
Hampir 9 jam. perjalanan yang ditempuh oleh kami. Akhirnya travel yang dibayar oleh Bu Emi telah tiba di sebuah rumah yang akan menjadi tempat tumbuh Ziyah bersama aku dan mas Guntur.
Namun aku merasa bingung dan takut ketika tiba-tiba aku dihadapkan dengan banyak tetangga yang datang ke rumah. Saat tiba di depan rumah, Mbak Ani dan Neneng cepat memeluk tubuh ku.
"Mbak Sekar!" Teriak Neneng seraya sesenggukan menangis.
"Oala Kar... kok kamu kuat sekali... kenapa kamu bisa begitu sabar.... " Ucap Mbak Ani.
Lalu dia menoleh ke arah mas Guntur.
"Keterlaluan Kowe Tur! Ga punya hati!" umpat mbak Ani pada mas Guntur.
Mereka berdua menanyakan kabar apakah betul mas Guntur menikah lagi demi memiliki anak. Dan kini bayi itu adalah anak dari madu ku. Aku merasa sangat terkejut dan tidak percaya, karena aku tidak pernah mendengar kabar tersebut sebelumnya. Sebuah hoaks memang cepat menyebar jika tidak tabayun. Bahkan Mbak Ani dan Neneng juga menjadi korban isu yang tak tahu siapa sumbernya. Padahal mereka orang terdekat ku.
Aku mencoba untuk tetap tenang dan meminta penjelasan dari tetangga-tetangga Ku. Namun, mereka semua hanya mengulang-ulang kabar yang mereka dengar tanpa memberikan penjelasan yang jelas. Aku merasa semakin bingung dan khawatir tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini yang nyebarin siapa mbak? Mbak Ani dengar dari siapa?" Tanya ku saat sudah ku letakkan Ziyah di kamar. Mas Guntur menemani Ziyah. Suami ku tampaknya sedang ingin berduaan dengan bayi mungil kami. Tetapi aku tak mungkin mengusir mbak Ani dan Neneng, apalagi rasa ingin tahu mereka begitu besar.
Setelah berbicara dengan beberapa dua tetangga yang juga teman ku itu, Aku akhirnya mengetahui bahwa kabar tersebut adalah hoaks belaka. Hanya bermodalkan foto mas Guntur di rumah sakit tepat di depan ruang bersalin. Yang dimana ada foto Yadi yang telah di crop atau di potong.
Sekar merasa aneh kadang dengan perilaku tetangga-tetangganya yang mudah terpancing oleh kabar yang tidak jelas. Aku merasa bahwa mereka seharusnya lebih berpikir sebelum mengambil tindakan dan tidak terlalu mudah terpengaruh oleh kabar yang tidak jelas.
"Mbak Ani ini masa' ga paham-paham toh mbak kalau segala sesuatu itu harus di cari kebenarannya dulu baru percaya." Ucap Ku.
"Lah wong Guntur di depan ruang bersalin, kamu ga hamil. Istrinya Yadi juga tidak. Berarti kan istri muda nya Guntur. Aku percaya saja, wong kamu ga pernah ngeluh. Kamu itu manusia langka." Ucap Mbak Ani yang memang sering merasa kesal karena aku tak pernah mengeluh perihal apapun pada dirinya.
"Berarti harus dilestarikan mbak... " Celoteh Neneng.
Aku hanya menarik sudut bibir yang mungkin memang aku paksakan. Tubuh ku masih cukup lelah. Akhirnya saat dua teman ku itu mendapatkan jawaban yang memuaskan, aku baru bisa beristirahat. Mas Guntur cepat mengomentari kedatangan dua sahabat ku tadi.
"Ckckck... belum seminggu kita pergi. Hoaks bisa begitu liar ya Dik." Komentar mas Guntur.
Sekar belajar dari pengalaman ini bahwa penting untuk selalu memeriksa kebenaran sebuah kabar sebelum mempercayainya dan mengambil tindakan. Ia juga belajar untuk tidak terlalu mempercayai setiap kabar yang beredar tanpa ada sumber yang jelas.
