
Selimut cukup tebal menutupi tubuh ku, semalam aku pulang larut malam. Jam satu malam aku baru kembali dari rumah. Aku ke rumah Pak Lek Gio. Memberikan wejangan kepada Lilis namun karena hujan aku harus menunggu reda untuk pulang. Beruntung Sekar tidak ikut. Ia memilih dirumah, karena menyetrika pakaian dan sarung yang akan aku bawa ke Jawa.
Aku kehujanan saat pulang, namun Sekar justru tertidur di ruang depan saat menunggu ku pulang. Ia bahkan masih menggunakan mukenah. Mungkin ia nderes seraya menanti kepulangan ku. Setiap hari aku semakin menyayangi dan mencintai Sekar. Bagaimana tidak, ia bukan hanya mencintai aku. Tetapi juga pencipta rasa cinta. Seperti malam ini, aku membuka kedua mataku. Ku lirik jam dinding yang tergantung di atas pintu masuk kamar. Masih pukul 4 dini hari. Istri ku itu selalu menyelesaikan ibadahnya lebih dulu baru membangunkan aku saat ia kira dirinya telah selesai. Kali ini karena hujan mulai reda, aku merasakan panas karena berada dalam selimut tebal.
Sayup-sayup terdengar doa dari Sekar yang kini sedang menengadahkan tangannya aku melihat punggung nya. Doa nya membuat aku menarik sudut bibir ku.
"Ya Allah... hamba akan bersabar setiap apa yang Engkau berikan. Maka jika memang dengan bersabar dengan setiap ujian dalam hidup ini, Engkau Ridho. Hamba akan terus bersabar. Sungguh hanya ridho ku yang lebih hamba cari daripada kemudahan selama menjalani hidup ini Rabb.... " Ucapnya.
Aku melihat Sekar sesenggukan.
'Dik... Mas bersyukur sekali bibir ini dulu tidak menolak saat Gus Ali dan Gus Furqon memilih kamu sebagai calon istri mu. Jika tidak mungkin saat ini lelaki lain yang akan merasa bahagia. Sungguh cara mu menjalani kehidupan ini begitu indah sehingga kamu sedikit pun tak goyah walau mungkin makhluk Allah berkali-kali menyakiti kamu... kamu lebih ridho akan Ridho Allah sekali pun pahitnya menjalani kehidupan di dunia ini.' Batin ku.
Aku menarik selimut dan bergegas ke kamar mandi. Selesai mandi, kopi hangat telah di sajikan Sekar. Bahkan saat selesai shalat shubuh dari masjid. Sekar sudah menyiapkan semua pakaian ganti ku. Aku pagi ini akan berangkat menemani Kyai Damar dan Pak Lek Gio. Juga satu jamaah yang juga ingin memondokkan anaknya di Krapyak. Maka sekalian berangkat. Satu kejadian di Krapyak membuat aku begitu merinding. Kami lebih dulu ke Krapyak baru menuju Jombang. Karena anak salah satu Jamaah ini akan melanjutkan mondok di Krapyak.
Tiba di sebuah pondok pesantren yang cukup besar. Kami disambut Lurah mondok menuju satu ruangan. Kebetulan akan ada acara di pondok pesantren tersebut, nanti malam. Kami mengikuti acara tersebut. Hingga tiba waktu Kyai Damar mengutarakan maksud tujuan beliau kemari untuk memondokkan anak dari salah satu jamaah di desa kami. Aku dan Pak Le Gio menunggu di satu ruangan karena Lilis mabuk perjalanan. Ia masih mual dan muntah. Maka aku menemani Pak Lek Gio dan Lilis di ruangan tersebut. Tiba-tiba satu lurah pondok di pondok pesantren tersebut mendekati kami. Tampak hati-hati beliau bertanya pada ku.
"Nuwun sewu kulo badhe taken, ingkang asmanipun ustad Damar puniku sinten?, nggeh?" Tanya nya pada ku.
{Maaf saya mau tanya, yang namanya Ustad Damar itu siapa?}
"Niku, Kyai Kulo sangking Sumatera." Ucap ku.
{Beliau kyai saya dari Sumatera.}
"Piyambakipun mesthi gadhah kathah santri nggih?" Tanya nya lagi.
{beliau pasti punya banyak santri}
"Mboten, pondok pesantrenipun dereng patos ageng. muridipun taksih sakedhik." Jawab ku jujur dan apa adanya.
