The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 46 Kebingungan Ku (POV Guntur)



Aku dan keluarga sedang berada di Jawa, kami menghadiri pernikahan Yadi dan Tika. Alhamdulilah bapak dalam keadaan sehat, walau kemarin aku harus memesan tiket pesawat khusus bapak dan ibu, sedangkan keluarga yang lain naik mobil. Hanya ada satu mobil yang berangkat dari sumatera untuk menghadiri acara pernikahan Yadi. Aku menggunakan uang dari Yoyon untuk acara pernikahan Yadi. Termasuk untuk acara ngunduh mantu, aku menemui salah seorang pemilik sapi yang aku pelihara. Aku meminta ia membayar sapi jantan yang belum dewasa. Sudah menjadi adat ditempat kami, jika akan menjual anak hasil dari hewan yang kami rawat untuk terlebih dahulu menawarkan pada pemilik babon. Dan alhamdulilah dua anak sapi kurasa cukup untuk acara ngunduh mantu besok.


Aku juga sudah mengembalikan pinjaman bank tersebut, walau akhirnya aku tetap harus membayar dengan bunganya.


Tiba acara ijab Yadi dan Tika, kami menggunakan seragam yang di belikan oleh Tika. Baru kali ini keluarga kami tampil menggunakan seragam. Bahkan aku meminta foto khusus kepada fotografer. Dan ku titip pesan pada Yadi untuk mencetak foto ku dan Sekar dengan ukuran cukup besar. Aku belum punya foto berdua dengan pakaian rapi seperti saat ini. Hanya ada foto ketika ijab qobul. Foto dimana aku hanya mengenakan jas hitam dan kemeja putih di kalung kembang melati serta sarung, ah… ala santri sekali. Sedang Sekar saat itu terlihat cantik dengan sebuah kebaya putih dengan setelah kain batik. Sungguh acara yang cukup sederhana. Tapi kami membuktikan kepada orang tua, guru bahwa sederhana nya acara pernikahan bukan berarti cara kami begitu sederhana dalam mengarungi biduk rumah tangga.


Tiba saat kami menikmati jamuan di kediaman Tika, aku melihat seseorang yang cukup aku kenal. Seketika Mas Yono yang berada tak jauh dari tempat ku pun menghampiri perempuan itu. Seorang perempuan muda yang tampak cantik bersama dua temannya. Dan satu teman perempuan itu aku juga sepertinya tak asing. Aku hanya mengamati dari kejauhan, tampak mas Yono berbicara serius. Aku baru ingat jika perempuan itu adalah adik dari mas Yono. Aku memang menyewa mobil dan meminta mas Yono menjadi sopir kami. Lebih irit di biaya dengan seperti itu daripada aku menyewa mobil beserta sopir di loket travel.


“Mas… lihatin apa sih?” Bisik Sekar yang ternyata mengamati diriku sedari tadi.


“Lihat mas Yono, dari tadi mikir kayaknya mas Ga asing, ga tahunya adiknya mas Yono, Bulan.” Ucap ku.


“Kirain lihat yang manis-manis…” Bisik Sekar lagi.


Aku menoleh ke arah Sekar, aku tersenyum seraya menoleh ke arah istri ku itu. Ia pasti menganggap aku sedang mengamati satu perempuan yang duduk tak di samping Bulan. Perempuan dengan bibir tipis, mata sipit dan kulit putih. Seperti orang cina memang.


“Cemburu?” Tanya ku.


“Ndak cemburu tapi ngingetin saja, ndak nanti kebablasan… trus jadi dosa.” Ucap Sekar seraya menahan tawanya.


“Mau secantik Citra Kirana pun aku ga bakal terpesona dik… Soalnya mana sanggup Citra Kirana hidup mendampingi mas…” Canda ku.


