
Flashback On.
“Trik… trik… tri…” suara jarum panjang di jam dinding di dinding masjid membuat aku tidak terlalu nyeyak tidur di teras, atau karena tak ada Sekar dalam pelukan ku sehingga alam mimpi tak mampu membuat aku terlelap dengan pulas.
Aku bangun dan kulihat jam yang ada di ponsel ku. TEpat pukul satu malam. Aku melihat profil Sekar, tampak istri ku sedang online.
{Belum tidur dik?}
(Belum, masih menunggu Vira tertidur dari tadi. Mas sendiri belum tidur?)
{Belum, ga bisa tidur. Banyak nyamuk sama suara jam nya berisik sekali.}
(Mas, pulang sebentar bisa? Ada yang ingin aku bicarakan sebelum besok pagi mengantar Vira ke Kota.)
{Ya sudah mas pulang, ngobrol di bawah pohon pelem saja ya, sekalian mas buatkan kopi.}
(Sami’na wa a’tona…)
{Apakah surga sedang tidak kehilangan bidadari ya dik… }
(Tidak, sengaja. Khusus buat suami sholelah…)
“Hhhhh…” Kamu semakin hari semakin membuat aku jatuh cinta dik…” Gumam ku seraya bergegas meninggalkan teras masjid. Mang Ujang yang datang membawa kopi pun berteriak saat melihat aku setengah berlari meninggalkan halaman masjid.
“Asyiikkk yang sudah ga berantem lagi… Aku juga bilang apa mas… perempuan itu kalau merajuk Cuma sebentar, yang merajuknya lama rugi sendiri ga bisa dapat pahala… hahaha…” Suara teriakan mang Ujang tak aku hiraukan.
Aku pun bergegas menyeberangi jalan aspal dan menuju rumah. Tiba di halaman rumah aku sudah melihat Sekar berada di bawah pohon pelem. Ia baru saja keluar bersama satu nampan kayu. Terlihat uap panas dari kopi buatannya. Aku pun duduk dan menyeruput kopi buatan istri ku itu. Rasanya nikmat sekali, karena cuaca yang dingin membuat aku sangat menginginkan secangkir kopi yang sempat di tawarkan mang Ujang.
“Mau bicarakan masalah apa?” Tanya ku penasaran.
“Soal Vira dan janinnya, mas… mau kalau kita adobsi bayi Vira nanti?” Tanya Sekar tanpa berani menatapku.
Selalu seperti itu, Sekar ketika meminta sesuatu. Ia seperti seorang anak kecil yang meminta jajan atau sesuatu dengan rasa khawatir kalau-kalau di marah.
“Mas juga sore tadi kepikiran. Malam ini tadi mas shalat istikharah tetapi malah ga bisa tidur. Besok pagi sempatkan bicara dengan Vira. Jika dia berkenan, kita akan adobsi anaknya.” UCap ku.
“Tapi… aku ingin kita bantu biaya tiap bulannya untuk Vira minimal dia periksa ke dokter dan beli susu… boleh?” Tanya Sekar.
“YA, anggaran yang kemarin untuk bayar bank kita alokasikan untuk Vira setiap bulannya asal Vira mau atau tidak?” Tanya ku lagi.
“Ya, besok pagi aku akan tanyakan pada Vira, aku kasihan pada dirinya dan juga janinnya yang tak berdosa mas…. Setidaknya kita bisa menyelamatkan janin tersebut juga masa depan Vira. Dia masih ingin melanjutkan kuliahnya.” Ucap Sekar.
Aku sangat senang sekali karena tadi aku yang ingin menyampaikan ide itu, tetapi aku khawatir Sekar justru merasa insecure karena ini menyangkut anak. Aku tidak ingin menyakiti hatinya, ia sudah terlalu banyak berjuang dan berkorban selama menjadi istri ku. Kami pun cukup merasa bahagia karena bisa membantu Vira, Bahkan ongkos untuk Vira pulang ke Jawa kami yang bantu, ia betul-betul modal nekat. Ke Sumatera dengan Cuma bermodal uang 300 ribu. Aku pun mengunggah status di medsos hijau ku dengan satu cangkir kopi dan satu cangkir safron serta madu milik Sekar. Safron tersebut di belikan Umi Ayu untuk Sekar karena Umi Ayu tahu permasalahan kami. Mungkin karena Sekar sering membantu Umi Ayu maka belum habis safron yang rutin di konsumsi oleh Sekar, Umi Ayu sudah memberikan yang baru. Seperti menjadi kontak batin antara murid dan guru. Sesaat aku setelah memposting foto tersebut, Kyai Damar mengirimkan pesan ke ponsel ku.
{Wah Enak iku… boleh gabung kesini kang? Aku nembe tangi kang… clingak clinguk dewean iki, mboten enten kanca ne.}
(Siap Bi, kulo teng mriku Bi?)
