The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 17 Permintaan Mas Guntur



Malam ini kami langsung kembali ke kediaman ibu bapak ku. Mas Guntur khawatir Ibu akan semakin kembali membahas perihal siang tadi. Aku rasa mas Guntur sangat marah pada ibu. Ia tak pernah membentak ibu seperti malam ini. Aku jadi khawatir dengan masalah kami yang berlarut-larut. Seperti biasa ku tatap suami ku yang terlelap di sisi ku. Namun satu tangannya masih menggenggam tangan ku.


'Panjangkan umur suami ku Rabb.... " Batin ku.


Aku pernah mendengar dawuh Gus Furqon. Hidup itu pilihan, seperti itu juga tentang patuh kepada orang tua maka keberkahan umur akan di dapat. Patuh pada guru keberkahan ilmu juga akan didapati. Maka jika patuh pada keduanya maka kita akan meraih dua-duanya. Namun mas Guntur, karena cintanya untuk ku. Ia mengabaikan nasihat orang tua dan gurunya.


Terlebih malam ini, aku hanya mampu menangis saat mas Guntur mengatakan pada ku tadi.


"Andai saja bukan Sekar istri ku, mungkin sudah lama kami berpisah Bu. Bukan karena perlakuan ibu dan bapak pada istri ku akhir-akhir ini. Tapi dari segi ekonomi saja, ia selalu menomorduakan dirinya Bu." Ucap mas Guntur sebelum menyuruh ku berkemas.


Entahlah, pada siapa aku harus meminta pendapat. Aku hanya ingin mempertahankan rumah tangga ku. Aku ingin mendapatkan pahala melalui ibadah ini. Dengan menjadi istri yang baik, partner yang baik bagi suami ku. Bahkan kala itu pun aku bisa melihat bagaimana Umi Siti mengisahkan pada aku dan Sekar, kala ia sudah bisa menerima Gus Furqon sebagai takdirnya. Beliau menceritakan jika rumah tangga yang harmonis dan utuh adalah pilar bangsa.


Ya, jika istri tidak bisa menjadi tempat kembali bagi suami dan anaknya. Kemana penghuni rumah akan mencari ketenangan, kedamaian. Perceraian, s e k s bebas, Anak-anak yang n a r k o b a, mereka biasanya melakukan itu karena frustasi dengan keadaan dimana tak ada tempat nyaman untuk melepas penat dan bercerita.


Namun hubungan mas Guntur dan Ibu kian hari sepertinya kian runcing karena mungkin dari awal aku tak terlalu di harapkan untuk menjadi istri mas Guntur. Aku pun awalnya tak terlalu tertarik pada mas Guntur. Karena terlihat dari wajahnya, ia terkesan dingin, keras dan mudah ringan tangan. Namun karena pilihan Guru. Saya sudah lama mengabdi di ndalem Umi Siti dan Gus Furqon. Sudah pasti beliau paham kekurangan dan kelebihan ku. Begitupun menurut Gus Furqon. Beliau sering melihat Mas Guntur saat mendampingi Gus Ali di majelis. Namun nyata nya, wajah yang terlihat angker justru seujung kuku pun aku tak pernah di lukai oleh nya. Cinta nya membuat aku bahagia walau tak memiliki mahkota, istana mewah.


Berbekal ilmu ketika mondok, aku tahu Imam An-Nawawi, menjelaskan 'seseorang tidak berdosa ketika mengutamakan istri daripada ibunya sejauh ia memenuhi kewajiban nafkah bila nafkah ibunya berada di dalam tanggung jawabnya.' Tapi aku beruntung kala mengaji ini dengan guru yang alim, yang tepat dan selalu mengajarkan untuk terus mencari ridho Allah bukan kebahagiaan kita. Maka aku ingin suami ku tetap baik dimata Ibu, apalagi bapak yang tak mampu lagi bekerja. Maka aku selalu mengutamakan kebutuhan bapak, ibu dan Yadi juga Yani.


Dan kini dua adik mas Guntur telah selesai kuliah dan bahkan Yadi meraih gelar S2 nya. Maka itu pun membuat ku berharap, agar kelak secara ekonomi dia bisa membahagiakan istrinya. Cukup aku dan mas Guntur yang mengalami pahitnya kehidupan karena ekonomi. Namun kami bahagia, karena kami menerima kondisi itu sebagai perjuangan untuk menciptakan generasi yang lebih baik lagi walau bukan anak-anak kami yang sekolah.


Suara klakson membangunkan aku dari lamunan.


"Mas.... Sudah sampai rumah ibu." Ucap ku.


