
Aku sedang mengganti sprei di kamar, tiba-tiba mas Guntur masuk kamar. Ia berbisik kepada ku.
“Dik, mas bingung.” Ucapnya seraya menarik tangan ku seraya duduk disisi ku.
Ku lihat dirinya yang tampak bingung.
“Ibu tadi minta mas memotong ayam. Bapak katanya belum pulang dari rumah tetangga yang meninggal.” Jelas mas Guntur cepat.
Bapak memang dari semalam cepat pergi kerumah tetangga yang dikabarkan meninggal. Sudah kebiasaan di tempat kami, para tetangga akan membuatkan tenda dan menyiapkan keperluan untuk esok hari pemakaman, sudah ku pastikan bapak setelah shalat shubuh akan langsung ke ke rumah duka lagi, sedangkan mas Guntur yang menjadi satu kebiasaannya susah bangun pagi, hanya sebab yang membuatnya harus mandi besarlah yang bisa membuat ia cepat bangun pagi. Dan pagi ini, Imas yang dari kemarin tidak mencuci, maka pagi sekali ia sudah di kamar mandi. Sehingga suami ku itu yang dari tadi ku minta mandi, masih berlindung dibalik selimut. Saat sudah 15 menit waktu shubuh dia baru bangkit dari tempat tidur..
“Tadi kan udah di bilang, buruan mandi. Itu Imas kalau sudah di kamar mandi udah kayak pengantin lagi acara temon.” Canda ku.
“Lah terus gimana, ibu sepertinya buru-buru. Kita juga pagi sekali sudah harus berangkat ke Kali Bening.” Ucapnya.
“Ya disembelih saja toh mas,” Ucap ku.
“Boleh? Halal dimakan nanti ayamnya? Kan mas masih dalam keadaan hadats besar.” Ucapnya khawatir.
Aku menarik tali guling yang baru saja ku ganti dengan yang berwarna orange dengan motif kembang.
“Boleh, dan sah. Tapi, ketika baca basmalah di niatkan berdzikir bukan niat membaca ayat Al-Quran.” Ucap ku.
“Mas belum pernah ketemu kejadian begini.” Ucapnya lagi.
“Ini pernah di bahas Gus Furqon yang terdapat dalam kitab Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab. Nanti biar tak ingetin Imas untuk tak lama-lama di kamar mandi.” Ucap ku.
Aku lebih dulu mandi sebelum Imas, maka saat aku selesai mandi. Aku membangunkan mas Guntur. Ibu mungkin akan rewang, khawatir sampai sore, maka ibu akan menggulai ayam kampung milik kami agar nanti sore tak perlu lagi bingung untuk lauk. Karena aku pun pasti pulang sore. Imas juga pasti pulang kursus siang hari.
Entah apakah karena hidung ku yang mancung, tetapi mas Guntur selalu suka memencet hidung ku saat ia gemas dengan diriku.
“Masyaallah kalau punya istri pintar...” Ucap nya.
Mas Guntur pun segera ke arah dapur. Aku masih merapikan tempat tidur. Entah kenapa, setiap kali mas Guntur memuji kepintaran ku atau akhlak ku, aku selalu ingat dawuh nya Umi Siti.
“Mencari ilmu menjadi suatu kewajiban jika menginginkan anaknya nanti menjadi pribadi yang sholeh dan sholehah. Perempuan itu jika di minta memilih, maka ilmu yang paling penting dipelajari ialah ilmu fiqh yang menyangkut dalam ibadah sehari-hari.”
‘Semoga ilmu ku, ilmu yang bermanfaat untuk ku dan orang-orang disekitar ku.’ Batin ku seraya menarik sudut terakhir kasur yang telah ku ganti dengan sprei baru.
Aku pun bergegas ke arah dapur untuk mengingatkan Imas, karena kasihan mas Guntur jika sampai shalat di akhir waktu, jika dirumah ia biasanya shalat lima waktu di masjid karena ia adalah takhmir di masjid yang berjarak hanya 200 meter dari rumah kami.
“Dik, ndak suwi-suwi. Mbak mau cepat pagi ini. ” Ucap ku dari balik pintu kamar mandi bagian luar.
Hanya deheman yang ku dapat dari suara Imas, tampaknya ia sedang menggosok giginya. Ku lihat dari arah pintu dapur mas Guntur baru akan mengambil ayam yang masih bergerak.
“Iya sayang, mas tahu.. mau mas pindahin kesini, nanti nyemplung parit. Susah bersihinnya. " UCap mas Guntur.
Ah aku hampir lupa jika ia adalah kang santri. Tentu ia tahu cara memotong lyam atau hewan yang baik dan benar. Kadang naluri perempuan ku begitu dominan, selalu sok tahu dalam segala hal. Ini yang kadang suka kebablasan, merasa lebih pintar dari suami sehingga memaksakan pendapat kita pada suami. Padahal ini tak diperkenankan.
Aku tadi sudah khawatir suami ku itu akan langsung mengeksekusi ayam tadi tanpa menunggu dia betul-betul tak bergerak. Hal yang kadang membuat di bagian daging atau dalam paha masih ada darah ketika dimasak, karena darah tidak keluar dengan tuntas saat selesai di sembelih. Langsung di bersihkan. Sepele, tapi bagi ku sebagai istri juga calon ibu. Makanan adalah hal yang harus halal untuk dikonsumsi anggota keluarga ku. Termasuk Ayam, bahkan kehati-hatian Kyai Rohim pernah aku dengar dari Umi Siti, jika ada hajatan, Kyai Rohim tak akan memakan ayam jika bukan tuan rumahnya atau kang santrinya yang memotong. Beliau Khawatir di sembelih dengan cara tidak benar.
