The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 63 Nderek Yai lan Bu Nyai



Selama beberapa pekan terakhir, aku telah mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk mendampingi suamiku dalam proses yang penuh perjuangan dan semangat, yaitu proses pendaftaran untuk menjadi Kepala Desa (Kades) di desa kami. Proses ini bukan hanya sekadar perjalanan administratif, tetapi juga perjalanan pengabdian dan dedikasi untuk masyarakat yang telah lama kami cintai. Juga sebuah pertaruhan untuk Kyai atau guru kami. Santri mana yang akan tinggal diam saat Kyai yang akan diusir karena urusan pribadi yang bahkan tak jelas alasnya. Kyai yang mengkhidmahkan usia, waktunya untuk para santri. Kyai Damar di desa kami justru bisa dikatakan fakir, namun beliau kaya akan ilmu. Bagaimana tidak, beliau kemari niat untuk mendidik para santri. Beliau mendirikan bangunan kecil sebagai madrasah lalu diberikan hibah oleh pejabat desa yang lama, sehingga dibangun sebuah pesantren salafiyah dengan semua kesederhanaanya. Jangan kan rumah, kebun pun Kyai Damar dan Umi Ayu tak memiliki. Tapi yang aku heran, beliau selalu bisa membantu banyak orang dan wali santri. Maka Mas Guntur pun terpanggil untuk maju mencalonkan diri demi melindungi Kyai Kami dari mereka yang dzolim jika berkuasa.


Segala persiapan dimulai jauh sebelum hari pendaftaran resmi. Mas Guntur telah menghabiskan berjam-jam untuk mengumpulkan informasi, merencanakan visi-misi, serta berdiskusi dengan berbagai elemen masyarakat untuk memahami kebutuhan dan aspirasi mereka. Setiap malam, rumah kami ramai di datangi beberapa pendukung atau penduduk desa yang ingin duduk bersama dengan mas Guntur. Diantara mereka ingin menjadi perpanjangan bibir untuk mas Guntur kepada warga yang lain, malam ini hampir ada sekitar 15 orang yang merupakan timses mas Guntur. Mereka duduk di ruang keluarga, menguraikan ide-ide, dan merancang rencana tindakan yang lebih baik untuk desa kami.


“Kalau lihat data dua tahun lewat, ini kurang lebih suara sekitar 2500 suara. Maka dengan calon yang ada 5 paling tidak kita harus memiliki sekitar 900 suara Kang.” Ucap Mas Yono pada mas Guntur. Aku duduk di ambang pintu dapur. Karena mau tidak mau aku harus ikut duduk disana karena ada beberapa istri timses mas Guntur yang mengajak istrinya untuk datang. Maka kami pun ikut mendengarkan musyawarah atau obrolan tersebut.


Tampak mas Guntur melihat kertas yang disodorkan oleh Cak Yasin, seorang yang pernah menjadi panitia kades.


“Kalau untuk kecurangan di kepanitiaa?” tanya salah satu diantara mereka.


“BEgini saja, nanti ketika musyarawarah terkait tatib ketika pencoblosan, sampeyan minta sama panitia untuk membuka setiap kertas suara sebelum di berikan kepada undangan. Sehingga saksi bisa melihat bahwa kertas suara belum di coblos. Mengingat di desa sebelah tahun kemarin terjadi saling curiga karena banyak yang rusak surat suara. BEsok itu kang biasanya akan diundang setiap calon untuk musyawarah tatib. Masing-masing kandidat boleh usul.” Ucap Cak Yasin yang telah berpengalaman di pilihan kades, kali ini beliau ingin memenangkan mas Guntur, ia tak mendaftar ketika dibuka kepanitiaan.


“Lalu saksinya?” Tanya Mas Guntur.


Seluruh yang hadir sepakat untuk memilih Cak Yassin sebagai saksi dari mas Guntur. Karena ada resiko cukup riskan yaitu proses pelipatan kertas suara dan proses dimana kertas yang telah di lipat tadi akan menginap. Itu berdasarkan pengalaman Cak Yassin. Aku bersyukur karena Cak Yassin bisa merangkul beberapa tokoh yang penting untuk ikut mendukung mas Guntur, bayangkan untuk berkumpul di rumah saja aku hanya bisa menyiapkan putri ayu, bahkan rokok pun mereka tidak ingin jika mas Guntur menyiapkan satu orang satu bungkus. Seketika Cak Yassin kembali membuka suara dan membuat aku terharu.


