The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 47 Gosip Tentang mas Guntur



Tak terasa acara ngunduh mantu di tempat bapak dan ibu tengah berlangsung. Aku masih sibuk di tenda belakang. Menyiapkan bumbu untuk sarapan para tetangga yang akan datang. Namun mas Guntur memanggilku.


"Dik, pulang sebentar. Ada hal penting." Ucap mas Guntur.


Aku mengangguk. Ku serahkan bumbu yang akan di blender kepada istri Pak Lek Gio. Ada juga Yani di dapur.


"Mas Guntur... masih sore mas... Udah diajak pulang aja mbak Sekar... Sesok gasik ya mbak....!" Teriak Yani dengan suara khas nya yang cempreng. Mas Guntur melotot ke arah adik bungsunya.


{Gasik\=cepat}


Aku hanya tersenyum menanggapi candaan Yani. Aku bingung kenapa mas Guntur mengajak ku pulang. Tidak seperti biasanya. Ternyata tak lama kami masuk ke dalam rumah. Ada mas Yono datang. Anehnya, ia malah minta di tutup pintu rumah kami. Aku menuruti apa yang diperintahkan oleh mas Guntur.


"Pintu dapur do tutup saja dik. Sekalian yang depan juga." Ucap mas Guntur.


Aku jadi penasaran. Ada hal apa ini, semoga tidak ada hal buruk terjadi.


Mas Guntur duduk di sisi Mas Yono. Ku lihat wajah kalut mas Yono. Raut wajahnya tampak seperti orang kebingungan. Namun tiba-tiba suami mbak Ani itu menangis sesenggukan.


“Hiks… Hiks.. aku harus bagaimana ini… bagaimana ini Tur… bantu aku… aku bingung… aku malu…” Ucap Mas Yono yang sesekali mengusap wajahnya.


"Ada apa mas? Ribut lagi dengan mbak Ani?" Tanya mas Guntur penasaran.


Tampak ia mengatur napas dan mengusap wajahnya. Lalu ia menarik tubuhnya ke arah depan.


"Bukan Tur... soal Bulan.... " Ucap mas Yono.


"Apa betul yang di khawatirkan oleh mas Yono?" Tanya mas Guntur tampak hati-hati.


"Lebih dari itu Tur... Aku selama ini merasa gagal menjaga adik ku. Aku harusnya lebih peka dan tak membebani dia banyak tuntutan sehingga bisa menjadi tempatnya bercerita." Ucap mas Yono.


Aku hanya diam, tak berani bertanya atau berkomentar. Karena aku tak tahu duduk persoalan nya.


Mas Yono dengan mata sembab dan suara bindeng akibat menangis, ia menceritakan kepada kami perihal Bulan. Ternyata bulan telah memiliki anak balita berusia 2 tahun. Selama satu tahun ia cuti dari kuliah. Sehingga ia sempat terkatung-katung saat kembali kuliah dan parahnya, ia selama ini membesarkan anaknya seorang diri.


"Lah lelaki yang menghamili nya?" Tanya mAs Guntur.


"Semenjak hamil, Bulan pergi menjauh dari lelaki itu. Dan sekarang katanya lelaki itu dekat lagi dengan dia. Aku harus bagaimana Tur. Aku khawatir Bulan jatuh dua kali... Aku malu Tur kalau sampai bawa pulang Bulan, tapi kalau tidak... itu lelaki bikin sakit hati... parahnya lelaki itu... Kakaknya Neneng." Jelas mas Yono.


Aku terpaku sejenak, sungguh semua yang terjadi tidak dapat di prediksi. Memang bingung untuk posisi mas Yono, tidak di bawa pulang khawatir adiknya kembali membuat dosa. Di bawa pulang tentu akan malu satu keluarga. Karena orang desa tahunya jika Bulan masih gadis.


"Kalau menurut saya mas... Nikahi saja Bulan dengan kekasihnya itu. Dan bawa pulang Bulan. Khawatir terjadi lagi kejadian pertama." Ucap mas Guntur.


