
Aku sedang menikmati rujak bersama teman-teman masa kecil ku di c a k r u k belakang rumah bapak dan ibu ku. Tiba-tiba suara ibu membuat aku cepat menelan mangga muda yang sudah ku colet sambal rujak. Aku bahkan memejamkan mata dan bergidik saat mampu menelan rasa pedas, asin dan masam itu.
"Kar.... Nduk.... HP mu muni, Nduk... " Panggil ibu.
"Nggeh... Bu" Jawab ku.
Aku cepat berlari ke arah dalam rumah. Aku berharap itu telepon dari mas Guntur. Kemarin malam dia berpesan jika dia dua hari ini ada acara penting. Aku sempat curiga, acara apa yang penting sampai-sampai minta aku jangan telepon. Biar mas Guntur yang menghubungi aku. Aku hanya patuh. Namun saat ku lihat ponsel yang dari tadi ku charger ternyata panggilan dari Umi Siti. Aku mencabut kabel charger. Ku terima telepon dari Umi Siti.
"Assalamualaikum, Mi." Jawab ku dengan gesture menundukkan kepala. Entahlah, walau panggilan lewat suara bukan video. Tubuh ku seolah terbiasa untuk menunduk saat berbicara dengan guru ku. Aku jadi ingat posisi saat aku sering di pondok. Padahal untuk postur tubuh, aku lebih tinggi dari Umi Siti dan Umi Laila. Maka aku selalu menundukkan Kepala ku agar terlihat sedikit lebih pendek.
"Wa 'alaikumus salam. Nduk.... Umi tadi pagi pesan. Kalau kamu mau pulang ke Sumatera, mampir dulu teng ndalem e Umi." Suara Umi Siti yang pelan sekali. Aku bahkan menekan tombol loudspeaker agar terdengar jelas.
"Nggih umi, insyaallah. Kalih minggu malih kulo wangsul dhateng sumatera. Kula ajeng nyukani kabar Umi menawi ajeng dhateng pondok." Jawab ku.
{Ya Umi, insyaallah. Dua minggu lagi saya pulang ke Sumatera. Saya akan memberi kabar Umi kalau mau ke Pondok.}
Umi Siti pun menutup pembicaraan kami dengan salam. Aku penasaran, ada perihal apa sampai Umi Laila meminta ku untuk mampir terlebih dahulu ke ndalem beliau. Aku tak terlalu dekat dengan Umi Laila. Namun berada di bawah pengasuhan beliau sebagai pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Kali Bening, aku tahu betul akhlak beliau. Bahkan Umi Siti sengaja mencari santri abdi ndalem Umi Laila untuk berada di ndalemnya terlebih dahulu, setelah itu baru di pindahkan ke ndalem Umi Laila.
"Ada apa ya, jadi penasaran. Apa beliau ada kunjungan ke Sumatera ya?" Gumam ku.
Aku pun kembali melihat ponsel ku. Tak ada pesan masuk dari mas Guntur. Namun pesan dari Mbak Ani justru membuat aku penasaran dan sempat berpikir buruk.
{Le muleh kapan toh Kar? Ga kangen karo aku mbek Neneng Opo?}
(Kamu pulang kapan toh Sekar? apa tidak rindu aku dan Neneng?)
Aku tersenyum saat membaca pesan Mbak Neneng. Akhirnya aku pun berinisiatif menelpon Mbak Ani. Saat sambungan telepon tersambung, aku sempat menggerutu.
"Lah katanya kangen. Kok suwi tenan le ngangkat telepon." Ucap ku.
(Katanya rindu. Kok lama sekali mengangkat telepon dari ku.)
"Lah, iki loh Neneng. Sibuk ae jarene ga usah diangkat." Suara khas Mbak Ani membuat aku menahan tawa.
"Lah kok ngono? Jerene Rindu..." Tanya ku penasaran.
(Lah kok begitu, katanya rindu)
"Anu... nganu... Mmmm.... " Suara Mbak Ani tiba-tiba terhenti. Aku mendengar kasak-kusuk dua sahabat ku itu.
"Opo toh mbak Ani.... Ayo... rahasia opo karo aku...? " Tanya ku penasaran.
"...." Hening
"Mbak Ani...." Panggil ku.
"Rewang nggon sopo?" Tanya ku lagi.
(Rewang\=bantu masak di tempat orang hajatan)
"Halah... sok yo ngerti. Wes ndang bali Sri.... Kami kangen, kangen karo kowe..... " Suara merdu Mbak Ani dengan nada lagu Mas Didi Kempot membuat aku tertawa.
