The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 50 Perhiasan Paling Indah (POV Guntur)



"Ada apa Bu?" Jawab ku.


Di dalam hati aku berdoa semoga tidak terjadi sesuatu pada bapak atau ibu di Jawa. Namun semua di luar prediksi ku. Bibir ku terkatup rapat, kalimat demi kalimat ku dengar apa yang ibu mertua ku ucapkan. Beliau menelpon melalui sambungan video. Aku bisa melihat ketulusan dan kejujuran dari setiap kalimatnya. Walau ada air mata yang tertahan di sudut mata beliau.


"Tur... Sekar dalam mingu-minggu ini sering menghubungi ibu lewat telepon. Tepatnya seminggu yang lalu. Sekar meminta ibu untuk menghubungi nak Guntur. Ada yang Sekar ceritakan pada ibu dan bapak. Dia minta restu kami yang seharusnya itu bukan ada pada kami tapi pada nak Guntur... " Ucap ibu seraya menarik napas sejenak. Tampak ibu mertua ku itu butuh napas yang panjang


Aku bertanya-tanya dalam hati ada gerangan apa Sekar meminta restu ayah dan ibu nya.


‘Semoga bukan perkara permintaannya akhir-akhir ini.’ Batin ku.


“Nak Guntur, setelah ibu dan bapak berbicara dan merenungkan apa yang terjadi diantara kalian. Ibu berharap nak Guntur mau memenuhi keinginan Sekar. Insyaallah ibu dan bapak ridho jika Sekar ridho untuk di madu. Menikahlah dengan perempuan itu. Kabarnya masih 4 bulan usia kandungannya.” Ucap ibu mertua ku dengan wajah teduh. Seketika bibir ku tertutup rapat. Rasanya kedua netra ku terasa panas dan perih. Hati ku juga terasa hangat.


Ternyata Sekar menceritakan apa yang terjadi dengan rumah tangga kami yaitu perihal kenapa kami belum di karunai seorang anak. Ia menceritakan dengan jujur bahwa ia mengalami masalah dengan tuba falopi nya.


“Nak… ibu dan bapak ikhlas. Ibu yakin nak Guntur bisa bersikap adil, nak Guntur tidak akan mendzalimi Sekar dengan adanya istri kedua. Ibu melihat bagaimana besar cinta Sekar untuk nak Guntur. Tidak semua perempuan ingin di madu, tetapi Sekar…Dia mengabaikan dirinya. Dia tidak ingin berpisah dengan nak Guntur maka dari itu, kabulkan permohonan Sekar. Insyaallah ibu sekalipun esok Sekar menyesal dengan permintaan dan keputusannya, ibu yang akan pertama kali menjadi saksi bahwa nak Guntur bukan suami yang dzalim.” Ucap ibu mertua ku dengan linangan air mata yang telah membasahi kedua pipinya.


Aku tak tahu apa yang Sekar pikirkan,beberapa kali ia meminta ku untuk menikahi Vira dengan alasan aku bisa memiliki anak kandung atau anak yang bernasab pada diriku. Tetapi tidak semudah yang Sekar pikirkan. Mungkin begitu besar rasa cintanya untuk sehingga ia menganggap dirinya sebagai lilin yang rela habis untuk orang yang ia cintai. Aku pun menitikkan air mata seraya menahan rasa sesak di dada, bibir ku bungkam. Aku diam seribu bahasa.


“Nak Guntur…. Penuhi saja permintaan Sekar, barangkali ada kabar bahagia setelah nak Guntur menikahi perempuan itu…” Ucap ibu mertuaku kembali meyakini aku.


‘Bagaimana aku menduakan cinta yang begitu besar dengan yang belum tentu bisa menjadi seperti kamu Dik….’ Batin ku menolak untuk menduakan Sekar dengan siapapun, melihat Sekar harus bersabar dengan menghadapi ibu bertahun-tahun saja hati ku ikut sakit walau ia tak pernah mengeluh pada ku atas perlakuan ibu padanya, apalagi aku membagi hati ku. Aku sadar, kekuatannya selama ini adalah karena cinta ku yang besar padanya.


“Maaf bu… maafkan Guntur… sekalipun ibu kandung Guntur yang meminta untuk menikahi perempuan lain… tidak akan bu… selama Sekar masih bernafas… cinta ku untuknya utuh tak akan terbagi… aku mencintainya dengan segala kekurangannya…” Ucap ku lirih.


