
Sayup-sayup terdengar suara yang berasal dari speaker kelas, Kyai Damar sedang mengajar kitab kuning di kelas yang menyatu dengan kediaman beliau. Aku sengaja datang lebih awal karena ingin melaporkan uang yang telah keluar atau terpakai untuk pembangunan gedung santri putra. Selama proses pembangunan gedung dengan luas 6x6 tersebut, Kyai Damar lebih menyerahkan urusan untuk biaya pada Umi Ayu. Aku masih duduk di serambi menanti Umi Ayu selesai menerima setoran dari satu santriwati.
“Kagem arta ingkang ketirah sapunika tilar 1 yuta Mi, nanging jogan dereng wonten keramik. Kemungkinan dereng cekap menawi kagem sapisanan wonten keramik,” ucap ku seraya menyerahkan satu lembar kertas yang telah ditulis oleh Sekar.
{ Untuk uang yang tersisa sekarang tinggal 1 juta Mi, tetapi lantai belum di keramik. Kemungkinan belum cukup kalau untuk sekalian di keramik}
Umi Ayu melihat catatan tersebut, lalu beliau masuk ke dalam. Beberapa waktu beliau kembali lagi dengan membawa satu amplop.
“Kira-kira kalau untuk sekalian di keramik lantainya berapa ya kang?”Tanya Umi Ayu.
Aku mengatakan jika untuk kisaran keramik yang seharga 50 ribu satu kotak kemungkinan 3 jutaan cukup.
“Untuk biaya tukangnya?” Tanya Umi Ayu sedikit menautkan alisnya.
“Nanti biar bareng-bareng jamaah dan teman-teman, Mi.” Ucap ku menjawab kekhawatiran Umi Ayu akan ongkos tukang yang tidak masuk dalam anggaran jika hanya cukup untuk membeli keramik.
“Di sini tidak bisa disamakan dengan di Jawa kang, di sini dari dulu sampai sekarang, masih ada beberapa orang tua kadang kalau mau mondokin anak malah yang di lihat tempat tidurnya. Itu kenapa saya maksa harus keramik lantainya.” Ucap Umi Ayu.
Beliau sempat mengisahkan bagaimana dulu beliau pertama mondok.
“Lah saya itu dulu mondok itu tidur malah di kamar dinding gedek, terus lantainya masih semen biasa Kang… Umi Laila dan Kyai Rohim ya sama seperti kami, santri sekarang ga siap rekosoh… Kadang air untuk mandi kalau mesin nya rusak itu nderek pakai tali.” Ucap Umi Ayu seraya cepat berdiri, ku lihat Kyai Rohim baru keluar dari kelas.Kitab yang di pegang Kyai Rohim cepat di sambut oleh Umi Ayu. Aku melihat di belakang Kyai Rohim terdapat satu lelaki yang tak lain ustad Hamam. Beliau adalah seorang alumni Kali Bening yang diminta untuk membantu di pondok Kyai Damar karena beberapa bulan ini Kyai Damar dan Umi Ayu tampak kelelahan dengan bertambahnya santri juga jamaah yang bertambah antusias untuk ikut beberapa kajian yang istikomah di asuh oleh Kyai Damar dan Umi Ayu. Umi Ayu tampak keluar di ikut satu mbak santri yang membawa satu nampan dan satu santri lainnya menurunkan minuman dan makanan yang ada di nampan tersebut.
“Monggo kang,” Umi Ayu mempersilahkan Ustad Hamam untuk menikmati apa yang telah di sajikan.
Beberapa waktu kami berbicara biasa, tampak Ustad Hamam menyampaikan sesuatu kepada Kyai Damar.
“Yi, kulo mboten sagah bertahan wonten ngriki. Kulo wonten tawinan mulang wonten jawi. Kulo mboten sagah bilih kedah bertahan wonten ngriki, mulang lan sinambi menyadap getah karet.” Ucap Ustad Hamam hati-hati. Beliau tampak menundukkan kepalanya.
{Kyai saya tidak bisa bertahan disini. Saya ada tawaran mengajar di Jawa. Saya tidak sanggup bertahan di sini. Mengajar sambil menyadap karet.}
“Ya menawi ngabdi kados puniki kang, kulo namung kuwawi rencangi sawulan semriku. menawi ajeng langkung, badhe mboten ajeng nggih saged nglangkungi cara bertani.” Jawab Kyai Damar seraya melirik ke arah Umi Ayu.