(Halah... besok kamu juga tahu. Sudah, cepet pulang toh Sri... Kami kangen, kangen sama kamu)
"Kan Ngunu... opo toh?" Jawab ku penasaran.
(Kan begitu.... ada apa toh?) tanya ku makin penasaran.
Tak ada Jawaban. Mbak Ani justru seperti menghindar.
"Wes yo Kar, sok telponan meneh." Jawabnya diiringi mengucapkan salam.
"Walaikumsalam." Jawab ku dengan terpaksa.
'Ada apa ya, kok perasaan ku ga enak' Batin ku bertanya
Aku menghubungkan mas Guntur yang minta tak dihubungi dari semalam sampai hari ini dan besok. Serta sikap dan gelagat Mbak Ani juga Neneng. Bahkan terlintas di pikiran ku, mas Guntur memenuhi permintaan Bapak. Aku bahkan seperti membayangkan mas Guntur ijab dengan Arum.
"Astaghfirullah..... Astaghfirullah.... sadar sekar.... Mas Guntur ndak mungkin tega membohongi kamu." Ucap ku dalam hati.
Aku kembali ke halaman belakang. Namun hati ku kian gelisah. Saat semua teman-teman ku pulang. Aku segera mengambil wudhu. Aku menuju ke tempat yang biasa digunakan oleh Bapak dan Ibu untuk shalat. Satu ucapan ibu ku saat aku masih kecil dan bertanya untuk apa di buat tempat shalat.
Ibu menjawab jika dulu, guru ngajinya mengatakan salah satu agar doa cepat di kabulkan adanya m i h r a b. Atau bisa diartikan tempat khusus ibadah di rumah. Dan aku bahkan hampir setiap kali ibu berada di ruangan ini. Ibu hanya bermunajat untuk kami anak-anaknya menjadi sholeh dan sholehah. Entah aku sudah termasuk sholeh atau belum, tapi aku melihat bagaimana ibu ku fokus pada kami anak-anaknya dalam setiap doanya bukan tentang dirinya. Bukan tentang keinginannya pribadi, tapi untuk anak keturunannya.
Bagi ku membaca Al quran adalah salah satu cara terampuh untuk menghilangkan rasa was-was dan gelisah. Bahkan hampir 8 tahun bertahan mendampingi mas Guntur. Al Quran adalah obat dan vitamin terbaik untuk ruh ku. Maka seberapa benci Ibu mertua pada ku, aku tak merasakan sakit. Karena ruh ku selalu ku obati melalui kitab suci yang ku jadikan tempat ku membersihkan hati ku yang lemah. Hal itu tidak mudah, tahun-tahun pertama aku bahkan sempat meradang. Dan sampai aku membuka kembali catatan ketika di pondok, kala itu Umi Laila dawuh.
"Quran itu bisa jadi obat, tapi harus pakai adab. Biar ga sebatas kerongkongan. Ya salah satu adabnya, kesucian. Jaga wudhu dan yang ke dua ndak boleh itu Quran buat gagah-gagahan. Niat nya ikhlas, buat nyambungin hati kita lan Gusti Allah." Ucapan Umi Laila yang ku beri tanda petik.
Maka saat itu aku kembali menata niat ku. Bahkan keluarga mas Guntur tak tahu jika aku hafal Al Quran. Neneng dan Mbak Ani bahkan tidak tahu, aku saat diminta membaca Al quran saat pengajian ibu-ibu setiap kliwonan, aku tetap membuka quran sekalipun aku hafal. Karena Umi Siti saat acara akhirusannah mengatakan jika orang hafal quran memang harus di muliakan. Tapi bagi kami yang hafal itu, kami di minta untuk memuliakan orang lain bukan di muliakan. Terlebih lagi mereka yang memang wajib di muliakan. Maka itu adalah salah satu ugeman (pegangan) ku selama ikut suami di Sumatera.
Saat selesai hampir 7 lembar. Aku telah tak mampu melanjutkan kembali bacaan ku. Dada ku sesak, ku hapus air mata ku. Ku angkat tangan ku dengan berdoa pada pemilik setiap ruh.
"Ya Allah,.. saya mohon. Kuatkan saya untuk setiap takdir yang Engkau berikan. Semoga hamba termasuk hamba mu yang nrimaan dan manut...." Ucap ku.
Aku yakin, semua yang terjadi di masa yang akan datang, adalah atas izin Allah. Maka jika mas Guntur menikahi Arum, maka tentu hal itu atas kehendak Allah.
"Aamiin Allahumma Aamiin. Qobul Rabb...." Suara mas Guntur dari arah belakang ku.