
Sayup-sayup aku mendengar suara orang mengucapkan salam dan memanggil nama mas Guntur, antara sadar dan tidak. Aku pun membuka mata, ku lirik jam dinding di sebelah kanan. Jarum panjang menunjukkan pada pukul 4 sedang kan jarum pendek berada di angka 3. Aku bangun dan mengikat rambut ku serta mengenakan kerudung ku yang terbuat dari bahan babat. Aku mengintip dari jendela kamar, tampak Pak Le Bagio. Saudara kandung bapak yang berada di desa sebelah. Aku membangunkan mas Guntur.
“Mas… Mas… Ada Pak Lek Gio.” Panggil ku.
Mas Guntur tak mengindahkan panggilan ku. Aku mengelitik bagian pinggangnya, baru ia memegang tangan ku.
“Sudah shubuh dik?” Tanyanya.
“Ada Pak Lek Gio di luar… belum shubuh.” Ucap ku. Aku menarik kedua tangannya, seperti biasa mas Guntur harus ku tarik dulu tangannya sampai ia sudah duduk dan membuka kedua matanya barulah ia benar-benar terjaga.
“Siapa Dik?” Tanya nya lagi.
“Pak Le Gio.” Ucap ku.
Mas Guntur melihat jam dinding. Ia pun menyisir sedikit rambutnya. Ia cepat ke arah belakang untuk mencuci muka. Aku sudah menyodorkan handuk kecil sebelum mas Guntur ke arah depan. Aku mengikuti mas Guntur dari belakang.
“Pak Lek…” Ucap mas Guntur kaget.
“Tur, kamu dan Sekar harus ikut Pak Lek ke rumah Arum,” Pinta Pak Lek Gio.
“Sekarang Pak Lek?” Tanya mas Guntur.
“Darurat Tur, Arum dari semalam menyebut nama Sekar terus. Sebelum keluarga besarnya geram. Dukun yang mengobati juga ada. Pak Lek ingin kamu membuktikan apa yang mereka tuduhkan pada Sekar tidak benar. Ini tadi buk Lek mu kasih saran biar kamu dan Sekar segera datang. Itu kasihan Arum nya kalau di biarkan. Keluarganya ga ada yang bisa mendengar penjelasan kami.” Ucap Pak Lek dengan wajah cemas.
“Kami memang rencana kesana, tapi besok Pak Lek.” Ucap mas Guntur yang masih berdiri di depan pintu.
“Masuk dulu pak Lek,” Ucap ku.
“Ndak usah. Sekarang Tur, biar jelas. Tahu sendiri ibunya Arum kalau menunggu sampai kenapa-kenapa Arum.” Ucap Pak Lek tergesa-gesa.
Mas Guntur menoleh ke arah ku.
“Ya sudah mas, mungkin ada baiknya. Jika memang lebih sedikit mudhoratnya.” Ucap ku.
Akhirnya kami pun pergi ke rumah Arum. Aku mengambilkan jaket untuk mas Guntur. Aku menggunakan sweater pemberian ibu ku saat kemarin aku mudik. Mas Guntur memasang sebuah senter di bagian kepalanya biasa kami sebut lampu sokle, lampu motor mas Guntur sedang rusak. Aku hanya bisa membaca shalawat di dalam hati. Aku tahu saat tiba disana nanti aku dan mas Guntur harus sabar. Saat tiba disana aku melihat rumah Arum cukup ramai. Bahkan aroma jeruk nipis dan menyan begitu menyengat. Kami mengucapkan salam, namun hanya beberapa yang menjawab, mungkin mereka merasa kesal pada ku.
“Mau apa kamu kemari?” Tanya Ibu Arum sinis.
“Bu Lek, kami kemari ingin membuktikan jika kami tidak salah, izinkan istri saya bertemu dengan Arum. Ku dengar Arum menyebut nama Sekar terus…” Ucap Mas Guntur sopan.
“Tidak! Aku tidak akan mengizinkan kamu! Mau kamu pateni anak ku!” Ucap Ibu Arum dengan mimik wajah merah padam serta kedua mata yang sembab.
