
Aku membaca pesan yang ternyata dari teman ku bernama Fuad. Ia adalah teman satu kamar ketika mondok dulu. Ia mengomentari status WA ku.
{Njenengan wonten ngriki? tengga wonten ngrika, kulo mriko}
(Kamu disini? Tunggu disana, aku kesana.)
{Nggeh. Njenengan teng mriki Kang?}
Balas ku. Namun tak di baca oleh teman ku. Ia tampaknya langsung menuju tempat dimana aku menikmati sarapan. Tak berapa lama muncul seorang lelaki menggunakan celana pendek dan baju kaos partai. Ia bahkan menggendong anak balita di depannya. Dan satu anak lagi yang duduk di depan motor maticnya.
"Kang Guntur!" Sapa nya saat melihat aku sedang menikmati kopi yang bagi ku terlalu manis. Mungkin aku terbiasa dibuatkan kopi oleh Sekar yang selalu pas di lidah.
"Kang Fuad.... Wah sudah sukses sekarang." Ucap ku seraya menerima uluran tangannya dan memegang tangan mungil dari balita yang ada di gendongnya. Satu anak perempuan yang berambut keriting juga ia tuntun di sisi kanannya.
"Ah, njenengan ini... Sukses kok bawa motor matic... " jawabnya.
Ah dia tidak tahu, bagi ku ia lebih sukses. Karena di lihat dari rambut dan mata anak-anak yang datang bersama nya bisa dipastikan jika itu adalah buah hatinya.
"Sepertinya njenengan betul-betul melakukan yang di angen-angen semasa di pondok." Goda ku.
Karena hampir setiap acara atau Kang Fuad berpapasan dengan Muntiah, ia akan gemetaran dan salah tingkah. Malamnya kadang ia sering menyebut nama mbak Tiah atau Muntiah. Salah satu petugas keamanan pondok yang selalu memasang wajah jutek saat bertemu kami santri putra.
"Ya alhamdulillah lancar produksi generasi penerus bangsa. Tapi nyatanya menikah itu tak seindah yang di film ayat-ayat Cinta. Tak pikir cukup tampan, alim bisa bahagia. Nyata nya ungkapan macan jadi kucing setelah menikah baru aku rasakan kang." Jelasnya panjang lebar seraya membenarkan posisi anak nya di dalam gendongan.
Akhirnya kami berbincang di dekat halte. Namun satu kabar kembali membuat aku harus berpikir kemana akan menginap. Saat seorang petugas loket menemui kami para penumpang yang dari tadi gelisah menanti bus yang kami tunggu.
"Bapak, ibu. Kalau mau berangkat malam ini kita terpaksa over ke bus lain. Bus kita sedang mengalami kerusakan. Besok pagi baru siap jalan." Ucap lelaki yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
Aku tertegun. Namun Kang Fuad menawarkan untuk menginap di rumahnya.
"Menginap di rumah ku saja kang. Besok pagi saya antar kemari." Ucap Kang Fuad.
"Sebentar, aku telepon istri ku dulu. Khawatir dia cemas." Ucap ku.
Aku menghubungi Sekar.
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam." Jawab ku.
"Dik, bis nya lagi di perbaiki. Mas ikut bis lain atau ini mas menginap di rumah temannya mas, Kang Fuad ya?" Tanya ku.
Aku khawatir salah ambil keputusan. Karena kemarin adik Sekar sempat bilang jangan mau kalau di over. Kadang nanti duduknya umpel-umpelan. Belum lagi berhentinya nanti hampir di setiap halte. Lama sampai di Palembang.
Aku menunggu jawaban darinya.
"Kata bapak tunggu bis yang besok saja Mas." Ucap Sekar dari seberang.
"Sekarang lagi hamil 3 bulan Kang. Alhamdulilah.... Tapi ya begini kalau sudah banyak anak." Ucap Fuad seraya menoleh ke arah lantai yang berada di ruangan tempat kami duduk. Ada banyak mainan yang berserakan, bahkan tembok pun penuh dengan coretan.
"Maaaas!" Teriak istri Fuad.
