
Hari-hari ku lalui begitu padat dengan aktifitas sebagai ibu. Aku merasakan waktu ku cukup banyak tersita untuk bidadari kecil kami, Ziyah. Pagi ini setelah pulang posyandu aku mampir ke rumah ibu. Nanti malam akan ada acara yasinan bapak-bapak. Ibu berencana akan membuat Soto, saat tiba di kediaman ibu ku lihat mas Guntur sedang duduk di teras rumah bapak. Ia tampak sedang memijat kaki bapak. Seraya berjalan ke arah rumah aku mengusap punggung dan sesekali kepala Ziyah. Seraya berdoa, semoga ia juga nenjadi anak yang sholelah dan berbakti pada orang tua.
Putri ku ini begitu mirip ibu kandungnya, karena berkulit putih. Namun beberapa orang justru mengatakan jika wajahnya mirip aku. Aku pun hanya melihat persamaan dari wajah. Karena Ziyah memiliki mata bundar dan hidung mancung. Kini putri ku itu sudah berusia hampir 6 bulan. Sesuai arahan bidan, aku belum memberinya makanan tambahan. Ku ucapkan salam dan mencium punggung tangan Bapak dan mas Guntur.
"Sini, Ziyah sama bapak.... Suntik tadi Dik?" Tanya mas Guntur pada ku.
"Suntik pahanya mas, kiri dan kanan. Gendongnya hati-hati." Ucap ku. Biasanya Ziyah akan menangis jika disenggol bekas suntikan.
"Kamu itu harusnya minum obat dulu kalau tahu Ziyah suntik." Ucap bapak pada ku.
"Maaf pak lupa." Ucap ku pelan.
"Lah yo percuma, wong Ziyah bukan lahir dari Sekar...." Ucap ibu yang baru muncul dari sisi rumah. Tampak ditangannya ada daun jeruk. Aku tersenyum kecut, namun cepat ku tarik sudut bibir ku. Aku tetap takhdim pada ibu mertua ku itu. Seberapa sengit beliau pada ku, bagiku memang sudah watak, tipe dan karakter beliau begitu. Aku pun membuntuti ibu ke dapur. Terlihat beberapa tetangga dan saudara yang juga datang membantu di dapur.
ku pun bergegas mengambil parut yang tergantung, bu Sari bertanya pada ku akan satu gosip yang sudah berapa hari ini aku dengar namun hanya ku tanggapi dengan senyuman.
“Kar, apa betul katanya kalau Guntur akan nyalon Kades?” tanya bu Sari dengan tatapan kepo nya.
“Kata siapa Bu? Namanya juga katanya,ya pasti ndak tahu kebenarannya.” Ucap ku seraya memarut kelapa muda yang akan di taburi di atas kue putu ayu.
“Lah, makanya saya nanya sama kamu yang jelas sumbernya. Benar atau tidak?” Tanya nya lagi.
“Lah wong masih 9 bulan lagi loh bu pilihan kades, kok ya sudah pada sibuk.” Ucap ku seraya tersenyum.
“Loh justru itu harus dari sekarang, Pak Marhen lo sudah keliling dari dusun satu untuk minta dukungan jadi Kades.” Ucap Bu Ginah yang juga merupakan tetangga ibu. Ibu yang dari tadi sibuk mengiris daun bawang, ikut menimpali.
“Lah memangnya kalau Guntur betulan nyalon kenapa? Kok ya sibuk dari kemarin-kemarin pada nanya sama saya, sekarang Sekar. Sakjane ono opo toh, kok do Kepo?” Ucap ibu yang ternyata cukup gerah dengan ulah beberapa tetangga yang terus menerus bertanya perihal apakah benar kabar yang berhembus jika mas Guntur akan nyalon kades. Aku selama ini sering yang bertanya namun tak terlalu ku tanggapi serius, karena mas Guntur pernah bilang ini adalah ulah Pak Santoso dan Kang Yono. Guyonan pas ronda dijadikan isu agar beberapa calon cukup ketar ketir katanya, karena Pak Santoso juga Mas Yono tak suka dengan visi misi salah satu kandidat yang ingin mengusir Kyai Damar jika terpilih, alih-alih ingin membangun desa kok malah niatnya untuk mengusir orang yang sudah mengabdikan diri untuk ilmu dan pencari ilmu selama hampir pulahan tahun di desa ini.
