The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 57 Ambisi Pak Marhen (POV Guntur)



Ku tatap wajah yang selalu menunjukkan keteduhan juga kesabaran. Kyai Damar tampak menyerahkan satu ponsel jadul yang sering ku bawa ketika pergi ke ladang. Ternyata Kyai Damar mengikuti aku untuk mengantarkan ponsel, namun kami dipertemukan tepat di depan rumah salah satu warga yang masih terbuka pintu depannya, mereka tampak berbicara di dalam. Mungkin ini hikmah motor ku mogok, sehingga aku bisa mendengar orang yang menghina kyai ku, namun sifat sabar Kyai ku menjadikan aku bisa lebih banyak belajar.


“Sudah Kang, ndak usah di tanggapi. Ayo.” Ajak Kyai Damar seraya menepuk pundak ku, bagi ku ajakan dari Kyai Damar untuk bergegas meninggalkan lokasi tersebut adalah perintah. Saat kami berjalan menuju rumah ku. Kami berjalan beriringan, Kyai Damar berjalan di sisi kanan motor ku. Aku sedikit memperlambat jalan ku, karena khawatir justru berjalan mendahului guru ku. Kyai Damar menyulut sebatang rokok favoritnya, ia pun menatap ke arah langit sesekali menoleh ke arah ku.


“Kalau kamu masuk ke rumah tadi dan marah sama mereka. Apa beda kamu sama mereka Kang?” Ucap Kyai Damar seraya menghembuskan rokok kretek miliknya.


Kami masih terus melangkah menuju ke arah rumah ku. Suasana cukup dingin, membuat aku sedikit merinding.


“Saya ndak kaget kalau di hina, di caci. Toh mereka itu makhluknya Gusti Allah, kenapa saya harus sibuk meminta pujian mereka. Cukuplah bagi saya meminta penilaian Gusti Allah bukan manusia.” Ucap Kyai Damar lagi.


Aku semakin merasa kagum pada Kyai Damar, sepintas terlintas kalimat Kyai Rohim hampir satu tahun lalu saat aku sowan ke Kali Bening. Kyai Damar memang bukan alumni Kali Bening, tapi ayah beliau pernah mengaji dengan Kyai Rohim, maka otomatis Kyai Damar sedikit banyak ada kemiripan dalam berdakwah, termasuk alasan beliau saat memutuskan untuk pergi ke Sumatera. Walau tubuh ku terasa dingin hingga merasuk ke tulang, namun hati ku hangat mendengar petuah Kyai Damar. Bahwa hidup di akhir zaman kita harus banyak sabar, termasuk ketika bertemu dengan mereka yang memiliki pandangan berbeda pada kita. Hingga aku tiba di dekat simpang ke arah rumah ku, Kyai Damar ternyata disusul seorang santri lelaki yang mengayuh sepeda. Lelaki berusia 48 tahun itu tampak naik di bagian belakang, santri itu pun setengah menunduk dan kembali mengayuh sepedanya. Aku hanya menunduk menunggu Kyai Damar pergi dan hilang dari pandangan.


“Sungguh aku beruntung bertemu guru seperti beliau,” gumam ku seraya menatap Kyai Damar yang hampir menghilang dari pelupuk mata. Aku pun menuju ke arah belakang rumah dan ku parkirkan sepeda motor ku di dekat kandang Ijem. Setelah mencuci kaki dan tangan juga muka aku baru berani mengetuk pintu.


“Tok.Tok.Tok,”


“Assalamualaikum.” Ucap ku.


“Walaikumsalam” Suara Sekar dari arah dalam. Ia muncul dari balik pintu dengan mukenah hijau miliknya.


“Belum tidur?” Tanya ku seraya menyodorkan tangan.


“Baru bangun, terus ganti popok Ziyah. Satu hari ini belum sempat nderes.” Ucap Sekar seraya berjalan ke arah kompor.


“Ndak usah buat kopi dik, Mas sudah ngopi tadi di Pondok.” Cegah ku, kembali Sekar memutar balik knop kompor tersebut. Ia duduk di sisi ku dan bergelayut di lengan ku. Aku merangkulnya cukup erat.


“Tumben pulang nya cepat?” tanya Sekar, aku melirik ke arah jam dinding. Masih pukul satu malam. Aku memang biasa pulang dari pondok jam 2 malam. Ia paham betul jam pulang aku dari pondok, sekedar mengelilingi pondok untuk melihat apakah masih ada anak santri yang merokok atau belum tidur.


