
Tiba di rumah, kami melihat sebuah mobil mewah terparkir di tepi rumah. Aku melihat lelaki yang duduk di depan rumah. Mas Guntur juga melihat.
"Mas, sepertinya ada seseorang yang menunggu di depan rumah." ucap ku.
Mas Guntur pun segera menghampiri lelaki itu.
".... " Mas Guntur mencoba mengenali siapa lelaki menunggu di depan rumah.
"Mas Guntur... " Ucap lelaki yang tampak mengenakan kaos merah maron.
"Siapa ya... " Ucap mas Guntur bingung.
"Aku mas, aku aku Yoyon... . " Ucap lelaki itu.
"Yoyon? Ya Allah aku tidak mengenal mu Yon." Ucap mas Guntur.
Aku pun membuka pintu dan mas Guntur mempersilahkan lelaki itu duduk di rumah kami. Ia tampak sekali seperti bukan orang sini. dari bahasa dan gaya nya berpakaian.
"Sudah sukses ya Yon sekarang." Ucap mas Guntur saat aku datang ke depan dengan dua cangkir kopi.
"Ya begini lah mas. Aku alhamdulillah waktu di Jepang kemarin sempat kuliah, jadi setelah selesai kuliah aku kembali ke Indonesia." Ucap Yoyon.
"Masyaallah bisa kuliah juga kamu disana?" Tanya mas Guntur antusias.
Aku hanya mendengar dari ruang tengah pembicaraan mas Guntur dengan temannya. Cukup akrab sepertinya obrolan mereka.
"Bagaimana mas sekarang masih sibuk di kebun?" Tanya yoyon.
"Iya, alhamdulillah... ya disyukuri alhamdulillah masih bisa bekerja." jawab mas Guntur.
Hampir setengah jam mereka terlibat obrolan. Aku sudah melipat pakaian.
"Jadi begini mas, saya kemari ingin mengembalikan uang uang dulu sempat saya pinjam." Ucap Yoyon.
"Loh uang apa Yon? " Tanya mas Guntur terdengar seperti kaget.
"Lah masa' lupa mas. Saya dulu pinjam uang mas Guntur 10 juta dulu. Tolong diterima ya mas.... " Ucap Yoyon.
" Wah apa-apa an kamu Yon.... Ini kebanyakan.... " Suara mas Guntur kembali terdengar kaget. Kemungkinan mas Guntur melihat jumlah uang yang diberikan oleh Yoyon.
"Ya tidak lah Mas... aku pinjam uangnya 9 tahun yang lalu.... Coba mas hitung dulu nilai mata rupiah berapa jika dijadikan dolar. Saya waktu itu pinjam nya kan emas. saya jual emas nya mas Guntur dan kini saya kembalikan sesuai dengan harga emas sekarang mas.
"Ya makan riba aku Yon... " Ucap Mas Guntur.
"Loh, riba dari mana mas... Aku hanya belum sempat ke toko emas. Dan membeli emas. Baru sampai kemarin aku langsung mencari alamat mas Guntur di pondok. Alhamdulillah ketemu. Ini saya ga bisa lama-lama. Sore ini sudah harus terbang ke Riau. Ada proyek pengeboran minya disana. Jadi tolong mas, kalau mas mau yakin, besok belikan emas 30 gram. Nanti kalau ada lebih anggap saja saya shodaqoh untuk mas Guntur." Ucap Yoyon dan mas Guntur kembali menolak uang tersebut. Dengan berkali-kali di tolak oleh mas Guntur.
Aku pun kedepan ketika mas Guntur memanggil ku. Selepas kepergian Yoyon mas Guntur menyerahkan satu amplop coklat.
"Apa mas?" Tanya ku penasaran.
"Uang dari Yoyon. Dulu waktu kita mau menikah, ayahnya mengalami kecelakaan. Padahal ia sudah siap berangkat ke Jepang karena sudah mengikuti semua pelatihan dan diklat. Namun terbentur biaya. Sekarang ia kembalikan emas dulu dengan harga emas yang sekarang... " Ucap mas Guntur pada ku.
Aku membuka amplop tersebut.
"Astagfirullah... ini banyak sekali mas... " Ucap ku yang baru sekali ini melihat uang dalam jumlah banyak.
"Dulu itu emas belum seperti sekarang dik. Dulu rencana mas mau kasih mas kawin berupa kalung itu pada mu. Namun karena Yoyon hampir bunuh diri di kamar kostnya hanya karena biaya, mas akhirnya tak tega. Mas beri dia emas itu. Makanya kamu cuma bisa mas berikan emas 10... harusnya 30 gram emas itu sebagai mas kawin mas untuk kamu." Ucap mas Guntur.
"Oya tadi kami berbicara perihal pinjaman bank. Ternyata istrinya bekerja di bank syari'ah... sayang sekali ditempat kita tidak ada bank syari'ah." Ucap mas Guntur lagi.
Mas Guntur pun menceritakan padaku dari hasil obrolan nya dengan Yoyon. Bahwa bank syari'ah menerapkan sistem yang berbeda dengan bank konvensional. Dimana proses peminjaman uang disana adalah akad nya atau proses penyampaian dari pihak bank ke nasabah bahwa bukan meminjam uang tetapi seperti jual beli.
"Contohnya mas?" Tanya ku penasaran.
"Jadi seperti ini kalau kata Yoyon tadi, di bank syari'ah itu misal kita mau beli rumah. Jadi kita bukan di kasih uangnya. Tapi mana rumah yang mau di beli kita tadi, terus nanti mereka beli rumah itu. Dan kita beli rumah tersebut lewat bank syari'ah tadi. Sehingga Bank syari'ah menjual tentu mereka ambil keuntungan dari hasil jual mereka. Maka misal mereka beli rumah tersebut 100 juta. Lalu mereka jual ke kita 120 maka 20 nya bukan riba tapi keuntungan bank syari'ah tersebut hasil dari jual rumah tersebut. Tetapi kita membayar nya dengan sistem kredit. Jadi disana luar biasanya sistem Perbankan syari'ah dik. Termasuk modal usaha... juga akadnya bukan bunga... intinya kerja sama. Ah... mas jadi bingung ini. Sudah terlanjur pinjam bank..." Ucap mas Guntur.
Aku pun menepuk pundak mas Guntur.
"Ndak usah pusing. Lah ini Allah kasih solusi... kok bingung." Ucap ku seraya mengangkat amplop coklat yang berisi banyak sekali ikatan uang berwarna merah.
Seketika mas Guntur tersenyum simpul melihat amplop yang ku arahkan ke padanya.
"Ternyata ketika kita mempermudah urusan orang, kita akan dipermudah kan juga, ketika kita menanamkan kebahagiaan di hati orang lain. Suatu saat akan datang seseorang yang membahagiakan hati kita juga ya Dik... Dan hari ini, Allah langsung ngirimin orang nya untuk menyelamatkan kita dari riba hanya hitungan jam.... " Ucap mas Guntur.