{Pas niki, gedang godok nembe mateng}
Balas Kyai Damar seraya mengirimkan gambar satu piring pisang rebus yang terlihat masih mengeluarkan uap panas.
“Dik, mas ke pondok ya?” Tanya ku.
“Loh… Mau ngapain?” Tanya Sekar.
“Biasa, nemenin Yai Damar. Keliling Pondok.” Ucap ku.
Aku memang kadang biasa pergi tengah malam atau jam-jam anak-anak pondok mengaji. Pondok Pesantren Kyai Damar belum terlalu besar. Maka belum ada lurah pondok seperti di Jawa atau petugas keamanan pondok. Maka aku kadang mas Yono yang akan berkeliling pondok. Kadang suka ada santri nakal yang merokok di pojok an atau dibawah pohon randu. Aku bahkan sering mendapati Kyai Damar duduk di tempat yang gelap atau di sudut bangunan yang tak nampak oleh santri, beliau mengawasi santri yang masih belum tidur atau bandel di waktu istirahat tiba. Saat aku akan mendorong motor, Sekar berbisik di telinga ku.
“Mas sekalian matur kalau Kyai Damar tampak tidak lelah. Niat kita…” Ucap Sekar.
Aku mengangguk cepat. Tiba di pondok, aku melihat sepasang suami istri yang dari pagi sampai malam sibuk mengurus santri dan pondok. Kini sedang bersantai seraya menikmat pisang rebus. Aku duduk di teras tepat di dekat pintu masuk.
“Tadi kok cepat sekali kang langsung pulang ketika kenduri. Saya baru mau nyari, mas Yono bilang langsung pulang.” Ucap Kyai Damar.
Selepas acara kenduri tadi aku memang langsung pulang. Ternyata Kyai Damar ingin mengucapkan terima kasih kepada ku.
Aku hanya termenung sesaat, aku mengingat jika itu adalah ide istri ku. Ia ingin sesuatu yang berbeda. Agar tidak adanya hal yang biasa di masyarakat dimana akan ada acara musik. Maka hiburan itu kadang akan menjadi begitu tak sedap di pandang saat beberapa yang hobi berjoget tak sadar jika sedang di depan umum. Maka saat itu Sekar mengatakan jika acara menggunakan grub hadroh dimana para santri yang akan membaca shawalat dan menabuh hadroh. Justru sebuah keberkahan saat sebuah acara itu malah dijadikan untuk menjamu para penuntut ilmu yang senantiasa menjaga shalat lima waktu juga waktunya dihabiskan untuk menuntut ilmu seperti para santri di pondok pesantren Kyai Damar. Aku pun ikut senang mendengar perlahan masyarakat mulai memilih mengadakan shalawatan ketika acara pernikahan anak mereka daripada yang lain.
Aku pun teringat pesan Sekar, maka kuberanikan untuk menyampaikan maksud kepada Kyai Damar dan Umi Ayu.
“Saya mau mohon doa dan bimbingan Kyai dan Umi… rencana saya dan Sekar akan mengadopsi anak.” Ucap ku pelan.
“Oya? Tapi bukan dengan niat seperti banyak orang untuk pancingan kan Kang?” tanya Umi Ayu untuk memastikan niat awal kami untuk mengadopsi anak.
“Mboten Mi…” Ucap ku cepat.
Aku pun menjelaskan kepada guru ku, bahwa aku dan Sekar berencana mengadopsi anak yang mungkin akan lahir dengan nasab nya sebagai ibunya karena anak tersebut lahir di luar nikah. Aku juga bertanya bagaimana nanti jika ia perempuan atau laki-laki. Otomatis anak itu nanti bukan mahram ku jika perempuan begitupun sebaliknya.
“Alhamdulilah niat yang baik, insyaallah akan dipermudah gusti Allah. 6 bulan bagi mas Guntur dan mbak Sekar akan menjadi waktu yang panjang tetapi tidak bagi ibu yang akan melahirkan bayi itu. Semoga Allah memberikan kesehatan dan kemudahan perempuan itu dengan mau bertobat dan tidak kembali menggugurkan kembali janinnya, dan doakan juga agar ibunya bisa betul-betul bertaubat.” Tanggap Umi Ayu,
“Kadang miris, di kalangan orang awam anak hasil dari perbuatan orang tuanya dianggap berdosa, harusnya kita tidak memberikan perlakukan yang diskriminatif kepada anak tersebut. Sebab, anak yang dilahirkan tidak mewarisi dosa turunan orang tuanya.”ucap Kyai Damar juga.
Aku memang tak menceritakan kisah sebenarnya, aku khawatir jadi membuka aib orang lain. Maka setidaknya aku bisa membicarakan kedepannya jika memang anak itu jadi kami adopsi.
