir aku sudah menjadi suami yang baik.


'Ah, maafkan aku dik.... ' batin ku.


Selesai makan, aku pun bergegas mandi dan kulihat dirumah apa yang bisa ku berikan untuk istri ku. Aku pun mengambil uang yang diberikan oleh sopir kemarin untuk ku. Ku bawa ke toko peralatan rumah tangga. Aku membeli mesin penanak nasi. Ku beli yang harga 600. Merk itu yang paling bagus di toko itu.


'Hari ini mas tahu, ternyata mas egois. Selama ini mas tidak suka makan nasi dari mesin penghangat. Kamu jelas sangat lelah dalam melayani aku hingga mungkin begitu hati-hati mengatur waktu. Yang aku tahu selama ini, makan ku nikmat karena nasi hangat walau tanpa mesin penghangat nasi. Padahal mungkin kamu bekerja keras, kamu lelah... ' batin ku. Aku pun membeli ambal baru untuk di kamar. Juga kasur Springbed kata orang toko. Aku juga membeli cat dan roll. Aku akan membuat rumah ku terlihat lebih indah. Ku pilih warna Hijau muda, warna kesukaan Sekar.


"Wuih mas Guntur... lah kok beli abrek-abrek tapi mbak Sekar ga disini?" Tanya Neneng yang paling njuwis di antara banyak tan Sekar.


"Lah buat kejutan kalau Sekar pulang." Ucap ku seraya membantu Sopir dan kernet mobil menurunkan sebuah kasur springbed tanpa Dipan. Uang ku tak cukup untuk membeli sekalian dipan nya.


"Alah... buat kejutan apa Mas Guntur mau kawin lagi sama Gadis tua desa sebelah?" Ucap Mbak Ani yang bibir nya sudah bisa di kuncir. Aku menoleh ke arahnya.


'Jan... ibu-ibu dimana saja informasi cepat sekali menyebar.' batin ku. Belum aku menjawab, Mbak Ani sudah kembali menyemprot ku dengan omelannya yang tak bisa melihat situasi dan kondisi. Sopir dan kernet mobil dari toko perlengkapan rumah tangga pun menertawakan aku.


"Awas loh Tur.... berani kamu sakiti sekar.... Tak cakar-cakar rai (wajah mu)." Ucapnya dengan wajah yang sangat menyeramkan.


Aku tak habis pikir bagaiamana mas Gino bisa menjalani hari-harinya. Istrinya bahkan di luaran terkenal dengan judes.


"Opo toh Mbak... Kan wes tak omong ini buat Sekar." Ucap ku kesal.


Mbak Ani sudah memasang wajah ala Bu Tejo. Ia menarik tangan Neneng dengan kasar.


"Lah, iyo. Aku Bestie nya Sekar. Kalau bukan karena Sekar seng sabar-sabarin aku. Wes tak amuk mamak mu itu, Tur. Wes Ni... Kita lihat saja. Berani ada gadis atau janda masuk rumah ini selama Sekar tidak ada. Aku duluan yang bakal gelut (berkelahi) sama perempuan itu!" Ucap Mbak Ani.


Neneng yang bertubuh kecil bahkan sempat kaget saat tangannya di tarik. Anak balita di gendongnya pun sampai terbangun karena ibunya setengah berlari.


'Heh..... Hebat kamu dik, Mbak Ani yang judes nya tingkat tinggi. Bisa menjadi pagar betis untuk dirimu... Ah.... lusa aku akan menjemput mu. Aku akan kasih kejutan double." Ucap mas Guntur seraya membayar sisa uang yang kurang tadi pada sopir mobil.


Hampir dua hari, Aku sibuk dengan aktifitas dirumah. Aku tata rumah ku secantik mungkin dan ku cat rumah yang belum pernah di sentuh cat.


"Semoga kamu suka nanti dik." Gumam ku seraya membenarkan semua kabel listrik yang aku pasang untuk colokan kulkas yang ku beli. Aku menjual satu anak sapi, buat tambah ongkos jemput Sekar. Aku mempercepat menjemput dia. Tak tahan rasanya untuk menambah hari-hari tanpa istri ku itu.