The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 29 Pulang



Ibu, bapak dan Imas ikut mengantar kepulangan ku ke Sumatera dengan menyewa satu mobil untuk sampai ke Loket Bis Loreng. Tiba di Loket kami pun mengkonfirmasi ke bagian loket. Ibu tampak sedih, bahkan malam tadi aku, Imas dan Ibu tidur bersama. Apa yang ibu bayangkan sama dengan yang aku bayangkan. Karena bagi ku, dengan kondisi suami yang kerja serabutan juga tani, maka tak mungkin menuntut untuk Mudik setiap tahun. Apalagi kondisi bapak yang hampir sering drop, beberapa obat kadang tak ditanggung B P J S, maka kami harus membeli di luar biaya B P J S.


"Nduk.... " Ucap ibu seraya memeluk ku erat saat kami sudah akan menaiki bis.


"Ibu.... Hiks... " Isak tangis ku tak mampu ku tahan. Sedari rumah, aku mencoba untuk tidak menangis. Namun sia-sia saat aku sudah akan menaiki bis. Ada rasa sesak yang sangat tak bisa aku ucapkan. Hanya air mata yang mampu menjelaskan betapa aku rasanya tak ingin pergi jauh dari kedua orang tua ku. Tetapi tak bisa, aku adalah seorang istri. Kemana suami membawa kesitu aku harus ikut. Susah, senang selagi suami masih bertanggungjawab pada diriku. Maka aku wajib mengikutinya.


"Mbak Sekar.... " Ucap Imas yang ikut menangis. Kala itu adik bungsu ku ini masih SMP saat aku menikah, kini ia sudah dewasa. Ia lebih cantik aslinya dari video yang sering aku lihat di medsos atau sambungan telepon vya video yang sering kami lakukan.


"Titip ibu dan bapak. Awas, ndak usah pacaran. Kalau ada yang mau, lihat akhlaknya. Bukan tampangnya." Ingat ku pada Imas. Kemarin aku tanpa sengaja melihat satu foto lelaki di dalam buku kursus tata riasnya. Maka aku khawatir adik ku itu terlena hanya karena wajah tampan lelaki, tak ada yang salah memang dengan suami yang tampan. Namun yang paling penting akhlaknya. Karena tampan itu relatif. Seperti saat ini, suami ku mungkin tak termasuk kriteria tampan bagi mereka penggemar Park Hyung Sik atau Nicholas Saputra namun dimata ku, Mas Guntur lelaki yang tampan, gagah dan penuh pesona.


Karena aku tak pernah membandingkan dirinya dengan lelaki lain apalagi suami orang lain. Maka cinta ku untuknya utuh, tak terkontaminasi oleh khayalan ku. Seperti saat ini, kami duduk di kursi yang memiliki 2 sheet. Mas Guntur meminta ku di tepi jendela.


"Di sini saja ya dik." Pintanya pada ku.


Aku mengangguk. Saat bis mulai melaju, aku menatap dari balik kaca. Ku lihat Bapak, Ibu dan Imas melambaikan tangannya.


"Semoga kalian selalu bahagia, sehat selalu.... " Gumam ku.


Mas Guntur menarik tangan ku. Ia genggam erat dan kepalanya ia sandarkan di lengan ku.


"Sudah jangan nangis lagi. Nanti pilek loh.... " Ingatnya.


Kami pun menikmati perjalanan malam itu dengan tertidur. Namun hampir beberapa jam, aku terbangun. AC yang berada diatas terasa sangat dingin. Aku audah menyediakan handuk kecil untuk menutupi bagian kepala dari AC ini. Padahal mas Guntur sudah memindahkan arah AC itu keluar, tapi masih terasa di bagian kepala ku.


"Ada apa Dik.... " Ucapnya.


"AC nya masih terasa dingin." Ucap ku.


Mas Guntur mendongakkan kepalanya. Ia pun mengambil selimut dari tas ranselnya. Ia tutupi tubuh kami dengan selimut yang ia bawa dari Sumatera.


"Jadi ini alasan selimutnya ga boleh di keluarkan dari ransel kemarin?" Tanya ku seraya tersenyum.


"Mas kemarin sendiri dik. Untuk duduknya bareng nenek-nenek. Kalau gadis, kan repot.... " Ucap Mas Guntur. Aku reflek menepuk lengannya. Lalu sedikit berbisik ke telinga mas Guntur.


"Kemarin diizinin nikah ma Gadis, ga mau.... " goda ku.


Aku cubit perut mas Guntur. Sehingga membuat ia meringis pelan. Ia tak berani tertawa karena tampaknya penumpang di bis itu sedang terlelap semua. Kami pun baru bisa kembali menikmati tidur kami karena tak terasa dingin lagi. Saat bis kami akan masuk ke dalam kapal. Mas Guntur tampak dari tadi mengamati sesuatu.


"Lihat siapa mas?" Tanya ku penasaran.


"Sepertinya mas kenal anak itu." Ucap Mas Guntur saat kami telah keluar dari bis. Mas Guntur mengajak ku untuk ke dak atas. Menikmati indahnya laut lepas. Aku mengikuti anak mata Mas Guntur.


"Iya, seperti ndak asing ya mas." Ucap ku.


Aku melihat satu perempuan dan lelaki. Tampaknya masih ABG. Bahkan saat di dak atas, perempuan dan lelaki itu berfoto mesra sekali. Aku dan mas Guntur saja tak berani karena malu.


"Mungkin mereka pengantin baru ya mas." Ucap ku karena tampaknya mas Guntur juga mengamati sepasang sejoli itu.


"Bisa jadi.... " Ucap Mas Guntur cepat, ia pun membuang pandangan ke arah laut.


"Kamu tahu dik, hidup kita seperti Bahtera.... " Ucap mas Guntur seraya menikmati rokoknya.


"Terus mas Nakhodanya, aku apanya?" Tanya ku menggenggam erat besi yang menjadi pagar kapal Feri.


"Kamu layarnya. Dan anak-anak adalah penumpangnya. Sedangkan agama adalah kompasnya. Ilmu disini kualitas kamu sebagai layar, aku sebagai Nakhodanya.. Maka kita akan sampai tujuan jika kita punya semua, kecuali satu." Ucapnya.


Aku menoleh ke arah Mas Guntur yang menghisap rokoknya dalam.


"Penumpang, maka ada atau tidak penumpang. Kita akan tetap berlayar dan akan tetap sampai tujuan. Jadi jangan terlalu bersedih jika kapal ini tidak ada penumpang nya. Kita manfaatkan waktu kita untuk mengumpulkan bekal agar tiba di tujuan kita sudah punya bekal yang cukup." Ucap Mas Guntur.


Aku mengangguk mantap. Jika suami ku yang harusnya bisa menikah lagi dengan alasan menginginkan keturunan saja mau bertahan dan mencoba bahagia, kenapa aku tidak.


"Aku kepikiran pesan Kyai Rohim dan Umi Laila, Mas." Ucap ku seraya menikmati angin laut.


"Mungkin kita diminta membantu beliau berdua dalam berdakwah. Setidaknya kita bisa ambil bagian mu. Ga harus mengajar toh, mas sudah niatkan setelah ini akan mengaji lagi dan mengabdi kepada Gus Damar. Kamu, juga. Kita akan bareng-bareng memanfaatkan umur kita untuk kegiatan yang bermanfaat. Termasuk membantu kegiatan di pondok Safna." Ucap Mas Guntur.


Aku pun mengamini apa yang di ucapkan mas Guntur


'Semoga saja.' Ucap ku seraya menatap kearah langit.