
Ba’da Isya Umi Ayu datang diantar oleh Kyai Damar, beliau tidak mampir kerumah. Karena harus menghadiri rutinan undangan di desa sebelah. Mas Guntur kebetulan diundang pembentukan panitia untuk acara di rumah tetangga. Aku sudah membeli buah salak, jeruk juga menggoreng tahu isi. Satu makanan kesukaan Umi Ayu. Tampak Umi Ayu membawa satu bungkusan, ku bawa kedalam apa yang di bawa oleh Umi Ayu. Entah apa isinya. Namun sesuatu yang bisa ku pastikan itu ada gulanya. Umi Ayu berbicara dengan ku tidak menggunakan bahasa, beliau menggunakan bahasa Indonesia.
“Jadi begini mbak, saya ini bingung besok itu inginnya saya tidak merepotkan jamaah.. kebetulan kemarin sudah begitu banyak kegiatan. Khawatir jamaah terbebani jika harus kembali di libatkan…” Ucap Umi Ayu.
“Jadi maksud Umi pakai iuran yang dari santri saja Mi?” Tanya ku pada Umi Ayu, beliau mengamini dan meraih satu buah salak. Tampak Umi Ayu begitu hati-hati membersihkan kulit salak tersebut.
Umi Ayu meminta satu kertas dan Pena, beliau pun mengajak diriku untuk kira-kira masak acara wisudah tersebut yang kemungkinan akan hadir kurang lebih 1500 dari semua.
“Ini 1.500 termasuk orang tua santri Mi?” Tanya ku,
“Iya, tapi nanti mungkin ketambahan poro Kyai, ini nanti kita sajikan ayam ingkung dengan nasi kebuli.” Ucap Umi Ayu.
Aku pun menjumlah uang yang dibutuhkan, ku hitung hampir sepuluh juta lebih.
“Ya ambil genap nya jadi 13 juta mi…” Ucap ku seraya menyerahkan kertas yang sudah penuh dengan daftar belanjaan dan keperluan untuk acara wisudah perdana di pondok Umi Ayu.
Umi Ayu membaca catatan tersebut, lalu beliau mengusap lengan ku.
“Masyaallah, njenengan ini biasa bantu di ndalem ya Mbak? Yakin saya kalau njenengan Abdi ndalemnya Gus Furqon…” Ucap Umi Ayu.
Beliau menceritakan bagaiamana dulu masa kecil Gus Furqon. Seketika Umi Ayu menyebut nama sahabat karib ku ketika di ndalem Umi Siti.
“Berarti kamu kenal dengan Zhafirah, mbak?” Tanya Umi Ayu.
“Inggih Umi, kulo kenal.” Jawab ku.
Aku merasa senang sekali saat Umi Ayu membasuh tangannya dan mengambil satu tahu isi lalu ia colet dengan saus yang aku siapkan di dekat beliau. Setelah habis dua buah tahu isi, beliau tampak menikmati air jahe yang ku beri susu.
“Hem, ini pasti jahenya di bakar dulu ya mbak?” Ucap beliau seraya tersenyum.
“Inggih umi,” Jawab ku.
Aku biasa membakar dulu jahe merah yang akan ku rebus agar terasa lebih pedas. Umi Ayu kemudian mengatakan jika sore tadi beliau menonton video kiriman dari para Alumni. Ada Zhafirah dan suaminya juga Ayra Khairunnisa. Penulis novel yang berjudul sama dengan dirinya.
“Ternyata Ning Ayra itu ketika menulis novel tersebut mendapat kritikan dari penggemar novel tersebut, karena kenapa perempuan beriman, baik akhlaknya justru dapat suami seperti Bram. Dan jawaban Ning Ayra tentang kisah putri pertama Rasulullah membuat penggemar novel itu justru standing aplause.” Ucap Umi Ayu.
Kedua alis ku terpaut dan dahi ku berkerut. Aku mengingat nama putri pertama Rasulullah.
“Sayyidah Zainab, Mi?” Tanya ku penasaran
“Ya. Ning Ayra mengisahkan sebuah kisah yang begitu indah. Saya bahkan tadi kembali teringat saat dulu Umi Laila menceritakan kisah ini. Ada banyak yang diajarkan di kisah ini.” Ucap Umi Ayu dengan mata berbinar, entah kenapa tak ada keberanian bagi ku menatap mata Umi Ayu.
“Kisah rumah tangga Mi?” Tanya ku lagi.