“Dan bapak-bapak semua, disini kita tahu niat Kang Guntur untuk maju. Bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan tapi ingin membangun desa. Kita tahu, secara ekonomi Kang Guntur tidak seperti 4 kandidat lain yang mungkin sanggup kasih uang bensin, kasih rokok. Kita gerilya dalam niat ibadah untuk membantu kang Guntur mengkhidmahkan diri pada desa. Maka nanti ketika beliau jadi juga kita semua tidak boleh sibuk minta jabatan? Njenenagan semua siap? Jika tidak, silahkan mundur. Karena tim ini bukan tim untuk mencari keuntungan. Karena nanti ketika Kang Guntur nyeleneh dari tujuan awal jika ia terpilih, kita orang pertama yang akan menjewer telinganya!” ucap Cak Yassin. Semua menjawab siap secara bersamaan para istri bahkan menenangkan aku, sebuah tradisi melek an pun membuat aku galau sebenarnya. Karena di semua calon mulai malam ini sudah membuat tenda untuk melek an. Sedangkan di kediaman kami masih sepi sunyi. Kyai Damar tidak mengizinkan kami membuka satu kegiatan melek an.


“Nanti saja H-3 niatnya rewang untuk kenduri. Jadi minimal untuk yang judi dan khamar kang.” Ingat Kyai Damar saat kami bertanya perihal buka melek an dirumah. Bahkan kami sudah mendapatkan cibiran, karena hanya mas Guntur yang tak membuka tempat melek an disaat satu bulan menjelang pilihan. Namun kami tak terganggu. Niat kami sudah mantap, kami akan ikut dawuh guru kami, mencari ridho Allah bukan ridho manusia.


“Kang…. Kang.. hhhhhhh…” napasnya tersengal-sengal.


“Ada apa Yo?” Tanya mas Guntur penasaran. Keringat sebesar-sebesar jagung membuat ia terlihat seperti ketakutan.


Mas Guntur memberikan minum pada Leo. Saat ia sudah bisa tenang dan menghirup napas dalam. Ia pun menceritakan sesuatu yang membuat aku bergidik.


“Tadi saya kan kerumah pakde saya, disana ada pak Marhen kang… kang.. Pak Marhen ndak main-main. Dia benaran gila, masa’ dia nyewa dukun untuk nyantet sampeyan atau mbak Sekar. Dia bilang begini tadi kang ‘Heran, siapa dukun Guntur dan Sekar itu, makin malam makin susah nembus rumah dan orangnya! Dukun ku sampai kewalahan. Sekarang akan coba setelah ashar… kalau malam tidak bisa maka sore seperti itu pasti bisa buat matenin Guntur’. Gitu kang… sampeyan dan Mbak Sekar jangan tidur setelah ashar kang, dukun nya sekarang dua kang.” Ucap Leo secara ketakutan.


Kami semua sontak beristighfar. Kami tahu jika Pak De dari Leo adalah tim ses dari Pak MArhen. Maka semua sinkron dengan apa yang di dawuhkan Umi Ayu saat kami bertanya pada beliau perihal kain putih berupa pocong dan isinya beberapa malam yang lewat. Umi Ayu menjawab santai.


“Semua itu ada kang,justru kita harus membiarkan hal-hal seperti itu masuk ke kediaman kita atau membiarkan mereka mengganggu kita. Karena biar yang ngirim senang. Toh Allah juga yang mengizinkan benda semacam itu masuk ke kediaman kita. Ndak usah takut, sholat, dzikir kita itu sudah lebih-lebih dari prisai. Ndak perlu saya atau suami, wes mantep wiridan, sholat, baca quran. Biarin yang kayak gitu sliweran dirumah. Ga usah di gape. Yang penting wayahe ba’da Ashar ndak usah tidur usahkan, juga ba;da maghrib. Secapek-capeknya usahakan tetap melek jam-jam segitu” Ucap Umi ayu santai.


Seketika aku menitikkan air mata, beberapa ibu-ibu mengira aku takut atau bresedih. Tapi tidak, aku tidak takut akan ancaman pak Marhen bukan pula pada klenik atau dukun. Tapi aku bersyukur bertemu Guru yang Allah cintai, bagaimana tidak. Hanya mereka yang Allah cintai yang mampu diberikan kasyaf akan hal-hal yang mungkin orang seperti aku ini tak bisa lihat dan rasakan. Nasehat Umi Ayu kemarin, menandakan bahwa beliau lebih dulu di serang, beliau lebih dulu tahu akan hal yang masih ditutup dari aku dan mas Guntur sebagai orang awam. Aku semakin mantap untuk nderek Umi Ayu dan Kyai Damar.


‘Masyaallah… maturnuwun Gusti sudah di pertemukan dengan guru yang betul-betul tawadhu dan mengajarkan kelembutan juga bagaiamana harusnya kami umat Rasulullah dalam bersikap di akhir zaman ini…. Mati urip, kulo Nderek Yai lan Bu Nyai… mergo mereka kulo iso tresno kaleh Kanjeng Nabi lan belajar ilmu tauhid. لا إله إلا الله’ Munajat ku dalam hati.


“Seng sabar nggeh mbak Sekar, kita akan sama-sama berdoa. Ndak perlu takut atau sedih.” Ingat istri Cak Yassin padaku, ia mengira aku bersedih karena suami ku sedang akan diserang secara tak kasat mata.