Saat hampir masuk waktu dzuhur, mas Guntur matur pada ibu dan bapak perihal kabar dari Yadi. Aku masih memberikan ASI pada Ziyah di kamar depan, namun obrolan itu terdengar jelas.
Aku justru khawatir akan timbul masalah baru jika YAdi dan Tika betul pulang, karena tinggal satu rumah dengan ibu. Aku khawatir ipar ku itu apakah bisa kuat dan sabar menerima karakter ibu, belum lagi Tika yang notabene nya bukan alumni pondok pesantren, khawatir justru malah menjadi masalah yang akan menjadi beban pikiran mas Guntur, semalam padahal sudah ku ingatkan mas Guntur untuk tidak matur kepada ibu dan bapak masalah Yadi tinggal satu atap dengan ibu, namun memang secara adab yang menjadi pertimbangan mas Guntur benar, bagaimanapun ibu dan bapak tetap harus diajak diskusi.
“Lah ya mau kemana lagi, masa iya mereka ngontrak. Kamar dirumah ini juga masih ada.” Ucap ibu dengan nada ketusnya.
“Maksud Guntur bu, paling tidak ibu harus belajar momong Tika. Lah wong namanya baru disini. Khawatir nanti bocahnya tidak kerasan kasihan Yadi bingung bersikap. Ibu yang sabar momong Tika kalau anaknya sudah disini.” Ucap Mas Guntur hati-hati.
“Lah kok ibu yang harus ngajeni mantu, dimana-mana mantu yang manut mertua. Kalau ga betah nanti tinggal disini ya pergi cari rumah buat tinggal sendiri, kamu dulu juga begitu toh. Milih tinggal sendiri karena Sekar tidak betah?” Suara ibu semakin meninggi. Aku sengaja batuk agar mas Guntur paham jika ia harus sabar, tak usah kembali menjawab pertanyaan ibu yang justru akan semakin menyulut emosi ibu.
“Bu…. “ Ucap mas Guntur pelan. Seperti itulah yang harus hampir disetiap sesi diskusi, ibu akan selalu menang. Bagaimana dawuhnya Gus Furqon ketika aku masih di pondok dulu.
“Anak selamanya tetap anak, orang tua walau Cuma petani, ga berpendidikan. Mereka tidak mau kalah kalau urusan pendapat, maka saat emosi orang tua sedang naik, hendaknya kita sebagai anak cukup diam. Tapi jangan berhenti mendoakan dan memberi nasehat sesuai dengan situasi dan kondisi, jangan keminter mentang-mentang keluaran pesantren ibu bapaknya di sesat-sesatkan, kalau baca yasin tiap malam itu dosa, ndak ada tuntunannya dan dalilnya. Wes ngene ki, pinter tapi ga nduwe adab karo wong tuo. Wong tuo ga sido menjadi lebih baik yang ada mangkel akhirnya urip e dewe ga berkah karena di hati wong tuo ada rasa marah, mangkel benci sama kita sebagai anak.” Masih teringat jelas bab ini ketika Gus Furqon mengisi kajian seraya menggendong putrinya karena Umi Siti sedang dirawat di rumah sakit, yang luar biasa dari trah nya Kya Rohim. Mereka tetap istikomah mengaji walau dalam keadaan apapun.
Saat malam hari selesai membantu ibu membereskan peralatan dapur, aku dan mas Guntur pamit. Tiba-tiba mas Guntur menyampaikan permohonannya pada ku, aku sedang memangku Ziyah, ia sedikit rewel dari siang tadi, aku bahkan harus bersandar di dinding dan dua bantal kuletakkan di bawah tangan yang memeluk Ziyah, putri ku ini sedang rewel pasca imunisasi maka sudah menjadi kebiasaan saat rewel, ia akan tidur jika di peluk. Aku pun akan tidur dalam keadaan duduk dan bersandar di dinding yang diberikan lapisan bantal.