{Tidak, pondok pesantren nya belum begitu besar. muridnya masih sedikit}
{Tidak mungkin,... mengakulah Mas, Kyai Damar itu siapa?}
Aku akhirnya justru yang penasaran. Karena lurah pondok ini seperti sangat penasaran pada Kyai Damar. Padahal aku menceritakan apa adanya, beliau memang orang biasa. Di tempat kami beliau di panggil Kyai karena memiliki pondok pesantren walau hanya 100 an jumlah santrinya. Itu juga gedung nya masih sangat kecil. Beliau juga kadang tidak terlalu ingin di panggil Kyai. Lebih suka di panggil Kang. Aku yang penasaran akhirnya balik bertanya pada Lurah pondok yang tampak ingin tahu sekali siapa Kyai Damar.
"Saderengipun kula nyuwun sewu, nanging kenging punapa njenengan kados puniku penasaran sinten kyai Damar?" Tanya ku.
{Sebelumnya saya mohon maaf, tapi kenapa anda begitu penasaran siapa Kyai Damar?}
Hari ini aku merasa bersyukur mengenal dan dekat dengan Kyai Damar. Aku bahkan berniat dalam hati akan nderek beliau. Jika ada istilah saat ini Nderek Yai, maka itu mungkin yang pas untuk suasana hati ku saat ini.
"Njenengan ngertos ruangan ingkang kala-wingi nyambut kyai Damar, lan shalawat ingkang dipunwaosaken kalo panjenengan lan Kyai Damar rawuh?" Tanya nya balik.
{Kamu tahu ruangan yang kemarin menyambut Kyai Damar, dan shalawat yang dibacakan ketika kalian datang?}
Aku menoleh ke arah Pak Lek Gio.. Kami menggelengkan kepala bersamaan. Kami baru pertama kali menginjakkan kaki di Krapyak dan Pondok Pesantren ini, mana kami tahu ruangan tersebut dan kebiasaan pesantren sebesar ini. Santrinya mungkin sampai ribuan.
"Kolo-wingi puniku limrahipun dipunangge kangge nyambut ulami ageng lan habib. Kados meniko ugi shalawat ingkang wonten waosaken. Meniko limrah wonten waos kangge nyambut ulami... Meniko kenging punapa kulo mboten pitados menawi Njenengan sanjang kyai Damar meniko namung kyai limrah, pondokipun ugi taksih alit ... jujur mawon, kyai Damar sinten?"
{Tempat kemarin itu biasanya digunakan untuk menyambut ulama besar dan Habib. Begitu pula shalawat yang di bacakan. Itu biasa di baca untuk menyambut ulama... Itu kenapa saya tidak percaya kalau anda bilang Kyai Damar itu cuma Kyai biasa, pondok nya juga masih kecil... jujur saja, Kyai Damar siapa?}
Tanya lurah pondok itu lagi. Seketika aku hanya tertunduk. Kedua mata ku terasa perih, dada ini rasa bergemuruh.Sungguh hari ini aku di perlihatkan bahwa jika seseorang memiliki kemuliaan di mata Allah. Maka kemanapun dia akan pergi, kemuliaan itu akan mengikuti beliau. Sekalipun ke tempat dimana tidak ada yang mengenal beliau. Hari ini di tempat ini, di Pondok Pesantren sebesar ini, dan pengasuhnya pun begitu Tersohor di tanah air. Kyai Ku, Guru ku di hormati, di muliakan. Mungkin itu adalah salah satu tanda bahwa Kyao Damar adalah hamba yang di cintai Allah. Walau mungkin dari mata memandang ia hanya Kyai Kampunh, guru ngaji kampung. Hari ini aku di pertontonkan oleh Allah suatu yang disebut dengan kemuliaan.
Maka pulang dari Jawa, aku membawa oleh-oleh ini untuk istri ku tercinta. Saat aku menceritakan kisah ini pada Sekar. Ia justru ikut tenggelam dalam tangis harus. Bagaimana kami tidak menangis haru, kami bisa dekat. Kami bisa belajar dengan ulama yang di cintai Allah.
"Tidak mungkin Kyai Damar tidak di cintai Allah, mas... Jika di tempat yang bahkan tak mengenal beliau... beliau begitu di sambut dengan begitu mulianya." Ucap Sekar.
"Mulai hari ini, mantep kan hati dik.... wes manut guru. Ndak usah tolah toleh... kita ngabdi dan nderek Kyai Damar lan Umi Ayu.... mungkin kemarin Allah ingin kita mantep. Dan sepertinya ini salah satu jawaban dari pertanyaan kita saat kita sowan ke Kali Bening... " Ucap ku.
Aku pun menghubungkan apa yang kini terjadi dengan kejadian di mana Kyai Rohim dan Umi Laila menitipkan Kyai Damar dan Umi Ayu kepada kami. Namun satu yang masih memjadi ganjalan ku. Aku ini orang biasa, aku ini siapa. Kenapa Kyai Rohim menitipkan ulama padaku. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab.