The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 65 Pasca Pemilihan



Satu Minggu pasca pemilihan kepala desa, suasana do desa masih belum bisa kembali seperti sediakala. Beberapa pendukung dari Pak Marhen masih belum bisa move on karena jagoannya tidak menang. Bahkan isu yang sedari sebelum pemilihan masih saja di hembuskan. Seperti pagi ini aku berniat memetik daun singkong yang berada di tepi jalan. Uang ditangan tinggal untuk beli bensin dan bayar listrik bulan ini. Aku belum mengatakan pada mas Guntur jika uang untuk belanja sudah habis. Tapi setidaknya di depan dan samping rumah masih ada tanaman sayur-sayuran untuk menjadi alternatif seperti kondisi saat ini.


Beruntung sisa-sisa dari selamatan kemarin masih ada sembako. Saat aku sedang memetik daun singkong tiba-tiba beberapa ibu-ibu berhenti dan bertanya padaku dengan nada setengah mengejek.


"Wah Bu Kades, kehabisan modal sepertinya. Sampai jadi wedus isuk-isuk." Ucap Bu Ririn yang sedang menyuapi anaknya yang berada dalam gendongan. Aku tersenyum ke arahnya. Aku tahu maksud ucapannya, tapi aku tak mau terprovokasi apalagi menceritakan kondisi finansial ku yang memang pasca pemilihan cukup menjadi kere alias tak ada tabungan.


"Wah Meli sudah MPASI ya sekarang bu? Ibu nya mana?" Tanya ku pada Bu Ririn.


Ia tampak menunjukkan muka masamnya pada ku.


"Halah, ibu nya Meli ini wong nya ga sat set. Tahu punya anak kecil ga ndang sat set. Klelar kleler...." Ghibahnya pada ku. Aku menyunggingkan senyumnya. Jika aku seorang tumbak cucuk atau yang bisa dikatakan tukang adu domba maka ucapan Bu Ririn barusan bisa menjadi modal bagi ku untuk mengadu menantu dan mertua yang selalu saling menjelekkan satu sama lain di belakang orangnya. Tapi aku tahu, mungkin orang-orang seperti mereka butuh tong sampah. Ya setidaknya aku bisa menjadi tong sampah mereka. Daripada mereka bercerita dengan orang lain dan akhirnya malah di adu domba.


"Bu Ririn... Mantunya loh... Kasihan anaknya nanti kalau bingung bersikap." ingat ku.


"Halah! Beni mana bisa hidup kalau ndak karena kebun saya dan bapaknya yang banyak. Eh Bu Kades sudah dengar gosip terbaru belum?" Tanya Bu Ririn.


Aku menghentikan langkah dan tangan ku yang terus memetik daung singkong yang terlihat segar sekali jika di santan. Aku menatap Bu Ririn dengan tatap biasa. Entah gosip apalagi yang akan disampaikan oleh tetangga depan rumah ku ini. Tiba-tiba Mbak Ani datang dan celingak-celinguk melihat ke arah ujung jalan. Ia seperti nya sedang menanti tukang sayur yang biasa menggunakan motor merah. Langganan kami karena ia akan berhenti disini jika dagangan nya masih banyak.


"Berita apa Bu Ririn?" Tanya Mbak Ani penasaran.


"Itu isunya Kang Guntur alias Pak Kades baru kita pakai dukun hebat. Karena kerisnya Mbah Joyo itu patah semua. Terus kata timses pak Marhen, dukunnya dia kalah tua sama dukunnya kang Guntur." Ucap Bu Ririn yang mengelap mulut cucu nya.


"Oala itu mah basi... Gosip barunya lagi ini. Timsesnya Pak Marhen malah di buru-buru Pak Marhen. Kabarnya kemarin uangnya Pak Marhen banyak yang ia berikan ke timsesnya. Sekarang pada kabur yang bawa uangnya pak Marhen." Ucap Mbak Ani yang memang juru gosip yang cukup sering cepat mendapatkan info terbaru.


"Tiiiiiin... Tiiinnn..."


"Sayuuuuur... Yur Sayur.... Bu Ibu...." Teriak Bang Sayur langganan Mbak Ani.