“Iya kisah Sayyidah Zainab dengan Abul Ash putra Sayyidah Halah, adiknya Sayyidah Khadijah.” Jawab Umi Ayu.
Aku terpaku sejenak, Ah aku baru ingat jika Sayyidah Zainab menikah dengan sepupunya.
Sebuah kisah cinta Putri Sulung Rasulullah Sayyidah Zainab dengan Abul Ash putra Sayyidah Halah adik Sayyidah Khodijah istri Rasulullah. Kisah dimana Rasulullah menitikkan air mata kala melihat kalung peninggalan istri nya, Sayyidah Khadijah. Namun aku bingung apa yang dimaksud dengan banyak pelajaran. Apakah hubungannya dengan Bram dan Ayra dalam novel itu.
“Kisah merangkum banyak hal, dari adab, tanggung jawab,aqidah, saling memahami sesama istri, bentuk cinta istri pada suami,Ketawadhuan, keadilan pemimpin, dan tepat janji hingga cinta sejati…” Ucap Umi Ayu dengan suara yang sudah terdengar lirih, air mata beliau sudah hampir menetes jika saja beliau tidak menyunggingkan senyumnya kearah ku.
Aku mencerna apa yang dimaksud Umi Ayu, aku hampir banyak lupa banyak kisah karena aku memang tak lagi membuka kitab-kitab selama aku menikah, satu-satunya kitab yang masih aku buka yaitu kitab suci Al Quran.
“Kisah yang mana ya Umi?” Tanya ku, Umi Ayu membenarkan posisi duduk beliau. Ia bangun dari sandarannya.
“Kisah pernikahan Sayyidah Zainab dengan Abu Ash, sebuah adab di lakukan oleh sepupu Zainab dengan melamar putri sulungnya pada Rasulullah, di zaman saat Nabi muhammad belum diangkat menjadi Rasul. Dan Rasulullah bertanggungjawab tapi tidak langsung menerima lamaran anak saudara Khadijah itu, tetapi Rasulullah bertanya terlebih dahulu pada Sayyidah Zainab.” Jelas Umi Ayu.
Aku seketika ingat kisah itu, ya kisah yang sempat aku dengar di kisahkan oleh Umi Laila di pengajian khusus kami santriwati. Dimana saat Rasulullah menyampaikan lamaran dari Abu Ash Sayyidah Zainab bahkan tersipu-sipu malu tanda beliau menerima lamaran itu.
“Mereka akhirnya menikah dan memiliki anak lelaki bernama Ali dan yang perempuan bernama Umamah, betulkan Umi?” Tanya ku.
“Katanya paketnya habis, apakah Umi Siti pernah mengisahkan kisah ini?” Tanya Umi Ayu pada ku.
“Sepertinya Umi Laila kalau saya tidak salah Mi,” Jawab ku.
Aku kembali mengingat kisah yang begitu banyak makna, makna arti kesabaran seorang istri dan keimanan pada Rasulullah namun tetap menjadi istri dari Abu Ash lelaki yang belum beriman pada RAsulullah saat Sayyidah Zainab menyatakan bahwa Ia beriman pada Ayahnya.
“Tapi saya sama-samar dengan kisah ini, saya hampir lupa mi…” Ucap ku,
“Kisah ini sebenarnya bermula saat Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi. Sedangkan suami Sayyidah Khadijah sedang bepergian. Zaman dulu mana bisa tahu kabar seperti sekarang zaman serba canggih, sehingga ketika pulang, Sayyidah Zainab mengatakan pada suaminya bahwa ia telah beriman pada Nabi Muhammad. Disini ada permasalahan tentang aqidah.” UCap Umi Ayu.
“Kalau tidak salah Abu Ash keberatan kenapa Sayyidah Zainab tidak mengabari beliau dulu, ya Mi?” Tanya ku.
Aku mulai mengingat saat itu memang Sayyidah Khodijah,Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib pun telah beriman pada Nabi Muhammad.
“Disini, Sayyidah Zainab begitu elegan dalam menunjukkan bahwa suami istri itu harus saling memahami. Kamu ingat jawaban Sayyidah Zainab saat suaminya memberikan alasan bahwa ia tidak mungkin mengkhianati kaumnya dan ia juga percaya bahwa ayah mertuanya tak mungkin berbohong.”
“Bila aku tidak menerima alasanmu, siapa lagi orang yang mau menerima alasanmu?. Aku adalah istrimu. Aku akan berusaha menolong mu untuk jalan yang benar dengan semua kemampuanku….” Ucap ku.
