
Matahari masih menunjukkan hangatnya walau hari menjelang sore, aku baru mengikat rumput yang aku peroleh sore ini. Baru aku akan menaikkan rumput tersebut ke atas motor. Tiba-tiba suara seseorang diikuti dengan suara knalpot motor membuat aku menaruh kembali ikatan rumput tersebut.
“Tur… Guntur…” Teriak Pak Lek Gio.
Pak Lek menghentikan motornya dan mematikan mesin motor gerandongnya, sebuah sebutan biasa kami untuk motor khusus keladang. Karena suara knalpon yang khas dan besar, maka kami menyebutnya gerandong.
“Ada apa pak le?” Tanya ku pada Pak Lek Gio.
“Tur, ada yang ingin Pak lek ceritakan. Tentang ibu mu.” Ucap Pak Lek.
Alis ku pun terpaut, dalam hati aku sudah kembali khawatir, ada apalagi dengan ibu.
“Tur, barusan ibu mu dari rumah. Nawarin kebun yang sekarang kamu tanami sawit. Katanya mau di jual buat biaya nikah Yadi. Pak Lek khawatir kamu tidak tahu. Kamu tahu sendiri toh ibu mu Cuma punya berapa hektar lagi, itu juga semua yang membuat jadi kebun ya kamu, gimana kalau bisa jangan sampai di jual Tur…” Ucap Pak Lek seraya mengipaskan topinya, karena cuaca cukup panas. Aku bahkan baru saja mengahbiskan minum yang ku bawa karena keringat mengucur deras.
“Ibu ndak cerita sama aku Pak Lek. Kemarin aku sudah bicara sama Yadi. Disini nanti tidak akan ada acara, cukup yasinan keluarga besar saja.” Jelas ku pada Pak Lek.
“Nah itu, Pak lek kahwatir terlanjur di jual. Yang repot kamu juga besok-besok. Atau kalau kamu punya uang kamu saja yang menggantikan kalau ibu mu memang mau menjual tanah itu… sayang kalau diambil orang, sawit mu buahnya bagus juga tanahnya strategis, Tur.” Ucap Pak Lek Gio.
“Tenang Pak Lek, surat tanahnya aku yang simpan. Jadi ibu ndak bisa jual kalau tanpa sepengetahuan ku.” Jawab ku.
Pak Lek yang baru berangkat untuk mencari rumput pun meniggalkan aku sendiri, saat selesai ku ikat ramban atau rumput untuk makan sapi, aku pun duduk sejenak di bawah pohon duku. Ku lihat sudah mulai berbunga. Aku menghilangkan keringat dulu, setelah itu aku akan langsung pulang, biasanya aku akan langsung pulang karena ada Sekar dirumah. Tapi siang ini istriku sedang pergi mengantar Umi Ayu ke desa Ujung. Aku mengipaskan baju yang sesekali ku lap di bagian wajah. Pikiran ku melayang ke nanti pasti berdebat lagi sama ibu, karena ibu tampaknya ngotot untuk ngunduh mantu ketika Yadi menikah, andai ibu tahu bahwa kelak di hari tuanya ibu lebih butuh biaya daripada mengikuti gengsi. Aku bukan tak mau merawat ibu, tapi khawatir jika rezeki ku tak selancar sekarang juga kondisi mertua yang tentu akan ikut menua, selama ini aku nyaris tak pernah terlalu pusing dengan kondisi mertua, tetapi justru selalu sibuk mencukupi kebutuhan bapak dan ibu. Yani, dia hidup di kota maka cara pikirnya pun sudah seperti kebanyakan orang kota. Yang lebih mengedepankan gaya bukan butuh. Maka ia tak pernah cukup untuk mencukupi kebutuhannya sendiri apalagi untuk mencukupu kebutuhan bapak dan ibu.
“Kapan ibu bisa lembut, kasih kelembutan hati pada ibu ya Allah…” Gumam ku seraya kembali memakai baju partai yang biasa ku pakai saaat akan mencari rumput atau menyadap karet.
Aku pun segera pulang, namun belum ketemu bagaimana cara menghadapi ibu, aku sudah harus berhadapan dengan ibu. Saat baru saja aku masuk kerumah dan membuat kopi, ibu sudah ada di bibir pintu dapur.
“Ibu mau ngomong…!” Ucap ibu sudah dengan nada tinggi.
Ibu duduk di satu bangku kecil atau biasa kami sebut ‘dingklik’. Aku yang merasa tidak sopan karena berada diatas kursi, aku pun turun dan duduk di lantai seraya membawa turun cangkir kopi ku yang tadi ku letakkan diatas meja.
“Ngomong apa Bu…?”Tanya ku pura-pura tidak tahu, aku yakin ibu akan membicarakan perihal surat tanah yang akan dijual.
