
Aku dan Mas Guntur duduk di ruang tamu, sambil berbincang-bincang ringan. Cahaya lampu remang-remang menciptakan suasana yang hangat di tengah malam yang sejuk setelah hujan lebat tadi. Aku dan mas Guntur berbicara seputar perkembangan Ziyah.
"Tadi itu hampir jatuh mas, aku lagi mematikan sanyo. Eh pas kembali ke kamar Ziyah udah berada di tepi kasur." Cerita ku pada Mas Guntur tentang rutinitas atau kejadian sehari bersama Ziyah. Suami ku itu cukup sibuk karena harus ke ladang, lalu ke kantor urusan agama kecamatan dan nanti pulangnya cari rumput. Sungguh sebuah rezeki adalah dirinya sehat selalu dengan beratnya rutinitas dan aktivitas dalam sehari-hari.
"Mas lusa jemput Yadi dan Tika. Mereka akan kemari naik pesawat katanya. Putrinya masih kecil kasihan kalau naik bis." Ucap Mas Guntur.
"Kira-kira Tika kerasan ga ya Mas tinggal satu rumah dengan ibu." Ucap ku khawatir. Melihat karakter Tika, sepertinya ipar ku itu anak yang manja karena ia anak bungsu. Sedangkan karakter ibu yang cukup jutek dan mau menang sendiri itu tentu akan mendominasi kehidupan di rumah. Aku juga khawatir posisi Yadi nanti. Adik mas Guntur itu tak ada basic pondok pesantren. Maka mungkin sulit untuk menerapkan adab dan menahan emosi saat orang tua ikut campur urusan anak nya dalan rumah tangga.
"Kita sama-sama berdoa dan membimbing Yadi dan Tika. Kalau minta ibu yang ngalah rasanya sulit." ucap mas Guntur seraya membenarkan senter yang biasa dibawa ke ladang. Mas Guntur semenjak kehadiran Ziyah selalu pergi ke ladang setelah shalat Subuh. Ia akan menderes getah karet disaat masih berkabut atau gelap. Karena alasannya agar sore ada waktu sedikit santai bersama Ziyah dan aku. Kami menikmati bandrek yang ku buat dan sebuah roti goreng khas daerah sini. Tiba-tiba sebuah motor terdengar berhenti di depan rumah kami. Mas Guntur mengintip dari balik tirai.
"Masuk Dik, ada Pak Marhen dan Pak Syaiful." Titah mas Guntur.
Aku saat ibi memang sedang mengenakan daster berlengan pendek dan hanya sebatas lutut. Aku segera masuk ke kamar. Mas Guntur membuka pintu. Aku menghidupkan kompor untuk merebus air. Aku akan membuat kopi untuk tamu kami. Dalam hati aku bertanya-tanya ada gerangan apa Pak Marhen dan Pak Syaiful datang kemari malam-malam dan habis hujan lebat. Terlebih lagi sepertinya mereka memang menunggu waktu cukup larut. Ku lirik jan di dinding dapur. Pukul menunjukkan hampir jam setengah sepuluh.
'Ada maksud apa Pak Marhen kemari.' batin ku curiga.
Aku pun menuangkan air yang telah mendidik ke dalam gelas yang telah ku berikan gula juga kopi. Aku mengganti pakaian yang Panjang dan jilbab yang menutup hingga ke dada. Ku sajikan pada tamu yang tak lain adalah Pak Marhen dan Pak Syaiful. Aku pun berlalu meninggalkan ruang tamu. Aku duduk diruang tengah, namun aku bisa mendengar jelas apa yang diucapkan pak Marhen, tampak ia mengobrol biasa, dari bertanya perkembangan harga sawit dan karet di desa kami saat ini. Aku duduk setengah bersandar pada dinding tepat di dekat gorden pemisah ruang tamu dan ruang tengah. Aku bisa mendengar jelas apa yang di bicarakan.
“Jadi begini Kang, kedatangan kami kemari sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan. TErkait isu yang beredar. Seperti tadi kata kang Guntur jika semua itu harus tabayun. Nah sekarang saya kemari ingin tabayun. Terkait apakah benar Kang Guntur akan maju dalam pemilihan kades beberapa bulan kedepan?” tanya Pak Marhen dengan suara sedikit lebih pelan dari nadanya tadi ketika mengobrolkan bab perkebunan. Seolah ia ingin taka da orang lain yang mendengar pertanyaannya pada suami ku.
“Lah memangnya ada apa pak?” tanya mas Guntur penasaran akan maksud pertanyaan Pak Marhen.
“Ya, kamu pasti sudah tahu kalau aku akan majun anti untuk pemilihan kades besok. Nah kabar yang ku dengar bahwa kamu akan maju Kang, makanya aku ingin kepastian langsung dari sampeyan.” Ucap Pak Marhen.
