
Malam ini aku dan mas Guntur akan ke pondok pesantren Kyai Damar, kemarin beliau meminta kami untuk datang. Tampaknya beliau telah bertemu dengan Kyai Rohim dari dua minggu lalu. Mungkin sekarang beliau sudah mendapatkan jawaban dari istikharah beliau.
Tiba di pondok pesantren, Ziyah tertidur pulas. Namun satu pemandangan terlihat begitu luar biasa. Di malam-malam harusnya orang berilmu seperti Umi Ayu, ia justru seraya mengendong satu anaknya yang berusia 2 tahun dan anaknya yang ketiga sekitar berusia 3 tahun. Anak perempuan berambut ikal itu tampak tidur di kaki Umi Ayu dengan beralaskan betis Umi Ayu. Satu tangan mengusap kepala balita yang berada dalam gendongan. Tangan yang lainnya sibuk dengan pena yang mencatat sesuatu. Kulihat beliau sedang mengikuti semacam kelas Online dimana terlihat sosok perempuan yang tak asing bagi ku, Ning Nisaul Kamilah. Sungguh seorang yang begitu luar biasa, dalam keadaan seperti itu, beliau masih menyempatkan diri untuk belajar. Sungguh bangga Umi Laila mungkin jika melihat Santrinya yang telah memiliki pondok pesantren masih terus belajar padahal ia mungkin bisa beralasan sibuk mengasuh anak.
Sedangkan Kyai Damar sedang mendengarkan setoran hapalan dari satu santri yang tampaknya mendapatkan giliran terakhir. Saat santri itu selesai, Kyai Damar meminta mas Guntur sedikit mendekat. Umi Ayu memanggil santrinya. Untuk membawa salah satu anaknya kedalam. Ku lihat ponsel Umi Ayu sudah berwarna hitam tanda mungkin kelas vya zoom atau gmeetnya telah usai. Beliau mendekati ku seraya menggendong putrinya.
"Alhamdulillah kemarin saya dan Kyai Rohim sepertinya mendapatkan jawaban yang sama Kang. Insyaallah mudah-mudahan niat sampeyan diijabah Allah. Niatkan nyalon kades untuk kemanfaatan umur dan ilmu. Bismillah." Ucap Kyai Damar yang menyampaikan bahwa mas Guntur mendapatkan ridho Kyai Damar dan Kyai Rohim yang merupakan guru bagi Kyai Damar.
"Tapi njenengan harus banyakin sabar kang. Pakai cara Ulama, kalau terjun ke dunia politik, harus tetap santun. Fitnah dan hoaks akan datang banyak menghampiri. Jadi fokus pada pembuktian bukan klarifikasi." Nasihat Umi Ayu pada mas Guntur. Aku pun hanya diam dan menyimak apa yang disampaikan Kyai Damar. Sebuah isyarat yang beliau dapatkan dari Kyai Rohim bahwa aku sebagai pendamping hidup Mas Guntur pun harus ikut Riyadhoh. Maka kami pun semenjak pulang dari pondok kami berdua mulai menyiapkan apa yang akan menjadi kebutuhan untuk mendaftarkan diri sebagai calon Kepala Desa.
Aku mulai menyiapkan beberapa administrasi seperti Ijazah mas Guntur, akte, kk dan beberapa yang harus diambil di instansi tertentu. Seperti surat keterangan sehat dari rumah sakit jiwa, surat bebas narkoba dari BNN, surat berkelakuan baik dari polres. Mas Guntur pun menghitung uang yang akan digunakan untuk mendaftar hingga proses pencoblosan. Ku hitung hampir 10 juta untuk mengurus semua syaratnya. Karena untuk surat keterangan sehat dari Rumah sakit jiwa, Kami harus keluar Provinsi. Di provinsi kami ada tapi cukup jauh. Maka kami memilih provinsi yang cukup dekat dengan tempat tinggal kami untuk mendapatkan nya.
"Dik, nanti kalau sudah pulang dari Bengkulu, suratnya sudah dapat. Untuk biaya kita kenduri nya gimana?" Tanya mas Guntur. Sudah lumrah di desa kami diadakan sebuah kenduri ketika akan mencalonkan diri menjadi kades. Biasanya akan di lakukan satu hari atau dua hari menjelang pemilihan kades.
"Sudah fokus dulu sama tes kejiwaannya. Nanti tak riyadhoh nggeh biaya kenduri." Jawab ku mantap. Jika selama ini al Fatihah yang ki baca, Al Waqiah ku baca untuk riyadhoh agar anak keturunan ku dalam saat ini Ziyah menjadi Sholeh. Beberapa minggu kedepan aku akan riyadhoh untuk kemudahan rezeki kami selama mengurus berkas mas Guntur. Mas Guntur pun pergi ke Provinsi Bengkulu, aku dirumah. Ia berangkat pagi sekali, bahkan sebelum shubuh. Kami hanya manut apa yang menjadi dawuh Kyai Damar. Untuk setiap malam shalat tahajud dan membaca Quran satu hari satu juz. Maka saat mas Guntur pergi, aku masih membaca Quran tepat jam 4 pagi sebelum mas Guntur pergi. Ada perasaan yang tak enak. Bulu kuduk ku merinding tapi aku mengabaikan itu.
