
Perjuangan berbulan-bulan ketika akan menghadapi pemilihan kades ternyata tidak berakhir dengan terpilih nya mas Guntur sebagai kepala Desa. Justru kembali perjuangan itu harus semakin kuat, dzohir batin kami harus kuat. Bahkan keimanan juga harus semakin di kuatkan menghadapi banyak godaan.
Walau kami sadar, mas Guntur bisa terpilih bukan hanya karena hasil kerja kerasnya. Ada juga doa juga tirakat dari guru dan orang tua. Juga para tetangga dan teman. Ibu saja yang selalu ketus pada ku dan sering marah pada mas Guntur karena sering membela ku jika ibu menjelekkan aku, aku ingat bagaimana ia mengikuti petuah dari sesepuh di keluarga kami. Ibu diminta untuk tidak boleh tidur semalaman saat esok adalah waktu pemilihan. Entah apa yang ibu lakukan. Karena saat itu aku dan mas Guntur berada di tempat yang Berbeda. Ia berada di masjid. Sedangkan aku berada di rumah bersama Ziyah.
Aku baru pulang dari rumah Bu Wati, seorang tetangga juga teman mas Guntur sedari SD. Aku tadi kesana untuk membayar atau mengganti biaya nya membuat kue ketika malam akan pemilihan kades. Aku baru dapat uang dari hasil kebun yang dijual dua Minggu sekali. Saat tiba dirumah mas Guntur sudah pulang dari Ibukota Kabupaten.
“Assalamu'alaikum.” Ucap ku.
“Waalaikumsalam. Baru mau mas jemput dik.” Jawab mas Guntur.
Aku duduk di sisi mas Guntur yang tampaknya baru saja membuat kopi sendiri. Mas Guntur bukan tipe suami yang apa-apa ingin dilayani. Jika aku sibuk dan tidak dirumah, ia akan membuat kopi sendiri. Bahkan aku yang harus menggendong Ziyah sambil menumis sayur, pasti akan direbut sutil yang berada ditangan ku oleh mas Guntur. Aku akan diminta mengurus Ziyah. Ia yang ambil alih masak.
Mas Guntur mematikan rokoknya. Ia ambil Ziyah dari gendongan ku.
“Wah anak Bapak... kangen bapak dari tadi sama Ziyah.” Ucap mas Guntur seraya mencium hidung, pipi dan dahi Ziyah. Lalu ia dekap erat Ziyah. Dan alhasil sudah pasti Ziyah memberontak. Ia paling tak suka di perlakukan begitu. Dan mas Guntur akan tertawa jika melihat ekspresi lucu Ziyah yang merasa kesal.
Maklum pagi tadi mas Guntur pergi jam 6 pagi saat Ziyah masih terlelap.
“Bagaimana mas?,” Tanya ku.
“Besok pagi orang kabupaten kemari. Baju untuk pelantikan akan dibawa langsung. Jadi kita bisa memilih langsung yang sesuai ukuran. Tapi sepatu harus beli sendiri Dik. Karena sepatunya hanya ada sampai ukuran 41. Mas kan pakai yang 42.” Jelas mas Guntur lagi.
“Biayanya?” Tanya ku.
Senyum khas mas Guntur terhias di wajahnya.
“Besok kalau mas mu ini jadi Bupati baru tak gratiskan, hehehe.....” Jawabnya.
Aku mencubit pahanya.
“Awhhh... Mamak mu Ziy.... KDRT.” Ucap mas Guntur seraya menempelkan hidung mancungnya ke pipi Ziyah.
“Jadi kades saja perjuangan nya begini. Dari demit, fitnah, santet semuanya dateng. Kemarin itu bukan satu lawan satu mas. Tapi 4 lawan satu. Umi Ayu sampai drop, hampir dua malam beliau mungkin tidak tidur karena nirakati mas. Apalagi Bupati... wed ndak mampu aku mas. Kasihan Ziyah juga, jadi kurang curhat.” Ucap ku.
Mas guntur justru tertawa lepas, bahunya berguncang mendengar ucapan ku.
“Hahaha.... Dik... dik... mas Guyon e.. . Jadi kades saja ngelinting begini kita. Apalagi nyalon bupati. Uang darimana. Eh, bagaimana bu Wati?” tanya mas Guntur terkait niat ku yang ingin menggantikan uang nya yang ia gunakan membuat 30 loyang kue bolu untuk kami ketika tepat di hari pemilihan.
“Beliau ndak mau, nolak mas. Ini sampai di cubit saya tadi. Katanya beliau ikhlas nolong mas Guntur sebagai teman. Katanya ga usah kerumahnya dan nganggep teman lagi kalau mau ganti biaya buat kue kemarin.” Ucap ku.
Mas Guntur menyeruput kopinya. Ia pun menempelkan cangkir kopi tersebut di bibir mungil Ziyah. Putri ku itu mengecap sisa kopi yang menempel di cangkir.
