The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 67 CELENG



(Buat yang bukan orang jawa jadi CELENG ITU \= B A B I)


Mas Guntur di kelilingi oleh para kades terpilih dan akan dilantik besok pagi. Acar Gladi itu sudah selesai karena mas Guntur berada di barisan akhir dan nomor terakhir. Yaitu nomor 50 dari 50 kades yang akan di lantik. Namun anehnya, mas Guntur seperti artis yang banyak penasaran bahkan ada beberapa kades terpilih dari kecamatan yang jauh minta foto bersama. Aku melongo tak percaya. Dan karena kami duduk di kursi sesuai nomor urut. Maka perempuan berbaju putih dan duduk di sisi ku dengan nomor kursi 49 menyapa ku dengan ramah.


"Wah berarti ibu istrinya pak Kades viral itu ya?" Ucapnya seraya melihat ku lekat.


Aku tersenyum dan sedikit mengangguk. Namun aku memberanikan diri bertanya.


"Maaf bu, viral? Viral apanya?" tanya ku penasaran.


"Loh, di medsos itu rame Bu, kades ini dianggap satu-satunya kades maju tanpa money politik dan paket lengkap." Ucap ibu itu. Ia mengeluarkan ponselnya. Tampak satu media sosial berlogo biru ia buka dan ia membuka satu video ku lihat disana ada foto profil Leo dan Neneng dan postingan di beranda Leo hampir dipenuhi visi misi mas Guntur, video mas Guntur dari baru menjadi mudin dan bertani.


"Calon Kades paket lengkap, kalau kematian dia yang ngafani, kalau teraweh beliau yang imamin, kalau menikah dia yang urus berkas... Mau pilih yang mana lagi?" Kira-kira narasi dari video yang berisi cuplikan foto-foto mas Guntur dari sedang memotong kain kafan, naik kelapa, berada di mimbar masjid dan sedang menggali kuburan. Kini aku mulai paham kenapa kemarin banyak yang mencibir mas Guntur pencitraan. Aku baru nyambung. Video ini, sibuk menghadapi serangan mental dan non mental membuat aku tak sempat bermain medsos. Dan kini aku baru paham kenapa Mas Guntur dianggap pencitraan. Padahal ia melakukan itu selama 10 tahun, bahkan dulu beliau membantu warga, tak ada sedikit pun niat untuk mencalonkan diri menjadi kades.


Kalau saja Kyai Damar dan Umi Ayu tak di usik, mungkin jiwa santri Kang Guntur tak akan begitu berkobar untuk ikut berkompetisi di pemilihan kades. Bahkan untuk membeli sepatu putih untuk pelantikan saja aku harus membuka beberapa tabungan yang sering aku selipkan di tempat-tempat rahasia. Karena tak di pungkiri semua agar aman dari tuyul kepala hitam juga tuyul beneran. Saat perjalanan pulang, aku dan Mas Guntur meminta klarifikasi Leo yang kebetulan ikut.


"Kenapa ga izin dulu?" Tanya mas Guntur yang sedang membuka beranda medsos Leo.


"Loh kang, hoaks kemarin itu kalau ndak dilawan lewat medsos begini bakal sulit. Sampeyan tahu sendiri hoaks yang ditujukan pada sampeyan sudah membabi buta. Yang katanya kalau sampean jadi kades bakalan susah karena sampeyan itu orangnya keras." Ucap Leo.


"Berarti di daerah lain beneran mengerikan buat nyalon kades dek. Pantas kita kemarin di remehkan karena nyalon kades." Ucap mas Guntur.


Aku baru tahu di daerah lain bahkan ada yang sampai menjual rumahnya atau kebun untuk modal mencalonkan diri. Sedangkan kami bisa dikatakan modal dengkul. Tiba-tiba Leo tertawa.


"Hahaha... Tapi yang lebih seru ini desa kita kang." Ucapnya.


"Kenapa?" Tanya mas Guntur.


