
Semenjak aku mengajar di TPS sawt ba'da Ashar, kini setiap ba'da maghrib akan ada beberapa anak tetangga yang mengaji di rumah. Alasan orang tua mereka adalah mereka ingin anak-anak lebih fokus. Karena kalau di masjid khawatir lebih banyak main karena banyaknya anak yang mengaji. Tetapi aku tak memungut biaya. Sama seperti Umi Laila, sampai sore saat akan menjelang waktu maghrib.
Aku yang sedang membakar sampah daun yang baru ku sapu. Mbak Ai seperti biasa akan mengajak Galu atau Fitri.
"Neneng mana?" Tanya ku pada Mbak Ani.
"Mbok nya lagi mandi." Jawab Mbak Ani. Fitri pun berlari-lari di bawah pohon mangga.
"Kar....Kemarin tal semprot ibu-ibu yang nitipin anaknya ngaji dirumah mu.." Ucap Mbak Ani dengan raut wajah kesal.
"Loh, kenapa mbak?" Tanya ku penasaran.
"Lah Iyo... masa' mereka itu sudah beberapa bulan nitip anak ngaji ke kamu, tapi kok ga ada basa basi nya apa ngasih uang gula atau apa gitu..." Ucap Mbak Ani yang kesal.
Pasalnya beberapa ibu kemarin merasa senang karena aku dan mas Guntur mengajar ngaji. Sehingga anak sore hari bisa ikut ke ladang. Namun karena mereka senang juga tidak memberikan bayaran.
"Otaknya itu loh Kar... Kok yo lucu... Katanya kamu ikhlas ngajar ngaji anak-anak itu..." Ucap Mbak Ani kesal.
"Loh ya iya, saya memang niat khidmah sama ilmu mbak... jadi ga ngarep bayaran. Alhamdulillah untuk makan sudah cukup dari hasil mas Guntur." Jawab ku seraya membenarkan Bakaran sampah yang api nya mulai padam.
"Lah ya itu biar urusan kamu sama Allah toh Kar. Nah urusan ibu-ibu itu ya sama kamu. masa' jadi orang ga ada cara. Masalah ikhlas itu kan kamu sama Allah bukan kamu sama tuh ibu-ibu..." Protes Mbak Ani seraya menyuapi Galu dalam gendongannya.
Tampak Neneng berjalan ke arah kami. Ia pun segera meraih Galu dari gendongan mbak Ani.
"Ya sudah lah mbak... setiap orang itu kan cara berpikirnya beda. Bersyukur mereka masih mau mengizinkan anak mereka ngaji dan masih berpikir agar anak mereka ngaji... itu sudah luar biasa buat saya." Uca ku.
Mbak Ani tampak tak terima alasan ku.
"Halah kamu itu terlalu baik jadi orang Kar... jadi kadang di manfaatkan orang..." Gerutu Mbak Ani.
***
Saat Ba'da Dzuhur, mas Guntur yang baru pulang dari masjid menyampaikan permintaan Kyai Damar.
"Dik, tadi Kyai Damar minta tolong kamu. Bisa ndak anter Umi Ayu ke desa Ujung. Ada undangan pengajian. Kyai Damar ada jadwal di desa sebelah." Ucap Mas Guntur. Umi Ayu hanya memiliki satu motor. Mungkin beliau juga sudah nyaman pada ku. Semenjak beliau tahu aku alumni Kali Bening, beliau sering memang meminta bantuan ku. Aku dengan senang hati membantu beliau.
Siang itu aku mengantar Umi Ayu ke tempat acara. Cukup ramai kareba banyak jamaah, kabarnya ada orang kabupaten yang hadir. Saat kami tiba tempat acara namun tidak seperti Bu Nyai yang lain. Beliau justru duduk di barisan belakang. Karena mungkin kebetulan kami datang terlambat. Jika Bu Nyai yang lain disambut duduk di atas panggung. Umi Ayu yang aku antar menggunakan sepeda motor hanya duduk di bagian belakang. Tak ada yang sambutan yang berbondong-bondong dari panitia.
Mereka tidak tahu jika Umi Ayu adalah istri Kyai Damar. Belum juga mereka tidak tahu jika Umi Ayu adalah santri pertama Kali Bening. Dimana beberapa bulan kedepan akan ada pengajian dimana sosok Kyai Rohim di nanti banyak jama'ah. Saat akan pulang dari acara, satu orang ibu-ibu justru cepat mencium tangan Umi Ayu. Padahal kami baru saja akan beranjak dari tempat kami. Di bagian paling belakang dan duduk membaur dengan para jamaah diatas terpal.
"Astaghfirullah... Umi... Ya Allah.... Umi kenapa duduk disini..." Ucap ibu itu.
"Ning Anis... ndak papa..." Ucap Umi Ayu.
"Sepurane Umi... Kulo mboten ngertos umi Teng Mriki..." Ucap perempuan itu penuh sesal.
Hari itu aku semakin kembali mantap untuk tak sibuk dengan penilaian manusia.
"Malah lebih enak rasan-rasan kalau disini. kalau di depan malah ndak bisa rasan-rasan..." Canda Umi Ayu.
Ibu itu pun tertawa. Ah, semakin hari aku semakin senang dekat dan memandang beliau. Mungkin ini yang dikatakan Nur seorang Guru. Karena semakin hari, cobaan dalam rumah tangga makin berat tapi aku merasa biasa saja. Sepanjang perjalanan pulang aku diatas motor merasa senang bisa melayani Umi Ayu. Benar dawuh Gus Baha. Ndak usah pusing mau seperti apa di mata manusia. Kita justru lebih leluasa bergerak, bertindak saat mata dunia tidak mengarah ke kita. Termasuk mau diapakan manusia, kita harus ridho karena Allah yang menggerakkan hati manusia tersebut. Seperti hari ini, aku kembali harus ridho dengan kejadian di rumah.
Saat baru tiba di halaman rumah. Aku kaget mendengar suara ibu yang tampaknya marah besar pada mas Guntur.
"Anak durhaka kamu Tur!" Teriakan ibu terdengar sampai di luar rumah.