
Sore hari, Sekar sudah sibuk di dapur. Ia dan ibu mertua ku menyiapkan bontot untuk perjalanan ku malam ini. Karena kampung halaman Sekar berada di selatan pulau Jawa. Aku harus naik Kereta Api Kahuripan dengan rute Kiaracondong-Lempuyangan. Sebelum naik bis ke arah Sumatera Selatan.
Saat usai makan malam, ayah mertua ku pun merasa khawatir jika Sekar tak ikut pulang bersama ku.
"Apa tidak jadi perbincangan nanti di desa mu, Nak. Jika Sekar tidak ikut pulang?" Tanya bapak padaku.
"Tidak Pak, saya tidak tahu kapan lagi bisa mudik. Mumpung belum punya momongan, Sekar masih bebas kesana kemari. Saya juga kebetulan bulan depan mau datang ke Haulnya Abah yai di pondok pesantren saya." Ucap ku.
Ayah mertua ku pun menepuk punggung ku. Aku begitu di hargai di keluarga Sekar. Sepertinya mereka tidak pernah tahu jika anak mereka di rantau begitu hebat dalam menaklukkan badai yang menerjang biduk rumah tangga kami. Maka aku si ladeni bak Raja yang baru pulang berperang. Untuk membantu bapak memberi makan kambing saja, Ibu mertua ku cepat berteriak kepada suaminya. Maka hampir 3 minggu aku di rumah mertua ku, otot-otot ku terasa kaku karena tak digunakan seperti biasanya.
Saat akan naik mobil travel untuk menuju stasiun, Sekar melebarkan kedu pupil matanya. Aku menyelipkan satu amplop ke arah ibu mertua ku. Tidak banyak, sekitar satu juta lima ratus. Aku hanya menyisakan uang tiga ratus ribu. Namun tidak termasuk tiket. Karena adik Sekar sudah memesan online tiket bis menuju pulau Sumatera.
"Apa ini Gun.... " Ucap Ibu mertua ku, disini aku biasa disapa Gun berbeda di desa. Aku biasa di sapa Tur.
"Wonten sakedhik rezeki damel ibu lan bapak, pangapunten, dereng saged bektos ing bapak lan ibu." Ucap ku lalu mencium punggung tangan kedua mertua ku.
{Ada sedikit rezeki buat ibu dan bapak, maaf belum bisa berbakti pada Bapak dan Ibu." }
Ibu sempat menolak, namun karena aku tahan tangan ibu, akhirnya ibu mertua menerima pemberian ku karena satu kedipan mata dari ayah mertua. Ah, aku beruntung sekali mendapatkan mertua yang pengertian. Pantas anaknya bisa begitu tangguh selama ku bawa jauh dari keluarga. Orang tuanya sukses mendidik anak mereka, karena aku mampu terlena dengan putri mereka yang ternyata di tetangga masih melekat panggilan Si Reng. Namun istri ku itu biasa saja menanggapi beberapa ibu-ibu yang memanggil nya dengan sebutan si Reng. Ia tak pusing akan penilaian orang lain. Toh yang penting bagaimana ia dihadapan suami, orang tua untuk menggapai ridho Allah. Apalah arti sebuah panggilan. Asal tak menyangkut akidah.
Saat Sekar mencium punggung tangan ku, ku lihat ada yang ingin ia tanyakan. Aku cepat mengecup dahinya.
"Nanti kalau sudah tiba di stasiun telepon ya mas." Ucapnya pada ku. Aku pun mengangguk pelan.
Baru saja 10 menit aku berada di travel, Sekar mengirim pesan.
"Triiing"
{Mas, tadi di kasih sama ibu ndak semua kan?}
Aku tersenyum membaca pesan darinya. Ia sudah mewanti-wanti, cukup beri 500 ribu saja. Jadi yang satu juta 500 bisa untuk aku selama dijalan dan pulang. Karena saat pergi, Sekar memang hanya meninggalkan beras beberapa kilo.
[Mas amplop i satu juta. Insyaallah cukup 500 ribu sampai rumah.]
{Nanti kalau kenapa-kenapa di jalan bagaimana? belum nanti di stasiun itu biasanya tes CPR lo mas... 😰}
[Wes toh. Percaya, Allah ga mungkin ga nolongin mas selamat sampai rumah. Wes bantu doa, shalawat suami nya. Ndak usah nangis]
{Tak pinjem uang adik ku ya mas, tak transfer ke rekening mas.}
[Wes ndak usah. Sudah, istirahat saja. Mas sudah sampai Stasiun.]