Tiba-tiba helm tukang sayur itu pun di pukul oleh Mbak Ani karena ia kesal di kaget kan. Aku terkekeh dan kembali melanjutkan memetik daun singkong. Aku tak terlalu menanggapi gosip yang beredar tentang aku, mas Guntur. Aku sudah kenyang selama 3 bulan menerima fitnah, bahkan dzohir kami pun ikut diserang. Aku beruntung memiliki guru yang terus membimbing agar tawakal kepada Allah. Sehingga lewat ikhtiar yang diajarkan guru kami. Kami bisa melalui hari-hari berat saat akan pemilihan. Ziyah bahkan sering menangis tengah malam saat-saat menjelang pemilihan. Tapi Alhamdulillah, aku tak lelah membacakan Al Fatihah untuk anak ku itu dengan niat mendekatkan diri pada Allah dan juga memohon perlindungan dari Allah lewat sebuah surat yang juga dikenal sebagai Ummul Kitab. Bahkan saat aku di pondok dulu Kyai Rohim juga dawuh bahwa keistimewaan surah Al Fatihah salah satunya sebuah jalinan hubungan antara hamba dan Allah sebagai pernyataan keimanan dan permohonan makhluk kepada Allah.


Tangan ku sudah tak muat menggenggam daun singkong. Aku pun menyapa Bu Ririn dan Mbak Ani.


"Loh ga sayur Bu Kades?" Tanya Bu Ririn yang memilih sayur yang sudah di bungkus dan tergantung di motor tukang sayur.


"Lagi pengen santen Daun singkong Bu." Ucap ku seraya meninggalkan tepi jalan menuju rumah.


"Pengen apa lagi buntu Bu?" Goda Bu Ririn lagi.


"Lah wedus mana ngerti buntu Bu... Hehehe...." Goda ku balik. Ia langsung terdiam. Aku sebenarnya bercanda tapi itulah Bu Ririn. Saat orang bercanda ia akan menanggapi nya serius. Saat orang serius ia akan bercanda.


Padahal di awal tadi beliau sendiri mengatakan jika aku disamakan dengan wedus alias kambing. Terlihat jelas muka merah Bu Ririn. Ah, aku tak ingin mengklarifikasi apapun. Toh sekarang aku harus pandai-pandai menjaga lidah karena mau bagaimana pun akan banyak mata dan telinga yang tertuju pada ku dan mas Guntur. Aku bergegas kerumah. Cepat ku petik daun singkong itu lalu ku cuci bersih dan seraya menunggu air mendidih aku mengupas kelapa menggunakan parang. Dan ku parut separuh karena kami hanya berdua. Ziyah belum berani ku berikan santan. Tak lama Tika datang bersama Ziyah dan Yadi. Terlihat adik ipar ku itu menangis saat turun dari motor dan menggendong Ziyah.


"Ada apa Ka?" Tanya ku penasaran.


Aku meraih Ziyah dari gendongannya.


"Habis dimarahi Ibu, mbak." Ucap Yadi dengan muka bingung. Ia tampak menggunakan baju kerja yang masih belum di ganti.


"Kamu baru pulang?" Tanya ku.


Yadi mengangguk.


"Sana masuk. Cerita di dalam. Nanti dilihat orang malah jadi gosip lagi. Itu ada telur di dadar saja untuk makan suami mu. Mbak tak rampungin meres santan dulu." Ucap ku seraya menggendong Ziyah. Sepasang suami dan istri itu justru melongok melihat Ziyah yang ku gendong di bagian depan dan aku duduk memeras santan kelapa.


"Sini mbak, Ziyah sama saya saja." Ucap Tika masih dengan sisa-sisa tangisan.


"Suami mu baru pulang. Buatkan kopi dan makan dulu." Ucap ku. Yadi bekerja di PT dan saat ini ia baru pulang dari shift malam. Aku sudah biasa mengerjakan sesuatu seraya menggendong Ziyah. Asal kegiatan ku tidak berbahaya saat bersama Ziyah. Tika dan Yadi masuk. Aku melihat punggung dua insan yang baru tahu arti kata menempuh hidup baru. Ya Mereka baru melewati hari-hari baru berumahtangga. Harus bertemu dengan orang-orang, atau kondisi yang kita tidak nyaman dan bahkan kita merasa insecure. Kini tugas ku membimbing mereka. Karena aku lebih dulu makan garam dalam berumah tangga. Sedangkan ibu, beliau sebenarnya baik hanya saja karakter nya yang keras dan terlalu kaku jadi sulit jika harus membimbing Tika yang sedikit lebih manja.


'Semoga kalian bisa bersabar dengan sifat, karakter ibu.' Batin ku seraya mengigit ujung jari Ziyah dengan lembut saat jari tangannya ia masukan kedalam mulut ku.


"Sebentar ya Nduk... Mamak tak rampungan dulu. Nanti bapak pulang sayurnya belum mateng. Ziyah pintar kan? Anak sholehah, nanti main ya...." Ucap ku seraya menyentuh ujung hidungnya dengan ujung hidung ku. Tangan ku masih penuh ampas kelapa.