The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 30 Madu Ku



Pagi hari sudah ada mas Paino dengan sebuah mobil gran max milik bosnya. Ia biasa mengangkut hasil tani dari kebun. Namun karena Mas Guntur menghubungi Mas Paino untuk menjemput kami di terminal. Hampir satu jam kami menempuh perjalanan menuju rumah. Saat mobil yang kami tumpangi tiba di halaman rumah, aku terpaku menatap rumah yang hampir delapan tahun menjadi naungan aku dan mas Guntur berlindung dari panas dan hujan, juga tempat yang memiliki sejuta kenangan pahit manis kami menjalani biduk rumah tangga. Ah, aku jadi ingat saat gotong royong membuat rumah ku, mas Guntur bahkan malam hari masih berada di rumah yang belum rampung karena banyaknya bapak-bapak yang bermain catur dan mengobrol di rumah kami. Maka tak heran rumah ini bahkan selesai di bangun dalam waktu tiga minggu. Karena siang malam, banyaknya warga yang membantu.


Aku menoleh ke arah mas Guntur, ia hanya mengukir satu garis di sudut bibirnya. Aku yakin ini semua ulahnya. Rumah ku terlihat cantik, bahkan di atas jendela kini sudah ada atap kecil agar ketika hujan angin, air hujan tak masuk ke dalam kamar lewat celah-celah ventilasi. Warna Cat hijau di padukan dengan kusen pintu dan jendela yang di beri warna putih. Kesan indah. Nyaman begitu aku rasakan.


“Belum sebulan di tinggal rumahnya langsung sim salabim mbak, apalagi satu tahun…” Goda Mas Paino. Aku hanya tersenyum.


“Maturnuwun ya mas, jadi ngerepotin.” Ucap Mas Guntur seraya menyelipkan amplop ke dalam saku baju mas Paino


Saat mas Paino pergi meninggalkan kediaman kami, mas Guntur memberikan kunci rumah kepada ku.


“Ini, buka sendiri pintunya.” UCap Mas Guntur.


“Ada bedah rumah kemarin mas?” Tanya ku heran.


“Iya, bedah rumah dari Raja Cinta khusus buat istri tangguh, sabar dan sholihah katanya.” Ucap Mas Guntur.


Dahi ku berkerut. Aku kembali menarik sudut bibir ku. Mas Guntur bukan tipe lelaki romantis, tetapi ia kadang suka memberikan aku kejutan kecil. Bahkan saat pulang dari ladang pun ia akan membawa hal-hal yang aku kadang tak menyangka, dari buah mangga atau pepaya bahkan ia pernah membawa buah ciplukan yang begitu sering ku ambil saat bertemu di sekitar area sawah. Dan bagi ku itu cukup romantis, karena suami ku tahu jika aku akan tersenyum saat ia kembali pulang dam menunjukkan ekspres bahagia juga terkejut. Aku memutar kunci rumah se arah putaran jam. Saat ku buka pintu depan, ada sebuah  ambal baru. Aku tahu kisaran harganya sekitar 800 ribu. Ruangan itu pun sudah di cat. Gorden nya pun bahkan menggunakan gorden yang aku bisa tahu jika harganya sekitar 150  ribu per pcs nya.


“Assalamu ‘alaikum..” Ucapku.


“Waalikummsalam.” Jawab Mas Guntur seraya meletakkan tas dan menarik kardus ke dalam rumah.


Kami terbiasa mengucapkan salam karena ada keberkahan saat mengucapkan salam ketika masuk kerumah.


“Uang darimana mas?” Pertanyaan pertama yang lolos dari bibir ku karena melihat tiga gorden yang lumayan harganya juga karpet disertai seluruh rumah yang di cat. Aku melangkah ke ruang ke dua dalam rumah ku, biasa aku sebut ruang tengah. Diruangan itu tempat kami untuk makan, bersantai sekaligus ada kompor dan peralatan ku memasak.


“Mas….” Ucap ku lirih dengan mata yang telah berembun. Aku melihat satu kompor gas yang berukuran cukup besar dan memiliki dua tungku. Tepat di dekat pintu keluar rumah, terdapat sebuah kulkas satu pintu.


Mas Guntur memeluk ku, ia membisikkan satu kalimat yang membuat terkekeh dan menyandarkan kepala ke dada suami ku.


“Terima kasih…. Mas ndak perlu repot-repot begini. Cukup mas menghujani aku dengan cinta dan kasih sayang itu jauh lebih dari cukup dari semua barang-barang ini.” Ucap ku yang tak mampu menahan air mata yang sedari tadi tampak ingin membasahi pipi ku.