Panggilan itu diakhir ibu mertua ku dengan bapak mertua yang menutup pembicaraan tersebut. Aku tak sabar menanti Sekar pulang dari mengajar di masjid. Segera aku bergegas menyiapkan diri aku tak sempat shalat berjamaah saat ibu menelpon adzan sudah berkumandang. Maka aku shalat ashar dengan penuh rasa sesak di dada, aku menangis seraya bermunjat pada gusti Allah, izinkan istri ku hamil dari benih ku. Aku ingin ia bahagia, jika ia ingin aku bahagia maka kebahagiaannya adalah bahagia ku. Mungkin ini yang Sekar juga rasakan untuk ku.


Saat aku selesai membersihkan kandang Ijem dan memberinya makan serta mengganti air minumnya, aku mendengar suara motor Sekar. Ku tunggu ia sampai membersihkan diri, aku duduk masih menatap dirinya. Sekar adalah istri yang mengerti akan mimik wajah ku, tanpa aku berbicara sedikit pun ia merasa ada yang aku ingin sampaikan. Ia menutup pintu dapur karena membuka jilbabnya. Ia duduk di sisi ku dan bergelayut mesra di lengan ku.


“Ada apa mas? Ada yang ingin disampaikan?” Tanya nya pada ku dengan suara manja.


“Kamu sendiri ada yang ingin disampaikan?” Tanya ku.


“Tidak ada..” Jawab nya pelan.


“Apa tujuan hidup mu, Dik…” ucap ku lagi seraya menggenggam tangannya erat.


“….” Sejenak ia melerai pelukannya. Ia menoleh ke arah ku dan menatap kedua netra ku dalam.


“Tujuan ku mencari bekal untuk berada di kampung ujung…” Ucap nya pelan, kembali ia sandarkan kepalanya di lengan ku.


“Mas pun sama, mas juga mencari bekal untuk perjalanan paling abadi yaitu akhirat. Tapi kamu tidak khawatir jika suami mu ini berada dalam kesusahan kelak karena tidak adil?” Tanya ku. Kami sama-sama menatap satu foto yang di cetak cukup besar saat pernikahan Yadi.


“Adil tentang apa?” Tanyanya.


“Adil pada dua istri, sedang adil pada ibu dan diri mu saat ini saja mas merasa belum bisa adil, apalagi di tambah satu istri lagi… berhentilah merayu gusti Allah dan ibu bapak mu untuk merubah pendirian mas…” Ucap ku tegas. Ia melerai pelukannya, ia menoleh ke arah ku.


Ku pegang kedua bahunya.


“Harus berapa kali mas bilang, jika selama kamu masih bernafas… cinta mas utuh… mas tidak tahu apakah bisa hidup tanpa kamu atau tidak. Tapi mas berharap bisa terus bersama dengan kamu hingga menua… susah senang kita dalam pernikahan ini. Kita jalani bersama, kita kumpulkan bekal kita sebanyak-banyaknya di dunia ini jika memang Allah lebih ridho untuk kita tak memilki darah daging sendiri. Besok, kita ke Obgyn.” Ucap ku dan kami saling tatap beberapa waktu.


“Untuk?” Bibirnya terbuka setelah sekian menit ia tampaknya tak mampu mengeluarkan kata-kata.


“Mas lebih rela fisik mu sakit untuk kebahagiaan mu, daripada harus menyakiti hati mu. Kita akan ikut saran dokter, kamu operasi saja sesuai saran dokter. Mas tidak mau kamu terus menerus meminta mas menikah lagi, kamu harus tahu… suami mu ini dengan kondisi yang sekarang saja belum bisa menjadi suami yang baik… apalagi menikah lagi. Kamu yakin dia bisa menghadapi kondisi ekonomi yang sulit? Kamu yakin dia bisa menghadapi ibu? Tidak Sekar, tidak ada yang sekuat kamu, secantik kamu dalam menjalani peran mu sebagai istri juga menantu…” Ucap ku.


Ia memeluk ku erat, tak ada kalimat yang keluar dari bibirnya. Ia pasti sedang merasa terharu atau khawatir karena jarum suntik karena mendengar kata operasi. Tetapi aku ingin ia berhenti memikirkan bahwa aku akan bahagia jika punya anak kandung, tidak kah dia tahu bahwa jika bukan dia yang menjadi istri ku, mungkin rumah tangga ku sering di warnai pertengkaran atau aku akan pusing ketika mencari nafkah seperti kebanyakan teman ku karena banyaknya keluhan istri terkait masalah dalam rumah tangga. Tetapi Sekar tidak sekalipun menyusahkan aku dengan rengekannya. Aku jadi ingat ucapan Umi Siti kala aku melamarnya melalui perantara Gus Furqon dan Umi Siti.


