
Tidak ada yang baik-baik saja saat kita merasakan bahwa kita hidup di dunia ini bukan sebagai hamba Allah. Karena kita akan merasa tidak bahagia dan dunia tidak bersahabat pada diri kita saat ujian terus saja menghampiri kita. Ketika banyak teman atau tetangga yang bertanya mengapa aku bisa memiliki kekuatan yang dinamakan kesabaran menghadapi ibu mertua yang lidahnya tidak bertulang. Aku hanya mengatakan jika tujuan hidup kita untuk bahagia maka tentu saya tidak akan bahagia, namun hidup ku selama ini hanya ku artikan sebagai seonggok daging yang diberikan ruh atau nyawa untuk tinggal sementara di dunia ini. Jika ada yang mengatakan jika dunia ini panggung sandiwara, mungkin ya. Tapi bagi ku, kesabaran selama ini bukan sandiwara, aku hanya menjalani peran ku sebagai aktor yang harus berekspresi dan bertindak sesuai yang diinginkan sang sutradara. Aku hanya menjalani peran ku sebagai istri mas Guntur yang berpedoman pada perempuan-perempuan yang dulu sudah diceritakan dalam Al Quran maupun dalam kitab-kitab yang aku pelajari selama di pesantren.
Justru aku berbahagia, karena masalah ku yang belum bisa hamil membuat aku menemukan arti cinta sejati. Mas Guntur menunjukkan bahwa ia mencintai aku, bagiku ini yang dinamakan cinta sejati. Sore hari saat aku sudah membalur tubuh ku dengan sebuah hand body yang katanya bisa memutihkan kulit, nyatanya aku sudah 8 tahun menggunakannya tapi tak ada perubahan pada kulit ku. Tapi niat ku membeli itu bukan untuk putih, melainkan untuk menyambut suami ku pulang dari ngarit. Saat suara motor mas Guntur sudah berada di halaman belakang, aku menghidupkan kompor dan menyiapkan kopi hangat. Begitu mas Guntur selesai membersihkan diri dan meletakkan rumput di belakang, kopi hangat sudah menyambutnya.
“Wah…. Dari tadi sudah kebayang-bayang kopi nya dan aroma parfum mu dik…” Ucap Mas Guntur yang segera menyilir kopi tersebut di piring kecil. Ia menikmati kopi tersebut dengan piring kecil, ia tak pernah meniup minuman yang panas, maka menyilir di sebuah piring menjadi alternatifnya.
“Mas, Vira tadi memberikan kabar. Akhi bulan ini mungkin prediksi Vira melahirkan.” Ucap ku.
“Alhamdulilah orang yang kemarin lihat motor Win mas jadi mau beli. Mas tidak menyangka dia mau beli 18 juta motor sudah butut begitu.” Ucap mas Guntur yang kembali menikmati satu emping jengkol yang di berikan Mbak Ani pada ku siang tadi.
“Alhamdulilah ya mas, semoga bisa buat jemput nduk…” Jawab ku.
Kami telah mendapatkan kabar dari Vira jika bayi yang dikandungnya adalah berjenis kelamin perempuan. Kami belum menyiapkan nama, karena Kyai Damar mengatakan untuk nanti setelah bayi lahir baru mencari nama untuk bayi tersebut. Maka kami hanya memanggilnya dengan nduk.
“Tapi mas khawatir itu kabarnya biaya bawa bayi kalau naik pesawat besar loh dik… mudah-mudahan dipermudah.” Ucap mas Guntur khawatir.
“Aamiin… insyaallah akan ada kemudahan untuk niat baik kita.” Aku cepat meraih ponsel saat ku dengar ada pesan masuk.
Ku baca pesan dari Vira.
{Mbak saya sekarang di rumah sakit, karena tadi pas ke puskemas di rujuk ke Rumah sakit. Dokter bilang kemungkinan besok pagi saya melahirkan}
“Pesan dari siapa dik?” Tanya mas Guntur.
Wajah mas Guntur pun tampak khawatir juga. Ia bergegas menghubungi mas Yono. Ia meminta agar malam nanti mas Yono bisa mengantar kami ke kota. Aku sempat mengatakan untuk menghemat biaya biar mas Guntur saja yang pergi kesana. Namun mas Guntur bersikeras agar aku tetap ikut. Aku pun bergegas menyiapkan beberapa pakaian dan administrasi yang kemungkinan dibutuhkan ketika disana, mas Guntur akan langsung mengurus di catatan sipil untuk akte dan surat adopsi si Nduk. Aku hanya mampu berdoa agar Vira diberikan kemudahan dan kesehatan juga dengan bayinya. Malam hari aku dan mas Guntur berkunjung ke rumah bapak dan ibu, untuk memberi kabar jika besok kami akan menjemput si Nduk.