“Dik, kalau mas betul nyalon kades kamu setuju?” Tanya mas Guntur pada ku, ku lihat kedua netranya, ia sedang serius. Aku menggenggal ujung jarinya.
“Sejak kapan Imam minta persetujuan Makmumnya untuk memilih ayat kehidupan yang jelas baik, justru yang harus mas minta pendapat dan doa nya adalah Kyai Damar, beliau selaku guru kita. Jangan sampai kita melangkah dengan niat yang salah, dan Guru adalah tempatnya bertanya dan mampu membimbing kita.” Ucap ku. Mas Guntur beringsut pindah ke sisi pu. Ia usap kepala Ziyah dan berganti dengan tangannya berhenti di dagu ku.
“Tadis selesai membaca Yasin, beberapa jamaah minta agar mas betul-betul mencalon diri dan yang paling penting satu alasan mas adalah ingin Kyai Damar tidak pergi dari desa ini, kemarin ternyata ada beberapa ulama yang datang dari Benkulu, Padang. Mereka menyiapkan lahan untuk Kyai Damar jika memang status tanah belum jelas disini. Bahkan hibah tanah tersebut akan diberikan atas nama Kyai Damar, mas ndak mau desa ini kehilangan sosok ulama seperti Kyai Damar, kamu benar. Mas akan maju di Pildes nanti niatnya untuk melindungi Kyai Damar dari niat Pak Marhen.” Ucap mas Guntur dengan ujung hidung yang terangkat, aku tahu apa yang dirasakan suami ku. Hati murid mana yang tak sakit saat guru nya direncanakan akan di usir. Hanya karena dendam pribadi bukan kesalahan atau akidah yang salah dari ulama tersebut.
“Niatnya jangan bilang begitu mas, ndak nanti malah sama Kyai Damar ndak bakal di setujui. Tasawuf nya Kyai Damar dan Umi Ayu itu sudah bukan seperti kita mas, bilang saja mas ingin nyalon kades, mas akan maju jika Kyai Damar merestui. Cukup seperti itu.” Ingat ku, ada banyak hal yang tak bisa dijelaskan dengan logika untuk sosok sederhana dan berilmu dari sepasang guru yang dimana salah satu dari mereka alumni Kali Bening. Bahkan aku bisa menjadi saksi jika Umi Ayu adalah alumni Kali Bening yang betul-betul mewarisi apa yang diajarkan Umi Laila, ia tak meletakkan dunia di hatinya. Ia tak risau akan masalah dunia, beliau hanya sibuk bagaimana waktunya, jiwa dan raga nya di curahkan untuk mengaji bersama siapapun yang ingin mengaji di desa ini.
“Mas, apa yang menjadi niat mas saat ini adalah sebuah benang merah saat kita pernah sowan ke Kali Bening,” ingat ku pada mas Guntur. Ia menoleh ke arah ku.
“Kamu benar,belum maqom kita bisa memahami dawuhnya mereka yang sudah dicintai Allah. Mungkin Kyai Rohim sudah tahu apa yang akan terjadi. Namun sebuah amanah diberikan kepada kita, mudah-mudahan Kyai Damar merestui.” Ucap mas Guntur dengan mata yang merah dan berair. Lelaki ku itu selalu mudah tersentuh hatinya jika urusan dengan orang-orang yang ia cintai.
‘Bismilah, jika memang mas Guntur diberikan amanah untuk memanfaatkan umurnya untuk masyarakat. Maka kuatkan hati dan pikiran juga raga hamba untuk mendampingi perjuangan suami hamba Rabb… Tugas Mamak mu ini akan bertambah nak, semoga kamu juga kuat dan selalu sehat jika Allah mengamini niat baik Bapak mu,’ munajat ku seraya membelai rambut Ziyah.