The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 52 Terbentur Biaya



Aku duduk di depan sebuah rumah sakit, baru saja aku selesai mengurus administrasi di temani oleh Yadi. Aku sudah dari pengadilan dan kantor CAtatan Sipil untuk membuat akte juga berkas adopsi anak ku. Alhamdulilah Yadi dan Tika membantu banyak sehingga semua bisa selesai dalam satu hari. Namun satu masalah muncul, saat aku akan membawa Si Nduk ke Sumatera. Aku ingin agar Sekar segera fokus memberikan ASI dan merawat buah hati kami, disamping itu aku pun harus tetap mencari nafkah. Aku tak mungkin lama-lama di Jawa. Jika tadi di pengadilan aku harus membeli banyak materai, di rumah sakit ini aku masih berpikir bagaiamana aku akan membawa si Nduk naik pesawat, usianya yang baru dua hari membuat pihak maskapai penerbangan tak mengizinkan. Aku bahkan baru menemui dokter untuk bertanya biaya jika menjadi dokter pendamping untuk Si Nduk selama penerbangan ke Sumatera. Menurut dokter anak tersebut, jika ingin membawa Si Nduk menggunakan pesawat memang harus menggunakan dokter pendamping, biaya nya sekitar 10 juta rupiah belum termasuk ongkos dokter tersebut pulang lagi.


“Karena bayi nanti akan diletakan di dalam box pak, beberapa menit sekali bayi itu harus saya lihat dan cek, telinganya juga harus kita pakaikan pelindung. Apalagi bayinya baru 3 minggu kata bapak.” Aku melirik Yadi.


Adik ku itu tadi cepat menjawab jika Si Nduk berusia 3 minggu, padahal Si Nduk baru berusia dua hari.


“Memangnya tidak boleh di peluk saja dok?” Tanya ku. Karena ku pikir bisa seperti naik bis atau mobil travel. Bayi bisa di gendong atau berada dalam pelukan. Maskapai penerbangan justru tak memberikan izin aku membawa Si Nduk jika tidak bersama dokter Pendamping.


“Tidak bisa bapak, justru membahayakan bayi nya,”Ucap dokter yang bernama Emi tersebut. Itupun dokter Emi akan memeriksa dulu bayi yang akan terbang menggunakan pesawat, karena harus ada data yang akurat juga tempat khusus bagi bayi yang akan di bawa.


Aku meminta waktu untuk berbicara pada Sekar, aku hubungi dia vya telepon. Aku menyampaikan perkara dana yang harus aku keluarkan mungkin kurang lebih sekitar 14 juta untuk dokter dan biaya sebagai dokter pendamping.


“Mas, tinggal satu langkah saja. Uang bisa kita cari besok. Ga papa, bismilah…” Ucap Sekar di ujung telepon.


Aku menghitung uang yang ada aku masih kurang sekitar 500 ribu, karena tiba di bandara untuk menuju desa aku harus sewa travel yang berkisar 500 ribu. Aku bertanya pada Yadi apakah ia punya tabungan.


“Kamu punya uang Yad?” Mas pinjam dulu.


“Berapa mas?” Tanya Yadi.


“Satu juta ada?” Tanya ku.


Yadi diam dan cepat menggeleng.


“Buat apa mas?” Tanya Tika yang ternyata mendengar ucapan ku.


“Buat biaya sewa mobil nanti ketika sampai bandara sana. Karena kalau di total, uang mas habis jika memang harus menggunakan dokter pendamping untuk Si Nduk.” Ucap ku.


Yadi yang mungkin belum banyak pengalaman ia malah menyarankan untuk minta bantuan atau tambah dari Nenek Vira. Aku justru naik pitam, bagaimana adik ku itu bisa berpikiran sejauh itu, Vira justru tak ikut membayar biaya bersalinnya. Karena aku dan Sekar sudah niat bahwa akan membantu dirinya sampai tuntas. Ku genggam erat kertas administrasi yang akan ku isi untuk meminta surat menyatakan bahwa dokter Emi akan menjadi dokter pendamping Si Nduk di pesawat.


“Kamu itu harus nya mikir, Vira itu bahkan sanggup berjuang sendiri selama hamil tanpa dampingan suami. Ia mau mengandung Si Nduk dengan sabar. Mau aku tambahkan beban biaya juga, jangan sampai sarjana mu itu membuat hati mu jadi menggampangkan segala sesuatu. Mas minta tolong kamu karena kamu adik mas, kamu pikir jika Tika di posisi Vira? Kamu sanggup melihat Tika seperti itu, bahkan kemarin nenek Vira sempat hampir mengubah pendirian bahwa dia yang akan rawat si Nduk.” Kedua bola mata ku memerah.