“Lah ibu itu ndak habis pikir sama kamu, wong Sekar sudah mengizinkan kamu menikah lagi. Mertua kamu juga sudah menghubungi bapak biar kamu menikah lagi, kok ya masih ngeyel ndak mau nikah lagi. Malah nekat adopsi anak jauh-jauh di Jawa. Apa disini tidak ada anak yang bisa di adopsi tanpa harus mengadopsi anak jauh-jauh. Biaya nya itu loh Tur… mbok jangan semugih jadi orang…” Protes Ibu karena tak mampu merubah pendirian mas Guntur untuk tidak mengadopsi anak dari Jawa.
Kedua orang tua mas Guntur tidak tahu cerita sebenarnya, kami hanya menceritakan jika ada teman Tika yang sepertinya kerepotan merawat bayi yang akan dilahirkan dan kami berniat mengadopsi bayi tersebut.
“Dia akan menjadi mahram kami Pak walau bukan darah daging kami. Kami sudah konsultasi ke dokter." jelas mas Guntur pad kedua orang tuanya.
Kami dua bulan lalu memang ke Obgyn untuk konsultasi masalah operasi tuba falopi. Aku masih menolak untuk operasi, karena dokter bilang ada yang berhasil memiliki anak dengan terapi yang di jalani. Aku memilih sabar dengan terapi yang ku jalani daripada operasi. Dan kami juga bertanya perihal apakah aku bisa memiliki ASI sedangkan aku tak hamil atau melahirkan. Dokter tersebut mengatakan bisa, proses itu di sebut induksi laktasi, dimana suatu upaya dari ibu yang tak pernah menyusui menjadi bisa menyusui Saat ditanya bagaimana proses agar ibu yang menyusui bayi adopsi bisa terjadi, dokter Emi mengatakan, harus dibiasakan dahulu menyusui. Proses tersebut bisa aku mulai nanti ketika aku sudah mengadopsi si Nduk. Aku harus membiasakan dirinya menyusu pada ku. Memang sulit jika bayi masih dibawah satu semester, tapi dokter akan memberikan resep untuk ku agar bisa memproduksi ASI. Aku hanya perlu minimal si Nduk sampai lima kali menyusu dengan diriku sampai kenyang jika memang ASI itu tak bisa sampai dua tahun, agar ia menjadi mahram bagi Mas Guntur.
“Ya sudah terserah kamu, ibu Cuma bingung kamu itu sudah di sekolahkan kok mikirnya ga umum nya orang.” Ucap ibu acuh tak acuh.
Mas Guntur melirik aku yang duduk di sebelah ibu. Aku bisa mengerti pandangannya pada ku. Ia mungkin ingin bertanya yang aneh itu aku, bisa bertahan dengan semua kondisi dan meminta ia menikah lagi.
Keesokan paginya kami berangkat, pagi-pagi sekali kami berangkat. Bahkan kami shalat Shubuh di perjalanan karena pesawat berangkat jam setengah tujuh pagi. Kami pun harus transit dulu di Jakarta setelah itu baru ke Jawa. Kami langsung menuju rumah sakit tempat dimana Vira akan melahirkan. Kami menghubungi Yadi, tampak di sebuah ruangan adik ipar ku melambaikan tangan. Ia mengatakan jika bayi baru saja di lahirkan. Bayi tersebut berjenis kelamin perempuan. Mas Guntur langsung meminta izin agar bisa mengadzani bayi mungil tersebut. Aku bahkan menitikkan air mata saat mas Guntur mengadzani bayi mungil itu, suamiku pun tampak menangis. Saat selesai, kami pun menemui Vira dan neneknya. Kami meminta izin untuk segera mengurus administrasi si Nduk. Alhamdulilah Vira sehat, aku dan dirinya menangis haru karena perjalanan yang ia alami.
“Mbak… saya tidak tahu harus bagaimana berterima kasih pada mbak dan mas Guntur, disaat orang menganggap anak saya mungkin aib. Mbak dan mas Guntur justru dengan senang hati merawatnya.” Ucap Vira.
“Terima kasih karena mau bertahan dan menjaga kandungan kamu sampai detik ini, semoga setelah ini kamu tidak kembali terjerumus ya… Kita akan saling doa mendoakan...” Ucap ku untuk memberikan semangat. Vira pun mengangguk, ia begitu ingin kembali menjadi baik.