
Perdebatan kembali terjadi saat prosesi akan memandikan Arum, Ibu Arum kembali keberatan jika aku ikut memandikan jenazah putrinya. Beberapa keluarga dari pihak Arum kembali membujuk ibunya untuk mengizinkan aku ikut memandikan jenazah, hingga ada inisiatif dari salah satu keluarga Arum yang paling tua mengatakan jika mereke akan meminta pendapat dari Umi Ayu yang kebetulan datang untuk takziah. Umi Ayu pun akhirnya beranjak dari tempatnya, beliau mendekat ke arah Ibu Arum. Aku dapat melihat tatapan Ibu Arum masih memandang aku tak suka. Istri Pak Lek Gio pun menyampaikan bahwa aku akan memandikan jenazah Arum. Aku sebenarnya tak tahu kenapa almarhumah Arum meminta hal yang aku anggap aneh.
Memang syarat untuk memandikan mayat salah satunya harus sejenis atau mahramnya. Ah, aku pun mengerti saat ini kenapa Arum begitu ingin menikah dengan mas Guntur, mungkin suami ku orang alim, ia juga mudin. Maka tentu saja jika istrinya meninggal,suaminya yang biasa mengurus jenazah akan lebih hati-hati dan paham dalam memandikan, mengkafani dirinya. Belum lagi hadirnya anak selepas kepergiannya, maka akan menjadi amal jariahnya kelak, karena mungkin ia percaya pada mas Guntur dan aku. Entah kenapa ada rasa iba dalam hatiku kepada Sekar. Saat akan masuk kedalam tempat yang sudah di sediakan. Tampak empat orang lelaki yang merupakan kakak dan adik dari alamrhum ayah Arum mengangkat tubuh yang telah kaku itu ke tempat pemandian yang tertutup rapat kain hijau. Hanya ada aku, ibu Arum dan Umi Ayu. Permintaan dari Ibu Arum, maka Umi Ayu pun mengamini demi dijalani sebuah permintaan almarhumah. Entah Arum punya firasat apa, atau memang Allah ingin sebuah aib tetap harus di jaga. Inilah rahasia mungkin kenapa harus yang memiliki hubungan dengan mayat saat akan memandikan.
“Mi…” Panggil ku dengan tatapan pada Umi Ayu.
Umi Ayu yang berada di bagian tengah segera mengikuti arah pandangan matanya ke bagian bawah kain. Umi Ayu tampak sesuatu yang mengagetkan aku dan dirinya. Ada darah segar yang mengalir dari arah bawah bagian tubuh Arum. Belum lagi dari hidung Arum juga mengalir warna merah gelap saat tubuhnya kami miringkan ke kanan untuk menggosok punggungnya. Bahkan ketika proses mengkafani pun, kapas yang kami sumbat tampak masih tak mampu menahan laju darah. Akhirnya aku dan Umi Ayu kembali mengganti kapas tersebut.
“Aku tak menyimpan rasa sakit hati dan dendam pada mu Rum…” Batin ku dalam hati.
Aku mengantarkan Arum hingga ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sampai di prosesi pemakaman, aku pun pulang bersama Mas Guntur. Diatas motor aku justru merenungkan nasib Arum yang meninggal dalam keadaan sendiri. Maka tinggal sedekah dan ilmu nya yang ia ajarkan kepada mereka yang kini masih hidup. Karena ia tak memiliki anak, ah aku semakin merasakan gelisah kala teringat perihal anak. Maka saat ini aku tak pesimis, tapi aku lebih fokus pada ilmu yang kini aku miliki dan harta, tenaga yang kini aku miliki untuk sedekah di jalan Allah dan mereka yang membutuhkan.
Kami shalat dzuhur bersama di rumah, karena tak mungkin shalat saat tadi di masjid karena aku khawatir pakaian ku ada najis.
“Dik, mikirin apa? Dari pulang tadi sepertinya gelisah?” Tanya mas Guntur saat aku menyodorkan secangkir kopi seraya duduk di sisinya.
“Mikirin kita….” Ucap ku pelan.
“Kita?” Beo mas Guntur.
“Iya, kita. Kita hanya punya sedekah dan ilmu kita yang bermanfaat ketika kita kelak tak lagi di dunia… karena…” Ucap Sekar.
“Dan kita…. Tidak punya anak?”Tanya mas Guntur seraya menyelipkan rambut panjang ku di balik telinga.
Anggukan kepala ku pelan membuat mas Guntur membenarkan posisi duduknya.
“Bukan tidak punya tapi belum. Kamu tahu tidak kemarin sore kabarnya Umi Ayu pingsan di masjid. Beliau sepertinya kelelahan. Bagaiamana kamu bantu Umi Ayu mengajar anak-anak TPA, jadi buat ibu-ibu nya biar Umi Ayu. Tadi Kyai Damar nanya bisa ndak kalau kamu bantu di TPA, karena menunggu yang dari Jawa tapi belum ada kabar.” Ucap mas Guntur.