{😘😘😘😘 doa ku selalu untuk suami ter ter ter the best.... Hati-hati dijalan ya mas.}
Aku tersenyum melihat emot terakhir yang ia kirimkan. Aku yakin saat ini ia masih berlinang air mata. Ah, jika dia bisa berjuang pol pol an untuk keluarga ku, kenapa aku tak bisa sedikit rekosoh cuma buat ninggalin sedikit rezeki. Aku bahkan hanya saat hari raya bisa mengirimkan sedikit rezeki ke mertua. Aku sebenarnya ingin setiap bulan walau sedikit, tapi alasan Sekar. 'Adil itu bukan sama rata. Tapi yang mana yang paling membutuhkan. Bapak ku masih sehat, masih bisa kerja. Jadi biar pas lebaran saja'. Walau nyatanya ialah yang pandai mengatur keuangan kami. Sehingga setiap lebaran kami mampu mengirim uang atau baju lebaran untuk kedua mertua ku.
Setibanya di Stasiun Lempuyangan, aku tes antigen yang dilayani oleh pihak Kereta Api Indonesia untuk para pelanggannya. Ternyata harganya hanya Rp. 30.000 rupiah. Tiket kereta pun hanya 80 ribu rupiah. Maka aku masih menyisakan uang 390 ribu rupiah di dompet butut ku.
Alhamdulillah lancar, aku juga dinyatakan negatif. Dengan semua dokumen yang kubawa. Suasana tempat tes dan stasiun tidak terlalu ramai. Aku tak bisa tidur nyenyak kali ini. Karena tidak ada Sekar di sisi ku. Maka aku hanya bisa tidur-tidur ayam sepanjang perjalanan. Ku lihat orang di sebelah ku, asyik menonton di layar ponsel mereka. Aku hanya menikmati kopi yang di bawakan Sekar dalam tumbler. Namun dalam hati aku terus bershalawat untuk menemani perjalanan ku. Shalawat thibbil Qulub yang begitu aku sukai dari semasa di pondok. Salah satu amalan ku setelah selesai maghrib.
Jika orang-orang menikmati aplikasi di ponsel mereka. Tidak dengan ponsel S a m s u n g J1 milik ku. Hanya ada aplikasi WA dan Facebook. Tak ada youtube, tak ada tiktok, tak ada instagram. Aku juga tak aktif di media sosial. Maka aku lebih suka mendengar ceramah-ceramah ulama yang aku kagumi melalui Mp3 yang aku masukan ke ponsel. Itupun kemarin aku minta yang terbaru di laptop Yadi.
Aku tidak tertidur sama sekali selama malam. Khawatir kalau harus wudhu sedangkan waktu shubuh aku masih di kereta. Namun namanya perjalanan, aku buang angin. Beruntung punya istri pandai dalam ilmu agama. Ia menyiapkan aku beberapa botol air mineral besar. Sehingga aku bisa sholat di kereta. Awalnya aku bilang padanya untuk nanti tayamum, siapkan debu saja, masukan ke dalam kertas. Namun Sekar justru berpendapat lain.
"Lah wong masih ada air, kok tayamum. Nanti khawatir tidak bisa shalat shubuh." Ucap Sekar seraya memasukkan botol air mineral itu kedalam satu tas jinjing. Akhirnya aku pun bisa shalat shubuh tepat waktu. Walau masih di perjalanan.
Tepat pukul 6 pagi, aku tiba di Stasiun Kiaracondong Bandung. Aku pun naik ojek biasa bukan ojek online. Aku hanya berpikiran untuk mencari tempat di halte Bis. Entah kenapa aku iseng membuat foto halte Bis yang aku datangi saat ini sebagai status W A ku. Aku termasuk orang yang jarang update status wa atau Facebook. Mungkin karena ini pertama aku berjauhan dari Sekar, setidaknya ia juga akan melihat status ku. Karena pesan ku masih belum di baca. Jam seperti ini, pasti istriku sedang duduk diatas sajadahnya. Ia akan shalat Dhuha dan waktu nya nderes atau membaca Al Qur'an minimal 4 lembar setiap selesai shalat Dhuha. Ia bahkan meninggalkan ijazah yang ia peroleh sebagai penghafal Al-Qur'an pada kedua orang tuanya. Maka aku lebih memilih mengirimkan pesan pada Sekar.
Namun saat aku sedang menikmati sarapan di sepertiga gang, dekat loket bis. Ada pesan masuk ke ponsel ku.
"Triiiing"
Aku membuka pesan itu.