The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 36 Sosok Umi Ayu refleksi Umi Laila



Satu minggu pasca meninggalnya Arum, sebuah gosip kembali beredar.. Saat aku baru saja keluar dari kelas TPA. Pukul masih menunjukkan hampir jam 5 Sore. Ku lihat di depan pondok yang juga berada di dekat kediamannya Umi Ayu, masih terdapat beberapa ibu-ibu yang sedang mengaji dengan Umi Ayu.


Aku yang pernah ikut ketika beberapa santri mengambil sanad mengajar kitab yanbu'a. Maka Umi Ayu merasa bersyukur dan terbantu dengan adanya aku yang mengajar anak-anak masih tahap awal belajar baca Ql Quran. Setidaknya aku merasa senang, karena di sadari atau tidak saat mengajar anak-anak SD yang baru bisa huruf alif ba dan ta aku sedang berinvestasi di jalan Allah. Aku jadi ingat dulu kala Umi Siti selalu menyempatkan anak-anak nya mengaji dengan dirinya di waktu-waktu malam. Hal itu ia lakukan karena mengikuti jejak mertuanya. Yang berpesan jika seorang ibu harus tirakat dan mampu mengesampingkan rasa lelah dari semua kegiatan untuk mengajarkan anak baca al quran.


Kini aku tahu, bahwa saat anak-anak seperti TPA baru bisa belajar Al Fatihah. Maka ketika Al Fatihah itu benar dibaca sang anak. Tajwid dan tartilnya, maka ketika dewasa, ia akan membaca Al Fatihah tersebut minimal sehari semalam 17 kali. Maka aku semakin semangat mengajar anak-anak tersebut. Dengan kesabaran dan keistiqomahan ku. Walau hujan aku masih tetap datang dengan membawa payung. Bahkan ketika ada acara kuda lumping di desa ku, anak yang datang untuk mengaji hanya dua orang. Maka aku pun tetap mengajar. Tak aku liburkan, dawuh Umi Laila dahulu masih tertanam dalam ingatan ku.


Bahwa yang paling sulit bukan menuntut ilmu. Tetapi menjadi orang yang istikomah termasuk dalam melakukan tanggungjawab. Maka niat ku mengajar anak-anak TPA bukan karena ingin agar aku memiliki kesibukan. Terlalu kecil bagi ku dunia ini. Aku lebih tergiur mengejar akhirat ku yang belum pasti tanpa ada tidak nya kelak aku keturunan yang sholeh dan sholehah, yang akan menjadi amal jariah ku. Kini melalui anak-anak TPA ini aku mengejar akhirat ku. Namun setiap mereka yang berjalan di jalan dakwah pasti ada halangan dan rintangan. Tak akan semulus jalan tol. Sore ini aku kembali di tuntut untuk kembali mengedepankan kesabaran.


"Mbak Sekar.... " Panggil satu orang ibu-ibu.


"Ya Bu... " Jawab ku seraya menoleh.


"Mbak Sekar tahu tidak kalau banyak anak yang sekarang ngaji nya pindah?" Tanya salah seorang ibu.


"Iya, Umi Ayu kemarin cerita. Ya ndak apa-apa. Semua sama, yang penting anak-anak tetap mengaji." Ucap ku pada Ibu tersebut.


Tampak ia bingung dan hati-hati. Lalu ia mendekati aku dan mengusap punggung ku.


"Ojo tersinggung yo. Kabar nya orang tua khawatir karena sampeyan dianggap punya guna-guna. Karena sampean Mbak Arum yang PNS sebelah itu meninggal dunia. Itu isu yang beredar. Saya sih kasihan Umi Ayu dan Kyai Damar. Jadi sepi disini semenjak sampeyan mengajar.... " Ucapnya hati-hati.


Seketika hati ku sakit, rasanya kembali air mata ini ingin jatuh. Karena berdasarkan penuturan ibu tadi, Ibu mas Guntur juga ikut menyebarkan isu tersebut selain ibu Arum sendiri.


"Bahkan katanya tubuh Arum ketika dimandikan mengeluarkan darah dan mulut juga hidungnya. Belum lagi tubuhnya biru-biru di bagian dada dan itu nya.... " Bisik ibu itu pada ku.


"Astaghfirullah..... " Ucap ku cepat.


Aku memejamkan mata, ku atur napas ku yang terasa sesak. Aku sedih bukan karena fitnah yang mengarah kepada ku. Sedih karena kasihan Arum, seorang yang memandikan jenazah harusnya bisa menyimpan rapat apa yang ia lihat ketika memandikan mayat. Aku bahkan tak berani bercerita pada mas Guntur apa yang terjadi dengan jenazah Arum. Itu salah satu alasan kenapa harus keluarga, harus mahram yang memandikan jenazah. Jika ada hal-hal yang seperti itu tak diceritakan. Itu juga alasan tempat memandikan nya tertutup. Agar tak ada yang melihat tubuhnya jenazah ketika dimandikan. Tetapi Ibu Arum, ia justru menceritakan hal yang harusnya tak diceritakan. Itu adalah wujud penghormatan kepada mayat atau jenazah yang kita mandikan.


Sedih yang kedua, aku merasa sedih. Karena aku memberikan dampak negatif untuk Umi Ayu dan Kyai Damar. Aku pun akhirnya melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri ku. Aku mengirimkan pesan di ponsel Mas Guntur. Aku mengatakan jika akan ke pondok dulu. Ku lihat semua jamaah ibu-ibu mulai keluar dari serambi kediaman Umi Ayu. Aku berjalan masuk dan berpapasan dengan ibu-ibu tersebut. Entah apa hanya hati ku yang pandai su'udzon pada orang lain atau memang mereka membicarakan aku seraya berbisik. Ada juga yang menatap ku dengan tatapan tak suka.