Kini aku sudah tahu kemana arah pembicaraan dari Pak Marhen, mungkin ia khawatir pamornya akan kalah jika mas Guntur maju sebagai calon kades,karena mas Guntur begitu aktif di masyarakat, belum lagi banyaknya mungkin warga yang sering ditolong mas Guntur. Itu mas Guntur lakukan lilahitallah, karena jauh sebelum ada niat untuk maju jadi calon kades, mas Guntur sudah sering membantu orang hanya dengan niat bahwa Allah yang memerintahkan untuk saling tolong menolong apalagi untuk bab meringankan beban orang lain. Maka saat ini sebenarnya jika suami ku maju dalam pilihan kades, bukan sombong tapi mas Guntur cukup bisa menjadi lawan yang kuat jika di bandingkan dengan pak Marhen yang terkenal ketus dan kadang arogan dengan masyrakat karena ia kaya. Baru satu dua bulan ini Pak Marhen terlihat ramah pada warga, aku pun menilai itu, karena biasanya jika bertemu tak pernah ada senyum di bibir Pak Marhen dan istrinya, namun satu dua bulan ini sepasang suami istri istu begitu rajin menyapa dan datang ke acara warga.
“Saya sementara ini tidak akan maju pak, saya tidak tahu kedepannya, yang jelas sekarang saya tidak bisa mengatakan saya maju atau tidak.” Ucap Mas Guntur mantap.
“Loh, maksudnya?” Tanya Mas Guntur yang terlihat tak suka dianggap tak punya pendirian.
“Kan sampeyan bisa bilang iya atau tidak, kok dak tahu. Berarti sampeyan ada niat maju? Atau ada orang yang membiayai sampeyan untuk maju biar saya ada saingannya?” tanya Pak Marhen memburu agar mas Guntur memberikan kepastian akan kabar ia menjadi bakal calon kades atau tidak.
“Begini pak, saya sendiri sedang menanti apakah niat saya untuk maju itu di amini atau tidak oleh para guru saya, jika iya maka saya insyaallah akan maju.” Jelas mas Guntur.
“Lah gitu, tinggal ngomong saja ada niat maju. Kok susah bener.” Komentar pak Syaiful yang ku dengar ia adalah tim sukses untuk Pak MArhen nanti ketika pilihan kades.
“Ap aini pak?” suara mas Guntur terdengar kaget.
“Jadi begini mas, maksud dan tujuan saya kemari adalah ingin sampeyan ndak usah maju sebagai kades. Ini ada uang untuk sampeyan. Kalau memang ada yang meminta sampeyan untuk maju, tolong di tolak. Dan ini diterima. Saya mohon, nanti Kang Guntur saya jadikan kadus atau apalah jika saya terpilih. Saya ingin Kang Guntur jadi timses saya saja, anggap saja ini uang jalan untuk Kang Guntur selama menjadi tim saya.” Ucap Pak Marhen.
“Astaghfirullah…. Pak, jika saya maju itu karena Allah ridho lewat guru-guru saya, namun jika saya tidak maju itu pun bukan karena uang ini.” Suara mas Guntur terdengar emosi.
“Dilihat dulu mas, uangnya. Itu 50 juta loh…” Bisik pak Syaiful yang masih bisa ku dengar.
“Mau lima puluh juta, serratus juta atau lima ratus juta, aku tidak akan menerima uang yang berbentuk sogokan ini. Mohon maaf Pak saya tidak bisa menerima ini. Melihat hal ini tekad saya semakin bulat untuk mencalonkan diri jadi kades, saya malah kahwatir jika bapak jadi Kadesnya.” Ucap mas Guntur sudah dengan nada emosi.
“Tidak tahu diri kamu! Di kasihani malah tidak tau diri! Mau melawan aku kamu Gun! Wong kere! Sombong! Lihat saja, aku bakal buat kamu dan Kyai mu Damar itu habis dan pergi dari sini jika aku jadi nanti! Ayo Ful, ndak ada gunanya kita disini.” Teriak Pak Marhen, suara tangis Ziyah membuat aku berlari ke kamar. Putri ku pasti kaget karena tiba-tiba mendengar orang berteriak apalagi pukul hampir jam 12 malam.
‘Astaghfirullah… AStaghfirulah…” batin ku sebelum menyusui Ziyah. Aku ingin hati ku tenang agar ASI ini juga baik dan memberikan ketenangan pada putri ku.
'Ada apa sebenarnya jika jadi kades, sampai berani meminta mas Guntur mundur dan memberikan uang yang jumlahnya tidak sedikit.' batin ku seraya mengusap kepala Ziyah. Cepat ku tepis pikiran ku. Aku segera bershalawat selama memberikan ASI anak ku.