"Lah iyo... Kemarin kan bolak balik sampeyan dibilang CELENG Sekarang yang bilang sampeyan CELENG lebih kasihan. Soalnya di pimpin CELENG." Ucap Leo.


"Hust... Sudah ndak usah dibahas. Yang sudah berlalu biar berlalu." Ucap mas Guntur pada Leo yang fokus mengendarai mobil.


"Sampeyan ga tersinggung kang dibilang C E L E NG?" tanya Leo seraya cengengesan.


"Yo ndak. Mana ada celeng. badannya kurus kayak gini. Celeng kurang gizi apa?" Jawab mas Guntur.


Seketika aku tersenyum. Namun tangan mas Guntur menggenggam erat tangan ku. Ia menoleh ke arah ku. Aku ingat kejadian Celeng ini. Saat itu mas Guntur begitu marah dan naik pitam. Ia begitu marah saat telinga nya mendengar bahwa Kyai Damar disamakan dengan hewan yang haram dimakan umat muslim itu. Namun aku berusaha menenangkan mas Guntur, berusaha memberikan nya air kala api amarah begitu besar pada pak Marhen dan tim nya.


"Kalau mas meladeni itu, mas justru merendahkan martabat guru kita. Kyai Damar akan semakin dijelekkan. Jika mas kesana dan meluapkan emosi, mereka akan mengatakan jika mas itu didikan Kyai Damar. Mereka memang sengaja mas. Jika mas niat mimpin desa ini. Mulai sekarang, mas harus pintar mengelola emosi mas. Mereka sengaja melakukan ini, mereka tahu hanya satu yang bisa membuat mas Marah yaitu Kyai Damar di usik dan direndahkan. Jangan kesana, bolak balik Kyai Damar dan Umi Ayu bilang kalau meneng luweh slamet. Sudah ndak usah ditanggepin. Mana ada Celeng kaki dua, mana ada celeng tubuhnya langsing." Seketika mas Guntur tersenyum mendengar kalimat terakhir ku.


Ya, mas Guntur maju pildes karena Kyai Damar diusik. Saat itu kembali mereka ingin Mas Guntur marah dan melabrak mereka agar gosip bahwa mas Guntur Arogan betul-betul terbukti, Alhamdulillah mas Guntur bisa menahan emosinya saat Kyai Damar dikatakan Celeng. Sehingga Leo sering mendengar ketika mas Guntur lewat di depan timses Pak Marhen ucapan yang sering di lontarkan sangat menyayat hati.


"Lihat, mau kemana Celeng itu pergi."


Maka wajar saja Leo bisa tertawa dan menyindir masa itu. Dan aku justru memberikan ide pada Leo yang mahir main medsos.


"Buat satu akun Yo. Khusus untuk nanti memberikan informasi selama kepemimpinan mas Guntur. Mulai dari besok saat dilantik." Ucap ku pada Leo.


Mas Guntur menoleh ku.


"Saat mas Belum jadi saja, hoaks dan fitnah begitu kejam mengarah ke mas. Maka apalagi mas sudah jadi kades. Sekarang sudah bukan zaman nya lagi untuk tidak aktif dan belajar di medsos. Mas Harus gunakan medsos untuk memberikan bukti nyata apa yang mas niatkan dulu akan terealisasi ketika memimpin desa. Biar dibilang pencitraan. Pencitraan itu ketika kita tidak melakukan tapi di up di publik seolah-olah kita melakukan. Kalau kita betul melakukan, maka itu bukan pencitraan tapi penting guna menangkal hoaks." Jelas ku dengan suara getir. Aku sudah membayangkan apa yang akan aku dan mas Guntur alami selama 6 tahun kedepannya.


"Kamu benar, tetaplah jadi Sekar yang dulu sekalipun besok banyak yang memanggil mu Bu Kades." Goda mas Guntur.


Ku Pukul pahanya dengan tangan kami yang tergenggam. Aku ingin segera pulang, Ziyah pasti rewel karena biasanya kalau makan ia susah disuapi orang lain. Dan sesuatu yang mengharukan terjadi ketika pelantikan kades. Aku bahkan di buat terharu.