
Hari demi hari terus berganti. Tak terasa 3 hari lagi menjelang pilihan atau hari pencoblosan untuk desa kami. 3 bulan full aku dan mas Guntur menghabiskan waktu di malam hari untuk keliling dari rumah ke rumah. Tidak ada satupun rumah yang kami lewati. Baik muslim maupun non muslim. Karena kebetulan di desa kami ada 5 agama yang tinggal dan hidup berdampingan. Ziyah bahkan sering ku titipkan pada Tika yang sedang hamil.
Bahkan rumah para kandidat pun kami masuki, niat silahturahim. Termasuk rumah pak Marhen. Satu Minggu lalu kami baru kesana. Tak ada sambutan hangat di kediaman Pak Marhen. Obrolan begitu kaku. Mas Guntur sudah niat setiap masuk rumah warga kami tidak menjelekkan calon lain, tidak juga minta di pilih. Kyai Damar yang berpesan agar niat silahturahim untuk mohon doa restu, bukan minta untuk di pilih. Biarkan warga itu memilih dengan hati bukan karena kita meminta.
Toh kiprah mas Guntur di masyarakat selama ini sudah tidak bisa dibilang kaleng-kaleng. Dari urusan kematian, pernikahan, orang susah dan beberapa urusan perut tetangga yang tak punya beras pun kadang mas Guntur mengambil dari dalam ember cat, tempat biasa aku menyimpan beras.
Hari ini tubuh ku sedikit tidak fit. Karena sudah dua malam rumah ku ramai oleh para pendukung mas Guntur yang datang untuk melek an atau begadang. Aku pagi ini melihat ke arah sembako yang kusiapkan untuk acara kenduri. Gula dan minyak tinggal sedikit. Aku pun melihat uang yang ada do tabungan.
"Ya Allah, cukup tidak untuk kenduri. Belum untuk ayam, dan sayurannya juga bumbu-bumbu." Gumam ku seraya melihat uang di rekening hanya tinggal 7 juta. Kami sudah tak punya uang lagi, mas Guntur bahkan siap hutang nanti di warung jika memang kebutuhan sembako kurang. Aku lebih memilih jalur langit dengan meminta Allah cukupkan rezeki kami.
Maka saat H-2 aku dibuat terharu. Saat uang tinggal 5 juta yang hanya cukup untuk membeli ayam untuk lauk di kenduri besok malam. Masyarakat berbondong-bondong datang ke rumah ku. Ada yang membawa gula satu kilo, ada yang membawa ubi, ada yang membawa pisang, ada yang membawa beras dan ada yang memberikan beberapa kardus minyak sayur juga air mineral yang hampir 20 dus. Namun saat ku tanya dari siapa, agar nanti bisa aku kembalikan ketika yang memberi punya hajat. Tak ada satupun yang mengaku. Sore hari bahkan datang beberapa ibu-ibu yang menggunakan sepeda motor. Mereka membawa karung. Disana isinya beras, gula, ada minyak sayur.
"Ini dari kami ibu-ibu yang mendukung kang Guntur. Kami hanya bisa urunan begini. Dan ada sebagian warga yang mungkin ndak berani kemari karena menjaga perasaan dari saudara nya yang juga nyalon tapi mereka dukung Mas Guntur." Ucap Bu Reni yang tak lain adalah ketua pengajian setiap hari minggu.
Aku menangis haru, sungguh Bantuan dari berbagai pihak ini membuktikan jika hoak yang selama ini dibangun untuk menjatuhkan figur suami ku tak berhasil. Rumah ku begitu ramai. Mas Guntur sengaja tidak mengundang siapapun. Ia hanya mengandalkan kepercayaan, bagi yang ingin datang membantu monggo, jika tidak tidak apa-apa. Tiba menjelang pilihan pun aku sedikit khawatir, karena rasa kegelisahan semakin tinggi. Rasa khawatir juga begitu. Kyai Damar dan Umi Ayu tak datang ke kediaman ku, alasan beliau demi menjaga perasaan kandidat lain.
Malam ini mas Guntur sengaja mengundang jamaah Rotib yang selama ini sudah 7 tahun ia Istikomah ikuti dimana majelis tersebut diasuh oleh Kyai Damar. Beberapa pendukung mas Guntur protes pada suamiku saat acara majelis rotib itu selesai.
"Kang, kenapa sampeyan tidak minta dukungan? Apa gunanya mengundang jamaah itu kalau sampeyan ga minta dukungan." Ucap Cak Yassin yang sedikit kecewa karena tadi tidak ada sesi mas Guntur kata sambutan dan mohon dukungannya. Hanya ada momentum seperti biasanya ditengah-tengah majelis Kyai Damar akan mengucapkan.
'Semoga semua yang hadir disini qobul hajatnya, semoga diberikan kesehatan untuk semua keluarganya, dan wabil khusus untuk qobul hajat Kang Guntur pada malam hari ini. Al Fatihah."
Bagi Cak Yassin ini momen penting karena jamaah rotib banyak yang bukan basis suaara mas Guntur. Suami ku akhirnya memberikan penjelasan.