Hati ku terasa sesak, bagaimana tidak. Aku merasakan apa yang Sayyidah Zainab rasakan kala itu. Beliau harus mempertahankan keimanannya tetapi ia juga harus memahami suaminya. Suaminya belum mendapatkan hidayah, Sayyidah Zainab bahkan membuktikan kesabaran dan cintanya pada sang suami selama 20 tahun. Abul Ash masih terus dalam kekufurannya. Bahkan saat Rasulullah akan hijrah ke Madinah, Sayyidah Zainab berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau mengizinkan diriku untuk tetap bersama suamiku di Makkah?’. Sebuah bentuk rasa cinta istri pada suaminya, ia tak mungkin meninggalkan suaminya. Sedang ia sudah berjanji akan bersabar dan membimbing suaminya, tanpa harus menyakiti hati ayahnya atau orang tua beliau.
“Dan saya pada bagian saat perang Badar, ketika Abu Ash ikut berperang di pihak orang-orang kafir Quraisy … saya merinding disini… bayangin ga Mbak Sekar, suami kita perang lawan ayah kita… kita pasti bingung bukan main pasti….” Ucap Umi Ayu sudah terisak, ah begitu lembut hati guru ku ini. Air matanya akan cepat turun hanya karena kisah-kisah yang memberikan banyak pelajaran umat di masa kini yang masih diberikan begitu banyak kemudahan.
Ya, saat paling mengharukan kala Abu Ash menjadi tawanan perang. Kabar itu didengar oleh Sayyidah Zainab. Beliau mendengar jika kemenangan di raih kaum muslimin. Sayyidah Zainab bersujud syukur pada Allah atas kemenangan ayahnya. NAmun ketika mendengar kabar bahwa suaminya menjadi tahanan perang, satu yang membuat aku pun ikut meneteskan air mata. Cinta beliau pada suami, padahal sang suami baru saja berperang.
“Saya malah merasa terharu di bagian ketika Sayyidah Zainab memberikan tebusan untuk suaminya…” Air mata ku ikut jatuh mengalir dari sudut mata.
Siapa yang tidak tahu bahwa putri sulung Rasulullah itu tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk dijadikan sebagai tebusan kecuali kalung yang dulu diberikan oleh Khodijah sang ibunda. Beliau melepas kalung itu dan menitipkannya pada saudara kandung Abu Ash agar diberikan kepada Rasulullah sebagai tebusan suaminya. Rasulullah bahkan terkejut saat melihat tebusan perang yang berupa kalung Sayyidah Khodijah. Beliau bertanya itu tebusan untuk siapa, dan ternyata tebusan itu untuk Abu Ash.
“RAsulullah bahkan menangis dan bersabda ‘Ini adalah kalung Khodijah’….” Ucap Umi Ayu. Kami sama-sama menunduk, meresapi apa yang dirasakan oleh anak, ayah dalam situasi tersebut. NAmun aku lebih meresapi apa yang Sayyidah Zainab rasakan. Apakah aku bisa bertahan disana? Mungkin aku sudah merengek dan memohon pada ayah ku, tapi Sayyidah Zainab tidak melakukan itu, beliau justru melepaskan satu-satunya benda berharga yang beliau miliki untuk menebus suaminya, ah dada ku sesak sekali, aku belum ada apa-apanya jika dibandingkan kisah putri-putri baginda Rasulullah dalam menjalani kehidupan sebagai seorang istri.
“Rasulullah menunjukkan ketawadhuan beliau sebagai pemimpin, Rasulullah tidak langsung melepaskan menantunya, padahal jika zaman sekarang bisa saja dengan kekuasaannya Rasul tak perlu persetujuan para sahabat. Hingga Rasulullah bertanya apakah boleh kalung Khodijah dikembalikan kepada Sayyidah Zainab. Para sahabat memiliki adab pada pemimpin, mereka mengizinkan. Bahkan dalam keadaan menantu beliau yang masih kafir, RAsulullah menyerahkan kalung tersebut untuk diserahkan kepada putrinya, dan bersabda ‘Katakanlah kepada Zainab: Janganlah kamu hilangkan kalung Khodijah ini’.. Sungguh indah akhlak Rasulullah ini… “ Ucap Umi Siti yang sesekali mengusap pipinya,
Jika mertua sekarang melihat anak susah karena pasangannya, mungkin sudah di hujat habis-habisan apalagi mau percaya. Tapi tidak dengan manusia paling mulia yang harus diimani bahwa beliau adalah Nabi terkahir, Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.