“Memilih istri itu bukan hanya untuk dijadikan partner dalam hidup tapi teman menuju akhirat karena kita akan beribadah bersama dengan pasangannya, perempuan itu memang menarik baik dari fisiknya atau sikapnya. Tetapi percayalah, baiknya agama dan akhlak membawa ia pada satu kata yaitu taat. Jika ia taat pada Gusti Allah, maka ia akan menuruti semua perintahNya dan menjauhi larangannya. Walau mungkin ia tak memiliki kecantikan paras, insyaallah seorang lelaki yang memilih perempuan karena akhlaknya dan ketaatannya pada Allah akan membuat para lelaki yang memilihnya bahagia tidak hanya di dunia.” UCapan Umi Siti itu kini aku menyaksikannya sendiri, hari ini tepat delapan tahun lebih kami menikah.


Ia memang tak berkulit putih, tak brerwajah imut, tak juga seorang sarjana atau terlahir dari orang tua yang kaya. Tetapi hari ini, ia membuktikan bahwa ia makhluk Allah yang paling indah akhlaknya.


“Aku hanya ingin kamu bahagia mas… Hiks… “ Ucapnya sesenggukan di dalam pelukan ku.


Ku lerai pelukan ku, aku memegang kedua pipinya seraya menatap wajah bundar serta netra yang bulat dibalur celak di bawah matanya.


“Bahagia mas, itu adalah menua bersama kamu. Dan selalu ada di sisi kamu, bukan dengan dua tau tiga istri sekalipun… paham?” Tanyaku pada Sekar seraya ku tempelkan dahi di dahinya. Anggukan kepala dari Sekar membuat aku menarik sudut bibir ku.


“Jika lelaki lain berdalih bahwa sunnah nabi itu poligami, mas lebih memilih shalat lail dan sunnah lainnya. Tidakkah kamu tahu bahwa Rasulullah bersama sayyidah Khadijah selama 28 tahun dan hanya di sisah umur beliau kurang lebih 8 tahun beliau mempraktekkan poligami. Dan satu yang kamu harus tahu… mas tidak mungkin bisa berbuat adil, berlaku adil itu tidak mudah Sekar… mas hanya manusia biasa, lelaki akhir zaman… mungkin mas bisa secara ekonomi… tapi untuk adil tentang batin… mas tidak bisa… “ Kutarik tubuh Sekar dalam pelukanku.


Bagi ku sebagai umat Islam, agama ini adalah ajaran yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kesetaraan, kemanusiaan dan kemuliaan. Ajaran yang dibawa oleh Rasulullah ini adalah agama revolusioner yang mampu merubah suatu keadaan hina menjadi mulia. Salah satu bukti dari semua itu adalah penghormatan agama Islam pada wanita.


“Bagaimana kamu bisa mengingkari kemuliaan yang kini kamu peroleh sedang tidak di dapat perempuan di zaman jahiliah.” Ucap ku.


“Maafkan aku mas… maafkan aku… aku tidak akan meminta sesuatu yang mungkin justru membuat mas tidak bahagia…” Ucap Sekar.


‘Jaga hati hamba hanya untuk Sekar Rabb… jangan engkau palingkan hati ku, mata pada perempuan lain, Sekar adalah perhiasan paling indah di dunia ini yang aku miliki….’ Aku hanya berharap rasa ini tidak diganti dengan rasa bosan, rasa kecewa rasa tak cocok lagi pada Sekar. Karena mungkin saja saat ini iman ku sedang kuat, maka aku masih bisa mempertahankan cinta ku, rumah tangga ku. Aku hanya berlindung dari godaan setan yang mungkin masih tak lelah untuk merayu ku atau Sekar agar kami berpisah, dan salah satunya mungkin membisiki hati istri ku agar aku menikah lagi. Aku tak mungkin kuat menjaga iman ku jika ada yang kedua, selama ini aku hanya pandai mengolah rasa di hati dan tak pernah memandangi yang bukan milik ku, maka Sekar tetap menjadi ratu di dalam hati dan hidup ku.