“Mas minta maaf, selama ini ternyata mas egois. Tanpa kamu hampir beberapa minggu membuat mas sadar, tidak mudah untuk menjadi istri manutan. Dan kamu melakukan itu selama bertahun-tahun, tanpa mengeluh, tanpa merajuk… Semoga dengan mas menyenangkan istri mas, Allah melapangkan rezeki kita….” Ucap mas Guntur yang menyandarkan dagunya di pundak ku.


Aku tahu maksud kalimat mas Guntur, saat itu aku pernah mengatakan jika membeli mejikom karena ada sedikit tabungan. Maksud ku bukan karena para tetangga yang memiliki benda itu lantas aku pun harus punya, tapi aku ingin agar suami ku itu makan nasi yang selalu hangat. Apalagi kalau malam, ia suka mentong. Namun alasan mas Guntur tak suka aroma nasi dari mejikom membuat aku mengurungkan niat ku. Belum lagi kulkas, aku pun pernah izin ingin membeli kulkas karena agar bisa menyetok seperti cabe dan beberapa sayur. Sehingga jika kadang mas Guntur harus pergi tiba-tiba ada orang meninggal, aku tak kasihan dengan suami ku yang akan makan alakadarnya. Tapi kini semua benda yang mas Guntur dulu bilang ia tak suka, kini justru ia belikan tanpa sepengetahuan aku.


“Uangnya darimana?” Tanya ku kian penasaran.


“Mas jawab, tapi nanti di kamar ya…..” Ucapnya seraya mengangkat tubuh ku.


“Wah, kamu tambah berat atau mas yang sudah lama tidak menggendong kamu?” Ucapnya seraya melangkah. Saat tiba di kamar, Aku melihat suasana berbeda, sebuah kasur yang cukup tinggi dari kasur kapuk yang biasa kami gunakan, belum lagi dilangi-langit yang biasanya aku bisa hampir setiap hari membersihkan tempat tidur dengan sapu dari lidi aren karena sawang yang jatuh dari genteng. Kini sudah ada pelapon di kamar kami. Saat tubuhku ia rebahkan di kasur yang sangat empuk itu, aku menatap wajah mas Guntur, lelaki yang begitu menyayangi aku, gurat-gurat lelah pada wajahnya tampak jelas. Ia lelaki pekerja keras, maka dari tangan, kaki dan wajahnya akan terlihat sekali jika mas Guntur pekerja keras. Tapi tidak dengan perlakuannya pada ku. Mas Guntur bertumpuh pada satu tangannya seraya memandangi wajah ku.


“Mas, u-“ Mas Guntur cepat menutup mulut ku dengan satu jarinya.


“Kemarin mas dapat rezeki, insyaallah halal. Dan anak balita Ijem. Mas jual. Buat namabahin renovasi rumah. Maaf untuk bahagia yang mungkin terlambat mas berikan. Terima kasih sudah menjadi anak dan kakak ipar yang yang luar biasa buat keluarga mas, mas sayang kamu Dik….” Ucap mas Guntur seraya memejamkan matanya dan memeluk ku dengan satu tangannya.


Aku pun memeluk suami ku, jika dulu kami pernah menangis dengan posisi yang saat ini sama, namun kali ini air mata di pernikahan ku adalah air mata bahagia bukan kesedihan.


“Mas, ingat ga…. Dulu kita pernah menangis dalam keadaan seperti ini. Tapi kondisi berbeda.” Ucap ku lirih. Ku usap kepala mas Guntur. Aku mengenang saat itu, saat dimana ia sakit, hampir seminggu tak ke ladang, sedangkan kondisi covid sedang begitu menggila, untuk berobat kami tak berani karena khawatir di bawa isolasi ke tempat isolasi, dan dinyatakan covid. Karena seperti orang terbuang saat itu jika kita dinyatakan positif. Kondisi tak ada uang, beras dan semua yang ada di dapur telah habis. Aku tak berani sambat ibu dan bapak. Maka hampir satu minggu kami bertahan dengan makan ubi bakar, setiap hari aku mengambil ubi karena tak punya minyak, aku kadang membakar atau merebusnya. Beruntung aku memelihara klanceng di dekat rumah.


“Saat itu, kamu adalah istri yang luar biasa tangguh Dik… Dengan madu klanceng kamu sudah bisa membuat mas sehat, lantas kenapa saat mas sehat mas justru harus memberikan kamu madu yang berwujud manusia. Cukup madu cinta mu saja, itu yang akan membuat aku bahagia, insyaallah .” Ucap Mas Guntur.


Saat tangan ku menarik satu jarum pentul yang biasa ku tancapkan di bagiaan  atas, aku dan mas Guntur saling pandang. Satu suara teriakan membuat kami heran, siapa yang berteriak seperti itu.


“Sekaaar! Guntur!! Metu  kowe!!!!” Teriak suara perempuan yang diiringi suara motor yang berhenti tampaknya tepat di depan rumah kami.