Sekar mencubit pinggang ku, aku tertawa. Aku merasa sangat senang, dengan menikahnya Yadi, aku bisa lebih fokus pada kondisi ekonomi keluarga ku. Tentu saja membahagiakan Sekar. Bersyukur ibu juga tidak jadi menjual kebun, maka aku tentu akan lebih bisa mencukupi kebutuhan ibu tanpa membuat Sekar mengalah. Sudah cukup istri ku itu bersabar dan mengalah untuk selalu menjadi nomor dua. Jika perempuan lain mungkin sudah menyesal atau merutuki nasibnya menjadi istri ku, atau mungkin sudah ribut berkali-kali karena harus merawat orang tua juga menyekolahkan adik-adik ku.


Satu minggu berada di Jawa, aku menyempatkan untuk mengajak Yani dan anaknya juga Pak Lek Gio berkunjung ke rumah mertua setelah itu kami berjalan-jalan ke kebun binatang juga beberapa pasar untuk membeli oleh-oleh. Sekar bertanya apakah akan mampir ke Kali Bening, tetapi aku mengatakan jika tak cukup waktu. Maka kami pun akan segera pulang karena akan mempersiapkan acara di rumah. Sesuatu yang membuat aku cukup bingung saat Yadi menceritakan satu kisah dimana membuat aku harus berdiskusi pada Sekar saat pulang kerumah.


Yadi dan aku duduk di teras rumah Tika, kami masih menunggu waktu sore. Aku masih menunggu masuk ba’da Ashar baru berangkat. Sedangkan bapak dan ibu baru besok akan berangkat pulang.


“Mas, ada yang ingin aku ceritakan pada mas… “ Ucap Yadi.


Aku sudah was-was apa yang akan Yadi bicarakan. Khawatir ia meminta sesuatu yang aku tak mampu lakukan atau yang menyangkut ibu. Karena dari raut wajahnya ia tampak serius.


“Ada apa?” Tanya ku.


“Saya mau cerita tapi ini bukan maksud saya buka aib orang mas…” Ucap Yadi.


“Masalah apa?” Tanya ku.


“Masalah Bulan, adiknya mas Yono…” Ucap Yadi setengah berbisik. Ia juga mendekat dan duduk begitu dekat dengan diriku, khawatir ada yang mendengar percakapan kami.


“Ada apa dengan Bulan?” Tanya ku semakin penasaran.


“Anu mas… Keluarga mas Yono apa belum tahu ya kalau… kalau… Bulan sudah punya anak…” Ucap Yadi.


Aku melotot, ku tatap Yadi dengan tatapan serius. Aku mencari kejujuran dari ucapan adik ku itu. Setahu ku Bulan masih kuliah di Jawa. Mas Yono kadang sering titip aku untuk transfer ke rekening adiknya.


“Jangan sembarangan kamu Yad! NAnti bisa jadi fitnah..” Ucap Ku.


“Tidak mas, aku tidak bohong. Tika yang cerita tadi malam… Bulan itu teman kuliah Tika, Anaknya sudah lumayan besar mas… Aku baru tahu ini tadi malam… soalnya Tika tahu itu, Tika yang membantu biaya bersaling Bulan saat di bidan waktu itu mas…” Ucap Yadi.


“Innalilahi…” Ucap ku cepat.


“Semalam Bulan langsung telepon Tika, dia minta jangan sampai Tika cerita masalah dirinya ke aku, dia khawatir kalau nanti aku cerita ke Mas Yono…” Ucap Yadi dengan suara yang tersekat.


“Lalu sekarang dia berarti tidak kuliah?” Tanya ku penasaran.


“Kuliah mas, dia sedang menyusun skripsi…” Jawab Yadi.


“Terus lelaki yang menghamili?” Tanya ku penasaran.


“Tika tidak berani cerita mas, ini juga dia sudah terlanjur cerita terus Bulan nelpon… aku Cuma kasihan keluarga dan juga Bulan. Tika hanya bilang, kasihan Bulan…. Dia berjuang keras untuk hidupnya dan anaknya mas…” Ucap Yadi.


Aku hanya membisu, entah apa yang akan di lakukan mas Yono jika tahu adiknya yang satu-satunya kuliah namun justru saat ini sudah memiliki anak. Keluarga mas Yono tahunya jika Bulan masih gadis.


