The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 22 Tak terduga (POV Guntur)



Guntur segera berlari ke arah bengkel tempat ia menambal ban mobil tadi siang. Ia pun dengan tergesa-gesa ke arah meja kasir bengkel.


"Bang, saya tadi ninggalin ponsel saya disini." Ucap Ku.


"Oh.. warna apa ponselnya? Tipe nya?" Tanya pemilik bengkel.


Aku mengatakan merk ponsel pada nya. Dan ia membuka laci meja. Ternyata ia menyimpan ponsel ku.


"Saya simpan bang. Takut malah diambil orang." Jawab pemilik bengkel. Aku pun akhirnya kembali ke dalam bis. Aku mengikuti perjalanan bis tersebut. Ia mengambil paket 2 sepeda motor. Ia pun membantu ku membuka bagian ban motor serta body motor tersebut. Lalu ia membantu ku memasukan ke dalam bagasi bis. Setelah semua nya tersimpan, kami melanjutkan perjalanan. Kami pun segera berada di kapal. Aku menghubungi Sekar saat berada di Kapal. Benar dugaan ku. Sekar menangis saat aku menghubungi nya lewat ambungan ponsel.


"Astaghfirullah.... Mas. Aku khawatir dari kemarin kok ga aktif-aktif." Ucapnya khawatir.


"Mobilnya rusak dik." Ucap ku.


Kami pun akhirnya mengganti sambungan melalui by video. Sekar melihat aku yang tampak menatap lait lepas. Saat kapal sudah mau menepi, aku segera kembali ke bis.


"Dik, mas ke bis dulu." ucap ku seraya menghabiskan satu mie Cup yang ku nikmati.


"Iya. Hati-hati ya mas." Ucap nya pelan.


Ah aku begitu merindukan Sekar. Baru satu malam dua hari. Tapi rasanya aku sudah berhari-hari tanpa dirinya. Mungkin karena kami belum pernah LDR. Saat aku telah berada di bis. Tiba-tiba ada seorang penjual sandal mendekat ke arah bis kami.


"Bos, saya boleh tidak ikut. Sampai Tebing tinggi saja." Ucapnya


"Kalau mau 250 ribu." Ucap Pak sopir.


Lelaki itu pun mengiyakan. Ia akhirnya naik ke bis kami dengan 3 karung sandal. Perjalanan kami cukup cepat dari sebelumnya. Sungguh rezeki tak ada yang tahu. Aku yang tadi sempat khawatir makan apa. Namun justru saat makan sore hari bersama sopir bis. Aku duduk di dalam ruangan yang tampak hanya ada beberapa sopir yang duduk disana. Makan sepuasnya, bahkan kami ga membayar.


"Tak tidur bang?" Tanya ku.


"Tadi sudah pas kamu nganti ban. Kau kalau mau tidur. Tidurlah." Ucapnya. Maka aku pun menutup wajah ku dengan satu kain agar tak terkena sinar lampu dan bisa tidur nyenyak, Maka aku terbangun saat tengah malam, Lagi-lagi pak sopir membangunkan aku.


"Ayo Tur.... ada penumpang" Ucapnya saat akut masih sibuk mengucek mata karena masih menahan kantuk.


Ternyata kami berhenti di satu loket dan disana ada 5 penumpang yang ingin ke Palembang. Pak Sopir pun mengangkut 5 orang tersebut. Ia tampak ceria sekali bahkan tampak bersiul berkali-kali. Saat tiba di satu loke yang hampir tiba di dekat kabupaten ku, ia pun mengajak aku duduk di satu rumah makan. Ia memberikan amplop.


"Apa ini bang?" Tanya ku penasaran.


"Udah ambil. Jatah buat kamu. Aku berasa dapat rezeki nomplok karena sama kamu. Aku baru akan membukanya.


" Jangan di buka di sini. Nanti dirumah, buat kejutan istri." Ucapnya.


Aku pun mengangguk polos. Ku simpan amplop itu di dompet. Kami melanjutkan perjalanan. Saat tiba di loket kut, pan Sopir menepuk pundak ku.


"Terimakasih untuk pengalaman indahnya." Ucap nya.


Aku pun bingung maksudnya. Dan yang lebih membuat aku merasakan kerdilnya aku di dunia ini yang khawatir perkara rezeki sedang itu ada Allah yang mengatur asal kita mau berikhtiar menjemputnya. Saat tiba dirumah, maksud hati ingin merendam pakaian dan ku lirik amplop dari Sopir tadi. Lalu aku membukanya.


"Alhamdulilah.... Astaghfirullah..... Masyaallah.... " Ucap ku ketika berada di kamar ku.


Terdapat banyak uang lembaran seratus yang ku hitung ada sekitar 20 lembar.