“Dik.. Izinkan dulu, toh ada dukunnya toh. Biar dukunnya ikut mendampingi..” Pinta pak Lek.
Aku dan mas Guntur terpaku berdiri di dekat pintu masuk, tak seorang pun mempersilahkan kami duduk atau masuk. Setelah beberapa orang membujuk ibu Arum, akhirnya aku diperbolehkan bertemu Arum dan di kamar tersebut ada seorang lelaki yang tampak mengusap-usap telapak kaki Arum. Ah,aku justru kasihan dengan Arum. Ia yang mengagumi Mas Guntur, tapi kini dengan mudahnya lelaki yang katanya dukun itu menyentuh tubuhnya. Bahkan saat aku mendekat ke arah sisi Arum, lelaki yang katanya dukun itu ikut duduk dan memegang tangan Arum.
“Rum… ini aku, Sekar.” Bisik ku pada telinganya. Tiba-tiba ia membuka kedua matanya. Beberapa detik, Arum justru terlihat batuk dan muntah darah.
Aku bahkan cepat menahan muntahan Arum dengan satu kain yang memang disiapkan di sisi kanan Arum. Aku tak habis pikir bagaiamana Arum tidak dibawa kerumah sakit saat ia memiliki gangguan medis.
“Arum…!” Teriak Ibu Arum saat melihat anaknya muntah darah.
Di dalam hati aku terus beristighfar semoga Arum tak mengatakan hal yang aneh-aneh dan akan menyudutkan aku dan mas Guntur.
“Mbak….” Ucap Arum pelan sekali, aku pun menarik kursi ku. Merasa kurang puas, aku duduk di tepi ranjangnya aku mencondongkan tubuh ku ke arah Arum dengan posisi sedikit menunduk.
“Ada apa Rum? Apa yang ingin kamu sampaikan?” Tanya ku.
“Ma-af….Hhhhh…” Suaranya pelan sekali, tampaknya ia sulit untuk berbicara.
Aku menggenggam tangannya.
“Maaf Pak, saya rasa dengan anda memegang tangan Arum begitu erat tanpa hubungan halal itu yang akan membuat Arum tersiksa.” Ucap ku sinis. Aku sudah tak suka jika hal-hal yang aku anggap batil harus di hadapi dengan lembut, daritadi aku sudah cukup sopan dan sabar. Tetapi ia jsutru membuat aku tak bisa bebas berkomunikasi dengan Arum yang tampaknya ada yang ingin disampaikan.
“Izinkan istri saya berbicara dengan Arum, saya yakin Arum ingin menyampaikan sesuatu.” Ucap Mas Guntur.
Melihat kondisi semakin memanas, Ibu Arum pun semakin kesal karena aku menunjukan emosi ku pada sang dukun. Seorang anak dari Pak Lek Gio pun memberikan satu microphone bloetuth yang ia sambungkan pada speaker.
“Maaf mbak, biar semua jelas dan ndak ada yang curiga. Mbak Arum, ini mbak Sekar sudah ada disisi mbak Arum. Katakan apa yang ingin mbak katakan.” Ucap Rino, jika diurut ia memiliki hubungan sepupu dari ibunya.
Arum tak kunjung membuka matanya, aku pun menggenggam tangannya. Ku rasakan ia membalas genggaman ku.
“Ma-ma-af. …” Ucapnya pelan dan terbata-bata. Bahkan dari sudut matanya terlihat air mata yang menetes.
“Rum… Aku tidak pernah menyimpan sakit hati pada mu, kamu tidak ada salah apa-apa Rum…” Ucap ku seraya berbisik di dekat telinganya, otomatis suara ku pun terdengar di speaker walau tak sejelas suara arum yang bibirnya menempel pada microphone.
“Nan….”
“Ti…Hhhhh…”
“Man-di….Hhh..”
“Kan… aku. Ka-mu… hhhh… dan mas G…tur…” Suaranya lirih dan pelan sekali.