"Tapi apa kata orang Tur... mau ditaruh di mana muka ku ini..." Ucap mas Yono dengan berlinang air mata.


Aku bisa memikirkan perasaan ibu dan bapak mas Yono, jika kakak Bulan bisa menangis sesenggukan begitu apalagi kedua orang tuanya. Namun ternyata kedua orang tuanya belum tahu apa yang terjadi.


"Mas... lebih baik malu dihadapan manusia daripada di hadapan Allah. Orang-orang paling satu atau dua tahun akan bergunjing, setelahnya mereka pasti lelah sendiri dan sudah ganti topik baru... ambil yang paling sedikit mudharat nya mas. Tanyakan pada Bulan apakah dia masih mau jika di nikahi lelaki itu. Kalau mau, kita temui lelaki dan orang tuanya." Ucap mas Guntur.


Maka Mas Yono pun berinisiatif menjemput adiknya pulang. Satu bulan setelah kejadian tersebut, Bulan di jemput pulang. Mas Yono meminta tolong aku dan Mas Guntur menyewa mobil untuk pulang ke desa. Kali ini mas Guntur nekat meminjam mobil dan mencari seorang sopir yang bisa di percaya. Pagi sekali kami berangkat dari desa sebelum shubuh, karena khawatir ada yang bertanya kemana kami pergi, sedangkan aku dan mas Guntur tak mungkin berbohong. Aku pun ikut serta, karena mas Guntur khawatir jika nanti tiba di rumah Bulan, ibu Mas Yono akan histeris. Aku pun cukup kaget saat melihat Bulan dan Mas Yono keluar dari bandara dengan seorang anak kecil yang lucu. Balita itu tampak berjalan di sisi Bulan.


"Innalilahi.... semoga di kuatkan keluarga mas Yono..." Batin ku saat menyambut Bulan datang.


Benar saja tiba di kediaman mas Yono. Dua kakak beradik itu tak berani berbicara. Saat ibi mas Yono bertanya anak siapa itu.


"Anak siapa ini Lan..." Tanya ibu Mas Yono kian khawatir.


"Anak ku Mak...." Ucap Bulan lirih diiringi suara tangis.


Ibu mas Yono mendadak semaput, ia sampai bersandar di dinding rumahnya dan menangis meraung-raung. Ia bahkan memukul dada Bulan dengan tangannya. Ia luapkan rasa kecewa, sedih. Namun semua itu berubah saat ku ajak ke dalam kamar ibu mas Yono. Aku ceritakan apa cerita yang ku dapat selama perjalanan pulang saat menjemput Bulan. Sedangkan Bulan menenangkan anaknya yang tidak betah di tempat baru.


"Bu.. bukan saatnya saling menyalahkan. Sekalipun Bulan salah. Tapi selama dua tahun, dia berjuang keras untuk bertahan hidup. Dan Bulan berani mempertanggungjawabkan apa yang dia buat... dia tidak menggugurkan anak di kandungnya adalah suatu hal yang luar biasa..." Ucap ku dengan air mata yang membasahi lantai.


Aku ikut sesak saat mengetahui kisah Bulan menjalani hari-hari seorang diri dengan kondisi hamil, melahirkan dan membesarkan anaknya tanpa ada sanak saudara. Ia bahkan tidak berpikiran bagaimana jika ia meninggal dunia atau kenapa-kenapa. Satu yang aku akui, ia memang pernah melakukan dosa. Tapi dia berani bertanggungjawab dan tak lagi melakukan dosa.


"Tapi saya malu...." Ucap Ibu mas Yono.


"Tidak usah malu... Bulan... selama ini justru demi ibu, bapak dan Mas Yono. Dia tidak berani pulang. Ibu bayangkan hidup di kota seorang diri, bukan hal yang mudah. Tapi Bulan lakukan demi menjaga ibu dan bapaknya agar tidak malu. Dan saat ini, kasihan Bulan jika bapak dan ibu justru menghukumnya setelah ia selama dua tahun berjuang sendiri... berjuang keras menyimpan rapat aib nya agar tak sampai di desa." Nasihat ku. Aku sudah menitikkan air mata.


