The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 38 Pertikaian Ibu dan Mas Guntur



Aku bergegas memarkirkan motor legenda milik mas Guntur di tepi rumah. Aku mengucapkan salam dan bergegas ke arah ruang tengah, aku melihat sebuah surat tanah berupa SPH sedang di bakar oleh mas Guntur. Seketika aku pun beristrigfar dan mencoba memadamkan api yang berasal dari surat tersebut. Aku memukul dengan sapu dan akhirnya padam. Ku ambil serpihan kertas tersebut dan tertuliskan nama Ibu di surat tersebut. Itu adalah surat tanah yang kini dijadikan kebun oleh mas Guntur. Dulu tanah itu adalah sebuah lahan kosong. Dan mas Guntur yang baru pulang dari Jawa, ia berinisiatif menanam dua hektar tanah itu dengan sawit, butuh 4 sampai lima tahun untuk menantinya panen. Ibu dan bapak kadang untuk makan mengandalkan dari hasil kebun tersebut. Sedangkan untuk kontrol bapak, aku selalu mengatur hasil dari sadap karet yang merupakan tanah ibu dan bapak namun hasilnya di bagi dua. Maka hasil untuk kami selalu aku simpan jika sewaktu-waktu bapak atau adik-adik mas Guntur butuh biaya.


Sedangkan untuk makan sehari-hari mas Guntur juga menyadap karet di kebun orang lain, alhamduliah dua tahun terakhir mas Guntur bekerja di salah satu kantor Agama. Saat itu ketua KUA mencari alumni pondok pesantren yang paham akan masalah pernikahan, cerai dan ahli waris. Mas Guntur lulus, walau gaji tidak di bayar setiap bulan. Tapi alhamdulilah kadang jika ada orang menikah kami akan dapat uang lelah. Namun sebenarnya kami kadang banyak tombok untuk urusan transportasi karena jika yang menikah adalah tetangga yang di bawah umur. Karena mas Guntur akan membantu perkara administrasi dan uang sidang.


Aku melihat ibu sudah merah padam menatap Mas Guntur. Sedangkan mas Guntur hanya duduk di kursi rotan.


“Kamu keterlaluan! Kurang ajar! Ini hasil kamu mondok bertahun-tahun! Ini pengaruh istri kamu pasti!” Hardik ibu pada ku dengan satu telunjuk mengarah kepada ku.


“Ibu!” BEntak mas Guntur,


“Mas… “ Lerai ku pada suami dan ibu ku. Situasi seperti inilah yang aku hindari. Aku tak tega melihat mas Guntur harus bingung bersikap. Dan kali ini aku tak tahu ada masalah apa hingga suami ku yang begitu sayang, patuh pada orang tuanya harus membakar surat tanah milik bapak dan ibu. Beruntung semua terjadi di kediaman ku, bukan di rumah ibu. Jika tidak kasihan bapak.


“Kamu betul-betul kelewatan! Ibu akan jual rumah saja! Ibu akan ikut Yani atau Yadi setelah dia menikah! Ibu makan ati disini!” Ucap ibu seraya meninggalkan rumah. Aku hanya menatap kepergian ibu. Ku ambil sapu dan sebuah plastik. Ku masukan ke dalam plasti yang telah terbakar dan kertas yang masih separuh. Mas Guntur tampak duduk menikmati kopinya. Aku belum berani bertanya, khawatir suamiku masih emosi. Mas Guntur pasti sangat marah sampai bisa melakukan hal yang bagi ku juga sudah kelewatan.


Baru aku mau ke kamar untuk menyimpan plastik tersebut, siapa tahu di butuhkan suatu saat nanti. Tetapi mas Guntur mencegah ku.


“Dibuang saja dik, di bakar.” Ucap mas Guntur pelan.


“Mas…. Ada apa? Kok ya sampai seperti tadi… Betapapun ibu salah, kita ndak boleh membentak mereka mas…” Ucap ku pelan seraya ku usap pahanya.


“Hhhhh… “ Mas Guntur menghela napasnya dan mengusap wajahnya beberapa kali.


“Mas….” Panggil ku lagi.


“Mandilah, nanti ba’da maghrib kita kerumah Pak Le Gio. Nanti mas ceritakan. Mas mau ngasih makan dan minum Ijem dulu,” Ucap mas Guntur seraya beranjak dari tempatnya.


Aku hanya berharap semoga mas Guntur diberikan kesabaran lebih dari diriku. Mau tidak mau, aku mungkin tidak menanggung dosa dari setiap apa yang suamiku lakukan. Tapi aku tak ingin terpisah dengan suami ku kelak di hari akhir. Aku ingin kami masih bersama baik di dunia ini maupun kelak di hari akhir. Aku bahkan berdoa agar kelak kami tidak saling mencari di padang masyhar.


“Ya Allah…. Kuatkan hamba dan mas Guntur untuk menghadapi Ibu… “ gumam ku.


Aku kadang sempat berpikir jika apakah karena belum ada ridho bapak dan ibu pada pernikahan kami lantas kami belum punya anak. Dokter mengatakan jika berangsur aku sudah tak ada masalah, s p e r m a mas Guntur juga tak ada masalah. Tetapi belum ada tanda-tanda untuk diriku merasakan yang namanya hamil. Aku hanya mampu terus bekhuznudzon pada apa yang saat ini aku jalani. Termasuk menghadapi ibu dan bapak.