Aku tak paham apa yang diucapkan Arum, Mas Guntur pun membisikan sesuatu.
“Dik, Arum sedang butuh bimbingan. Mas dan Pak Lek akan baca yasin dan Rotib. Kamu bantu bimbing Arum ya…” Pinta mas Guntur.
Aku merinding mendengar ucapan mas Guntur, suami ku seorang mudin. Maka ia mungkin sudah paham dan banyak pengalaman juga ilmu untuk melihat mereka yang mungkin sedang mengalami sakaratul maut. Kembali saat mas Guntur meminta untuk membacakan yasin, ibu dan keluarga Arum keberatan. Disangka mereka bahwa pembacaan yasin hanya untuk orang mati. Aku pun tak menghiraukan keributan di luar kamar. Aku berada di dalam ditemani dukun dan istri pak Lek.
“Rum… ikuti aku…” Bisik ku pada Arum, entah kenapa aku merasa sedih, walau tak dekat dengan Arum. Aku membayangkan aku jika di posisi Arum, meninggal dunia dalam keadaan sendiri. Aku tak menghiraukan air mata yang menetes dengan sendirinya,aku miringkan sedikit kepala Arum ke arah kiblat, bulu kuduk ku bergidik. Ini kali pertama aku menemani orang menjalani detik-detik dimana iblis akan menjadikan orang tersebut tersesat, saat sakaratul maut. Sesekali ku suapi Arum air putih dengan menggunakan sebuah sendok, seraya kuucapkan shalawat seraya menyuapkan air minum itu, karena saat seperti ini setan akan mengiming-imingi jasad untuk minuman pada tubuh yang merasa kelelahan karena ruh akan berpisah dengan tubuh.
Aku dapat melihat Arum masih menerima suapan dari ku dengan begitu cepat, ia tampaknya begitu haus. Atau sedari tadi ia ingin minum, namun yang menemani dirinya dari tadi hanya sibuk meladeni si dukun itu yang meminta banyak syarat. Karena di kamar Arum banyak sekali benda-benda aneh bagi ku.
Setelah kulihat Arum tak terlalu cepat menelan air yang ku suapkan. Aku kembali membimbingnya.
“Rum, dengarkan aku Rum… لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Arum tampak tak menggerakkan bibirnya. Ku genggam erat tangannya kala jari telunjuk dan jempolnya menekan ibu jari ku kuat.
“… لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ”
“…لهُ” Ucap Arum sukar, lidahnya tampak terhenti untuk menirukan apa yang aku ucapkan di dekat telinganya. Tak berhenti-hentinya aku menuntunnya. Terus ku ucapkan kalimah tauhid tanpa aku minta Arum menirukan. Tak berapa lama terdengar suara Mas Guntur di ruang depan membaca surah yasin.
Aku masih fokus pada Arum, saat genggaman tangan ku dibalas Arum, Aku melihat bibirnya bergerak walau tak dapat ku dengar apa yang ia ucapkan. Dan terakhir ku ucapkan kalimat tauhid di telinga Arum saat genggamannya makin kencang.
“… لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ”
Saat tangannya kurasakan tak ada lagi tanda denyut nadi, satu tangan ku ku arah kan ke hidungnya. Aku hanya mampu menahan air mata ku, saat aku merasa yakin Arum sudah tiada.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.” Ucap ku bersamaan dengan mereka yang membaca yasin tiba pada kalimah.
اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ
Aku teringat satu hadist kala mendengar kalimat tersebut dimana hadist tersebut sangat terkenal dikalangan orang umum sekalipun.
‘Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.’
‘Apa yang akan aku bawa nanti Rabb… apakah aku akan memiliki anak yang sholeh, akankah ilmu ku bermanfaat… apakah sedekah ku selama ini ikhlas atau ingin di puji makhluk mu…..’ Batin ku seraya menghapus air mata karena aku pun sadar, suatu saat nanti aku akan mengalami apa yang saat ini Arum lewati, kematian.