Dawuh Umi Siti yang tak lain istri Gus Furqon masih ku ingat. Jika kita sedang beribadah namun hati mengajak buru-buru selesai, maka jangan turuti. Itu rayuan setan. Maka aku menahan rasa hati ku untuk menghentikan dzikir ku. Sebentar lagi shubuh, ku lirik jam di dinding. Hari demi hari menuju pencalonan mas Guntur menjadi Calon Kepala Desa tidak mudah. Aku mulai merasakan hal-hal aneh bahkan rasa benci pada suami ku. Namun aku terus berusaha untuk diam. Dan berusaha untuk tidak mengikuti perasaan ku. Seperti sore ini saat aku melihat mas Guntur baru saja pulang ngarit. Ia bertanya perihal ada apa Umi Ayu datang ke rumah siang tadi.
"Umi Ayu kenapa kemari Ba'da Jum'at tadi Dik?" Tanya nya.
"Lagi cari orang yang bisa naik kelapa. Kebetulan di pondok cuma ada 1 batang, takut kurang masih cari di tempat lain. Ada satu ditempak Mbah Mijo. Tapi ndak ada yang bisa naik." Ucap ku. Seketika masih dalam keadaan berpeluh ia bergegas ke depan rumah, kebetulan kami memiliki 3 batang kelapa di depan rumah. Mas Guntur dengan lincah naik pohon kelapa, ku lihat hari hampir hujan. Bahkan mendung begitu pekat. Ada rasa begitu kesal dan jengkel pada suami ku. Karena kopi buatan ku belum di minum. Akhir-akhir ini Umi Ayu memang sering banyak acara, mas Guntur kadang tidak pandang waktu dengan sigap membantu kegiatan pondok. Padahal sedang akan mencalonkan diri.
"Dik.... Lagi mikir apa? Muka mu kayak lagi nyimpen masalah." Ucap mas Guntur.
Aku menyerahkan satu cangkir kopi dengan sepiring kue apem.
"Ndak tahu mas. Seminggu ini bawak annya pengen marah aja sama mas... Ndak biasanya. Kayaknya ini baru aku merasakan hal seperti ini." Ucap ku. Baru aku selesai mengucapkan hal ini. Tiba-tiba kami mendengar kaca depan rumah kami pecah. Ziyah menangis karena kaget. Mas Guntur bergegas keluar. Aku menyusui Ziyah. Setelah tenang, aku kedepan. Kulihat mas Guntur mencangkul sesuatu. Ia membawa tanah yang ia pacul ke arah siring di jalan aspal. Saat mas Guntur kembali ke rumah aku bertanya apa yang mas Guntur buang.
"Ada yang main klenik dik. Mas lihat bungkusan putih, ada beberapa daun, jarum dan menyan juga minyak wangi juga kembang yang sudah layu." Ucap mas Guntur.
"Astaghfirullah...." ucap ku seraya berpikir siapa yang tega melakukan hal itu. Aku tak ingin menuduh siapapun. Tapi aku mulai sadar mungkin suasana di hati ku selama seminggu ini. Hal ini pun mas Guntur ceritakan dengan Leo dan Mas Yono sebagai orang yang ia percaya untuk menjaga rumah saat ia pergi malam hari. Beruntung Leo anak ABG yang paham teknologi. Ia pun menyarankan kami memasang cctv. Kami membelinya vya online dengan bentuk tidak menyerupai cctv.
"Sebenarnya mas tidak terlalu khawatir dik sama kamu, ada Allah yang menjaga kamu dan Ziyah. Tapi mas hanya ingin tahu siapa yang tega melakukan ini." ucap Mas Guntur seraya menunggu Yono memasang cctv itu di tiga sudut. Bagian depan, samping dan belakang rumah. Aku pun terpana karena aku bisa mengakses cctv tersebut menggunakan ponsel ku. Sehingga suatu malam aku melihat dua orang lelaki mengendap dan melempar sesuatu. Dengan keberanian aku membaca basmalah dan ayat kursi. Ku kecup Ziyah dan aku berdoa agar Allah melindungi kami dari orang-orang yang berniat jahat. Aku keluar tepat sesaat aku berada di pintu, mas Yono dan Leo yang juga mengamati rumah ku beberapa hari ini juga ikut keluar dari persembunyiannya.
"Astaghfirullah....." Ucap ku lagi. Kulihat Leo merinding dan bergidik.
Sebuah kain putih dengan bentuk pocong. Aku sudah tak bisa mentolerir ini. Aku mengajak mas Guntur untuk menemui Kyai Damar.
" Bukan takut mas.... Tapi... Adakalanya iman ku ini juga lemah, adakalanya aku lengah , begitu juga dengan mas. Tidak dipungkiri hal seperti itu ada mas." Bujuk ku pada mas Guntur yang ragu-ragu untuk mendiskusikan perihal ini pada Kyai Damar.
"Baiklah, besok pagi sebelum kita berangkat ke balai untuk mendaftarkan diri. Kita ke pondok dulu." Ajak mas Damar sebelum kami sama-sama membaca Al Mulk sebelum tidur.