“Ibu mau minta surat tanah yang kamu simpan, yang di pengkolan.” Ucap ibu langsung.
Aku masih memilih kalimat apa yang harus aku pilih, karena aku sangat berhati-hati untuk tidak mengeluarkan lisan ku yang buruk pada ibu apalagi sampai menyakitinya, karena jika kelak aku memiliki anak, sudah tentu anak ku akan bersikap sama seperti aku memperlakukan ibu dan bapak. Ku tatap ibu, wajah yang penuh gurat perjuangan. Ia memang cerewet, memang keras. Tapi ia mengandung dan melahirkan serta membesarkan aku. Maka sekalipun tubuh ku lebih besar dari ibu, sekalipun kini ibu dan bapak makan dari hasil kerja keras ku, namun tidak bisa aku berbicara sembarangan, aku begitu hati-hati dalam menyampaikan pendapat.
“Mau ibu jual, buat biaya ngunduh mantu dan seserahan. Ibu mau seserahannya kayak di sana, komplit dan uangnya juga harus besar.” Jawab ibu dengan nada ngotot.
“Bu, kemarin aku sudah menghubungi Yadi, Tika dan orang tuanya tidak meminta seserahan yang besar. Yang penting sah, mereka juga tak akan pesta besar-besaran. Disini kita yasinan saja atau nanti siang nya kita ajak jamaah hadroh ibu-ibu. Malamnya biar Guntur ajak jamaah Rotib untuk menyambut pulang Yadi dan Tika, ndak perlu pakai acara ngunduh mantu.” Ucap ku pada ibu, karena untuk di desa kami butuh minimal uang 60 juta ditangan buat acara yang memakai hiburan atau memasang tenda, karena di tempat kami tak butuh undangan, jika ada tenda di depan rumah dan adanya hiburan, orang-orang akan berbondong datang sendiri untuk menyumbang. Bukan aku menyombongkan diri, untuk aktif di organisasi juga bekerja di KUA, maka kemungkinan tamu yang datang bisa hampir seluruh desa dari kecamatan yang aku tangani.
“Tidak, pokoknya ibu tidak mau! Ibu mau tetap ngunduh! Itu tanah ibu dan bapak! Kamu tidak berhak mengatur-atur, mana suratnya?” Tanya ibu sudah emosi.
“Bu, bukan Guntur ikut campur. Nanti kalau di jual ibu Cuma punya dua hektar kebun karet, kira-kira cukup tidak buat kebutuhan ibu dan bapak sehari-hari?” Tanya ku pelan dan hati-hati.
“Owh… jadi kamu mulai tidak mau mengurus ibu dan bapak?!” bentak ibu lagi.
Aku mulai tersulut, tubuh yang lelah bahkan aku belum sempat memberikan makan sapi karena ingin istirahat sejenak pulang dari ngarit.
“Bu… Pak Lek Gio juga tidak setuju ibu jual tanah itu, sudahlah… sederhana saja. Tidak usah ikut gengsi…” NAsihat ku pada ibu.
Ibu tampak diam dan berpikir, lalu sedikit melunak namun menatap ku penuh curiga.
“Mana suratnya, ibu mau lihat. Atau jangan-jangan kamu jual atau kamu gadaikan seperti isu yang beredar. Kamu servis rumah ini dan bayar dukun buat nyantet Arum jadi alasan kamu tidak boleh ibu jual tanah! Iya kan?!” Teriak ibu.
Aku memejamkan mata, ku tarik napas dalam-dalam. Aku bahkan seperti mendengar ucapan Kyai Damar untuk tetap santun menghadapi ibu dengna semua watak beliau.
“Bu, Guntur selama ini selalu berusaha menjaga perasaaan ibu, selalau mengutamakan ibu. Bahkan di depan Guntur pun ibu sering terang-ternagan menghina dan menyalahkan Sekar, tapi kali ini… ibu sudah kelewatan! Baik, ibu mau ambil tanah ibu… baik…!” Ucap ku dengan emosi, aku beranjak ke kamar. Tiba di depan lemari ku ambil satu map dan kucari surat SPH milik ibu, tiba-tiba aku gemetar, aku duduk di lantai seraya menggengam erat surat itu.
‘Astaghfirullah… Astaghfirullah…. Ampuni aku rabb…’ ucap ku. Seketika aku terpikirkan sesuatu, aku keluar dari kamar dan aku ambil korek api di atas meja.
“Ibu mau jual tanah ini?” Tanya ku lagi untuk memastikan.
“Iya, itu hak ibu, kamu hanya mengurusnya!” Ucap ibu penuh emosi.
Aku hidupkan korek api di tangan ku dan ku bakar surat tanah yang masih berupa SPH.
“Anak Durhaka kamu Guntur!” Teriak ibu.