"Em..... Astaghfirullah..... " Ucap mas Guntur seraya merentang tangannya ke depan.


Kami pun turun dari mobil travel yang sengaja mas Guntur sewa untuk pulang dadakan. Saat tiba di rumah, ibu juga bingung karena mendapatkan pesan dari ku. Kami pulang lebih awal.


"Loh katanya lusa baru pulang." Ucap Ibu penasaran.


"Yadi banyak kegiatan Bu, bapak juga mungkin besok harus pulang." Ucap ku.


Kami pun membersihkan diri dan menikmati makan tengah malam. Karena kami tiba di kediaman ibu pukul 1 malam. Saat waktu istirahat pun, Mas Guntur sepertinya tak bisa memejamkan mata karena tadi tidur sepanjang perjalanan.


"Lelah mas?" Tanya ku seraya menyandarkan kepala ku di dada nya.


"Tidak, kamu ini manusia atau bidadari, Sekar." Bisik nya pada telinga ku. Ia sepertinya khawatir obrolan kami di dengar ibu dan bapak karena kamar kami bersebelahan.


Ku cubit dadanya.


"Aduuhhh... " Rintihnya pelan.


"Bidadari ga ada yang nyubit... hehehe." Hiburku pada Mas Guntur. Aku tahu ia tak habis pikir saat aku membiarkan mas Guntur untuk menuruti kemauan ibu dan bapak. Untuk melamar Tika sebelum bapak dan ibu pulang ke Sumatera. Maka yang yang saat ini ada ditangan untuk biaya pulang dan juga tinggal disini beberapa hari terpaksa di gunakan untuk biaya lamaran Yadi.


"Mas malu loh Dik kalau kita pulang tapi ga ninggalin ibu, bapak dan Si Mbah uang. Masa' sekali nya mudik kok blas ga ada manis-manisnya." Keluh nya pada ku. Aku pun melerai pelukan ku.


Aku duduk di sisi mas Guntur. Aku sibak rambut panjang ku.


"Bapak dan Ibu juga Si Mbah tidak mengharapkan itu. Ga usah berpikiran seperti itu mas. Mas membahagiakan anak dan putu nya saja selama di rantau, itu jauh lebih dari cukup." Jelas ku pada mas Guntur.


"Ndak lah, mas malu. Atau begini saja. Mas pulang lebih dulu. Satu bulan lagi, mas baru jemput kamu." Ucapnya yang juga ikut duduk.


"Kan ongkosnya cukup mas buat kita pulang ke Sumatera.


" Dik, mas malu. Harga diri nya mas dimana. Masa' sekali pulang. Ga kasih uang ke Bapak atau Ibu. Wes pokoknya kamu tunggu mas dulu selama satu bulan disini. Nanti mas jemput kamu kalau sudah cukup uangnya. Uang yang ini, mas kasih buat Bapak dan ibu. Terus nanti mas bontot saja pulangnya. Insyaallah selamat sampai tujuan. lah wong niatnya apik lo, nyenengin orang tua, istri, si mbah. Masa' Allah ndak bakal permudah urusan kita." ucap Mas Guntur.


Aku tak berani berdebat saat Mas Guntur sudah meminta hal itu. Selain itu, aku juga masih rindu pada ibu dan bapak. Entah kapan lagi aku bisa pulang kampung. Disamping itu, aku bisa pijat disini untuk mencoba jalur alternatif. Karena saat dokter meminta operasi di bagian tuba falopi ku, mas Guntur tak mengizinkan. Ia sudah bergidik sendiri kalau harus di operasi. Kata-kata nya bahkan sampai saat ini masih membuat ku merona.


"Lah iya kalau sudah operasi kamu bisa hamil, kalau tidak? wong dokter juga bilang ga bahaya cuma ikhtiar lewat operasi. Mending ikhtiar jalan lain saja. Biar terserah Allah mau kasih kapan. Mas ndak tega lihat kamu di operasi. Kamu luka sedikit saja mas sudah dak dig dug apalagi itu operasi. Mas loh, seujung kuku ga pernah nyakitin kamu. Karena mas sayang sekali sama kamu. Lah kok bisa-bisanya cuma pengen anak, kamu harus di tusuk jarum dan benda taham... ih. wes ndak usah operasi. Kita lewat jalur langit dan rutin kontrol ke dokter." Ucap nya yang memang tahu aku paling takut jarum suntik. Bahkan aku pingsan pasca suntik vaksin covid kala itu. Bukan karena vaksinya tapi karena trauma pada jarum suntik.