Mas Guntur mengambil pisang goreng yang baru saja ku goreng, tampak ia kepanasan saat mengambil satu. Saat ia akan meniupnya, aku mengambil satu piring kecil dan garpu. Aku ambil satu pisang dan ku porong kecil-kecil agar cepat dingin, setelah cukup dingin aku memegangnya dengan tangan dan ku suapkan ke arah mas Guntur.
“Kalau mas mengizinkan, aku mau mas…” Ucap ku mantap.
“Ya sudah nanti malam kita ke pondok.” Ucap Mas Guntur.
Kami pun menikmati pisang goreng tersebut. Baru satu dua suap kami menikmati pisang tersebut, tiba-tiba teriakan dari arah rumah Neneng. Sudah kupastikan itu suara Neneng.
“Aaa…. Ampuuunnn Mas….!”
“Neneng itu Dik, ada apalagi anak itu…” Ucap Mas Guntur yang menggelengkan kepalanya.
Aku dan mas Guntur bergegas berlari ke arah rumah Neneng, aku khawatir Leo kembali memukul Neneng. Mereka menikah di usia cukup belia. Sama-sama tidak tamat SMA maka emosi Leo belum matang, Neneng juga belum terlalu dewasa. Saat tiba di pintu depan rumah mereka aku mengetuk pintu.
“Assalammualaikum, Neng…” Ucap ku seraya mengetuk pintu rumahnya.
Pintu rumah terbuka, kulihat wajah dan bajunya sudah basah bahkan sayur bayam tampak ada yang menempel di pundaknya. Aku menyingkirkan sayur tersebut, Neneng sudah menangis tersedu-sedu.
“Hiks…hiks… mbak… Mas Leo….” Ucap nya seraya bersembunyi di balik tubuh ku. Mas Guntur cepat menahan Leo saat akan berlari ke arah Neneng.
“Leo!” Bentak mas Guntur.
“Perempuan kok ndak ada gunanya!” Bentak Leo.
Kedua pupil ku membesar, aku sebenarnya sering sekali melihat Neneng di bentak dan di rendahkan oleh Leo.
“Ada apa ini? Malu di dengar dan di lihat orang. Apa ga capek kamu ribut terus!” Ucap Mas Guntur seraya menahan langkah Leo.
“Aku di siram sayur dan di tampar mas….” Ucap Neneng lirih. Ia bahkan memeluk ku. Tiba-tiba suara tangis Galu dan Fitri. Anak Neneng dan Leo.
“Wes, anaknya dulu diurus…” Ucap Mas Guntur pada Neneng.
Ibu Galu itu tampak takut untuk masuk kerumah.
Aku membimbingnya untuk kedalam rumah dan menuju kamarnya.
Aku menggendong Galu sedangkan Neneng menggendong Fitri.
“Tak ambil saleb dulu ya Neng, itu merah lehernya.” Ucap ku seraya menuju kamar saat ia baru saja dari kamar mandi yang berada di dapur. Aku tak mungkin membiarkan Neneng berganti pakaian di kamar ku, karena rumah ku hanya punya tiga ruangan, ruang tamu, kamar tidur ku dan satu ruangan yang ku gunakan untuk makan, masak sekaligus bersantai dengan mas Guntur. Aku mengolesi leher Neneng dengan saleb.
Aku bertanya ada apa sampai ribut.
“Lah kan mas Leo ngomong, katanya sayurnya kurang masin. Ya aku tambahin garam halus. Terus dibilang lagi, tambah lagi, ya tak tambah lagi, bilang lagi, teruske.. tambah lagi… ya tak tambah toh Mbak Sekar.” Cerita Neneng pada ku dengan sisa-sisa isakan tangisnya.
“Ya masin dong Neng kalau kamu tambahin banyak garamnya,” Ucap ku.
“Tapi kan dianya suruh nambah, kok tahu-tahu sayurnya di siram ke aku terus aku di jambak sama di tampar…” Ucap Neneng seraya memegang pipi kanannya. Aku memang melihat merah pada pipi kanannya, karena kulit Neneng kuning langsat maka cukup mudah melihat tanda bekas tamparan Leo.
Aku tak bisa menyalahkan Leo, atau membela Neneng. Aku tak mau seperti kebanyakan ibu-ibu sekarang yang akan begitu lincah nya baik bibir mau pun jempolnya langsung menghujat suami atau istri yang tak lain adalah artis di media sosial hanya karena melihat dari sudut pandang kita sendiri. Apalagi aku yang Cuma tetangga Neneng, aku tak tahu isi rumah mereka bagaiamana atau mendengarkan dari dua belah pihak. Aku hanya memberikan nya nasihat untuk bersabar.
Ia sibuk akan pulang kerumah ibunya, kutahan niat hatinya untuk pulang pada orang tuanya dengan kondisi masih emosi, justru akan memperkeruh masalah.
“Ndak baik, nanti tunggu dulu. Tunggu sampai emosi kamu dan Leo sudah redah. Terus jangan cerita dulu sama orang tua mu tentang Leo.” Ingat ku.