"Oe... oe.... oe... " Suara tangis Ziyah begitu kencang.
Aku segera memeriksa pokoknya tapi tidak basah.
"Mungkin haus atau lapar ya mas." Ucap Ku.
Ku raih tubuh yang terbungkus kain bedong itu dalam pelukan ku. Aku coba memberikannya ASI. Baru mau aku berikan, aku teringat pesan Umi Ayu.
"Usahakan nanti untuk dalam keadaan wudhu saat memberikan ASI. Umi Laila itu dulu waktu hamil tidak akan makan dalam keadaan tanpa wudhu. Begitupun ketika beliau akan menyuapi anak-anaknya. Beliau akan mengambil wudhu ketika batal, bahkan saat menyuapi anak-anak beliau yang masih balita, Umi Laila akan mendengungkan shalawat kepada baginda Rasulullah."
Cepat aku membersihkan diri dan mengambil wudhu. Walau ternyata aku harus kecewa, ASI ku belum keluar. Maka hari ini, hari pertama Ziyah di kediaman kami. Dia masih harus minum susu formula. Aku masih mencoba bersabar, aku masih meneruskan berhari-hari agar Ziyah terbiasa memberikan rangsangan sehingga aku bisa menghasilkan ASI. Saat hari ke-tujuh, mas Guntur tampak mengusap punggung ku.
"Ya Allah jika memang hamba tidak diberikan kesempatan mengandung dan melahirkan... izinkan hamba diberikan kesempatan untuk bisa menyusui Ziyah, putri kami. Izinkan Rabb... " Munajat ku dalam akhir doa ku di sepertiga malam.
"Niatnya sudah benar Dik?" tanya Mas Guntur yang mencium aroma putus asa saat shalat malam ku cukup lama.
Aku menoleh ke arah mas Guntur.
"Coba ngerayu nya di rubah." Ucap mas Guntur.
Saat shalat shubuh, mas Guntur lebih memilih berjamaah dengan diri ku di rumah. Ia memimpin doa, dan tampaknya ini yang mas Guntur maksud dengan niat ku.
"Ya Allah, bayi mungil yang kami bawa dari pulau Jawa kemarin adalah hamba mu yang tidak berdosa. Bukankah lahirnya ia di dunia ini adalah atas keinginan Mu. Maka dari itu ya Allah jika memang setiap makhluk Mu pasti ada jaminan setiap rezekinya. Berikanlah rezeki Ziyah melalui air ASI yang keluar dari istri ku. Niat kami mengadopsi Ziyah untuk merawat umat kekasih mu, Rasulullah. Berikan kemudahan kami dalam merawat titipan mu dan umat Rasulullah ini ya Allah.... Aamiin." Ucap Mas Guntur yang juga dengan sesenggukan.
Aku menunduk cukup lama. Aku malu, aku dari kemarin terlalu memaksa. Aku seakan sombong pada Allah. Sudah meminum obat paling bagus dari dokter membuat aku lupa jika bukan obat atau Vitamin yang memberikan ASI lancar, Tetapi Allah. Betul saja ketika sudah kembali sadar bahwa aku sudah hampir melupakan Allah saat menginginkan ASI, Allah memberikan ASI yang melimpah di hari ke 15.
"Alhamdulillah mas... alhamdulilah... keluar... " Ucap ku bahagia saat ku lihat pipi Ziyah terlihat kempot bahkan sampai bibirnya basah karena derasnya ASI hari ini yang keluar.
"Meminta rezeki itu jika niatnya bukan buat kita tapi buat orang banyak, atau orang lain yang jelas umatnya Rasulullah. Maka Allah akan kasih mudah Dik. Pokoknya hati ini harus di jaga. Jangan sampai kita hanya sibuk ngurusin ibadah lahiriah tapi terlena saat hati ini dipenuhi dunia. Hati ini tempatnya iman. Iman adalah satu syarat atau kunci kita meraih surga." Ingat mas Guntur pada ku.
Aku menggenggam erat tangannya seraya satu tangan ku usap lembut kepala Ziyah saat bibir mungilnya telah terbuka dengan mata yang telah terpejam. Ia telah merasa kenyang.