The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 26 Ridho Mu, Tiket ku Ke Surga



Suasana malam penuh bintang, aroma khas tanah yang baru saja di basahi air hujan cukup segar menyusup hingga rongga dada. Aku dan Mas Guntur serta kedua orang tua ku sedang menikmati oleh-oleh yang Mas Guntur bawa dari desa. Ia mengatakan pada Ayah dan Ibu jika itu oleh-oleh dari kedua orang tuanya. Sungguh suami ku ini pandai sekali bersandiwara. NAmun aku mendukung sandiwara mas Guntur di hadapan orang tua ku. Bahkan sandiwara dirinya yang mengaku jika dirinya yang bermasalah dengan kesuburan.


“Apa ndak coba berobat alternatif dulu nak, kalau memang medis tidak belum membuahkan hasil?” Tanya Ibu pada Mas Guntur.


“Insyaallah kami fokus ke medis dulu, Bu. Nanti kalau tidak ada hasilnya baru yang alternatif.” Jawab mas Guntur sopan.


Namun saat ibu sepertinya ingin memberikan saran, tatapan mata ayah pada ibu membuat ibu tampaknya mengalihkan pembicaraan.


“Wah, sampaikan pada Ibu mu ya Tur, Oleh-olehnya enak. Repot-repot sampai banyak sekali…” Ucap Ibu.


Ya mas Guntur membawa hampir dua kardus besar oleh-oleh. Dari peyek teri, peyek kedelai, kerupuk ikan belida dan empek-empek yang aku yakin bukan buatan ibu. Itu buatan tangan Mbak Ani, aku hapal sekali cuka khas buatan mbak Ani. Bukan aku negatif thinking dengan ibu mertuaku, tetapi lidah ku paham masakan ibu mertua ku, apalagi rempeyek atau peyek. Ibu tidak pandai membuat camilan satu itu.


“Tidak Bu, tidak repot. Ibu loh sibuk malah takut kurang katanya. Terus setiap hari kesepian katanya tanpa Sekar.” UCap Mas Guntur.


Hampir saja aku tersedak empek-empek lenjer yang baru saja ku kunyah. Aku sudah pasti itu tidak mungkin, Mas Guntur hanya ingin ayah dan ibu tak khawatir. Ah, aku ingat pesan Umi Siti saat akan menikah. Beliau berpesan pada ku. Bahwa menikah itu adalah lem perekat antara keluarga. Keluarga ku dan keluarga suami. Akur tidaknya keluarga ku dengan keluarga mas Guntur tergantung kami. Dan kini kami harus memerankan diri kami sebagai lem perekat itu. Tanpa harus ibu dan bapak ku tahu jika aku belum sepenuhnya diterima oleh kedua mertuaku, dan kondisi tuba falopi ku yang bermasalah akhirnya menambah benang merah antara aku dan kedua mertua ku.


“Ada atau tidak keturunan itu biarkan Gusti Allah yang berperan. Kalian jangan terlalu fokus dengan yang belum kalian miliki tetapi syukuri yang kalian miliki mungkin tidak di miliki orang lain.” Ucap Bapak pada kami.


“Nggeh Pak.” Ucap Mas Guntur dan diriku bersamaan.


“Gun, Ibu tinggal dulu ya. Mau antar oleh-oleh mu. Imas sepertinya sudah selesai menggoreng empek-empeknya.” Ucap Ibu. Mas Guntur menundukkan kepalanya.


Bapak pun mengikuti ibu untuk ke rumah saudara ibu dan bapak untuk mencicip oleh-oleh dari Mas Guntur. Saat ibu dan ayah menghilang dari balik pintu dapur. Aku berpindah posisi ke sebelah mas Guntur. Ku cubit pahanya.


“Aduh… Apa sih Dik… masih kurang?” Tanya Mas Guntur.


“Dua minggu LDR, sudah pandai bersandiwara sauami ku ini rupanya.” Ucap ku.


“Hehe…. Terus mau kamu, mas ngomong yang sebenarnya sama bapak dan ibu? Tega lihat mereka sedih dengar cerita sebenarnya?” Tanya Mas Guntur memencet hidung ku.


Aku tertawa, aku mendonggakkan kepala dan menatap bintang yang bertaburan di langit hitam ditemani rembulan.


“Semoga suatu saat ibu dan bapak menerima aku ya Mas…” Ucap ku lirih. Ada perasaan sedih karena mas Guntur tadi sore mengatakan untuk pulang satu minggu lagi. Dan sudah pasti aku harus menjadi Sekar yang kuat lagi.