"Kyai Damar itu termasuk ulama yang memuliakan ilmu. Dan juga majelis. Majelis rotib atau shalawatan tidak akan dijadikan Kyai Damar ajang politik. Sekelasnya DPR kemarin minta panggung di majelis ini, Kyai Damar menolaknya padahal amplop yang ditawarkan cukup menggiurkan bisa untuk bangun kamar santri baru. Tapi Kyai Damar tidak mau, apalagi saya yang notabene murid beliau. Maka saya selalu diajarkan untuk menghormati majelis ini." Ucap Mas Guntur.
Aku tahu bahwa mas Guntur memang Istikomah dalam setiap majelis yang ia ikuti, tak masalah jika hujan atau kilat. Ia akan tetap berangkat karena Kyai Damar yang selalu mengingatkan untuk Istikomah. Saat keesokan pagi adalah waktu pencoblosan. Aku mengirimkan pesan pada Umi Ayu, bertanya perihal apa yang harus aku baca, dan apakah kami harus puasa seperti kata para orang tua.
{Ndak usah puasa Mbak, njenengan sama Mas Guntur itu besok pestanya. Pokoknya shalawatan saja selama di panggung.Dan niat tetap untuk kemaslahatan warga, niat ibadah }
"Ya Allah Kang... Kok ya ndak bilang. Ganti baju dulu kang. Kandidat lain semua sudah pada necis kang. Pakai kebaya, jas... Lah Njenengan kok pakai baju itu." Protea Cak Yassin melihat baju batik couple yang kami kenakan. Aku sudah bertanya perihal baju untuk dikenakan saat duduk diatas panggung ketika hari pilihan. Namun mas Guntur justru komentar santai.
"Buat kenduri saja kita dibantu warga, loh kok mau beli baju cuma buat duduk diatas panggung. ndak usah nurut orang. Kita ya kita. Penting bersih, nyaman dan pantas." Ucap Mas Guntur.
Baju batik kami ini memang baju andalan saat pergi kondangan. Maka sangking seringnya kami pakai warna nya tak lagi terlalu cerah. Aku mencium Ziyah. Ku titipkan ia pada Tika dan Yadi, ibu masih repot mengurus bapak yang sudah 3 bulan ini struk ringan. Mak Ziyah ku titipkan pada Yadi dan istrinya.
Saat kami di panggung semua sudah duduk disana, kami datang terakhir. Kami duduk di urutan nomor 5 sesuai dengan nomor urut mas Guntur di kertas suara. Hanya shalawat yang kulantunkan dalam hati. Semua kandidat melirik mas Guntur yang dari tadi merokok juga makan camilan dan roti yang ada di meja kami. Ku lihat semua yang merupakan calon seperti puasa. Tak ada makanan dan minuman di meja mereka. Cak Yassin bahkan sempat gusar karena Mas Guntur tidak puasa di hari pencoblosan. Kami pokoknya manut Kyai Damar dan Umi Siti. Karena beliau adalah guru spiritual kami.
Dan saat selesai pencoblosan, aku dan mas Guntur juga semua kandidat diminta pulang karena akan menghitung suara. Aku dan Mas Guntur lebih memilih duduk di dalam masjid. Pikiran ku justru ke arah Ziyah. Satu hari ini ia tak bertemu aku, aku khawatir ia rewel atau mencari keberadaan ku. Di masjid kami berzikir sebanyak-banyaknya. Bukan berharap menang, namun berharap siapapun yang terpilih ia bisa membawa desa kami lebih baik lagi.
Tiba-tiba dari arah luar entah suara siapa berteriak dengan kencang.
"Kaaaaang! Positif Kang. A1 Kang!"
"Hust! Ojo mlebu. Kang Guntur jek wiridan."
{Jangan masuk, kang Guntur lagi wiridan.}
Seketika aku dan Mas Guntur saling berpelukan dan Aku mencium punggung tangannya. Bukan karena kami menang. Tapi ada rasa bahagia karena kami membuktikan guru kami yang direndahkan, guru kami yang selalu di hina. Kini membuktikan jika inilah hasil didikan Kyai Damar, Mas Guntur dan Kyai Damar yang selama masa kampanye bahkan di kata-kata sebagai hewan dari mulai celeng hingga Asu. Kini dipilih oleh 1800 warga. Mas Guntur menang mutlak.
"Maturnuwun yai..." suara tangis mas Guntur terdengar. Ini membuktikan kepada para timses yang dari kemarin sibuk minta agar mas Guntur minta bantuan dukun. Mas Guntur tetap kekeuh untuk tetap pada Kyai Damar. Walau kemarin Kyai Damar justru meminta Mas Guntur datang ke poro sepuh yang dianggap dukun. Dan menerima semua pemberian mereka. Bukan niat percaya tapi niat menghormati dan menghargai poro sesepuh desa. Namun satu berita membuat aku dan mas Guntur justru segera ke puskesmas.
"Umi Ayu pingsan kang. Kabarnya beliau ndak tidur semalaman dan lagi hamil muda." Ucap Mas Yono.
Kami tak menghiraukan hiruk pikuk dirumah. Kami pasrahkan pada timses. Kami langsung mengunjungi Umi Ayu yang dirawat di Puskesmas.