{Ya kalau mengabdi begini ini Kang, saya Cuma mampu bantu sebulan segitu. Kalau mau lebih mau ndak mau ya bisa melalui cara bertani.}
Ustad Hamam ternyata tak bisa bertahan lebih lama. Hanya tiga bulan ia bertahan di tempat ini. Saat beliau undur diri untuk mengemasi barang. Umi Ayu yang merasa ingin menyampaikan unek-uneknya sempat membuat kedua pupil Kyai Damar membesar.
“Lah santri sekarang ini kok ya begitu, apa-apa mau nya enak, nyaman dan instan. Saya dulu dan Abi nya Akbar dulu bahkan bantu-bantu wali santri. Sampai sekarang kami ya mencukupi kebutuhan anak-anak dari hasil jual barang di toko bukan dari anak-anak santri.” Ucap Umi Ayu berkeluh kesah.
“Et.. et.. terusno…” Ingat Kyai Damar.
“Loh memang nyatanya. Sekarang ini yang dari pemerintah kabupaten sudah di alihkan ke Kang Hamam jika turun bantuannya, masa yang buat anak-anak harus dialihkan. Kang Hamam itu ndak percaya jika sebagian santri yang disini ada yang hanya di tinggal tok sama orang tuanya. Saya terus terang lebih baik buat biaya anak-anak itu daripada buat nambah tenaga pengajar, pesantren ini belum bisa disamakan dengna yang sudah besar, kita masih merintis, syukur ada wali santri yang ingin memondokkan anaknya mengingat adat dan budaya di sini sangat jauh jika dibandingkan di Jawa, Ya mending tak nggeh biaya anak-anak itu Kang.” Ucap Umi Ayu.
“Wes seng sabar Kang… Anggep wae ini garwa ne kulo lagi buang sampah.” Ucap Kyai Damar yang geleng-geleng karena istrinya tampak kesal karena Ustad Hamam ternyata ingin mendapatkan penghasilan yang pasti setiap bulannya, lebih mirisnya lagi Ustad Hamam membandingkan pesantren yang masih merintis dengan semua keterbatasan dengan pondok pesantren yang sudah memiliki yayasan serta sumber dana yang jelas. Aku hanya menunduk tak berani ikut tertawa saat suara Kyai Damar setengah terkekeh mendengar istrinya bernostalgia.
“Dulu Umi Laila ndak pernah sambat siapa-siapa Kang, lah saya ini ndak bisa seperti beliau. Saya ini masih enak ada Njenengan. Apa-apa ya saya kok merasa sering merepotkan kang Guntur dan jamaah lainnya.” Ucap Umi Ayu.
“Mboten Mi, Cuma itu yang bisa saya lakukan. Dulu waktu ngaji lebih senang di dapur bantu-bantu masak. Kalau ngaji kitab pasti ndak mudeng Mi.” Ucap ku pelan.
Aku memang sering di hubungi oleh Kyai Damar, jika pondok pesantren ini sudah besar mungkin ia punya abdi ndalem atau lurah pondok. Aku kadang kalau lagi ada kegiatan akan mencari kelapa, atau tiga bulan sekali aku akan mengantar kayu bakar untuk masak di dapur pondok. Atau ketika tengah malam ada tamu kyai yang tiba-tiba datang, Umi Ayu suka memberikan kabar untuk meminta bantuan untuk menjamu tamu pondok pesantren ini. Saat semua sudah ku laporkan masalah pembangunan yang tinggal tahap finishing, aku pamit undur diri. Namun saat akan pulang, motor ku tak mau di engkol. Aku pun terpaksa mendorong motor ku. Namun saat aku melewati samping rumah seorang sesepuh di desa ku, suara lantang terdengar begitu jelas dan nyaring. Geraham ku seketika mengeras, dada ku bergemuruh.
“Pokoknya, saya harus menang. Kalau saya menang, saya akan usir Damar dari pondok pesantren itu. Itu tanah leluhur saya, semenjak Damar itu punya pondok pesantren sudah semakin sombong dia! Damar dan Istrinya itu Celeng! A S U!” Teriak lelaki itu dengan lantang.
‘Astaghfirullah….tega betul orang ini…’ batin ku meronta ketika Guru ku di caci seperti itu. Murid mana yang tak meradang saat orang yang telah membimbingnya, memberikan ilmunya juga orang yang mengabdikan diri untuk ilmu di katakan layaknya hewan. Aku sudah akan masuk, menerobos rumah tersebut. Satu tangan di pundak ku serta suara khas lelaki yang aku kenal menahan langkah kaki ku.
“Ssss… istighfar kang… Jangan turuti amarah di hati.”
(ada apa dan kenapa, tenang... tunggu kelanjutan nya)