Ada rasa iri pada Bulan karena saat hamil ia mengatakan tidak mengalami mual muntah seperti kebanyakan temannya.


Maka keluarga Mas Yono pun menemui keluarga Neneng. Mereka minta agar Reno mau menikahi Bulan. Reno pun di telpon untuk pulang. Karena mereka berdua sama-sama mau untuk menikah. Maka ijab pun akan dilaksanakan. Tetapi sesuatu masalah kembali terjadi. Dan kembali hati ku di buat menangis dengan kisah ini. Saat dimana aku sedang merumput di depan rumah. Neneng berlari tergopoh-gopoh.


"Mbak.... mbak Sekar... !" Teriak Neneng yang baru pulang dari kediaman ibunya. Nanti malam acara ijab Bulan dan Reno.


"Ada apa Neng?" Tanya ku.


Tampak Neneng menatap wajah ku dalam dan hati-hati ia mulai bicara.


"Mbak... aku dengar gosip... katanya Mas Guntur mau kawin lagi... aku melihat foto nya tadi di Hp tetangga." Ucap Neneng.


Aku melihat foto yang disodorkan Neneng dari galeri ponselnya. Ku lihat mas Guntur menenteng satu tas. Tampak ia keluar dari sebuah warung. Di sisi nya ada perempuan muda, cantik, dengan bulu mata lentik.


"Astaghfirullah.... jauhkan hamba dari prasangka buruk tentang suami ku ya Allah...." Ucap ku.


Aku cepat pamit ke dalam rumah. Ku bersihkan diri dan ku buka al Qur'an. Hanya dengan nderes membuat otak ku tak memikirkan hal yang aneh-aneh. Karena pikiran ku mulai menerka-nerka. Tadi pagi mas Guntur pamit ke kota untuk meminta formulir di Kantor Pengadilan Agama yang sudah habis di Kantornya.


"Mas Guntur tidak pernah bohong pada ku, lantas siapa perempuan itu. Kenapa aku seperti tidak asing... Ya Rabb... berikan hamba kekuatan untuk menerima setiap ketentuan mu..." Gumam ku seraya bergegas ke arah depan saat mendengar suara motor mas Guntur. Ku lihat tak ada perempuan tadi bersama Mas Guntur. Tapi wajahnya cukup pucat.


Baru masuk kerumah mas Guntur sudah menyerahkan tasnya dan pamit untuk kerumah Mas Yono.


"Nanti saja buat kopinya dik... Mas mau menemui mas Yono..." Ucapnya sudah berjalan ke arah rumah Mas Yono yang berada di sisi kanan ruma ku.


"Mas Yono di rumah ibunya mas... Nanti malam ijab Bulan dan Reno." Ingat ku.


Seketika mas Guntur berbalik dan mengusap wajahnya berkali-kali.


"Innalilahi....." Ucapnya seraya mengusap wajahnya berkali-kali."


"Dik... Mas boleh bawa perempuan kerumah kita? Nanti malam biar mas tidur di rumah Ibu." Ucap Mas Guntur.


Aku sudah tak mampu bicara. Bibir ku terkatup rapat dengan kepala yang mengangguk. Aku mau tidak mau harus kembali mengamini apa yang suami ku inginkan. Ia sudah mau jujur itu sudah luar biasa bagi ku.


"Kenapa kamu menangis?" Tanya Mas Guntur yang mengusap air mata ku dengan ibu jarinya.


"Apakah betul mas akan menikah dengan perempuan itu nanti?" Tanya ku dengan memantapkan hati untuk siap berbagi hati, berbagi mas Guntur pada perempuan lain. Asal mas Guntur memintanya, aku akan mengizinkan nya.