Aku sedikit tersentak. Karena kaget, bagaimana seorang perempuan bisa berteriak di hadapan aku yang sebagai tamu.
"Nggeh...."
"Tak tinggal sebentar ya Kang." Ucap Kang Fuad.
Seketika aku mengusap tengkuk ku. Aku merasa merepotkan teman ku. Terlebih ketika malam hari, ku lihat Kang Fuad bahkan dengan telaten menggendong salah satu anaknya seraya meladeni aku dan beberapa teman yang datang saat tahu aku menginap di kediaman Kang Fuad. Dan aku tahu rasanya yang dialami Sekar saat setiap pertanyaan dari orang perihal anak. Hari ini aku merasakannya.
"Sudah punya berapa jagoan nya kang?" Tanya Faqih pada ku.
Aku menarik sudut bibir ku dengan terpaksa.
"Masih belum punya kesempatan seperti kalian, doakan semoga secepatnya punya momongan." Jawab ku singkat.
Tiba-tiba suara istri kang Fuad dari dalam membuat kami saling lirik.
"Mas, termos nya jangan lupa diisi kembali." Ucapnya.
Kami saling toleh. Kang Fuad datang membawa sepiring pisang goreng. Namun Faqih yang dari dulu paling jahil, ia sengaja mengganggu Kang Fuad.
"Piye nikah karena Cinta? Bahagia?" Bisik Faqih seraya menepuk pundak Kang Fuad.
Aku meninju pelan lengan Faqih. Khawatir Kang Fuad tersinggung.
"Loh, aku justru senang. Cukup diam, aku sudah dapat pahala." Ucap Kang Fuad pelan dan setengah berbisik. Kami terkekeh-kekeh mendengar jawabannya yang mungkin ia juga khawatir di dengar istrinya.
Aku tak habis pikir, mbak Tiah adalah santri. Ia juga beberapa tahun menjadi abdi ndalem di ponpes tempat kami. Namun ternyata ketika menikah, ia masih tetap galak kepada suaminya. Ah aku jadi ingat kisah Sayyidina Umar. Yang sabar dengan istrinya. Padahal siapa yang tak kenal Sayyidina Umar. Salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga. Ia mendedikasikan waktu siangnya untuk layanan publik. Sedangkan malamnya digunakan untuk beribadah.
Aku akhirnya hanya mampu bersyukur, hikmahnya bis ku rusak adalah agar aku bersyukur dengan kondisi ku yang saat ini belum punya anak. Kang Fuad, punya banyak anak. Tapi ia diberikan cobaan istri yang galak dan suka ngomel. Walau secara ekonomi ku lihat ia diatas ku.
Ada satu kesamaan yang ku lihat dari kisah rumah tangga aku dan Kang Fuad. Kami saling memahami serta mengerti kekurangan dan kelebihan pasangan kami masing-masing. Hal itu sangat mendukung kelanggengan sebuah rumah tangga. Perjalanan hidup berumahtangga kebanyakan tidak sesuai impian. Sehingga saat itu terjadi, maka dibutuhkan keluasan rasa sabar seorang suami maupun istri agar bisa menggiring bahtera rumah tangga menuju pantai kebahagiaan.
"Ada sebuah riwayat bahwa Nabi Muhammad bersabda, 'Barang siapa (suami) sabar atas keburukan akhlak isterinya, maka Allah memberikan dia pahala sebanding pahala Nabi Ayyub as atas bala’ (cobaan) yang menimpanya. Dan barang siapa (istri) sabar atas keburukan akhlak suaminya, maka Allah limpahkan baginya pahala Asiyah istri Ramses." Ucap Kang Fuad seraya berbisik ke telinga Faqih yang masih jomblo karena masih mencari yang sama-sama S2 dan sama-sama orang jawa.
Malam itu kami mengobrol cukup lama sampai pesan dari Sekar membuat ku tersenyum.
{Mas, Kangen.... ndak bisa tidur. Telepon ya kalau sudah pulang teman-temannya. Atau video Call.... }
Ah, aku pun merasakan hal yang sama Dik.