“Dulu, Umi Laila pernah ini sampai mencari obat herbal sampai jutaan harganya. Untuk satu jamaah, karena kasus nya sama. ” Ucap Umi Ayu.
Umi Ayu pun masuk ke dalam, tak lama beliau membawa kitab dan membacanya lalu tampak kedua guru ku itu berdiskusi. Aku pun tak berani ikut. Hanya mendengarkan sehingga Umi Ayu memberikan satu masukan.
“Bisa kang, sekarang sudah cannggih. Minta resep dokter kandungan untuk obat atau vitamin agar bisa menghasilkan susu. Dengan begitu, bayi itu nanti minum ASI dari mbak Sekar minimal 5 x sampai kenyang, maka akan menjadi mahram,.” Ucap Umi Ayu.
“Begini saja kang, biar lebih mantap. Nanti saya bulan depan rencana sowan ke Gus Ali dan Kyai Rohim. Saya akan tanyakan untuk masalah ini, khawatir salah. Karena saya ragu, secara nasabnya tetap ibunya karena nanti anak ini lahir di luar nikah tetapi jika memang berhasil Mbak Sekar bisa menyusui bayi tersebut, maka apakah termasuk mahram njenengan dan mbak Sekar. Nah karena tadi dikatakan Umi Laila pernah mengalami ini. Kami akan coba bahas dengan beliau. Jadi tidak ada keragu-raguan dan lebih kehati-hatian. Tapi disisi lain, memang jika dia menyusu pada Mbak Sekar maka ia menjadi mahram bagi Kang Damar.” Ucap Kyai Damar.
“Inggih kulo manut Yai…” Ucap ku dengan menganggukan kepala.
Aku pun merasa senang sekali karena sepertinya guru kami merestui niat kami, semoga bukan hanya baik dimata kami tapi juga di hadapan Allah. Niat menyelamatkan janin yang mungkin akan terlantar dan ibu yang mungkin menjadi korban dari cinta masa muda tanpa ilmu, beruntung Vira sekarang lebih dewasa sehingga tak cepat bertindak seperti dahulu.
Aku berencana mengadopsi mutlak anak yang dilahirkan Vira nanti. ~~~~
Flashback off.
Namun satu masalah kembali terjadi, saat pulang dari kota. Sekar seraya memijat pundak ku, ia mengucapkan satu kalimat yang membuat aku ingin sekali marah padanya.
“Mas…”Panggil Sekar.
“Hem…” Jawab ku.
“Kalau seandainya mas nikahi saja Vira bagaimana?” Tanya nya.
Aku menghentikan tangannya dan menoleh ke arah nya. Iya tahu jika aku tak suka apa yang ia utarakan. Ia hanya duduk dan menunduk.
“Mau lomba tatap tatapan?” Tanya ku.
Dia mengangkat pandangannya dan segera mencubit perut ku.
“Ih… ya pasti menang mas… “ Ucapnya seraya berkali-kali menggelitik pinggang ku.
Aku tertawa karena merasa geli. Aku sebenarnya ingin marah, tapi aku tahu tak ada gunanya. Aku harus nya melihat dari sisi istriku kenapa ia bisa berkata begitu. Ku pegang dua tangannya dan aku dekap erat, seraya ku usap rambut panjangnya.
“Katakan apa alasan mu kali ini hingga kamu ingin sekali kembali berbagi suami pada perempuan lain, apa kamu ingin masuk surga karena di poligami?” Tanya ku.
“Tidak… bukan itu mas… Bukan karena surga, tapi karena agar mas bisa memiliki keturunan dari perempuan yang bisa memberikan mas keturunan. Aku rasa Vira anak yang baik andai bisa di bimbing dan diarahkan… Aku ikhlas mas… sehingga lelaki atau perempuan anak yang lahir nanti jadi tidak bingung statusnya nanti untuk mas dan untuk aku….” Ucap Sekar.
Aku menahan kepalanya saat ia ingin melerai pelukannya.
“Semua sudah dicarikan solusinya oleh Umi Ayu, insyaallah nanti beliau sowan ke Kyai Rohim untuk bertanya lebih lanjut.” Ucap ku.
Aku menceritakan obrolan ku semalam pada Sekar. Maka semenjak hari itu, setiap bulan Sekar selalu mengirim uang ke Vira. Ia juga sering telponan dengan Vira, juga sering sekali meminta Tika dan Yadi membesuk Vira. Saat Vira sakit pun, Sekar cepat menelpon Tika, ia ingin adik ipar ku itu semakin akrab juga dengan Sekar walau baru sebentar menjadi istri Yadi. Tiga bulan berlalu, Satu telepon dari ibu mertua membuat aku menitikkan air mata.
“Nak Guntur… ada yang ingin ibu sampaikan.” Ucap ibu hati-hati.