"Cpcpcp...." Suara dari bibir mungil Ziyah yang menikmati sisa kopi di cangkir. Itu biasa dilakukan mas Guntur semenjak Ziyah sudah makan MPASI. Katanya biar kuat. Dak kembali Ziyah merengek ketika cangkir di tarik. Mas Guntur mengangkat tubuh putri kami tinggi sekali dan mencium pipinya.
"Besok kalau sudah besar, pintar buat Kopi kayak mak e ya... " Ucap Mas Guntur pada Ziyah.
"Kita banyak hutang budi pada teman, tetangga dan warga yang tidak mau di bayar dan di kembalikan bantuan nya baik dari pertama kita mau maju pemilihan Sampai acara tasyakuran kita Dik. Tugas mu mengingatkan suami mu ini jika besok mas lupa pada mereka yang all out mendukung kita baik tenaga, pikiran, bahkan harta untuk kita tanpa pamrih."
"Siap Bu Kades...!" Ucap Mas Guntur dengan mengangkat tangan hormat ke arah ku.
Ku cubit mesra pinggangnya. Ia selalu bisa membuat aku tertawa. Orang-orang mungkin tak percaya jika ia lelaki yang luar biasa hebat dalam memperlakukan aku sebagai istrinya. Karena di luar, mas Guntur terkenal keras kepala dan egois. Bahkan ibu dan bapak tahun-tahun pertama bolak balik menanyai kabar apakah aku bahagia. Apakah mas Guntur memperlakukan aku dengan baik.
Dan tibalah di satu hari untuk pelantikan. Besok pagi kami akan pergi ke kantor Bupati. Untuk pelantikan kepala Desa dari seluruh kecamatan yang ada di kabupaten kami. Pagi hari mas Guntur menarik ku ke kamar saat aku bersama Mbak Ani dan Neneng juga ibu serta Tika sedang membuat kue untuk sarapan besok pagi sebelum berangkat pelantikan.
"Dik..." Panggil mas Guntur.
Aku pun membuntutinya sampai ke kamar.
"Jebule sepatunya salah beli kemarin. Harus yang seperti ini." Ucap Mas Guntur menunjukkan gambar di ponselnya.
Aku paham kalimat suami ku. 10 tahun berumahtangga aku mengerti maksudnya Mas Guntur. Aku beranjak ke lemari. Ku geser sedikit lemari pakaian yang sudah berbubuk. Lalu aku menari satu kaleng tipis bekas permen pagoda. Ku Ambil dua kaleng. Dan ku buka, ada sekitar uang 400 ribu dari dua kaleng tipis itu. Ku serahkan kepada mas Guntur.
"Masyaallah..... Kamu ini temenan sama malaikat Mikail opo Dik? Kok setiap mas minta uang, pasti ada. Perasaan penghasilan kita ini ga banyak." ucap mas Guntur melongok tak percaya menerima 4 lembar uang berwarna biru.
"Lah kalau temenan sama malaikat Mikail, mas malah ndak usah kerja. Dirumah wae biar rezekinya diantar kerumah tanpa suami ku ini harus berpeluh dan tangannya sampai kapalan begini." Ucapnya seraya mengusap satu tangan ku ke pipinya.
"Wes.... Kamu pasti keturunannya Rita Sugiarto ya Dik..." Guyonnya.
Aku mengernyitkan dahi. Seketika aku ingat bait lagu Rita Sugiarto lalu ku senandungkan.
"Aku Tidak minta oleh oleh.... Emas permata dan juga uang... Tapi yang kuharap engkau pulang... Tetap membawa kesetiaan..." Goda ku lagi seraya merebahkan dagu ku di pundaknya.
"Tok... Tok..." Suara pintu di ketuk.
"Mbak Sekar ini minyaknya habis." Suara Tika.
Tiba-tiba aku dan mas Guntur saling pandang.
"Masih ada 2 kaleng Pagoda lagi toh?" Tanya mas Guntur seraya mengangkat wajahnya ke arah bilik lemari.
"Sepertinya tempat nyimpen nya kudu besar ya mas biar isinya juga besar... Hehehe.."
"Aamiin. Ya sudah mas mau berangkat. Mumpung masih pagi. Kamu mau titip? Kaos kaki mu sudah ada buat besok?" Tanya mas Guntur.
"Belum mas, titip itu saja. Insyaallah nanti minta bantuan Tika saja besok yang make up ndak usah sewa," Ucap ku.
Mas Guntur mengangguk dan meraih jaket serta kunci motor. Aku bukan eman uang. Tapi uang cukup hanya untuk bayar mobil dan juga untuk kebutuhan ku sampai menjelang panen 2 minggu lagi. Dan ternyata ada hal yang membuat aku dan mas Guntur kaget ketiga gladi sore harinya di Kantor Bupati.
"Wah ini yang namanya Pak Ahmad Guntur?"
"Mana? Mana? Kades Viral itu?" Tanya beberapa orang saat melihat mas Guntur maju ketika di panggil namanya untuk bersalaman kepada Bupati. Namanya masih Gladi maka riuh sekali beberapa kades menyalami mas Guntur. Aku bingung, dengan kata Viral.
Bersambung