“Ndak ada santri yang bakal merokok kalau baru hujan deras begini.” Ucap ku.


“Motornya sengaja di matiin?” tanya Sekar lagi, aku pun mengatakan jika sepeda motor ku tak mau hidup. Dan sepenggal cerita ketika perjalanan pulang tadi.


“Sebenarnya kabar itu sudah lama aku mendengarnya mas, ketika posyandu juga beberapa kasak kusuk bahwa jika


Marhen nyalon kades dan menang, ia akan mengusir Kyai Damar. Dengan dalih tanah yang sekarang di bangun pesantren itu masih belum jelas statusnya. Kabarnya masih tanah Neneknya Pak Johan. Tapi aku ga berani bahas sama mas, takut jadi Fitnah.” Ucap Sekar.


Aku pun reflek manggut-manggut. Kini aku baru paham suara siapa yang begitu menggebu-gebu mencaci Kyai Damar tadi, lelaki yang tak lain adalah Pak Marhen. Ia adalah salah satu anak dari mantan kades dan tokoh sesepuh di desa ini. Namun yang aku masih tanda tanya besar apa perihal yang membuat ia begitu ingin mengusir Kyai Damar dan Umi Ayu dari tempat itu.


“Tapi Kyai Damar tadi mencegah aku untuk masuk, jika tidak bisa mas pastikan bakal terjadi keributan tadi. Dada ini rasa nya mendidih.” Curhat ku pada Sekar.


Ia justru terkekeh dan mengusap lengan ku seraya mengenang satu sosok Kyai yang ia juga kagumi kesabaran dan kejenakaannya serta ke waliannya.


“Jadi inget Mbah Yai Gusdur ya mas, beliau dulu saat di demo besar-besaran dan diminta turun dari jabatannya, beliau justru turun dan keluar dari istana kepresidenan karena banyaknya santri juga para penderek beliau dari segala penjuru tanah air datang ke ibu kota untuk meminta beliau tidak turun. Bayangkan jika saat itu beliau bersikeras untuk tetap bertahan menjadi presiden,maka sudah bisa dipastikan terjadi pertumpahan darah antara para pendukung beliau dan yang meminta beliau turun, tapi kini satu persatu apa yang beliau ucapkan benar dan menjadi nyata.” Ucap Sekar.


Ya, aku mengamini apa yang istriku ucapkan. Kala itu Kyai Abdurahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur dawuh jika akan datang masa dimana ulama-ulama muda muncul untuk berdakwah, dan kini bisa aku lihat sendiri seberapa banyaknya ulama muda yang menjadi sosok di kagumi oleh banyak masyrakat dengan gaya berdakwah mereka sesuai pada zamannya, layaknya para Wali Songo yang berdakwah di Nusantara dengan memulai dari berdagang dan seni juga budaya yang ada di Indonesia sehingga kini Indonesia menjadi negara mayoritas penduduk muslim dan kini bangsa luar pun mengakui bahwa islam di Indonesia begitu ramah dan damai, tentu saja semua itu tak lepas dari peran ulama-ulama yang selalu mendakwahkan cinta damai bukan ujaran kebencian.


Hari berganti hari, aku sudah melupakan peristiwa malam itu. Tanpa disangka saat jadwal ku jaga malam atau siskamling bersama mas Yono. Aku yang berjalan di kegelapan melihat beberapa pemuda berhenti tepat di depan pondok pesantren. Mereka menabur sesuatu, aku pun bergegas ke arah tempat mereka namun sayangnya mereka lebih dulu pergi. Aku pun duduk berjongkok dan melihat sebuah kain putih dan jarum juga kembang melati serta bau aroma minyak yang menyengat di sertai bau menyan. Ku dengan membaca shalawat aku mencokel tanah tersebut dan tanpa aku sadari Kyai Damar menahan lengan ku.


Aku menoleh kearah belakang dan mengangguk. Namun aku melirik kearah benda yang biasa orang gunakan untuk guna-guna. Aku pun pamit untuk kembali ronda, saat aku berada di pos kamling tiba-tiba sudah ada beberapa bapak-bapak yang aku kenal, mereka adalah anggota yasinan setiap malam jumat.


“Kang, Pak Marhen itu sepertinya betul-betul ambisi ingin jadi Kades, beliau ndak main-main. Halal atau haram beliau begitu ingin menjadi kades, tujuannya itu loh yang aneh, masa’ mau jadi kades buat ngusir Kyai Damar.” Ucap Pak Santoso.


“Hus, jangan sembarangan,” Ingat ku pada pak Santoso.