"Astaghfirullah.... Astaghfirullah... hamba berlindung dari godaan setan ya Allah... " Batin ku. Aku menciun punggung tangan Umi Ayu.


"Enten nopo Mbak Sekar?" Tanya Umi Ayu.


{Ada apa Mbak Sekar}


Aku ragu-ragu tapi akhirnya ku beranikan mengutarakan kegundahan hati ku.


"Mi... Apakah Umi tidak khawatir dengan banyaknya santri yang pindah mengaji ke TPA sebelah?" Tanya ku hati-hati. Umi Ayu membuka satu toples dan menyerahkan satu buah air mineral berbentuk gelas.


Umi Ayu bahkan sedikit tertawa walau pelan sekali. Ah, sosoknya betul-betul mirip Umi Laila. Suaranya bahkan nyaris tak terdengar ketika berbicara. Aku bahkan baru-baru ini terbiasa cepat mendengar apa yang Umi Ayu ucapkan saat mengobrol. Karena volume suaranya begitu kecil. Tetapi aku pernah melihat beliau marah besar itu kepada santrinya yang ketahuan pacaran di lingkungan pondok.


"Mi, apa saya berhenti saja mengajar. Saya kasihan Umi dan Kyai Jika saya masih mengajar. Tampaknya gosip miring tentang saya dengan kabar meninggalnya Arum semakin menjadi.... " Jelasku lagi pelan.


Umi Ayu masih belum menanggapi apa yang aku utarakan. Beliau bahkan membuka satu jeruk dan membuang serabutnya lalu ia berikan kepada ku. Aku ragu-ragu, namun saat jeruk tersebut telah berada dekat dengan wajah ku. Aku menerimanya.


"Dulu, waktu saya baru-baru menjadi abdi ndalem Umi Laila. Beliau akan meminta saya dan adik saya ketika akan ke ndalem kyai, untuk makan jika ada yang dihidangkan. Karena kata beliau ada keberkahan ketika kita makan di tempat yang dimana dijadikan sumber ilmu. Walau memang saya merasa disini tempat mencari ilmu. Tapi saya tidak pernah merasa kalau saya harus punya santri sekian... " Ucap Umi Ayu yang kembali fokus membuang serabut jeruk yang menempel. Aku pun menikmati jeruk tersebut.


Umi Ayu juga menikmati jeruk tersebut. Betapa aku merasakan nuansa Kali Bening saat ini.


"Jauh sebelum saya akan menikah, saya belajar banyak hal. Umi Laila itu Tasawuf nya tinggi. Maka saya belajar banyak, minimal saya akan belajar seperti beliau. Salah satunya niat saya berada disini. Dulu Umi Laila Di Kali Bening tak pernah sekalipun merasa menjadi Bu Nyai, tidak pernah merasakan memiliki pesantren, merasa punya santri sekian sekian. Tetapi niatnya khidmah pada ilmu yang diberikan guru beliau. Maka saya pun begitu Mbak Sekar, saat ini saya berkhidmah untuk ilmu saya. Maka walau hanya satu murid, saya tetap akan mengajar walau tanpa murid saya akan tetap mengajar, minimal saya mengulang pelajaran saya dulu. Umi Laila dan Kyai Rohim dulu tidak pernah berebutan santri saat banyak pesantren baru. Saya justru keberatan jika Mbak Sekar berhenti mengajar karena memikirkan saya..." Ucap Umi Ayu seraya menelan satu iris jeruk terakhir. Senyum selalu terukir di wajah Umi Ayu.


Aku pun merasa tertampar, aku baru saja merasa bangga punya murid TPA. Aku bangga memiliki santri. Ternyata guru ku justru lebih jauh satu langkah dari ku. Beliau justru niat ngajar bukan karena merasa memiliki santri, niat untuk berkhidmah dengan ilmu. Niat merawat umatnya Rasulullah di akhir zaman.


"Dawuh nya Gus Baha 'Tidak menjadi apapun juga tidak masalah. Tidak dikenal orang juga tidak masalah. Tidak diakui keberadaannya juga tidak masalah, tidak dihargai juga tidak apa-apa. Justru bisa sembunyi dari banyak orang dan santai.... Kalau sudah jadi Kyai Besar seperti Umi Laila justru ndak bisa santai seperti sekarang.... " Ucap Umi Ayu setengah tertawa seraya mengupas buah salak.


Aku memperhatikan selama aku di sini. Umi Ayu memiliki kemiripan dengan Umi Laila. Ia suka ngemil, mungkin berada lama di dekat Umi Laila mempengaruhi kebiasaan Umi Ayu. Maka pulang dari sana, aku tak lagi khawatir tentang perkataan orang pada ku. Aku niat khidmah, khidmah pad guru, pada ilmu.


"Ternyata ini alasan kenapa masih harus tetap butuh dekat dengan orang soleh.... " Gumam ku seraya melangkahkan kaki, berjalan pulang. Tanpa bimbingan guru ternyata walau sudah menempuh dunia pesantren ya bakal oleng juga. Aku bahkan baru saja hampir oleng karena merasa aku memiliki santri. Sedangkan Umi Ayu yang jelas-jelas pemilik pondok pesantren tak pusing dengan banyaknya murid yang pindah.


'Sosok yang langka ditemui zaman sekarang.... ' batin ku.