Aku ingat saat itu Neneng di geret dari tempat hajatan dan dijadikan tontonan orang banyak. Neneng langsung cerita kepada orang tuanya. Akhirnya kedua orang tua Neneng sampai sekarang benci sama Leo, padahal Leo marah karena Neneng belum masak dirumah, sedangkan ia baru pulang dari kota. Namun karena jodoh, setelah itu mereka kembali mesra dan ketawa dan ketiwi lagi seperti orang pacaran, orang tuanya sudah terlanjur jengkel pada Leo. Dan tampaknya sejak saat itu Neneng memang lebih sering mengeluh pada ku tentang isi hatinya,namun kali ini Leo sudah keterlaluan.
Masih basah bibirku membicarakan kejadian dulu agar Neneng tidak buru-buru pulang kerumah orang tuanya, Leo sudah masuk kerumah diikuti mas Guntur.
“Ayo pulang… “ Ajak Leo.
Aku melongo tak percaya. Leo bisa dengan santainya mengajak Neneng pulang seperti tidak ada masalah, padahal baru saja ia menampar Neneng.
“Ayo Neng… Pulang…” Ajaknya pada Neneng.
“Ndak mau! Nanti kamu tampar lagi!” Ucap Neneng seraya mencebikkan bibirnya.
Aku menahan tawa ku melihat bibir Neneng yang bisa di kuncir.
“Neng…. Besok kalau aku gajian tak turutin kamu mau beli apa saja… sebagai tanda maaf ku…” Ucap Leo.
Leo mengambil Galu dari pelukan Neneng dan ia memegang tangan istrinya.
“Janji tapi ndak nampar lagi, aku ndak mau kayak artis-artis itu loh… menderita lahir batin…” Ucapnya.
Aku dan mas Guntur saling lirik melihat adegan suami istri ini, sungguh kedewasaan mereka memang belum ada sama sekali. Anggukan kepala dari Leo membuat Neneng tersenyum lebar dan menggendong Fitri.
“Ya wes, aku pulang dulu ya mbak Sekar….” Ucap Neneng pada ku. Aku mengangguk seraya menyunggingkan senyum.
Sayu-sayup masih terdengar obrolan sepasang suami istri dari dalam rumah kami.
“Nanti aku beliin gamis yang model balon lo Mas….” Ucap Neneng manja.
“Iya… sekalian balon-balonnya juga,..” Jawab Leo.
“Lah mas Leo mau makan apa ini, sayurnya ndak ada. Itu tadi bayam dan bawangnya aku minta mbak Sekar.”Ucapnya.
“Aku tak ambil telur ayam saja di kandang ayam. Kamu ngurus Galu saja, aku tak goreng sendiri telurnya…” UCap Leo seraya merangkul Neneng.
Aku dan mas Guntur terkekeh-kekeh melihat sepasang suami istri yang akan begitu cepat berubah, Neneng memang mencintai Leo. Karena bagi Neneng Leo lelaki paling tampan saat sekolah. Sedangkan Leo menyukai Neneng karena istrinya anak orang berada, tapi ia lupa jika Neneng bukan anak satu-satunya. Maka harapan hidup mewah saat menikah dengan Neneng jauh dari harapan.
Mas Guntur menutup pintu dapur. Aku penasaran apa yang membuat Leo langsung berubah.
“Mas bilang apa sama Leo?” Tanya ku penasaran seraya kembali menikmati pisang goreng yang tak lagi panas.
“Mas bilang sekarang jangan sembarangan kalau emosi langsung pukul istri, ada undang-undangnya. Orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga dipidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp15 juta. Dia tak kasih contoh yang di desa Lukir kemarin itu suaminya akhirnya di penjara, di denda terus cerai. Padahal Cuma masalah sepele, istrinya minta uang untuk beli beras saat suami tidur.” Jelas Mas Guntur. Dan ternyata sepele sekali masalah Leo dan Neneng, sayur yang di masak Neneng kemasinan dan Leo yang merasa lelah juga lapar menggunakan kiasan pada Neneng yang mungkin sudah lelah seharian merawat anak dan mengurus rumah. Ia bahkan bingung saat tukang sayur tak kunjung lewat sedang hari makin siang, maka ia meminta tanaman sayur bayam yang ada di samping rumah.
"Sebenarnya kalau Leo tingga tambahkan air, masalahnya selesai ya mas..." Ucap ku.
"Leo terbiasa dilayani, jadi seperti itu pas menikah dianggapnya istrinya itu seperti ibunya yang pintar masak, namanya juga merid by acciden... satu masalah yang sebenarnya masih belum menemukan solusinya di desa kita." Keluh mas Guntur.
Aku beruntung karena menikah dengan kondisi emosi kami, sama-sama matang. Ilmu pun telah kami kantongi sehingga banyak masalah menghampiri, bukan hal yang sulit untuk menyelesaikannya tanpa emosi. Karena dulu aku menikah tidak pernah berharap membayangkan akan bahagia. Karena sekelas Umi Siti yang anak Kyai, Bu Nyai justru hampir masalah selalu datang menghadang apalagi aku yang Cuma orang biasa. Tidak dari dalam diri sendiri, dari orang luar atau keluarga.