“Loh, betul Kang. Beliau siap jual 4 hektar kebunnya buat serangan fajar kalau jadi nyalon kades besok.” Ucap mas Yono yang begitu yakin.


“Darimana mas Yono tahu,?” Tanya ku polos.


“Loh ya tahu wong aku sempat diajak jadi timsesnya, tapi aku ya ga mungkin dukung dia kalau Pak De ku jadi maju juga di pildes besok.” Ucap mas Yono.


“Lah memangnya kapan toh?” Tanya ku penasaran, aku memang tak sempat mengikuti perkembangan berita seperti itu, karena aktifitas ku terlalu padat dari pagi sampai siang aku akan berada di kantor pencatatan pernikahan dan siangnya aku akan ke ladang, sore aku akan mencari rumput, malam hari sebelum isya aku akan mengajar mengaji dan tengah malam kadang aku gunakan untuk mengikuti kajian yang diadakan Kyai Damar, hampir setiap malam selalu saja ada kegiatan membahas kitab di pondok pesantren Kyai Damar, dan tengah malam kadang menjadi agenda sendiri bagi ku untuk duduk dan mendengar petuah dari Kyai yang merupakan guru spiritual bagi ku, karena walaupun aku alumni pondok pesantren, aku tetap butuh bimbingan saat tak lagi di pondok.


Tiba-tiba satu lambaian tangan di hadapan ku membuat lamunan ku terhenti.


“Ya dia ngelamun, gimana kata mas Yono tadi Kang?Kalau jadi kenyataan?” Ucap Pak Santoso.


“Guyon soal apa Pak?” Tanya ku yang tak menyimak obrolan karena melamun sosok Kyai Damar bagi diriku.


“Awak wae seng nyalon kades, lah daripada Pak Marhen yang jadi… bisa-bisa Kyai Damar pergi dari sini, kemana kita akan menemukan sosok seperti beliau?’ Tanya Mas Yono.


Aku memukul lengannya dan seraya tertawa lalu memegang senter ku.


“Sampeyan ini, kalau bercanda ga usah ketinggian…” seloroh ku.


Kami pun tertawa bersama, guyon adalah salah satu penghilang lelah dan kantuk bagi rakyat kecil seperti kami ini. Aku pun saat menjelang shubuh pulang kerumah, aku menceritakan guyonan pada Sekar, istri ku itu selalu saja bisa membuat hati ini berdebar-debar berkali-kali karena akhlaknya.


“Aamiin, mudah-mudahan kalau malaikat mendengar tadi dan mengamini, mas Guntur betul-betul siap menjadikan umur dan waktu mas untuk kemanfaatan orang banyak.” Ucap Sekar dengan wajah berbinar-binar.


“Dik… Dik… ada toh Kades orang susah kayak mas ini… apalagi lawannya Pak Marhen, juragan sudah itu kaya dari lahir keluarga besar pula di desa ini.” Jawab ku cepat, aku bukan rendah diri namun itu sesuai fakta, mungkin untuk daftar aku bisa tapi untuk melawan serangan fajar Pak Marhen, tentu bukan hal yang mudah, sudah pasti kalah telak.


“Pak Marhen itu manusia, makhluk Gusti Allah mas. Lah kalau dekengnya kita Pusat… Jangan kan Pak Marhen… Pak Hairul juga kalah mas.” Jawab Sekar yang tampak bersemangat sekali menanggapi guyonan ketika ronda tadi.


“Wes koyo Gus Idham wae Dik… Dekengnya pusat… lah nek mas jadi kades, kamu ga takut mas di incer Garangan?”


“Yakin mau nikah sama garangan? Lah sama almarhumah kemarin yang cantik, PNS saja mas ndak mau, sama Vira yang cantik, muda baby face, putih udah kayak aktris drakor mas ndak mau, kok malah mau sama garangan… Ga bahaya tah?” Ucapnya seraya mencoleh pinggang ku. Kami tertawa bersama dan ku angkat tubuhnya hingga ia menjerit karena merasa geli, namun suara teriakannya jsutru membangunkan buah hati kami yang dari tadi terlelap di balik kelambu kecil.


“A…..Mas!” Teriak Sekar karena kaget.


“Oe…oe….” Suara tangis Ziyah.


“Wes ga jadi olahraga shubuh ini….” Ucap ku seraya menempelkan hidung ku ke hidung istriku yang semakin hari semakin menunjukkan bahwa ia adalah perhiasan dunia paling indah yang aku miliki.