Seraya menunggu air hangat untuk membersihkan ayam, mas Guntur ku buatkan kopi, cuaca cukup dingin. Imas masih belum keluar dari kamar mandi.
"Jadi ingat kamu kenapa suka beli ayam hidup daripada ayam potong, hehehe.... " Ucap mas Guntur seraya menikmati kopi hitam.
Ya, Itu aku alami saat di desa mas Guntur, ada pemasok ayam potong. Saat aku ingin membeli satu ekor ayam potong dan langsung dibersihkan. Aku melongo tak percaya, pemilik kandang tidak hati-hati dalam penyembelihan. Bagi ku itu fatal karena sama saja aku dan suami ku nanti makan bangkai. Makan bangkai maka mulutnya najis, sebab makan najis. Jika shalat, mulut bekas makan tadi sama saja bawa najis. Sedangkan syarat sahnya shalat bebas dari najis. Aku sampai tak jadi membeli saat pemilik kandang ayam memotong ayam pembeli lebih dulu dari ku pada bagian di atas jakun. Sehingga sama saja memotong lidahnya ayam.
"Ndak cuma di kandangnya pak Joni. Di tempat hajatan juga kadang ada yang ndak hati-hati loh Mas memotong nya." Keluh ku seraya menikmati teh hangat.
Di tempat hajatan kadang ada juga yang memotong di bawah jakun, tapi tidak putus jalannya nafas. Atau di kebanyakan tempat pemotongan ayam potong orang di pasar memotong ayam hanya dengan mengangkat leher ayam, lalu dipotong sedikit. Kadang di atas jakun, kadang di bawah jakun dan hanya luka sedikit. Terlebih ada yang pisaunya tidak tajam.
Gus Furqon pernah mengupas ini pada kitab Fathul Mu'in, dimana syarat memotong yaitu pisau tidak boleh dilepas sebelum jalan nafas dan saluran makan putus keduanya. Bahkan Sunnah menurut mazhab Imam Syafi'i yaitu memotong urat nadi kanan kiri di leher dan tandanya akan keluar darah banyak. Sehingga cepat mati, tidak menyiksa ayam yang di potong.
"Berarti di pondok kamu belajar motong ayam, Nduk? " Tanya ibu seraya mengangkat pisang goreng. Aku begitu di manja oleh Ibu. Apalagi ibu tahu aku akan pulang beberapa hari lagi. Maka ibu tak memperbolehkan aku 'capek-capek' katanya.
"Umi Siti bahkan sering meneliti ayam yang di masak saat masih ada darah di dagingnya, Bu. Alhamdulillah jadi abdi ndalem itu dapat ilmu langsung praktek." Ucap ku.
"Memangnya gimana cara menelitinya? Ibu yo ndak paham." Tanya Ibu seraya mendekat ke arah kami membawa pisang goreng.
"Kadang ayam yang sudah dimasak masih ada darahnya. Itu biasanya kemungkinan ada dua penyebab, Bu. Bisa karena memotongnya tidak sah atau memotongnya sah. Akan tetapi belum mati total dan darah belum keluar semua. Kemudian dimasukkan ke air panas untuk dicabut bulunya.Walau darah darah di otot ayam dimaafkan." Jelas ku.
Aku melihat wajah mas Guntur menatap ku dengan tatapan kagum. mas Guntur bertanya apakah aku sering berada di dapur atau berada hanya di bagian laden tamu. Aku dulu tak pilah-pilah. Bagian mana saja, kadang karena tak tega membiarkan Zhafirah sendiri yang tak mudik,membuat ku tetap di ndalem saat libur pondok.
"Aku dan Zhafirah dulu sempat berhenti membersihkan ayam saat para santri lelaki praktek memotong ayam, mas. Tepat saat akan ada acara, kami santri ndalem di minta melihat ayam yang sedang kami bersihkan. Ternyata benar, dari sekian banyak ayam yang di sembelih santri laki-laki baru, ada yang jika dilihat sembelihannya sah, di bawah jakun dan memutus jalur nafas dan makan. Namun bekas sembelihannya tidak melebar."
Ya, Umi Siti yang mendengar kabar jika ada satu ayam yang kabur saat akan di sembelih dan tertabrak motor, dan tetap disembelih namun beliau terlambat saat akan memilih ayam tadi, khawatir ayam tadi di sembelih saat sudah mati.
"Ini kemungkinan ayamnya sudah mati lalu lehernya tetap dipotong." Kenang ku.
"Sungguh ilmu sangat penting dalam bidang apapun ya dik. Dari mulai ilmu tajwid, fikih, hingga tasawuf." Komentar mas Guntur lalu ia menikmati satu pisang yang terlihat masih mengeluarkan hawa panas.
"Ibadah tanpa dasar ilmu, tidak jadi ibadah. Termasuk dalam membina rumah tangga. Ya sudah, mandi saja Nak, biar Imas nanti yang bersihkan bulunya. Sebentar lagi shubuh." Ucap Ibu pada saat melihat bungsunya keluar dari kamar mandi lengkap dengan jilbabnya. Imas sudah mau protes tapi mata ibu yang mendelik tak mampu membuat bibirnya terbuka sehingga bisa ku lihat bibir adik ku itu mengerucut.
'Ah, ibu betul.... andai aku tak punya ilmu bagaimana harusnya berumahtangga. Mungkin aku saat ini tak lagi bertahan di sisi mas Guntur. Ibu pasti tak merasa bangga pada tetangga dan saudara karena mendapatkan oleh-oleh dari besannya,' batin ku.