‘pantas kuliahnya tidak selesai, selesai dan Bulan tidak pernah mau pulang. Jadi dia sudah punya anak… Astaghfirullah… kasihan sekali mas Yono dan kedua orang tuanya.’ Ucap ku.


Saat akan berangkat, di dalam mobil mas Yono berbisik kepada ku.


“Kang, nanti kalau sampai rumah. Aku minjam uang ya. Bulan katanya lagi butuh untuk biaya sidang.” Ucap Mas Yono.


Aku hanya mengangguk. Aku bingung, harus cerita atau tidak pada mas Yono. Aku ingin cepat sampai rumah dan meminta pendapat sekar.


Tiba di rumah, aku menanti saat santai istri ku. Saat Sekar sedang akan melipat pakaian, aku menahan tangannya.


“Dik, nanti dulu. Mas mau minta pendapat kamu.” Ucap ku.


“Apa mas?” Tanya Sekar.


“Sini…” Pinta ku pada Sekar. Ia mendekat. Kami duduk bersebelahan.


Aku menceritakan apa yang menjadi ganjalan hati dan apa yang diceritakan Yadi padaku.


“Apa pendapat mu Dik?” Tanya ku.


Sekar diam sejenak, ia tampak mengingat sesuatu saat matanya kulihat membola.


“Tapi kalau melihat postur tubuh Bulan kemarin, maka memang terlihat sekali kalau dia sudah melahirkan.. Tapi…. Tunggu… Aku malah gagal fokus sama perempuan yang bersama Bulan kemarin mas…” Ucap Sekar.


“Apa?” Tanya ku.


“Ndak jadi lah,.. malah jadi su’udzon jadinya. Balik ke Bulan saja lagi. Kalau menurut ku, kita tidak bisa menceritakan hal itu. Lebih baik kita memberikan saran mas Yono untuk sesekali sidak ke tempat Bulan. Maka akan tahu, apakah betul yang dikatakan Tika.” Ucap Sekar, Aku terpaku sejenak, ada benarnya yang dikatakan Sekar.


Jika aku mengatakan hal yang disampaikan Tika, khawatir ikut campur urusan keluarga mas Yono, dan belum bisa dipastikan kebenarannya.


“Ya sudah nanti kalau mas Yono kesini mau pinjam uang, mas akan kasih saran.” Ucap ku.


Aku pun memberikan saran pada mas Yono untuk mengunjungi Bulan sesekali.


“Pastikan mas, apakah dia kuliah betul atau tidak. Rasa-rasanya aku melihat selama ini menguliahkan Yadi dan Yani. Itu sidang skripsi dengan jurusan Bulan tidak mungkin sampai hampir 8 juta. Coba datang tanpa kasih kabar mas… sidak seperti itu. Khawatir alasan Bulan saja mas… setahu saya juga S1 itu ada batas waktunya berapa tahun maksima. Kalau tidak selesai di keluarkan atau bahasanya DO begitu mas…” Jelas ku pada mas Yono.


Mas Yono pun mengikuti saran ku. Ia sebenarnya sudah dua tahun ini curiga, namun tak punya pikiran kesana. Akhirnya bermodal uang yang ia pinjam. Ia pergi ke Jawa lagi. Dan betul saja saat pulang dari Jawa ia tahu kebenarannya. Dan tepat di acara H-2 ngunduh mantu dirumah bapak dan ibu, Mas Yono mencari ku. Ia menangis sesenggukan di hadapan aku dan Sekar.


“Hiks… Hiks.. aku harus bagaimana ini… bagaimana ini Tur… bantu aku… aku bingung… aku malu…” Ucap Mas Yono yang sesekali mengusap wajahnya.


(Jangan mikir anak Bulan akan jadi anaknya Sekar ya… ada satu kejutan dan pesona Sekar akan kembali semerbak disini. Aku ngumpulin bawang merah dulu soalnya harus sambil mbrebes mili nulisnya. Ditunggu ya,)