“Aamiin… Maafkan mas Ya, andaikan mas punya banyak uang. Mungkin mas bisa bawa kamu sering-sering mudik. Jadi kamu sedikit terhibur…” Ucap mas Guntur seraya mengikuti arah anak mata ku memandang.


“Kata siapa punya banyak uang itu kunci bahagia?” Tanya ku seraya menoleh ke arahnya.


“Kata perempuan yang merasa insecure yang memiliki suami yang minim harta.” Ucap Mas Guntur.


“Tapi bukan istri Mas Guntur toh?” Tanya ku seraya menarik sudut bibir.


“Katakan kenapa kamu selama ini tak pernah merengek untuk dibelikan Mejikom? Mas dua minggu kamu tinggal baru terasa ternyata ribet sekali loh dik, masaknya kalau mau makan nasi hangat.” Tanya Mas Guntur seraya menarik kursi rotan nya semakin rapat ke arah ku.


Aku menggenggam tangan mas guntur.


“Mas dulu pernah bilang ndak suka nasi yang di hangatkan pakai mesin itu. Katanya kurang nikmat. Terus, aku ndak mau nanti di hari akhir nanti tanpa pakaian dan tangan serta kaki ku di ikat hanya karena aku termasuk istri yang terlalu banyak menuntut…” Jawab ku.


“Wah ini jelas pas ngaji dulu duduknya selalu di depan… “ Ucap mas Guntur.


Aku bersandar di lengan nya, dan pertanyaan mas Guntur seraya menepuk-nepuk paha ku, membuat aku bergelayut mesra di lengan kekarnya.


“Lalu,apa yang membuat kamu bertahan disisi mas, saat ibu dan bapak terus saja melontarkan kata-kata yang menyakiti kamu?” Tanya mas Guntur.


“Mas, Aku memang mungkin dulu bisa memilih lelaki untuk jadi suami. Tapi aku manut Kyai Furqon dan Umi Siti. Begitupun mas Guntur, bisa memilih istri namun tidak dengan kita lahir ke dunia. Kita ndak bisa memilih lahir dari orang tua yang bagaimana dan siapa." Ucap ku.


Mungkin ibu dan bapak mas Guntur bukan orang yang sempurna. Tetapi ibu telah menjadikan mas Guntur lelaki yang sempurna. Karena ibu memberikan cintanya pada mas Guntur dari dalam kandungan hingga dewasa. Maka bagaimana bisa aku sebagai istri mas Guntur, akan menyerah hanya karena ibu tidak suka pada ku. Cemen sekali rasanya aku, jika harus mundur hanya karena ibu dan bapak. Sedangkan suamiku punya cinta yang luar biasa. Beruntung aku menikah saat itu bukan karena hawa nafsu ku. Tapi karena memang aku ingin menyempurnakan separuh agama ku. Niat ingin beribadah dalam mahligai berumah tangga. Dan ternyata tidak mudah. Ada banyak ombak yang menghadang. Termasuk dari dalam keluarga suami ku.


Lama menjadu abdi ndalem di kali bening. Aku belajar banyak tentang hal-hal yang terjadi dalam hidup namun hati menolak, harus legowo, nerima apapun yang Allah takdirkan. Termasuk aku harus menerima kondisi ibu dan bapak yang tak menyukai aku. Karena itu pun terjadi karena Allah berkhendak. Aku sudah mengkoreksi sikap ku selama menjadi menantu mereka. Tidak ada tindak dan tanduk ku, hanya saja kedatangan aku sebagai menantu tak tepat. Saat cinta mereka lebih dulu untuk Arum. Dan kini, saat aku memang memiliki masalah untuk hamil, mungkin dari ketidaksukaan ibu pada ku, ada ridho Allah pada ku agar bisa meraih kemuliaan sebagai hambanya yang sholihah, istri mas Guntur yang sholihah.


"Ibarat tiket buat ke surga Dik, kamu sudah punya tiket itu. Ridho ku untuk mu hingga akhir hayat ku. Dan semoga kamu dan aku tetap bersama sampai panggilan itu datang." Harap Mas Guntur.


Malam ini, bintang dan bulan menjadi saksi. Bahwa baru saja suami ku mengucapkan sesuatu yang mungkin para istri rindukan.


"Aamiin.... Qobul Rabb." Ucap ku dalam hati.