“Tetapi Abu Ash seorang prajurit yang baik karena menepati janjinya, saat Rasulullah meminta agar mengembalikan Zainab kepada beliau karena Allah memerintahkan untuk memisahkan wanita muslimah dari lelaki kafir… dan Abu Ash menepati janjinya…” Ucap ku.
Saat Abu Ash kembali ke Makkah, Sayyidah Zainab yang telah menunggunya di pintu kota Makkah, namun Abu Ash berkata kepada Sayyidah Zainab bahwa ia akan pergi. Namun saat Sayyidah Zainab bertanya akan pergi kemana, Abu Ash menjawab bahwa bukan ia yang akan pergi tetapi Sayyidah Zainab yang akan kembali kepada ayahnya. Beliau lelaki sejati yang menepati janjinya.
“Cinta kembali berperan ya Mi, Sayyidah Zainab bahkan masih bertanya pada suaminya apakah sang suami akan menemani dirinya dan masuk islam. Namun sang suami masih belum mendapatkan hidayah. Kembali karena ketaatan kepada Allah bahwa wanita muslimah tak boleh bersama lelaki kafir, maka Sayyidah Zainab pergi bersama putra dan putrinya ke Madinah.” UCap ku.
“Ya, dan sebuah keberanian kembali ditunjukkan oleh Abu ash saat pergi berdagang ke Syam bersama kafilah, saat melewati Madinah, rombongan mereka di hadang oleh sahabat. Namun Abu Ash meminta izin untuk menemui Zainab, cinta masih mengharapkan bersatu. Sayyidah Zainab bertanya apakah suaminya datang sebagai orang islam? Namun ternyata masih belum dan satu kalimat Sayyidah Zainab dalam ia bersungguh-sungguh untuk kebaikan lelaki. Beliau masih bertanya ‘maukah engkau masuk islam?’.. masyaallah…. Indah sekali kisah ini..” Ucap Umi Ayu.
Sayyidah Zainab bahkan mengatakan pada para sahabat jika ia melindungi Abu Ash sebagai sepupunya dan ayah dari anak-anaknya. Bahkan Rasulullah masih menerapkan sesuatu berbentuk musyawarah dimana beliau masih bertanya pada para sahabat Saat rasulullah bertanya jika membiarkan Abu Ash kembali ke kaumnya dan mengembalikan hartanya, namun Rasulullah tidak apa-apa jika para sahabat keberatan. Tetapi Rasulullah tetap mengingatkan pada putrinya bahwa Sayyidah Zainab boleh melindungi ayah dari anak-anaknya tetapi Abu Ash tak boleh mendekati dirinya karena tidak halal untuk putrinya. Sebuah bentuk kasih sayang tanpa melanggar syariat. Dan Sayyidah Zainab pun mentaati perintah ayahnya yang juga Nabi.
“Dan cinta dari seorang istri masih ada saat Sayyidah Zainab bertanya apakah Abu Ah akan masuk islam dan tinggal disana bersama beliau atau perpisahan terasa berat untuk suaminya,” UCap ku lirih. Kini aku ingat kisah ini. Kisah yang merangkum banyak makna.
“Cinta dan harapan serta kesabaran Sayyidah zainab berbuah manis saat suaminya kembali ke Makkah, beliau berkata Asyhadu An Laa Ilaaha Illallohu Wa-Asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh…. Dan beliau kembali ke madina bertemu Rasulullah dan meminta izin agar kembali kepada Sayyidah Zainab. Sungguh mereka memiliki sama-sama cinta yang dalam…” UCap Umi Ayu.
“Namun satu tahun setelah kejadian itu, Sayyidah Zainab meninggal dunia… “ Ucap Ku lirih.
“Dan Abul Ash berkata, ‘Wahai Rasulullah, sekarang aku tidak mampu bertahan hidup tanpa didampingi oleh Zainab’.”Imbuh Umi Ayu.
Ya, satu tahun kemudian Abul Ash pun wafat menyusul Sayyidah Zainab.
“Dan Mbah Maimoen sering menyebutkan. 'نعم الرجل أبو العاص تزوج بنتي ولم يحب غيرها “Imbuh Umi Ayu lagi.
“Ya Allah....” UCap ku dengan linangan air mata.