“Maaf mas,” Ucap Yadi.


“Mas, nanti sampai di kota sana. Jual saja ini… Bisa buat sewa mobil.” Ucap Tika.


Yadi mendongakkan kepalanya karena posisinya duduk sedangkan Tika berdiri dihadapannya.


“Itu kan mas kawin kita dik…” Ucap Yadi.


Tika menarik tangan ku dan ia berikan satu cincin tersebut lalu ia buka dompet di dalam tas kecilnya. Ia serahkan surat emas tersebut.


“Insyaallah Tika ikhlas… Bukankah mas Guntur yang dulu membiayai mas Yadi hingga meraih gelar S2 nya?” tanya Tika.


Aku hanya menoleh ke Arah Yadi dan lalu kembali menatap Tika.


“Izin suami mu dulu…” Ingat ku.


“Jika aku tidak izin mas Yadi karena menolong mas dan Mbak Sekar lalu dia marah. Maka aku berarti salah pilih imam untuk aku dan anak ku mas, dulu waktu kuliah suami ku ini sering sekali membanggakan mas dan Mbak Sekar. Maka aneh jika soal ini saja dia harus keberatan. Di kalkulasi mungkin ini belum ada 3 persennya dengan perjuangan juga biaya mas Guntur berikan untuk mas Yadi dan ibu bapak selama mas YAdi sekolah.” Ucap Tika.


Sudut bibir ku tertarik, aku menoleh ke arah Yadi. Ku tepuk pundaknya.


“Jika kamu sampai menyakiti dan mengecewakan adik ipar ku ini kelak… Aku orang pertama yang akan menghajar mu… Dan kamu harus menerima kelebihan dan kekurangan adik ku juga kekurangan pada keluarga kami jika memang suatu saat tabir kekurangan itu di buka…” Ucap ku.


Aku hanya membayangkan jika Tika tahu watak dan karakter ibu, apakah ia bisa sesabar Sekar. Atau ia akan biasa saja seperti Sekar. Bahkan istri ku itu masih saja memeluk dan mengelus lengan ibu ku saat berkunjung ke rumah. Tak ada kata bosan dan takut pada ibu, aku sendiri kadang ada rasa malas untuk berkunjung kerumah ibu. Sekar yang selalu mengingatkan juga mengajak main kerumah ibu dan bapak. Aku kadang berpikiran apakah istri ku itu normal. Karena aku saja anak kandung beliau sudah ngeri-ngeri sedap untuk berkunjung. Karena sudah hapal apa yang akan di bicarakan dan perlakuan ibu, tapi Sekar selalu menanggapinya dengan guyonan.


“Ayyo… mas Guntur dulu juga sering menjengkelkan ibu, kalau pulang sekolah bajunya kayak kain pel, tapi masih di cuci toh sama ibu. Mas Guntur juga masih bayi bisa nya Cuma nangis… tapi masih di urus toh sama ibu… kalau ibu ga sayang mungkin kalau lagi kambuh kejang-kejangnya, mas Guntur di buang atau di apain gimana.. Tapi nyatanya mas Guntur sampai hari ini sehat, kuat. Semua ada jerih payah ibu… Anggap saja kita begitu, nantikan ibu bosen sendiri mas. Kalau sudah ngomel sama kita minimal bapak kan ga jadi sasaran omelan ibu..” kala itu komentar Sekar.


Tanpa aku sadari Yadi berbisik di telinga ku.


“Aku tahu mas pasti membayangkan jika Tika ketemu atau serumah dengan ibu… jangan sampai mas,,, aku ndak yakin Tika bakal kuat dan sabar seperti Mbak Sekar..” Bisiknya.


Kami tertawa bersama seraya rangkulan untuk kembali menyerahkan biaya administrasi dan dokumen ke bagian administrasi. Dokter pun siap untuk mendampingi kami terbang ke Sumatera. Keesokan pagi aku dan Sekar justru merasa khawatir ketika Dokter Emi melihat Si Nduk yang akan ia periksa sebelum kami ke Bandara.


“Bapak ibu… Saya ini dokter sudah 14 tahun… jangan bohong. Ini umur 3 hari atau 3 minggu?” Tanya dokter Emi di balik kacamatanya. Tatapannya penuh selidik.